SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 223



Aditya tengah disibukkan bermain dengan Kyros diatas tempat tidur, menggosok-gosokkan wajahnya diperut bayi itu yang membuatnya tertawa karena merasa geli. Sementara Cahya hanya bersandar sambil menyusui Kyra. Obat resep dari dokter ternyata membuat Cahya merasa lebih baik. Cahya tidak menyangka jika rasa shocknya yang berlebihan langsung membuat dirinya jatuh sakit.


Pertanyaan tentang siapa yang tega melakukan ini semua padanya juga masih menggelayuti pikirannya, dan karena hal ini, Aditya menjadi lebih protektif tentang penjagaan terhadapa dirinya, padahal jika boleh jujur bahwa ia sangat ingin bebas pergi kemanapun sesukanya tanpa adanya pengawal yang harus mengikutinya dibelakang, tetapi tidak bisa begitu saja mengabaikan keselamatan dirinya sendiri, apa yang dilakukan suaminya itu juga untuk memastikan keamanannya.


"Sayang, sudah cukup kau akan membuat perutnya sakit nanti jika dia terus tertawa, sini berikan padaku dia pasti lapar" Cahya menaruh Kyra disampingnya yang sudah melepaskan putiingnya, menandakan bahwa bayi itu sudah kenyang dan mengambil Kyros dari tangan Aditya.


Aditya melihat putrinya itu menguap dan mengangkatnya dan menciumi seluruh wajahnya dengan gemas kemudian menempelkannya di pundaknya sambil mengelus-elus pundak Kyra lembut agar bayi itu segera tidur.


"You’re like a sunshine, only giving good vibes any any time that you roll in, pulling me out never letting me down, and I wanna make sure you know it, you’re like a sunshine only giving good vibes any any time that you roll in, can’t believe that I found my sunshine" Aditya bersenandung dengan merdunya untuk Kyra, membuat Cahya yang mendengarnya tersenyum senang.


Kyra memang sangat senang jika ayahnya bernyanyi untuknya, suara Aditya juga cukup enak untuk didengar. Dan apapun yang dilakukan Aditya, Kyra selalu melempar tawanya, berbeda dengannya, putrinya itu justru selalu memasang wajah datar saat dia mencoba menyanyi untuknya, mungkin tahu jika suaranya tidak enak untuk didengar.


Kyra ternyata sudah terlelap dipundak Aditya, dengan sigap Aditya membawanya ke kamar agar bayinya itu bisa beristirahat dengan nyaman di box bayinya.


*****


Keesokan harinya, Ariel datang ke rumah Aditya bersama seseorang, tadi dia mendatangi kantor sahabatnya itu tetapi ternyata sekretarisnya mengatakan bahwa Aditya sudah pulang, dia hanya ke kantor sebentar untuk mengurus beberapa hal lalu kembali pulang lagi karena istrinya sakit. Mendengar itu Ariel pun memutuskan untuk langsung datang menemui Aditya dirumahnya saja sekalian menjenguk Cahya.


"Tuan, ada pak Ariel datang" Asisten rumah tangga Aditya datang menemuinya diruang tengah karena dia sedang bermain dengan bayinya ditemani Mamanya juga Cahya.


"Baiklah aku akan turun, buatkan dia minum" Aditya berdiri dan bergegas menuruni tangga untuk menemui Ariel.


"Hai Iel, kau datang kenapa tidak memberitahuku?"


"Aku tadi ke kantormu tapi ternyata Maysa bilang kau sudah pulang karena Cahya sakit, dia sakit apa dan bagaimana kondisinya sekarang??"


"Badannya panas tetapi sudah membaik, ada apa dan siapa yang kau bawa?" Tanya Aditya.


"Ah ini kenalkan dia adalah pak mahardika, dia arsitek yang akan mengurus villamu, dia datang kesini spesial untuk bertemu denganmu dan membahas detail konsep villa yang kau inginkan, aku sudah lama bekerja sama dengannya untuk semua villa, hotel serta resortku di Bali jadi tentu saja kemampuannya tidak usah diragukan lagi" Ujar Ariel.


Aditya mengulurkan tangannya menyalami tamunya itu dengan ramah. Kemudian mengajaknya dan Ariel ke ruang kerjanya saja supaya lebih nyaman pembicaraan mereka. Aditya mempersilahkan mereka untuk duduk dan Arsitek itu mulai menanyakan konsep seperti apa yang diinginkan Aditya untuk villanya.


"Aku ingin menghadiahkannya untuk istriku jadi ku rasa kita harus melibatkannya"


"Oh tentu saja pak, silakan, memang lebih baik menyesuaikan dengan keinginan istri anda, jika ini hadiah untuknya"


Art Aditya masuk dan menyajikan minuman untuk tamu majikannya itu saat hendak pergi Aditya memintanya untuk memanggil Cahya agar turun dan keruangan kerjanya.


