
Pak Andi terdiam, tetapi membenarkan semuanya, bahwa memang harus ada persetujuan dari Ariel jika dia ingin memberikan sebagian perusahaannya kepada Danist. Tetapi dia bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya kepada Ariel, apakah putranya itu akan menerima kenyataan bahwa Danist adalah kakaknya, mengingat hubungan keduanya saat ini sangatlah tidak baik. Dan tidak ada pilihan lain selain harus mengatakan semuanya, dan sekarang dia hanya butuh keberanian untuk mengatakannya.
"Baik pak, saya akan mengatakan semuanya kepada keduanya, saya minta bapak siapkan saja semuanya dulu, setelah siap tolong hubungi saya, selanjutnya kita akan menindak lanjutinya" Ujar pak Andi kepada pengacaranya.
"Baik saya akan siapkan semuanya, tetapi tentunya saya butuh data diri dari putra sulung Anda, Danist"
"Segera akan saya kirimkan, kalau begitu saya harus permisi dulu untuk ke kantor, terima kasih"
Dalam perjalanannya ke kantor, Pak Andi diam dan memikirkan bagaimana caranya agar permasalahan ini dapat segera diatasi. Karena bukan hanya masalah menyampaikan ke Ariel, tetapi juga bagaimana caranya agar dia mendapatkan persetujuan dari mantan istrinya untuk mengungkapkan semuanya pada Danist. Akan tetapi sekeras apapun dia membujuk wanita itu pasti tidak akan mudah juga tidak akan berhasil, mengingat wataknya yang keras. Satu-satunya cara hanya langsung mengungkapnya pada Danist sendiri. Dan dia berharap semoga nanti hubungan kedua anaknya menjadi lebih baik saat mereka mengetahui semuanya, mengingat saat ini Ariel sudah mulai menerima kenyataan bahwa Elea sudah bahagia bersama dengan Danist
*****
Danist mendekati Elea yang sedang sibuk merapikan pakaian di koper dan duduk disebelahnya. Danist meminta kepada Elea agar tidak membahas obrolan mereka semalam tentang kedatangan Ayahnya. Danist takut itu akan membuat sang Mama bersedih lagi karena selama ini Mamanya sudah berusaha melupakan semuanya.
Elea tersenyum dan tentu saja dia tidak akan melakukan hal itu, menjaga perasaan ibu mertuanya juga penting. Elea tahu betul bagaimana perasaan dan perjuangan suami dan ibu mertuanya dulu.
Setelah selesai merapikan koper, Elea dan Danist keluar kamar menemui orangtua mereka yang sedang bersama Gienka.
"Ma, Pa, kami ingin membicarakan sesuatu dengan kalian" Ucap Danist yang membuat kedua orangtua Elea serta Mamanya saling berpandangan satu dengan lainnya.
"Membicarakan apa??? Serius sekali??" Tanya Mamanya.
"Jadi begini, aku dan Elea berencana untuk menikah lagi jadi agar pernikahan kami sah dimata negara"
Semua yang mendengarnya pun tersenyum mendengar ucapan Danist. Menikah lagi adalah hal yang sudah mereka tunggu, dan akhirnya Danist dan Elea sudah memutuskan hal itu.
"Syukurlah....! Akhirnya! Lalu kapan kalian akan melakukannya?"
"Rencananya akhir bulan depan, karena untuk sekarang aku harus fokus mengurus semua pekerjaan di kantor"
Semuanya setuju dengan niat Danist dan Elea, terutama kedua orangtua Elea. Mereka berharap ini akan menjadi pernikahan yang terakhir untuk Elea, mengingat apa yang dulu sudah terjadi kepada putrinya itu sangat tidak menyenangkan, sebagai orangtua hati mereka sangat hancur. Putri kesayangannya dijadikan sebagai mainan oleh laki-laki yang mereka percayai untuk menjaganya tetapi malah menghancurkannya. Dan sekarang mereka bisa melihat dengan jelas binar kebahagiaan yang ada di wajah Elea, Danist memang laki-laki yang luar biasa baik dan mau menerima segala kekurangan dari Elea, bahkan juga sangat menyayangi Gienka dengan sangat baik.
