SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 240



Menjelang sore, Aditya menjemput Cahya dirumah Elea dan mengajaknya untuk pulang ke villa. Dalam perjalanan pulang, Cahya mengungkapkan keinginannya pada Aditya dan menjelaskan semuanya. Aditya tidak pernah bisa menolak keinginan istrinya itu, pada akhirnya dia menyetujuinya. Lagipula tidak ada salahnya juga menyetujuinya toh dia sendiri sedang mempersiapkan sesuatu untuk Cahya. Cahya langsung menyandarkan kepalanya di pundak Aditya yang sedang mengemudikan mobilnya. Karena jarak rumah Elea dan Villa tidak jauh, Cahya memilih duduk di depan sedangkan kedua bayinya ada di belakang dengan seat car mereka.


Aditya dan Cahya sudah sampai di villa, dan langsung membawa kedua bayinya ke kamar, sementara kopernya di bawa oleh pak Mizan. Saat sampai dikamar, Aditya langsung merapikan pakaian yang ada di koper sementara Cahya sedang bergantian menyusui Kyra dan Kyros.


"Sayang, apa Elea tidak mengatakan tentang Ariel, mungkin dia datang kesini menjenguk Gienka? Aku dan Randy masih tidak tahu dimana dia berada saat ini, udah sudah hampir 2 bulan, dia menghilang begitu lama"


"Hanya om Andi yang sering datang, baguslah jangan dulu dia kembali, aku takut Elea akan kenapa-kenapa lagi, Danist kan tidak ada disini" Gumam Cahya.


"Dasar! Kau ini!! Aku mandi dulu ya"


Cahya menatap punggung Aditya yang berjalan ke kamar mandi dengan senyumnya. Aditya sangat mencintainya hingga lelaki itu tidak pernah bisa menolak keinginannya. "Ada untungnya juga memiliki suami bucin seperti dia, suamiku memang yang terbaik" Gumamnya pelan.


Keesokan harinya, Elea mengendarai mobil Danist mengajak Chika ke villa untuk menemani Cahya karena Aditya sedang pergi ke perkebunan.


Sampai disana Chika mengajak bermain ketiga bayi itu diruang tengah, sementara Cahya dan Elea duduk di sofa sambil memperhatikan bayi mereka yang ada di lantai bersama Chika. Kemarin Cahya berhasil mendapatkan ijin Aditya kali ini dia menyampaikannya pada Elea.


Mendengar permintaan Cahya, Elea terlonjak dan menolaknya. Tidak mungkin dia melakukannya, apalagi ini bukan waktunya untuk bersenang-senang, semua dilakukan untuk urusan pekerjaan bagaimana bisa dia melakukan yang Cahya inginkan. Lagipula ini terlalu rumit, ribet, tidak semudah itu. Tetapi Cahya terus memaksa dan membujuk Elea agar menyetujuinya, toh semua akan menjadi tanggung jawabnya dan Aditya.


"Ayolah El, please.... Please ... Please...." Pinta Cahya.


"Tapi Ca?? Butuh waktu lama untuk mengurusnya, bagaimana bisa aku melakukannya???" Elea masih mencoba membantah.


"Astaga, kita masih punya waktu lama, kau bisa menyelesaikan semuanya, kurasa itu lebih dari cukup, ayolah please??? Jangan pikirkan apapun, Adit sudah menyetujuinya, semua akan beres, kau tenang saja"


Elea menghela napasnya lalu mengangguk. "Oke baiklah, besok aku akan mengurus semuanya, kau ini pemaksa sekali, aku yakin kau juga sudah memaksa Adit"


"Menaklukkan Adit bukan hal sulit, thanks ya Elea sayang" Ucap Cahya lalu memeluk Elea dengan perasaan bahagia karena sahabatnya itu akhirnya mau.


*****


Karena menyetujui permintaan Cahya, Elea pun mengurus semuanya via online dan berhasil. Hari ini dia akan pergi ke Atm untuk melakukan pembayaran. Karena ini adalah hal diluar kebutuhan rumah tangga, Elea memilih menggunakan kartu atm nya sendiri, tidak menggunakan kartu atm yang diberikan Danist. Memang sejak menikah, Danist langsung memberinya sebuah kartu atm untuk digunakan membeli kebutuhan sehari-hari dan sudah lama juga, dia tidak menggunakan Atm nya dari bank ini karena ini adalah tabungannya yang tidak ingin dia gunakan untuk hal lain. Elea biasa menggunakan Atmnya dari bank satunya lagi untuk transaksi keperluannya.


Elea memasukkan kartu ke dalam mesin memasukkan passwordnya dan mengecek saldo tabungannya. Elea membelalakkan matanya mengetahui saldo yang ada disana. Saldonya menunjukkan nilai 2x lipat dari yang seharusnya, ya dulu Elea menyimpan uang hasil penjualan mobilnya disini ditambah lagi dengan uang yang sempat Ariel berikan sebelum dia melahirkan, dia tidak pernah mengusiknya karena itu adalah hak Gienka, tetapi bagaimana bisa uang dalam tabungannya justru bertambah sebanyak ini. Elea membatalkan transaksinya dan bergegas menuju bank untuk mencari tahu darimana sumber bertambahnya saldo di rekeningnya.