Cahya datang beberapa menit kemudian, dan Aditya langsung mengenalkannya pada arsitek yang dibawa Ariel untuk mengurus villa yang akan dibangun nanti.


"Jelaskan semuanya pada pak Dika, konsep seperti apa yang kau inginkan untuk villa kita nanti, apapun yang kau inginkan ungkapkan saja" Ujar Aditya memberitahu Cahya.


Cahya pun tampak menjelaskan semua yang diinginkannya, mulai dari keinginanya agar ada infinity pool yang langsung menghadap laut, hingga ingin ada taman bermain kecil untuk anak-anaknya sehingga jika mereka pergi liburan suasana villa yang nyaman serta memiliki pemandangan indah akan membuat mereka merasa senang.


*****


Keesokan harinya, Pak Andi bersiap untuk datang lagi ke rumah Elea, selain ingin menemui cucunya, dia juga ingin sekali bertemu dengan Danist Semenjak mendapat kabar bahwa Danist adalah putranya, setiap malam dirinya tidak bisa tidur dengan tenang dan selalu memikirkan Danist sehingga rasanya dia ingi sekali memeluk putranya itu untuk pertama kalinya, berharap juga di rumah Elea tidak ada Sari agar dia bisa memeluk Danist dan berbicara dengannya. Lalu berangkatlah dia bersama dengan supir dan pengawalnya, tidak lupa mampir ke toko perlatan bayi membeli hadiah untuk Gienka cucunya.


Karena terjebak macet, perjalanannya sedikit lama dari biasanya sampai akhirnya sampailah dia dirumah menantunya, ya, Elea kini menjadi menantunya lagi setelah menikah dengan Danist yang ternyata adalah darah dagingnya bersama Sari. Gienka juga sudah menjadi anak Danist, anak sedarah walaupun bukan darah dagingnya. Kenyataan yang begitu mengejutkannya tetapi seperti itulah kenyataannya sekarang.


Elea membuka pintu dan menemukan mantan mertuanya itu berdiri tersenyum dengan membawa barang bawaan dikedua tangannya. "Ayah, kau datang lagi??? Mari masuk, Gienka ada dibelakang bersama Mama"


"Bagaimana kabarmu El??"


"Baik, mari masuk"


Pak Andi pun sangat senang bisa bertemu dan melihat cucunya lagi. Gienka sedang berbaring digazebo yang di sudah diberi alas dan tampak begitu lucu.



"Ma, ada ayah datang" Ucap Elea.


Mama Elea beranjak dan menyalaminya lalu masuk untuk membuatkan minum.


Pak Andi langsung menggending cucunya dan mendaratkan ciuman lembut dipipi Gienka. Dia sangat memuji betapa cantik dan lucunya cucunya itu, sehingga ingin membuatnya ingin selalu datang menemuinya. Elea tersenyum melihat mantan mertuanya itu begitu menyayangi Gienka, dan memberikan perhatian lebih kepadanya.


"Suamimu belum pulang El? Masih diluar kota dia??"


"Sudah pulang kemarin dan sekarang masih dikantor tapi sepertinya sebentar lagi akan pulang, ini sudah hampir jam 4"


Mobil Danist memasuki halaman rumah dan dahinya sedikit berkerut melihat ada sebuah mobil dan seorang laki-laki bertubuh besar sedang berdiri didepan rumah, sepertinya ada tamu yang datang tetapi siapa pikir Danist. Dia pun turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke rumah untuk melihat siapa yang datang.


"Dan! kau sudah pulang ternyata" Ucap Mama Elea.


"Siapa yang datang Ma? Kok ada pengawal didepan?"


"Itu ada Ayahnya Ariel, dia menengok Gienka, sapa lah dia, Mama mau ke kamar dulu"


Danist pun melangkah ke halaman belakang untuk menemui Elea dan tamunya. Disaat yang bersamaan mobil Ariel juga datang ke rumah Elea. Ariel melihat ada mobil Ayahnya juga ada pengawalnya, menandakan bahwa ayahnya saat ini sedang berada disini. Ariel membanting pintu mobilnya dan berggeas masuk ke rumah Elea yang ternyata pintunya tidak ditutup.


Melihat kedatangan Danist, pak Andi pun tersenyum dan matanya berkaca-kaca, akhirnya dia bertemu lagi dengan putranya yang dulu tidak dia ketahui tapi sekarang dia ada didepan matanya dengan kenyataan bahwa dia adalah darah dagingnya. Pak Andi pun menyerahkan Gienka yang tadi dalam gendongannya kepada Elea dan melangkah mendekati Danist.


Danist mengulurkan tangannya untuk menyalami tetapi pak Andi justru langsung memeluknya dengan begitu erat membuatnya heran tetapi dia membalas pelukan itu. Di tengah pintu belakang, Ariel memasang wajah penuh kemarahan melihat Ayahnya memeluk Danist, bisa-bisanya Ayahnya melakukan hal itu padahal tahu bahwa Danist adalah musuhnya.