
Aditya kembali ke ruangan perawatan Kyros dan tak lama Ariel dan Maysa juga datang. Kedatangan keduanya membuat yang ada diruangan itu terkejut. Aditya tersenyum kemudian berdehem, Ariel ternyata benar-benar tidak ingin melepaskan Maysa begitu saja sepertinya.
"Ehem.... Kalian datang berdua lagi ternyata, apakah mobil Maysa mogok lagi di jalan lalu kau memberinya tumpangan???" Goda Aditya.
"Tidak pak, tadi saya bertemu dengan pak Ariel di lobi" Jawab Maysa dengan cepat.
"Berhentilah mengeluarkan lelucon, yang dia katakan benar adanya" Sahut Ariel kemudian.
Maysa menghampiri Aditya lalu memberikan berkas yang di pegangnya. "Ini data dan berkasbyang bapak minta, saya juga sudah mengatur meeting dengan mereka besok siang seperti yang pak Aditya inginkan"
"Oke thanks May, apa mereka semua bisa?"
"Hanya dari TMH Corporate yang tidak bisa hadir karena beliau sedang berada di luar kota tetapi beliau akan mengirim sekretarisnya dan beliau akan mengikuti by virtual, semua agak terkejut dengan undangan bapak yang mendadak ini tetapi mereka tetap bersedia melakukannya"
"Syukurlah!!" Aditya kemudian membawa berkas itu dan duduk di sofa bersebelahan dengan Ariel.
Elea dan Chika lalu berpamitan pulang. Keluar dari ruangan itu, Elea tersenyum karena ini kedua kalinya dia melihat Ariel bersama dengan Maysa sekretaris Aditya. Elea berpikir bahwa keduanya memang tengah menjalin sebuah hubungan walaupun Maysa terlihat malu-malu tetapi kebahagiaan diwajah Ariel sangat jelas. Elea berharap mereka bisa berhasil dalam hubungan mereka dan Ariel tidak melakukan kesalahan yang sama lagi.
Maysa memberikan buket bunga yang dibawa kepada Cahya, dan mendekati Kyros yang terbaring dengan sebelah tangannya memegang boneka. Maysa dengan lembut menyentuh kening Kyros seraya bertanya pada Cahya tentang keadaan bayi itu saat ini. Dengan suara sisa suara yang dimilikinya, Cahya mencoba menjawab pertanyaan Maysa. Seolah mengerti keadaan Cahya, Maysa pun tidak lagi bertanya dan memilih mengajak Kyros berkomunikasi.
"Apa ada masalah? Sampai kau ingin melakukan meeting mendadak???" Tanya Ariel.
"Aku ingin menyuruh mereka untuk menghentikan investasi serta kerja sama dengan perusahaan keluarga Cyntia???"
"Menghentikan??? Kau ingin melakukannya lagi seperti dulu??"
Aditya meletakkan berkas yang baru saja dibacanya dan menyandarkan tubuhnya ke sofa lalu menoleh ke Ariel. "Sebenarnya aku tidak ingin melakukannya lagi, mengingat kedatangan Theo semalam sedikit menyentuh nuraniku karena dia datang dengan perasaan menyesal atas apa yang sudah dilakukan Cyntia"
"And then??? Kenapa kau berniat melakukannya lagi?? Apa si brengs*k itu membuat masalah lagi??"
Aditya menggelengkan kepalanya. "Bukan dia tetapi kedua orangtua Cyntia yang membuatku ingin melakukannya lagi"
Ariel masih bingung dan belum mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi. Aditya kemudian menceritakan semuanya kepada Ariel bagaimana perlakuan kedua orangtua Cyntia kepadanya siang tadi. Keangkuhan mereka membuat Aditya harus melakukan ini untuk membungkam mulut keduanya terutama Ibu dari Cyntia.
"Berani sekali dia berbuat seperti itu, cari masalah saja! Kurasa mereka sekeluarga sudah hilang akal sehatnya, merekalah sampah yang harus segera di musnahkan, mereka pikir mereka siapa, berani sekali merendahkanmu, astaga!!!" Gumam Ariel kemudian mengambil berkas milik Aditya dan membacanya, ada nama perusahaan-perusahaan besar disana, lalu tersernyum dan memuji kebodohan orangtua Cyntia yang sepertinya salah memilih lawan kali ini.