Elea sampai di bank dan langsung meminta rekening koran tabungannya. Ternyata bulan kemarin dan 4 hari yang lalu ada nominal masuk masing-masing sebesar 100juta. Elea pun meminta bantuan customer service bank itu untuk mengecek siapa yang mengirimnya, karena takut uang itu salah transfer atau ada yang menggunakan rekeningnya untuk hal yang tidak baik. Setelah menunggu beberapa saat, custumer service itu mengatakan jika pengirimnya atas nama Andi Ariel Harsha.


Elea menghela napasnya. "Astaga ternyata dia yang melakukannya" Gumamnya sedikit lega.


"Apa anda mengenalnya??" Tanya Cs itu.


"Ya, dia mantan suami saya, dia tidak mengatakan apapun pada saya, jadi saya merasa sangat terkejut, oke terima kasih"


Elea meninggalkan bank itu. Ariel tidak pernah datang tetapi rupanya dia masih ingat dengan Gienka. Elea bertanya-tanya kemana sebenarnya lelaki itu sekarang, kenapa hilang, atau mungkin dia malu menemuinya. Elea mengabaikan pikirannya tentang Ariel, dia sekarang harus melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda.


******


2 minggu kemudian....


Aditya dan Cahya berpamitan kepada keluarga mereka, Mama Aditya dan ibu Cahya tampak begitu sedih karena harus berpisah dengan kedua cucunya selama beberapa bulan ke depan. Ya hari ini Aditya memboyong istri dan kedua anaknya untuk pergi bersamanya ke Swiss. Proyeknya akan dimulai disana, dia harus mengawasinya sendiri sampai selesai. Dengan berlinang airmata, kedua orangtua Aditya, Ibu Cahya serta Adri dan Chika harus merelakan berpisah dengan Kyros dan Kyra sementara waktu.


Didalam mobil Cahya mengernyit karena mobil tidak mengarah ke bandara. "Sayang, apa Marco lupa jalan ke bandara, inikan bukan jalurnya?" Protes Cahya.


"Owh oke, aku mengerti maksudmu"


Sampailah mereka dan menurunkan semua barang mereka dan masuk. Setelah semua pemeriksaan dokumen selesai mereka langsung menuju ke pesawat. Karena tadi Aditya sudah memberi clue, Cahya pun mengerti bahwa suaminya itu memilih untuk menyewa pesawat pribadi. Sebuah ide yang sangat bagus, karena pasti kenyamanan anak-anak sangat penting sekali dalam perjalanan panjang ini.


"Kau memang baik sekali, sampai harus menyewa private jet seperti ini untuk kenyamanan anak-anak" Gumam Cahya.


"Sayang, aku tidak menyewanya, ini milikmu milik kita, aku sengaja membelinya untuk kenyamanan kita dan keluarga saat bepergian" Ucap Aditya.


"Apa??? Kau membelinya??"


"Ya, aku membelinya, anggap saja ini hadiahku untukmu karena kau sudah memberiku hadiah yang luar biasa yaitu kedua anak kita yang manis ini, ayo masuk"


Mereka langsung disambut oleh awak kabin di depan pintu pesawat. Dan mereka pun masuk, hingga pesawat meninggalkan bandara.


*****


Setelah perjalanan yang panjang dan memelelahkan, mereka sampai juga dan langsung dijemput oleh supir untuk melanjutkan lagi perjalanan ke rumah yang akan mereka tinggali. Perjalanan kali ini sudah pasti sangat berbeda mengingat mereka membawa bayi, banyak sekali drama yang terjadi selama perjalanan tetapi mereka bisa bekerja sama untuk mengatasinya dengan baik.


Butuh sekitar satu jam untuk sampai di rumah yang akan mereka tinggali. Cahya dikejutkan karena Aditya mengajaknya kembali ke rumah yang dulu pernah mereka tinggali sebelum teror Cheryl datang yang harus membuat mereka terpaksa meninggalkan rumah ini. Kondisi rumah ini masih sama, suasana yang sangat menenangkan. Cahya dan Aditya membawa Kyra dan Kyros masuk, dan membaringkan kedua bayi itu di kamar. Sementara Roland supirnya membawa semua koper masuk ke dalam rumah.


Aditya berbicara kepada Roland agar mengantar temannya ke sebuah rumah yang tidak jauh dari sini dan membantunya mengeluarkan semua barangnya dari mobil. Disana juga sudah ada yang menunggu untuk mengurus semuanya. Roland pun mengangguk menuruti permintaan Aditya, lalu masuk ke mobil.