****
Cahya masuk ke ruangan kerja Aditya membawa makanan juga jus untuknya, sedangkan kedua bayinya sedang bermain bersama ibu dan Adiknya di halaman belakang. Besok Aditya sudah harus kembali ke kantor karena dia tidak bisa terlalu lama di rumah dan pekerjaan sudah menunggunya. Cahya sudah meminta kepada Aditya agar kembali bekerja lusa saja tetapi Aditya menolaknya karena lusa justru ada jadwal meeting penting dengan klien dari luar negeri, dan besok suaminya harus mempersiapkan semuanya. Sebagai istri yang baik, Cahya akhirnya memilih untuk membiarkan Aditya besok kembali bekerja lagi.
"Ini jusnya" Cahya meletakkan segelas jus didelan Aditya dan duduk lalu menumpukan dagunya di telapak tangannya.
"Thank you" Ucap Aditya dan meminumnya hingga hanya menyisahkan setengah gelas. "Sayang, aku jadi teringat dengan Ariel yang kemarin datang dan memberitahu ku bahwa dia sudah menerima tanggung jawab mengurus pekerjaan di beberapa kantor Ayahnya tetaoi apakah kau tahu bahwa om Andi ternyata hanya memberikan separuh untuk Ariel, padahal yang aku tahu sejak dulu dia ingin sekali Ariel mengurus semuanya, itukan aneh"
"Kenapa aneh??? Mungkin saja om Andi tidak ingin membebani Ariel, kau tahu sendiri kan betapa banyaknya pekerjaan yang harus diurus oleh Ariel?"
"Ya I know, tapi itu aneh sekali disaat Ariel sudah memutuskan untuk mengurus semuanya justru Om Andi berubah pikiran, apa jangan-jangan dia sudah tahu bahwa Danist adalah putranya dan berniat memberikan setengahnya pada Danist"
"Bisa jadi juga sih, tapi ribet juga ya permasalahan keluarga mereka, membayangkan jika suatu saat itu terbongkar akan seperti apa nanti jadinya, Elea juga belum tahu tentang hal ini, apa aku harus memberitahunya?"
Dengan cepat Aditya tidak mengijinkan Cahya untuk memberitahu Elea tentang hal ini karena itu pasti akan menimbulkan kegaduhan dan membiarkan semuanya berjalan seperti biasa saja, permasalahan itu pasti nanti akan diselesaikan oleh Ayah Ariel dan Mamanya Danist sendiri. Ditengah obrolannya dengan Cahya, Aditya melihat ponselnya berkedip dan securitynya yang meneleponnya, pasti ada yang akan datang bertamu.
Benar saja, ada yang datang untuk bertamu, Aditya mengijinkan securitynya untuk membuka gerbang dan menyuruh taminya untuk masuk.
"Sayang, Chitra datang, sepertinya dia ingin menemuimu, ayo keluar" Ujar Aditya.
Dengan cepat Cahya keluar dari ruangan kerja Aditya dan setengah berlari menuju pintu dan membukanya. Dia langsung melambaikan tangannya kepada Chitra yang baru saja masuk ke gerbang. Cahya berpikir Chitra sepertinya datang dengan berjalan kaki mengingat rumah irangtuanya juga tidak terlalu jauh dari rumah ini. Cahya langsung mempersilahkan sahabatnya itu untuk masuk.
"Dia sedang berada di luar kota Ca, dan kebetulan sejak kemarin aku menginap di rumah orangtuaku"
"Oh gitu, duduk yuk, Aditya sebentar lagi akan keluar dia masih menyelesaikan pekerjaannya, kau mau minum apa??"
"Apa saja Ca, Kyros dan Kyra mana??? Aku sangat merindukan mereka berdua"
"Mereka ada di belakang bersama Chika dan ibu, aku akan memanggilnya, sebentar ya?" Gumam Cahya tetapi dahinya berkerut melihat wajah Chitra yang sedikit pucat. "Chit? Kau pucat, apa kau sedang sakit?"
