
Danist tertawa mengejek Ariel. "Silakan lakukan apapun yang anda ingin lakukan, aku tidak takut dengan ancaman anda" Ucap Danist.
"Aku akan berusaha membuat Elea kembali kepadaku dan aku menantangmu! Kita buktikan nanti, Elea akan memilihmu atau kembali denganku???" Teriak Ariel.
Danist berlalu meninggalkan Ariel dan masuk ke dalam kantornya, tidak menanggapi ucapan Ariel. Begitu juga dengan Ariel, setelah mengancam Danist dan menantangnya dia langsung pergi. Ariel datang hanya untuk bertemu Danist, dia tidak ingin menanyakan atau mencari Elea disana karena takut Elea justru akan menghindarinya.
Danist termenung di kursi kerjanya, firasatnya benar bahwa Ariel memiliki rencana. Kini Danist benar-benar terjebak, tetapi ucapan Ariel tadi menyiratkan jika dia telah menantangnya untuk bersaing mendapatkan Elea.
*****
Beberapa hari kemudian, Randy dan Chitra datang ke rumah Aditya untuk mengantar undangan pernikahan mereka. Situasi yang tepat karena tampaknya seluruh keluarga Aditya saat ini sedang berada di rumah.
Aditya turun bersama Cahya setelah Art nya memanggil mereka dan mengatakan jika Randy dan Chitra datang untuk menemui mereka. Dengan senyum dan kebanggaannya Randy memberikan 3 Undangan untuk keluarga Aditya.
"Ini untukmu dan Cahya, ini untuk om dan tante, dan ini untuk Adri" Ucap Randy.
"Wah kau membuat keluargaku bangkrut Ran, 1 rumah 3 undangan" Gumam Aditya sambil tertawa.
"Ini sekali seumur hidup kenapa kau meributkannya?" Protes Randy.
"Alhamdulillah akhirnya kamu pecah telur juga Ran, tante turut bahagia"
"Tante dan Om wajib datang oke?"
"Tentu saja kami akan datang"
"Oh iya Ca, Dit, besok aku, mama dan juga Randy akan mengantar undangan untuk Elea juga untuk Danist, Mama ingin ikut karena katanya kangen banget sama Elea, oh iya Elea masih ada di villa kalian atau dirumahnya?" Tanya Chitra.
"Elea sudah pulang kemarin, dia sudah merasa lebih baik dan sepertinya Ariel menyerah, dan kebetulan sekali besok kita sekeluarga juga akan kesana kita pergi bersama saja gimana?"
"Oke baiklah kita pergi bersama, dan sekarang kita harus permisi dulu karena harus mengantar beberapa undangan lagi, juga aku akan menemui ibu Ca, mengantar undangan untuknya"
Randy dan Chitra pun berpamitan untuk pergi dan melanjutkan berkeliling mengantarkan undangan pernikahan mereka.
*****
Kini sampailah Randy dan Chitra dirumah Ariel setelah mengantar beberapa undangan ke tempat lain. Randy memencet bel rumah itu dan disambut hangat oleh Art rumah Ariel dan dipersilahkan untuk masuk.
Ayah Ariel turun dan langsung menyalami Randy juga Chitra lalu menyuruh mereka untuk duduk. "Apa kabar Ran? Tumben kesini cari Ariel ya?"
"Bisa dibilang seperti itu om" Jawab Randy.
"Wah Ariel belum pulang sepertinya dia berkunjung ke restorannya"
"Oh gitu, ya sudah saya titip ini ke om Andi saja, ini untuk Ariel dan ini untuk Om, kami harap om bisa datang dan memberi kami doa restu" Tutur Randy seraya tersenyum dan memberikan 2 undangan ke Ayah Ariel.
"Wah Om di undang juga nih?"
"Tentu saja, om juga sudah seperti keluarga dan waktu itu aku juga sudah janji sama Om buat undang Om Andi"
"Om sangat senang dan om pastikan om akan datang, selamat ya untuk kalian"
"Terima kasih Om, kita langsung pamit deh, sudah malam" Randy dan Chitra menyalami Ayah Ariel dan pergi meninggalkan rumahnya.
