SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 161



"Kemarahan Ariel semakin memuncak saat Ayahnya menikahi sekretarisnya itu tidak lama setelah Mamanya meninggal, Ariel memilih untuk pergi dari rumah dan menolak semua permintaan Ayahnya untuk mengurus perusahaannya, Ariel lebih memilih melanjutkan bisnis yang ditinggalkan oleh Mamanya yaitu mengurus hotelnya, hotel itu sebenarnya hampir bangkrut karena manajemen yang buruk akibat Mama Ariel sakit dan tidak bisa mengurusnya and then setelah ditangani oleh Ariel semua berubah 180 derajat, hotel itu menjadi sangat besar, sukses dan kini memiliki cabang di kota-kota besar" Lanjut Aditya.


"Dan dia masih marah kepada Ayahnya sampai sekarang??"


"Ya, kau bisa lihat sendiri tadi, padahal itu sudha terjadi bertahu-tahun yang lalu"


Cahya hanya terdiam mendengar semua cerita dari Aditya tetapi sesaat kemudian dia mulai teringat akan satu hal. "Ariel marah dengan perbuatan Ayahnya sampai sekarang lali kenapa dia juga melakukan hal yang sama kepada Elea??? Bukankah ini seperti sebuah lelucon, kurasa Ariel adalah orang egois yang pernah aku temui"


"Aku juga berpikir seperti itu saat dulu Elea datang menemui kita di Villa dan menceritakan semuanya, jika saja Elea tidak melarang kita semua untuk diam mungkin aku dan Randy sudah mendamprat dan memaki Ariel serta menertawakannya, mungkin itu juga yang menyebabkan Ariel tidak berani menceritakan tentang perlakuan buruknya kepada Elea" Ucap Aditya.


Aditya juga menceritakan tentang tangisan Ayah Ariel kemarin kepadanya. Pria itu terlihat sangat terpukul dan sedih saat Aditya bercerita tentang perpisahan Ariel dan Elea. Ayah Ariel seolah merasa tertampar oleh dirinya sendiri, semua tindakan buruknya dulu ternyata juga dilakukan oleh putranya.


"Apa menurutmu ini adalah hukuman untuk om Andi?" Tanya Cahya.


"Kita tidak bisa menentukan ini hukuman, karma atau yang lainnya, hanya Tuhan yang berhak atas semua yang sudah dan akan terjadi dihidup kita, Om Andi sangat menyayangi Ariel, kesedihan dan penyesalannya sudah dia rasakan sejak Ariel meninggalkan rumah dan menolak semua pemberiannya, dia langsung menceraikan sekretarisnya itu berharap Ariel mau kembali dan memaafkannya tetapi Ariel tidak pernah mau kembali bahkan menganggap Om Andi sudah mati itulah akhirnya yang membuat om Andi pergi ke Luar negeri hidup disana sendirian dan harinya dipenuhi penyesalan"


Cahya terdiam, Aditya benar bukan tempat mereka untuk menghakimi seseorang karena pasti akan ada saatnya manusia akan menyadari setiap kesalahan yang sudah mereka perbuat, dan penyesalan akan selalu datang di akhir. Cahya juga jelas melihat bahwa Ayah Ariel begitu mencintai dan menyayangi putranya terlepas dari Ariel yang begitu membencinya, kasih sayang orangtua tidak akan pernah luntur. Pasti akan ada saatnya Ariel akan merasa menyesal atas semua kesalah yang dia lakukan. Dan akan seperti apa nanti reaksi Ariel saat mengetahui bahwa Elea sedang hamil atau saat nanti Elea sudah melahirkan bayinya, hanya Tuhan yang tahu.


*****


Beberapa hari kemudian kondisi Ariel sudah membaik walaupun dia harus menggunakan kursi roda untuk menopang tubuhnya terutama dada nya. Ariel dibawa pulang oleh Ayahnya ke rumah mereka untuk memudahkan mengurusnya. Semoat terjadi perdebatan antara Ariel dan sang Ayah serta Aditya dan juga Randy, karena Ariel bersikeras tidak ingin jika Ayahnya membawanya kembali ke rumah. Ariel memaksa untuk kembali ke Apartmentnya, tetapi permintaan itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Aditya dan Randy karena mereka takut jika Ariel kesana, para preman itu akan menyerangnyan lagi.


Akhirnya dengan bujukan yang luar biasa, Ariel mau kembali pulang ke rumah bersama Ayahnya. Aditya dan Randy juga menjemputnya di rumah sakit dan mengantarnya sampai dirumah. Saat sampai disana, Ariel langsung disambut oleh Mbok Asih asisten rumah tangga yang sudah bekerja disana sejak Ariel masih kecil.