"Beberapa hari ini aku merasa tidak enak badan tetapi aku tidak apa-apa Ca"
"Kalau kau sakit kenapa kau datang? Kau kan bisa datang kapan-kapan, ya sudah biar mbak Tina membuatkanmu teh hangat, sementara itu aku akan mengajak Ky dan Kyra kesini"
Cahya pergi meninggalkan Chitra di ruang tamu dan berjalan ke halaman belakang untuk mengajak kedua bayinya masuk serta akan menyuruh asisten rumah tangganya membuatkan teh hangat untuk sahabatnya itu. Tidak butuh lama Cahya kembali menghampiri Chitra diruang tamu dengan membawa Kyros dan Kyra serta ibu juga Adiknya.
Melihat si kembar datang, Chitra tersenyum senang dan berdiri untuk mencium mereka, tetapi tiba-tiba matanya berkunang-kunang dan kepalanya berdenyut. Chitra mencoba menjaga keseimbangannya tetapi kemudian dia jatuh pingsan, beruntungnya dia berdiri di dekat sofa hingga tubuhnya lunglai di atas sofa. Cahya, Chika dan Ibunya dibuat terkejut melihat Chitra jatuh pingsan di depan mereka, Cahya langsun mendekati Chitra dan berusaha membangunkannya.
"Chit..... Bangun Chit... Kau kenapa?? Chitra..." Ucap Cahya panik, dan saat memgang tubuh sahabatnya itu, Cahya langsung merasakan panas di telapak tangannya.
"Ah astaga badannya panas sekali, Dhek cepat panggil Adit" Perintah Cahya kepada Chika.
Chika yang sedang menggendong Kyra langsung berlari dan berteriak memanggil kaka iparnya yang masih ada diruang kerjanya. Sampai disana Chika langsung menjelaskan keadaan Chitra dan bergegas Aditya berlari menuju ruang tamu.
"Chitra kenapa??" Seru Aditya.
"Badannya panas, dan dia tiba-tiba pingsan, ayo kita harus segera membawanya ke rumah sakit sayang, biar ibu dan Chika yang menjaga Anak-anak dirumah" Ucap Cahya panik.
Dengan segera, Aditya mengangkat Chitra dan membawanya keluar. Cahya masuk ke mobil terlebih dulu dan menjadikan kedua pahanya sebagai alas kepala Chitra. Lalu Aditya membaringkan Chitra di belakang bersama Cahya yang sudah ada didalamnya.
Karena mengendarai dengan cepat, tidak butuh waktu lama akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Dengan segera Chitra langsung di bawa ke ruang IGD untuk ditangani oleh perawat. Cahya mondar-mandir dan masih memasang raut wajah yang panik dan terus merapalkan doa agar sahabatnya itu tidak kenapa-kenapa. Sementara Aditya sibuk menghubungi keluarga Chitra juga Randy agar bisa segera datang ke rumah sakit.
"Randy butuh waktu untuk datang mungkin satu atau satu setengah jam lagi" Ujar Aditya pada Cahya.
"Setidaknya dia akan segera datang, bagaimana dengan om dan tante?"
"Aku sudah menghubungi tante Diyah, beliau sudah bersiap kesini"
Cahya menghela napasnya merasa lega, tetapi dia juga masih cemas karena dokter belum keluar. Akhirnya setelah memeriksa Chitra, dokter keluar.
"Apa kalian keluarga dari pasien??"
"Kami sahabatnya, keluarganya sedang dalam perjalanan, gimana dok keadaan sahabat saya?" Tanya Cahya.
"Ibu Chitra saat ini sedang hamil"
"Hamil???" Wajah Cahya yang semula vemas berubah menjadi bahagia dan senyumnya langsung tersungging dari bibirnya, tidak menyangka dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Iya sedang hamil, akan tetapi tekanan darahnya sangat rendah makanya dia pingsan dan sekarang butuh istirahat, saya ucapkan selamat, dan perawat akan membawanya ke ruang rawat inap, permisi"
Setelah cemas, Cahya melompat-lompat lalu memeluk Aditya dengan bahagia mendengar kabar bahagia dari Chitra sahabatnya. Karena Chitra sering curhat kepadanya bahwa dia ingin sekali segera hamil tetapi belum juga mendapat kepercayaan untuk hamil, dan akhirnya sekarang Chitra hamil juga.