*****
Keesokan harinya, Danist mengantar Mama nya ke rumah Elea, karena seperti biasa sang Mama sering membawa masakan buatannya lalu mengirimnya kesana begitu juga sebaliknya, Mama Elea melakukan hal yang sama. Kedua ibu itu selalu lupa waktu jika mereka sedang bersama, mereka selalu menghabiskan waktunya untuk mengobrol atau sekedar jalan-jalan.
Seperti hari ini, sang Mama sudah sejak pagi datang dan ada di belakang rumah bercanda bersama Mama Elea, seolah memahami Danist pun mengalah dan lebih memilih bermain monopoli bersama Elea dan Chika. Kebiasaan yang sering mereka bertiga lakukan jika sedang senggang dan malas pergi keluar. Hari sudah hampir siang, Danist pergi ke belakang untuk mengajak sang Mama pulang.
Suara mobil diluar mengalihkan Elea dan Chika yang sedang merapikan mainan monopolinya. Chika keluar membuka pintu dan melihat mobil kakaknya juga mobil milik Randy. Chika langsung mempersilahkan mereka semua untuk masuk.
"Randy yang punya hajat datang kesini El, jadi kami mengajaknya pergi bersama" Tutur Aditya.
Randy memberikan undangannya kepada Elea, dan Elea langsung tersenyum saat menerimanya. "Yuhuuu akhirnya kewong juga kalian, seneng deh" Ucap Elea.
"Mama Papa ajak ya El jangan sampai enggak" Gumam Chitra.
"Tentu saja, mereka pasti akan datang juga, nah itu dia Mama"
Danist keluar dari belakang bersama sang Mama dan juga Mama Elea. Mereka bertiga dikejutkan dengan kehadiran banyak orang dirumah dan Mama Elea langsung menyalami semua orang yang ada diruang tamu itu. Tetapi sepertinya ada yang terjadi dengan Mama dari Chitra, perempuan itu memandang Mama Danist dengan pandangan yang aneh sampai kemudian dia teralihkan dengan sentuhan Chitra yang membuyarkan pikirannya, lalu menerima jabatan tangan Mama Elea.
"Wah rame sekali, oh iya kenalkan ini bu Sari Mama nya Danist" Ucap Mama Elea.
Mendengar nama Sari, Mama Chitra pun langsung teringat sesuatu dan langsung berdiri. "Sari...??? Itu benar dirimu??? Kau ingat aku tidak Sar, aku Diyah"
Mama Danist pun nampak mengingat tentang sesuatu. "Ah Mbak Diyah, mbak Diyah yang dulu tinggal di Bandung itu ya?"
"Iya Sar, kamu apa kabar? Ya Tuhan setalah berpuluh-puluh tahun akhirnya kita bertemu lagi"
Keduanya pun langsung berpelukan karena tidka menyangka akan bertemu lagi. "Ini siapa?" Tanya Mama Chitra.
"Ini Danist Mbak, putraku, Danist ini tante Diyah, dia dulu tetangga kita tetapi karena suaminya dulu pindah tugas ke jakarta jadi beliau harus pindah, Chitra apa kabar mbak?"
"Itu Chitra, kami datang kesini karena mau mengantar undangan untuk Elea, Chitra mau menikah, kau nanti datang ya?"
"Tidak ku sangka Chitra sudah mau menikah, dulu dia masih begitu kecil dan tidak mau bermain dengan siapapun selain denganmu Dan, apa kau ingat?"
Danist menggelengkan kepalanya. "Ya kau pasti tidak ingat karena kau saat itu masih sekitar 5 tahun dan Chitra dulu masih 3tahun ya, Danist kau tetap sama seperti dulu tetap tampan dan wajah Mamamu ada di dirimu" Ucap Mama Chitra sambil tertawa dan mengusap bahu Danist.