"Biarkan saja, semua akan berakhir esok hari, lagipula tanpa harus aku berbuat seperti ini, saham mereka juga merosot sejak kemarin, tetapi besok aku jamin mereka akan kehilangan semuanya, semua perusahaan ini adalah investor terbesar mereka dan perusahaan-perusahaan itu pasti akan ikut mundur juga setelah aku besok bertemu dengan para Pimpinannya, orangtua Cyntia yang sudah memulai menyulut api kemarahanku maka mereka juga yang akan terbakar olehku"
"Kau melakukan hal yang benar Dit, orang seperti mereka memang harus dihancurkan dengan cara seperti itu agar bisa menjaga sikapnya" Ujar Ariel.
Bagi Ariel, oangtua Cyntia terutama Ayahnya harusnya bisa mengantisipasi hal ini agar tidak terjadi, serta belajar dari sebelumnya yang sudah pernah Aditya lakukan pada mereka. Serta bersyukur saat itu Aditya tidak menghancurkan keseluruhannya karena saat itu Aditya masih berusaha memberi mereka kesempatan tetapi sayangnya mereka melakukan kebodohan lagi yang lebih parah, selain menghina Aditya dan keluarganya yang lebih menyakitkan adalah ucapan mereka tentang keadaan Kyros. Ariel menjadi merinding membayangkan kehancuran yang akan dialami keluarga Cyntia secara perlahan.
Aditya mendekatkan badannya ke Ariel dan berbisik kepada sahabatnya itu. "Karena kekacauan ini aku sampai lupa menanyakan tentang dinnermu dengan Maysa kemarin?? Bagaimana??"
"Berjalan lancar, tetapi dia masih menjaga jarak, menjawab pesanku hanya sesekali, kau harus membantuku lagi"
"Aku????? Kau meminta bantuanku???" Seru Aditya yang langsung membuat Cahya dan Maysa yang ada di dekat ranjang Kyros pun menengok ke arah dia dan Ariel.
"Sorry sorry hahaha" Ucap Aditya lalu mendekatkan kepalanya dan mendengarkan dengan seksama ucapan Ariel.
Cahya mencoba menahan tawanya melihat Aditya dan Ariel yang terlihat sedang sibuk bergosip. Ternyata bukan hanya perempuan saja yang hobi bergosip, kedua lelaki itu tampak serius sekali dengan perbincangan mereka yang entah apa sebenarnya sedang dibahas oleh mereka.
******
Beberapa hari kemudian, Kyros akhirnya sudah diijinkan pulang. Keadaan bayi itu sudah sangat membaik, tubuhnya juga terlihat lebih sehat dan mengencang lagi setelah sebelumnya lemas karena kehilangan banyak cairan. Kyra berteriak terlihat kegirangan ketika melihat kakaknya sampai di rumah. Mungkin Kyra juga merasakan kangen yang luar biasa kepada Kyros yang sudah beberapa hari tidak bermain dengannya.
Ibu Cahya membawa Kyra mendekat ke Kyros yang ada di gendongan Cahya, tak diduga kedua saudara itu langsung berpelukan. Kyra memeluk Kyros dan berguman tidak jelas mengisyaratkan kerinduannya pada kakaknya. Cahya kemudian meletakkan Kyros di box bayinya begitu juga dengan Ibu Cahya yang juga meletakkan cucu perempuannya itu ke box yang sama dengan Kyros.
Ibu Cahya kemudian mengambil beberapa mainan dan meletakkannya disana sehingga kedua cucunya bisa bermain bersama. "Ibu akan membuatkan jus untukmu dan Adit, jaga mereka"
"Baik Bu"
Aditya meletakkan tas berisi pakaiannya dan Cahya yang dipakainya saat di rumah sakit diatas tempat tidurnya, kemudian masuk ke kamar si kembar. Aditya menghampiri Cahya yang sedang berdiri disisi box bayi Kyros kemudian memeluknya dari belakang.
"Aku tidak akan lagi membiarkan anak-anak kita mengalami hal buruk seperti kemarin lagi, maafkan aku karena kecerobohanku kau dan Kyros harus mengalami hal buruk itu" Bisik Aditya pada Cahya yang kemudian istrinya itu membalikkan badannya.
