
Danist dari kejauhan melihat sang Mama dan Elea sedang berdiri dan seperti sedang berbicara dengan seseorang. Danist berjalan menghampiri mereka untuk segera mengajak mereka pulang karena sudah ditunggu oleh yang lainnya.
Elea melihat ke arah Mama Danist yang hanya terpaku diam tidak menjawab sapaan lelaki didepannya. Elea juga mengarahkan pandangannya kepada pria itu karena seperti pernah melihatnya tetapi dia benar-benar lupa sudah bertemu dimana.
"Mama, Elea ayo kita sudah ditunggu yang lainnya, loh pak Andi? Kita bertemu lagi" Danist tersenyum ke arah Ayah Ariel, tampaknya Ayah Ariel ini sedang menyapa mantan menantu nya. "Ah bapak pasti sedang berbicara dengan Elea ya?"
"Berbicara denganku? Tidak Dan, tadi bapak ini sedang memanggil tante Sari, memangnya bapak ini siapa? Aku pernah melihatnya tetapi aku lupa dimana dan aku tidak mengenalnya hanya pernah melihatnya saja"
"Dan, ayo cepat pergi sekarang kasihan yang lainnya sudah menunggu, ayo El" Mama Danist langsung memegang pergelangan tangan Elea juga Danist dan sedikit menyeret mereka agar segera meninggalkan tempat itu.
Ayah Ariel diam menatap kepergian mereka, dia berpikir mungkin wanita itu masih marah kepada nya atas perlakuannya dulu. Dia menceraikannya begitu saja karena wanita itu tidak kunjung hamil dan sekarang ternyata dia sudah memiliki anak. "Mungkin Sari menikah lagi setelah aku menceraikannya dan sekarang dia memiliki anak" Gumamnya lalu kembali berjalan untuk mengucapkan selamat kepada Randy dan Chitra.
*****
Danist mengendarai mobilnya bersama sang Mama yang sejak tadi diam saja tidak mengatakan apapun.
"Ma, Mama mengenal pak Andi?" Tanyanya.
"Tidak"
Danist menggerutkan dahi nya. "Tidak?? Tapi tadi dia memanggil nama Mama dan seperti mengenal Mama"
"Sekarang Mama yang gantian bertanya padamu, kau sendiri tahu namanya juga terlihat akrab dengan dia, memangnya kau pernah bertemu dengannya?"
"Pernah Ma, om Andi pernah datang ke kantorku yang waktu itu aku ceritakan ke Mama, dia ayahnya Ariel mantan suami Elea"
"Apa???? Ayahnya Ariel?"
"Iya Ma, tadi dia bertemu Elea malah mama mengajak kami buru-buru keluar"
*****
Sesampainya dirumah, Kyra dan Kyros sudah tidur, Cahya dan Aditya segera membaringkan mereka dibox bayinya. Cahya lalu pergi menyiapkan pakaian untuk Aditya setelahnya dia langsung ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya sebelum tidur.
Setelah mengganti pakiannya, Aditya mengambil berkas yang kemarin Ariel berikan padanya, dia lupa untuk memberitahu Cahya. Aditya duduk di atas tempat tidurnya sambil melihat-melihat berkas berisi foto tempat-tempat milik Ariel yang akan di bangun villa.
Cahya keluar dari kamar mandi sambil mengelap wajahnya dengan handuk. "Kau sibuk sekali sepertinya, apa yang sedang kau lihat?" Tanya Cahya.
Aditya tersenyum dan menyurh istrinya itu untuk mendekat kepadanya.
"Duduklah dan lihat ini lalu pilih mana yang kau sukai?"
Cahya duduk disebelah Aditya dan suaminya itu memberikannya foto-foto tanah kosong dengan berbagai view menarik disana. "Apa ini??"
"Itu lahan milik Ariel, dia akan membangun villa ditempat-tempat itu, aku ingin membeli Villa untukmu, pilihlah lokasi yang kau sukai dan nanti Ariel akan menyiapkan semuanya untuk kita sesuai dengan yang kita inginkan"
"Kau pilih mana lokasi yang kau suka, setelah itu Ariel akan membawa arsiteknya untuk mendesain villa yang kita inginnya bagaimana bentuk dan yang lainnya semua sesuai dengan keinginan kita, aku tahu kau sangat menyukai suasana alam yang menyenangkan saat liburan jadi aku meminta Ariel untuk memberitahuku jika dia memiliki tempat yang cocok untuk kita tinggali saat kita berlibur, kau ingin yang mana?"
Cahya melihat foto-foto itu dengan seksama sambil membayangkan suasana yang dia inginkan. Sampai kemudian dia teringat tentang liburannya bersama Aditya saat di Maldives, rasanya akan menyenangkan jika villa mereka memiliki kesamaan dengan villa di Maldives dimana di bagian belakang memiliki kolam renang dan dibawahnya terhubung dengan pantai.