Tangisan wanita paruh baya itu terdengar pilu saat melihat kondisi Ariel. "Den ganteng, akhirnya aden pulang, setiap hari saya selalu membersihkan kamar aden berharap aden tiba-tiba pulang tapi aden tidak pernah pulang, sekarang aden beristirahat ya, simbok sudah siapkan bubur kesukaan aden"


"Terima kasih mbok" Ucap Ariel sambil tersenyum dan mencium tangan mbok Asih, perempuan yang dulu mengasuhnya sejak kecil. Ariel sangat menghormatinya seperti dia menghormati sang Mama.


*****


Sudah lebih dari 1 minggu Ariel pulang ke rumahnya, selama itu pula dia tidak pernah berbicara dengan Ayahnya walaupun Ayahnya sering berusaha mengajaknya berbicara. Bahkan Ariel terkesan menghindari sang Ayah dan menghabiskan waktunya di kamar.


Kondisinya juga semakin hari semakin membaik walaupun dia masih harus memakai penyangga leher tetapi dia sudah tidak harus menggunakan kursi roda. Ariel berjalan menuju ruang baca, dimana disana Mama nya dulu sering menghabiskan waktunya untuk membaca koleksi bukunya. Ariel duduk dikursi kerja Mamanya, matanya berkaca-kaca melihat frame foto berisi fotonya dengan sang Mama saat liburan di Amsterdam hampir 10 tahun yang lalu.


Ariel sangat merindukan Mamanya, rumah ini telah meninggalkan banyak kenangan indah dan buruk bagi hidupnya. Kepergian sang Mama membuat hati Ariel sangat hancur hingga detik ini. Andai saja Ayahnya tidak melakukan hal bodoh itu pasti sampai saat ini Mamanya masih hidup dan bersamanya.


Ingatan Ariel melayang ke tujuh tahun yang lalu, dimana saat dirinya baru 1 bulan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan kuliahnya di luar negeri. Mamanya saat itu sudah mulai sakit-sakitan, hingga suatu malam Ayahnya pulang dalam keadaan mabuk bersama dengan sekretarisnya. Ayahnya mengusirnya dan juga Mamanya dari kamar, dan Ayahnya itu bermalam bersama sang sekretaris dikamar itu. Setelah kejadian itu kondisi Mamanya semakin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.


Kemarahan Ariel semakin menjadi saat harus menerima kenyataan jika ayahnya menikahi perempuan itu tak lama setelah sang Mama meninggal. Kenyataan lebih menyakitkan yang Ariel terima adalah bahwa sang Mama sudah lama mengetahui perselingkuhan suaminya dan dia mulai sakit saat mengetahui itu semua tetapi tidak pernah mengatakannya pada Ariel. Ariel akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumah ini dan menolak semua usulan Ayahnya untuk mengurus perusahaannya dan lebih memilih mengurus hotel peninggalan sang Mama.


Lamunan Ariel terbuyarkan saat Ayahnya datang ke ruang baca itu. Ariel langsung memasang wajah marah serta kesal dan hendak meninggalkan ruangan itu tetapi Ayahnya menahannya dengan memegang pergelangan tangan Ariel lalu menyuruh putranya untuk duduk.


"Duduklah sebentar, Ayah ingin berbicara denganmu, setidaknya untuk kali ini saja ijinkan Ayah berbicara padamu"


"Apalagi yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Dengarkan Ayah, kau boleh membenci Ayah seluas dan setinggi apapun itu adalah hak mu Iel, sudah cukup bagi Ayah selama ini hidup dalam penyesalan dan kesakitan setiap detiknya karena Ayah sudah kehilangan putra Ayah tetapi Ayah masih bertahan untuk melihat putra Ayah bahagia, tetapi saat ini ayah ingin menertawakanmu, ingin menertawakan keegoisanmu serta perilakumu" Ucap Ayahnya.


"Apa maksudmu dengan mengatakan ingin menertawakanku?" Pandangan Ariel menajam.


"Ayah melihatmu menangis didepan foto Mama mu dan melihat kemarahanmu saat Ayahmu ada dihadapanmu, meluapkan semua emosimu kepada Ayahmu mengatakan jika aku adalah penjahat dan pria brengs*k karena telah membuat istrinya meninggal, tetapi kau lupa satu hal bahwa kau juga sama brengs*knya seperti Ayahmu ini, apa kau tidak malu kepada Mamamu??"


Ariel menatap Ayahnya dengan tatapan tajam dan penuh emosi lalu menarik kerah kemeja Ayahnya itu dengan kemarahan yang memuncak. "Apa kau bilang... Berani-beraninya kau mengatakan itu padaku...!!! Kau yang brengs*k bukan aku.....!!! Dan kenapa aku harus malu pada Mama..??" Teriak Ariel pada Ayahnya tetapi Ayahnya justru tertawa mengejek melihat kemarahan putranya itu.