SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 236



Cahya mendekati Elea yang sedang duduk termenung sendirian di taman belakang rumah. Elea tampak sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tidak menyadari jika Cahya datang dan duduk disampingnya.


Cahya menyikut lengan Elea. "El, lagi mikirin apa??? Kangen Danist ya??? Baru juga ditinggal beberapa jam"


"Apa sih Ca, udahan mandiin si kembar??"


"Sudah, mereka ada di ruang keluarga gabung sama Gienka, lagi mikir apaan sih???"


Elea menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. Entah kenapa perasaannya sekarang menjadi berat setelah ditinggal Danist, padahal selama ini dia tidak pernah merasakan seperti ini. Mungkin karena dia terbiasa bertemu dengan Danist setiap hari dan berbagi banyak hal dengan lelaki itu, mengobrol dan sharing berbagai hal, sehingga sekarang saat Danist pergi hatinya terasa begitu berat.


"El, semalam Adit mengatakan jika Ariel tidak ada kabar sama sekali, Randy juga sedang mencarinya tetapi tidak ada yang tahu dimana keberadaannya sudah sekitar 2 minggu, sepertinya sejak kejadian itu dia menghilang, apa dia tidak datang menemui Gienka setelah kejadian itu??"


"Tidak Ca, aku pikir dia hanya menghindariku dan Danist saja ternyata dia juga menghindari semua orang"


"Lalu kemana perginya Ariel? Hmmmm aku masih tidak menyangka dia tega melakukan hal itu, mungkin dia menghilang karena malu, biarkan sajalah" Gumam Cahya lalu melihat jam tangannya. "Kok Adit belum pulang ya?? Sudah jam segini loh, tumben, masuk yuk udah gelap"


Elea dan Cahya masuk ke dalam rumah, dan berpapasan dengan Papa mertuanya yang baru saja kembali dari kantor. Cahya langsung menanyakan Aditya padanya apakah ada pekerjaan penting dikantor sehingga sudah hampir jam 6 suaminya itu belum juga kembali. Tetapi Papa mertuanya menjelaskan bahwa Aditya sudah pulang sejak tadi dan harusnya sudah sampai dirumah.


Cahya panik dan berlari naik ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Aditya. Tidak biasanya dia pulang terlambat, kalaupun ada meeting atau pekerjaan lainnya pasti akan memberitahu tapi ini sama sekali tidak menelepon atau sekedar mengirim pesan.


*****


Aditya sampai di kantor polisi dan juga sudah menghubungi pengacaranya untuk membantu mengurus permasalahan Adri, sekarang menunggu pengacaranya itu di parkiran. Ponselnya berdering dan ada nama Cahya disana, terlalu kalut memikirkan Adri, sampai dia lupa memberitahu Cahya, istrinya itu pasti sedang khawatir karena dia belum pulang.


"Ya sayang" Sahut Aditya dengan cepat.


"Kok belum pulang, lagi dimana? Kamu gapapa kan??"


"Im good, aku pulang terlambat ya ada urusan mendadak, dan jangan katakan apapun pada Mama dan Papa"


"Kenapa??? Ada urusan apa???" Tanya Cahya panik.


"Aku akan pulang terlambat, ceritanya panjang nanti ku ceritakan dirumah, jika papa dan Mama bertanya jawab saja aku dan Adri ada urusan penting" Pinta Aditya pada Cahya, karena dia takut kalau sampai kedua orangtuanya itu mengetahui hal ini mereka akan panik dan terjadi masalah di rumah.


Aditya melihat kedatangan pengacaranya yang menghampirinya.


"Sayang sudah dulu ya, I love You" Aditya langsung menutup teleponnya, meninggalkan Cahya yang mengernyit keheranan dengan apa yang sebenarnya dilakukan suaminya itu.


Aditya menyalami pengacaranya itu dan segera mengajaknya masuk.


Adri terlihat berdiri karena batu saja dimintai keterangan oleh polisi. Aditya ingin sekali rasanya memukul adiknya itu, karena bisa-bisanya berkelahi di tempat umum, dan sekarang wajah adiknya itu juga dipenuhi dengan luka lebam. Melihat kedatangan Aditya, Adri hanya bisa menundukkan kepalanya karena dari tatapan kakaknya itu terlihat marah sekali kepadanya. Aditya dan Pengacaranya langsung menghadap penyidik yang baru saja memeriksa Adri.


*****


Akhirnya Adri diijinkan untuk pulang setelah melewati proses yang cukup panjang. Aditya juga harus bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi akibat ulah adiknya itu. Dengan menahan amarahnya dia mengajak Adri untuk pulang bersamanya dan mobilnya yang masih di cafe itu akan diurus oleh Randy. Saat mereka keluar, Randy ternyata baru tiba di kantor polisi, tadi Aditya memang menghubunginya untuk membantu permasalahan ini.