Cahya menatap Aditya dengan sangat dalam lalu tersenyum. "Kau menjaga kami dengan sangat baik selama ini, anggap saja itu musibah tetapi selanjutnya kita harus lebih waspada"
"Maaf juga karena kedepannya semua aktifitasmu diluar rumah harus di awasi oleh bodyguard, aku harus melakukan itu semua walau mungkin kau merasa tidak nyaman"
"Tidak apa-apa, jika itu demi kebaikanku dan anak-anak"
"Besok akan datang 2 bodyguard lagi, mereka adalah 2 wanita yang sudah terlatih dan akan bertugas bergantian dengan Soni dan Irwan, sehingga itu akan membuatmu lebih nyaman"
"Thanks!!" Cahya memgang rahang Aditya dengan kedua telapak tangannya lalu mengecup bibir suaminya itu.
Aditya mendongakkan kepala Cahya kemudian mendekatkan wajahnya dan mulai menelusupkan bibirnya. Cahya meresponnya. Lidahnya mendesak masuk kemudian, terasa hangat, tanpa permisi menjelajahi seluruh bagian mulut Cahya, mencecapnya rasanya, lidah Aditya menemukan lidah Cahya yang lembut dan berjalinan di sana. Aditya ingin menyerap semua rasanya. Pelukannya mengencang, jemarinya menelusuri permukaan kedua lengan Cahya lalu bergerak naik turun.
Ciuman itu terlepas saat terdengar suara benda jatuh yang mengejutkan Cahya dan Aditya. Mainan si kembar terjatuh, keduanya terkekeh lalu Cahya membungkuk dan mengambilnya. Kyros berpegangan ke box bayinya dan mencoba berdiri, dengan sigap Aditya memegangnya dan mendudukkan kembali putranya itu di dalam box bayi.
"Ku rasa kita harus mengganti box bayi ini, jika tidak aanak-anak bisa terjungkal dan jatuh ke lantai saat mereka mencoba untuk berdiri" Gumam Aditya.
"Kau benar, anak-anak akan semakin tumbuh dan semakin aktif"
"Kita bawa mereka ke lantai saja seperti biasa, agar lebih aman saat bermain"
Cahya dan Aditya kemudian mengangkat Kyra dan Kyros dari box bayi itu dan membawa mereka keluar kamar lalu meletakkan mereka ke lantai yang sudah dilapisi karpet bulu lembut. Aditya duduk di lantai bersama si kembar dan juga Cahya. Aditya meraih remote televisi yang ada di atas sofa dan menyalakan televisi, ini adalah jam untuk melihat berita perkembangan pasar saham ataupun berita tentang bisnis, dan ini sudah biasa dia lakukan saat di kantor.
Senyum Aditya mengembang di wajahnya saat pembaca berita mengabarkan tentang PT. Buana Coal yang tidak lain adalah perusahaan milik keluarga Cyntia dalam seminggu terakhir mengalami penurunan secara drastis, setelah kasus penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap cucu dari Harry Sahasya pemilik HS Enterprise, yang coba dilakukan oleh putri tunggal dari pemilik perusahaan Buana Coal. Yang akhirnya mengakibatkan seluruh investornya mundur dan menarik semua investasi mereka di perusahaan itu. Selain itu juga kerugian besar terjadi pada mereka karena banyak perusahaan yang memutuskan kontrak kerjasama dengan mereka. Yang tentu saja dalam waktu dekat bisa membuat perusahaan itu mengalami pailit.
Aditya hanya bisa menahan tawanya melihat tayangan itu, kehancuran keluarga Cyntia sudah dimulai. Semua karena sikap mereka, andai saja mereka tidak berbuat demikian dan meminta maaf serta menerima dengan legowo proses hukum Cyntia yang sedang berjalan pasti Aditya tidak akan melakukan hal ini. Pada akhirnya kesombongan akan menghancurkan mereka sendiri. Aditya bisa berbuat baik tetapi dia juga bisa berbuat kejam bagi mereka yang tidak tahu diri dan suka bertindak sesukanya tanpa memikirkan perasaan orang lain.