Danist tertawa tidak menyangka jika Chitra adalah temannya semasa kecil, tidak ada ingatan apapun tentang hal itu. Chitra mengambil undangan dan memberikannya pada Danist. "Aku tidak menyangka ternyata kita pernah berteman dan bertetangga, ini undangan untukmu, jangan lupa datang ya, kau juga sudah menjadi teman Randy, tante juga jangan lupa ikut datang juga"
Mama Danist memeluk dan mengucapkan selamat ke Chitra atas pernikahannya. "Kau semakin cantik, dulu tante sering memberimu permen dan cokelat hingga kau sangat susah saat ibumu mengajakmu pulang, selamat ya Chitra sayang, Danist juga tante pasti akan datang ke pernikahanmu, tetapi mohon maaf sekali semuanya, saya dan anak saya harus pamit lebih dulu karena ada pekerjaan dirumah, maaf sekali lagi"
Danist dan Mama nya pun berpamitan kepada semua orang.
*****
Sepeninggal Danist dan Mama nya, Mama Chitra menatap kepergian mereka dengan tatapan sedih dan matanya berkaca-kaca, dia mengingat tentang kehidupan yang dilalui mereka berdua dulu. Chitra yang menyadari ada sesuatu pada sang Mama pun mencoba untuk mencari tahu.
"Mama kenapa? Kok seperti orang mau nangis? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Chitra, dan pandangan semua orang juga tertuju kepada sang Mama.
"Apa Sari sampai sekarang tidak memiliki suami?" Pandangan Mama Chitra beralih ke Mama Elea.
"Tidak, dia mengatakan padaku jika dia sejak kecil merawat Danist sendirian" Jawab Mama Elea.
"Dia ternyata masih menyimpan trauma nya sampai sekarang, padahal itu sudah terjadi berpuluh-puluh tahun" Gumam Mama Chitra.
"Menyimpan trauma?? Maksud Mama apa?"
Mama Chitra menghela napasnya dan raut wajahnya terlihat sangat sedih.
"Dulu kami bertetangga dan kami sangat akrab satu sama lain, Sari menikah dengan seorang pria, pernikahan itu sudah berjalan satu tahun tetapi belum juga dikaruniai momongan, dia sangat mencintai suaminya itu, hingga suatu hari terjadi hal yang menghancurkan pernikahan mereka, sang suami tiba-tiba menceraikannya tanpa alasan yang jelas, yang ternyata suaminya itu telah memiliki selingkuhan seorang wanita dari keluarga kaya, sebulan setelah perceraian itu Sari mendengar jika suaminya itu menikahi selingkuhannya dan disaat yang bersamaan ternyata Sari hamil yang usianya sudah 3bulan"
"Apa???" Seru Chitra terkejut.
Bukan hanya Chitra saja tetapi semua orang yang ada disitu dibuat terkejut oleh cerita dari Mama Chitra. Bahkan Elea berpandangan dengan Mama nya, dia benar-benar tidak menyangka hal yang sama dengan yang dialaminya juga pernah dialami oleh Mama Danist. Mama Chitra pun melanjutkan lagi ceritanya.
"Ya, Sari saat itu sedang mengandung Danist, aku sangat tahu betul bagaimana hancurnya Sari saat itu tetapi dia tidak bisa berbuat apapun karena mantan suami nya langsung menghilang begitu saja setelah pernikahannya, Sari menjalani kehidupannya dengan perjuangan yang begitu keras, dia berjualan dipasar saat hamil bahkan setelah melahirkan dia terpaksa membawa Danist, aku dan papanya Chitra merasa kasihan dengannya hingga aku meminta kepada Sari agar meninggalkan Danist dirumah kami saja karena saat itu kami juga belum dikaruniai buah hati, dan saat papanya chitra berangkat ke kantor, Danist yang menjadi teman untukku dirumah, Sari pernah mengatakan padaku jika dia tidak ingin menikah lagi dan ingin membesarkan Danist dengan usaha nya sendiri, dia merasa trauma dengan pernikahan membuatnya menutup hatinya kepada laki-laki"
Cahya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya sambil menggelengkan kepala nya merasa sangat tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.