"Sudah, menyusahkan saja! Oh iya Ran, tadi aku sudah bertemu dengan manager cafe itu dan sudah memberi kartu namaku, aku minta bantuanmu untuk mengurus kerusakan disana dan beri mereka uang sebagai ganti rugi, serta bawa juga mobil Adri pulang"


"Oke Dit, kebetulan aku mengajak Ujang, aku akan memgurus semuanya, kau bawa saja Adri pulang"


"Mana kunci mobilmu, berikan pada Randy" Gertak Aditya pada Adri.


Adri mengambil kunci mobilnya di saku dan memberikannya pada Randy. Randy pun bergegas pergi meninggalkan kantor polisi, sementara Aditya mengucapkan terima kasih kepada pengacaranya itu.


Saat didalam mobil, Aditya hanya diam mengemudikan mobilnya. Sedangkan Adri hanya menunduk penuh penyesalan dan dilingkupi ketakutan dengan kemarahan kakaknya itu padanya. Jika Aditya sudah diam menandakan bahwa dia sedang sangat marah.


"Kak, tolong jangan katakan ini pada Papa atau Mama, aku takut Papa akan memarahiku"


"Kalau kau takut papa akan marah kenapa kau melakukan itu?? Apa yang ada di otakmu sehingga kau melakukannya, apa kau tidak memikirkan dampak yang akan terjadi kau membuatku malu saja! Sudah sering ku bilang bahwa kau harus langsung pulang jangan kemana-mana, inilah hasilnya, merepotkan saja"


"Tapi aku tidak terima dengan ucapannya kak"


"Kau bisa meninggalkannya tanpa harus melakukan apapun, biarkan dia berceloteh sesukanya yang penting kau tidak melakukannya seperti apa yang dia ucapkan, orang dengki seperti dia, sifatnya tidak akan pernah bisa berubah, dia akan senang jika bisa mengusikmu, begitu saja kau tidak mengerti, sekarang diamlah!!" Teriak Aditya pada Adri.


*****


Aditya dan Adri sampai dirumah hampir pukul 10 malam, Aditya tidak langsung masuk ke rumah, dia menghubungi Cahya agar turun dan membuka pintu, karena tidak mau membangunkan yang lainnya jika dia menekan bel rumah. Cahya membuka pintu, dan benar saja rumah sudah dalam keadaan sepi karena sepertinya semua orang sudah tidur.


Aditya langsung menyuruh istrinya itu untuk mengambil kotak P3K dan mengobati luka Adri. Masih bingung dengan apa yang sedang terjadi, Cahya tidak banyak bertanya dan pergi menuruti apa yang diminta Aditya.


Cahya masuk ke kamar Adri dan terlonjak melihat wajah adik iparnya itu dalam keadaan penuh luka lebam, tadi dia tidak melihatnya karena kondisi rumah gelap tapi sekarang sangat jelas terlihat.


"Sayang, apa yang terjadi dengan Adri, kenapa dia seperti habis dipukuli orang?"


"Dia bertengkar dengan temannya, obati dia dan aku juga sangat lapar, aku akan mandi dulu"


"Ya sudah kamu mandi dulu, nanti akan ku siapkan makanan untukmu"


Cahya membersihkan luka Adri perlahan membuat adik ipar nya itu meringis karena perih. Cahya kemudian memberi salep di beberapa luka Adri seraya menanyakan kenapa bisa bertengkar karena sejauh yang dia tahu, Adri tidak pernah sekalipun terlibat hal semacam itu.


"Sudah beres, apa kau lapar?? Kakak akan membawa makanan kesini untukmu kau istirahat saja ya??" Ucap Cahya lalu berdiri dan meninggalkan Adri.


Cahya menghangatkan makanan di dapur setelahnya mengantar ke kamar Adri dan beberapa saat kemudian Aditya keluar dari kamar. Mereka berdua turun untuk makan malam. Karena masih belum mendapatkan jawaban yang pasti, Cahya kembali bertanya kepada Aditya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aditya pun menjelaskan semuanya dati awal sampai akhir lalu menyuruh istrinya itu tidak mengatakan tentang Adri yang dibawa oleh polisi kepada Mama dan Papanya. Cahya hanya menghela napasnya panjang mendengar Aditya bercerita, karena masih saja ada orang yang berucap tidak baik kepada orang lain.


"Sayang, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, aku minta maaf karena tidak menceritakannya sebelumnya" Ucap Cahya.


Aditya mengernyit "Mengatakan tentang apa??"