SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 367



Gienka membawa kue ke pojokan ruangan Aditya dan duduk di kursi kecil yang ada disana kemudian memakannya. Sementara Ariel dengan kesal menghampiri Randy yang duduk di sofa.


"Kau benar-benar keterlaluan Ran, memanfaatkan Gienka yang polos untuk mempermalukanku" Gerutu Ariel.


"Astaga, bukan aku yang mempermalukanmu, putrimu sendiri yang mengatakan jika kau ternyata menyimpan fotomu dan Maysa, hahaha aku mana tahu....!!!"


"Kau yang memancingnya, aku sudah pasti akan menghajarmu jika saja tidak ada Gienka disini"


"Elleh...!!! Mumpung kesempatan sedang terbuka lebar, aku tahu kau masih mencintai Maysa, lupakan masalalu dan kejar masa depan, lagipula apa susahnya meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kau sakiti? Hilangkan gengsimu Iel, katakan maaf pada Danist dan Mamanya juga dengan Maysa, mereka sama sekali tidak bersalah, mereka bertiga orang baik, kau hanya akan semakin merasa hampa jika terus seperti ini" Ucap Randy.


Aditya berdiri dari kursi kerjanya dan melangkah menghampiri kedua sahabatnya yang ada di sofa. Aditya duduk dan melipat tangan menatap Ariel. Berbicara tentang Danist, Aditya menjadi teringat obrolannya beberapa waktu yang lalu dengan Danist. Dimana lelaki itu terlihat sangat sedih saat berbicara tentang keluarganya.


"Randy benar Iel, buang jauh-jauh gengsimu, putrimu akan semakin dewasa, suatu saat dia juga pasti akan bertanya tentang hubunganmu dengan Danist, lagipula Danist sangat baik, dia pasti akan memaafkanmu, peluk dia dan bersatulah untuk Gienka, kau pasti sangat tahu jika dia juga begitu menyayangi Gienka, kenyataan bahwa kau adiknya itu tidak bisa berubah sampai kapanpun, aku yakin tante Irma juga akan senang melihat semua itu, kau dan Danist saling menyayangi, mengingat dulu dia sangat menyesal atas perbuatannya"


Ariel tidak mengatakan apapun dan justru meninggalkan Aditya dan Randy, memilih untuk menghampiri Gienka. Dia sangat malas sekali jika harus membahas hal tentang Danist.


Aditya dan Randy hanya mengehela napasnya dan saling memandang. Ariel selalu saja bersikap seperti itu saat mereka mencoba mengingatkan sahabatnya itu.


*****


Cahya baru saja selesai mengemasi pakaian, besok mereka akan berangkat ke pulau dewata untuk pernikahan Adri dan Chika yang akan diadakan disana, tepatnya di villa mereka. Tetapi karena villa akan dijadikan venue pernikahan juga akan memberikan privasi untuk pengantinnya, Cahya dan Aditya serta orangtua mereka akan memilih untuk tinggal di resort milik Ariel yang tidak jauh dari villa itu. Sementara para tamu undangan yang jumlahnya terbatas sudah disiapkan penginapan oleh Aditya, yaitu di salah satu hotel milik Ariel juga. Hanya akan ada sekitar 150 tamu saja untuk acara kali ini dan orang terdekat saja, sementara acara besarnya akan diadakan 2 minggu setelahnya di Jakarta dengan mengundang teman, rekanan kerja dan teman bisnis dari keluarga Aditya.


Aditya menyuruh Adri agar menyerahkan semua persiapannya pada WO yang sudah disarankan oleh Ariel, karena mereka adalah kepercayaan Ariel selama ini dan sudah sering mengurus hal semacam ini. Bahkan untuk gedung juga Aditya serahkan pada Ariel. Akhirnya diputuskan acara resepsi kedua nanti akan diadakan di salah satu ballroom hotel mewah milik Ariel yang dulu juga digunakan Aditya untuk acara pernikahannya dengan Cahya. Jika semuanya sudah diurus oleh ahlinya tentu keluarga Aditya tinggal menerima beresnya saja dan tidak perlu direpotkan dengan ini itu, mengingat mereka juga sibuk mengurus kepindahan rumah mereka sementara nantinya yang pastinya akan sangat sibuk.


Cahya menutup kopernya. "Sayang! Sudah selesai turunkan ke lantai, aku akan melihat anak-anak dibawah" Gumam Cahya.


"Iya! Saat kembali bawakan aku jus" Pinta Aditya.


Cahya mengangguk dan pergi keluar kamar untuk melihat Kyra dan Kyros yang sedang bermain di bawah bersama dengan Oma Opa nya. Aditya meletakkan laptopnya di meja dan berdiri untuk menurunkan kedua koper yang ada diatas tempat tidur berisi pakaian dan keperluan anak-anaknya nanti. Aditya menarik koper itu ke tembok kama mandi dan meletakkannya disana, lalu kembali lagi sofa untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Kak....!! Kak Adit....!" Adri mengetuk pintu kamar Aditya sambil menengok kanan kiri, dan terdengar suara sahutan dari dalam menyuruhnya masuk.


Adri masuk tetapi sekali lagi pandangannya tertuju pada selurus sudut kamar kakaknya itu, dia melangkah pelan dan berhenti di depan kamar kedua keponakannya memastikan bahwa tidak ada orang disana. Aditya mengernyit melihat ada yang aneh pada diri Adiknya yang tidak biasanya.


"Woe...!!! Aku disini...!!! Kau ingin mencuri atau ingin apa masuk ke kamarku seperti itu... Apa yang kau cari...???!" Tanya Aditya.