Setelah sampai ditempat tujuan, Roland membuka pintu belakang, dan mempersilahkan Elea dan Gienka keluar. Disana mereka sudah ditunggu oleh seorang perempuan yang tidak lain adalah orang perusahaan yang mengurus tempat tinggal dari staff perusahaan yang dikirim Aditya. Perempuan itu dengan ramah menyambut Elea, memperkenalkan dirinya dengan nama Aline.


Ya, Elea dan Gienka datang kesini atas ajakan Cahya tanpa memberitahu Danist jika dia akan datang. Dan Aline mengatakan jika Danist masih belum pulang dari kantor, dan Aditya sudah mengatakan padanya bahwa Elea datang ingin memberi kejutan pada Danist lalu menyuruhnya untuk membukakan pintu rumah ini dengan kunci ganda. Aline dengan ramah mempersilahkan Elea untuk masuk serta membantu Roland membawa barang-barang milik Elea ke dalam rumah.


Setelah Roland dan Aline berpamitan, Elea membawa Gienka dalam gendonganya berkeliling sebentar di rumah ini sambil mencari dimana kamar Danist, sampai akhirnya menemukannya. Kamar itu bersih dan cukup rapi, hanya saja ada handuk diatas tempat tidur yang sepertinya dilemparkan begitu saja, serta ada beberapa buku diatas meja yang tidak tertata. Elea mengambil handuk itu membaringkan Gienka di tempat tidur dan ikut berbaring sambil menghela napasnya panjang, merasa sangat lelah sekali. "Akhirnya sampai juga....!!!" Gumam Elea lega.


Setelah beristirahat sejenak, dan Gienka juga sedang tidur, Elea membawa kopernya ke dalam kamar. Elea berkeliling hingga ke halaman belakang dan tentu saja dia menemuka pemandangan yang luar biasa. Tempat ini sedikit lebih ramai daripada rumah yang ditinggali Cahya dan Aditya. Tetapi pemandangannya tentu tidak jauh beda, sangat cantik dan begitu nyaman.



Setelah puas melihat kondisi sekitar, Elea kembali masuk dan kali ini tujuannya adalah dapur. Elea membuka kulkas dan menemukan ada sebuah wortel, beberapa telur dan smoked beef. Elea tersenyum memaklumi bahwa memang itulah yang sering terjadi jika laki-laki tinggal sendirian, dan juga Danist adalah laki-laki yang tidak pernah rewel soal makanan, dia cukup cerdas memanfaatkan apa yang ada. Elea akan memasak bahan yang ada di kulkas ini, karena sebentar lagi sepertinya Danist akan segera pulang.


Setelah bergelut cukup lama di dapur, masakan sederhannya sudah siap. Elea kembali ke kamar mengecek Gienka sekaligus merapikan buku-buku milik Danist yang ada diatas meja lalu akan mandi agar rasa lelahnya juga bisa sedikit berkurang. Dan saat Danist pulang dia akan mengejutkannya. Elea membuka kopernya dan mengambil pakaian lalu pergi ke kamar mandi.


*****


Danist turun dari kereta dan segera mencari taksi untuk pulang, seharian ini dia merasa gusar sekali karena sejak kemarin Elea sangat sulit dihubungi dan hanya membalas pesannya singkat. Saat dia mencoba meneleponnya ponsel Elea sudah mati dan sampai hari ini tidak ada kabar lagi. Dia mencoba menghubungi Mamanya juga Mama mertuanya, tetapi mereka juga sama, sangat sulit sekali dihubungi. Danist benar-benar khawatir takut terjadi sesuatu dengan keluarganya.


Hingga sampailah dia di rumah, dengan langkah gontai, dia membuka pintu rumahnya lalu masuk. Danist melempar jasnya di kursi yang ada di kamarnya begitu saja dan duduk disana, menunduk untuk melepaskan sepatunya. Dan saat mengangkat kepalanya, dia baru sadar jika ada seorang bayi yang terbaring di atas tempat tidurnya. Danist terlonjak serta terkejut. "Ya Tuhan, bayi siapa itu?? Bagiamana dia ada disini?" Gumamnya heran dan langsung mendekati bayi itu.


"Ini seperti Gienka?? Tapi masa iya Gienka ada disini? Ini anak siapa? Kenapa bisa ada disini???" Gumamnya lagi.


Elea mendengar suara dari luar kamar mandi, dan dia tahu bahwa itu suara Danist. Lelaki itu sudah pulang ternyata. Elea yang sudah mandi dan berganti pakaian, perlahan membuka pintu kamar mandi, dan menemukan Danist sedang membungkuk menatap Gienka yang tidur.


"Surprise........!!!!!" Teriak Elea dari belakang membuat Danist terkejut dan langsung menengok ke belakang.


Elea berdiri dan tersenyum lebar ke arahnya membuatnya mengerjapkan matanya tidak percaya. Elea langsung berlari dan memeluknya dengan erat.