"Apa kakak sendirian disini???"


"Tidak....!!! Aku tidak sendirian...! Ada.... Kau dan aku selalu untuk selamanya....!!! Kau dan aku selalu untuk bersama....!!" Aditya malah bernyanyi sambil tertawa, membuat Adri wajah Adri kesal.


"Kakak ini malah bercanda, aku bertanya serius juga" Protesnya pada Aditya.


Adri menggeleng kemudian duduk di sebelah Aditya Sekali lagi, Adri memutar bola matanya melihat keseluruh sudut kamar kakaknya itu. Aditya semakin dibuat bingung oleh kelakuan adiknya yang tidak biasa. Dia pun menaruh curiga jangan-jangan adiknya itu membuat masalah lagi yang tidak ingin diketahui orang lain selain dirinya. Mengingat selama ini Adri lebih berani berbicara kepadanya jika ada masalah dibanding harus berbicara kepada orangtuanya, terutama pada Papanya, Adri sangatlah takut.


"Jangan clingak-clinguk bodoh, tidak ada siapapun disini, ada apa?? Kau membuat masalah lagi?" Tanya Aditya.


"Sembarangan...!!! Memangnya aku tukang onar, sebenarnya aku......!!! Aku....!!" Adri meragu dan mengusap-usap kepalanya dan kembali memastikan situasi agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya dengan kakaknya. Adri mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Aditya. "Kakak...! Ajari aku cara melakukannya, katanya perempuan akan kesakitan saat pertama kali, bagaimana caranya agar aku tidak menyakitinya, apa yang harus ku lakukan nanti?"


Mendengar pertanyaan adiknya, Aditya tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan airmata. Dengan cepat Adri menutup mulut kakaknya dengan telapak tangannya dan menyruhnya untuk diam.


"Kau datang menemuiku diam-diam hanya untuk bertanya itu??? Hahahaha"


"Kakak diamlah...! Jika tidak, nanti akan ada yang mendengar tawamu, aku serius bertanya, kau malah tertawa"


"Kau polos sekali..! Hahaha Sorry ... Sorry...!!!" Ucap Aditya, kemudian dia pun mencoba menjelaskan apa yang pernah dia lakukan dulu. Bahwa nanti Adri hanya perlu melakukannya perlahan saja sebagai pengenalan, karena perempuan tetap akan merasa sakit tetapi dia harus bisa mengalihkan rasa sakit perempuannya dengan hal lain, seperti menciumnya atau yang lainnya, dan harus dilakukan dengan lembut dan jangan buru-buru sampai dia benar-benar terlihat nyaman.


"Tapi ingat Dri, pemanasan di awal harus dilakukan supaya tidak tegang, and then setelah pertama kali melakukannya, jangan langsung tancap gas lagi, beri dia waktu untuk menghilangkan rasa sakitnya, ya sekitar 24jam baru kau boleh melakukannya lagi tetapi tetap perlahan, kau mengerti???"


Adri tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Aditya beranjak, dan terlihat membuka laci kemudian kembali lagi duduk disebelah Adri. Aditya memberikan sesuatu pada Adri, kotak kecil panjang berwarna cokelat. Adri mengangkat alisnya. "Apa ini???" Tanyanya.


"Permen ajaib...! Aku baru membelinya, sebenarnya ingin ku gunakan sendiri saat oindah ke apartemen nanti tetapi kurasa kau juga perlu mencobanya" Ucap Aditya sambil mengangkat alisnya. "Makan ini satu di hari ketiga atau keempat saja, cukup satu lalu minumlah segelas air, simpan sendiri dan jangan sampai Chika mengetahuinya"


"Memangnya ini permen apa??? Dan kenapa ribet sekali jika ingin memakannya saja, aneh"


Aditye menghela napasnya kemudian berbisik ditelinga Adri dan menjelaskan semua tentang permen itu dan alasan kenapa Adri baru bisa memakannya dihari ketiga dan selanjutnya saja. Adri tertawa sekaligus terkejut dengan penjelasan kakaknya, ternyata juga barang seperti permen ini, dia berpikir jika ingin seperti itu harus meminum jamu atau ramuan, nyatanya sekarang ada yang berbentuk lebih sederhana dan Aditya bilang jika rasanya seperti permen karamel biasa, tidak pahit seperti jamu.


"Kakak memang luar biasa, setiap malam kau pasti memakan permen ini ya???"


"Tidak....! Aku tidak bisa memakannya saat dirumah, hanya saat tertentu saja aku menggunakannya"


"Aku tahu kenapa kau tidak bisa melakukannya saat dirumah, tapi ini tidak ada efek sampingnya kan???"


"Gunakan seperlunya saja, jangan terus mengandalkannya, aku yakin kau akan sakit pinggang saat kembali ke Jakarta hahaha"


Kakak beradik itupun tertawa bersama. Adri sendiri sangat penasaran dengan efek permen itu, apakah akan setegang itu sampai berjam-jam. Dia sangat tidak sabar untuk memakannya nanti.


Klik.....!


Bunyi pintu terbuka dari luar, dengan celat Adri menyembunyikan permen dari Aditya kedalam saku celananya. Cahya masuk bersama dengan Kyra dan Kyros, dia terkejut melihat ada Adri duduk bersama Aditya. Adri kemudian mengucapkan permisi dan mencium kedua keponakannya sebelum keluar dari kamar Cahya dan Aditya.


"Thanks kak...!" Ucap Adri lalu pergi.