"Aku menyukai ini, aku membayangkan dibagian ini ada kolam renang dan diberi tangga untuk turun ke pantai jadi kita bisa menikmati pantai tanpa perlu berjalan jauh, bagaimana menurutmu?" Ucap Cahya bersemangat.
Aditya tersenyum dan memeluk istrinya itu "Aku sebenarnya dari awal memang tertarik dengan yang ini tapi aku tetap ingin kau memilihnya sendiri, baiklah kita pilih yang ini"
Cahya menyandarkan kepalanya sambil mendongak ke atas dan tersenyum. "Ah pasti akan menyenangkan liburan disana apalagi sekarang kita memiliki anak-anam, membayangkan tawa mereka saat bermain dipantai membuatku sangat tidak sabar, dan kita bisa menikmati liburan bersama dengan Kyros dan Kyra, jangan lupa nanti kita juga harus membuat tempat bermain untuk mereka"
"Tentu saja, aku juga akan membuat tempat bermain yang sangat indah dan romantis untuk kita berdua dan langsung menghadap laut, membayangkan bermain denganmu sambil melihat sunrise atau sunset bahkan mungkin seharian kita akan melakukannya seperti saat di Maldives dulu pasti akan menyenangkan dan romantis" Gumam Aditya menggoda membuat Cahya mencubit pinggangnya.
"Kau ini, ingatlah sekarang kau sudah memiliki anak, dan kau tidak akan bisa melakukannya lagi, sudahlah ayo tidur"
Aditya melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Cahya, menundukkan kepalanya, kedua mata mereka sejajar, lalu Aditya mendekatkan wajahnya dan mereka berciuman dengan lembutnya. Bibir Aditya mellumat bibir Cahya dengan penuh perasaaan, membuatnya terlena. Lidahnya menelusur pelan kemudian, mencecap rasa yang sangat dikenalnya. Cahya mendesahh ketika Aditya mendorongnya terbaring di ranjang, dengan kaki menjuntai di bawah lalu Aditya berdiri membungkuk di atasnya.
Aditya menaikkan gaun tidur Cahya sampai ke dada nya lalu menurunkan kain sutra yang membungkus area v Cahya. Aditya tidak terburu-buru, lelaki itu dengan pelan membuka kancing baju tidurnya dan melepasnya, memamerkan tubuh indah dan kerasnya yang bahkan masih membuat Cahya selalu merasa kagum setiap melihatnya, bahkan setelah berkali-kali jemarinya menyentuhnya di sana menikmati kehalusannya.
Lalu Aditya menurunkan celananya dan kemudian tellanjang sepenuhnya di depan Cahya, kejjantanannya mengeras dan sudah siap. Lelaki ini amat bergaiirah.
Dengan lembut lelaki itu menunduk di atas Cahya, jemarinya bergerak menelusuri tubuh sang Istri dan menemukan kewaniitaan Cahya yang sudah hangat dan basah .
"Aku belum menggodamu, tetapi disini sudah basah" Aditya menggerakkan jemarinya lembut, "Kau disana pasti sangat merindukanku"
Dengan lembut Aditya mengangkat kedua kaki Cahya dan menyandarkan masing-masing di pundaknya, membuat posisi Cahya begitu pas untuk dimasuki.
Lelaki itu melakukan penettrasi dan mengerang parau. "Ahhhh....."
Cahya mengikuti semua ritme yang dibawa oleh Aditya. Posisi ini membuat titik-titik sensitif yang tidak disadarinya ada tersentuh dan bangun, membuat seluruh tubuh Cahya menggelenyar dalam kenikmatan yang luar biasa. Jemari Aditya bergerak dan menyentuh titik nikmat di atas kewanitaannya, memainkannya. Membuat Cahya seperti dihantam dua kenikmatan bertubi-tubi.
"Adit..." Cahya mengerang, karena sudah tidak bisa menahan diri.
"Ya sayang, ya...." Aditya membalas erangan Cahya dengan suara parau tertahan, Aditya mempercepat ritmenya yang semakin tak tertahankan membuat Cahya tidak mampu lagi, sehingga akhirnya membiarkan dirinya dibawa oleh derasnya arus kenikmatan yang memenuhi seluruh sarafnya. Cahya mengerang di sana dan mereka mencapai orrgasme bersama.
"Kau selalu luar biasa sayang, aku mencintaimu dan terima kasih!" Gumam Aditya dengan suara parau lalu mencium kening Cahya dan menarik dirinya.
*****
Disisi lain, Mama Danist tidak bisa memejamkan matanya sama sekali, dia benar-benar terkejut mendengar kenyataan bahwa Ariel adalah anak dari Andi, itu menandakan jika Ariel adalah saudara dari Danist, mereka kakak beradik. Setelah sekian lama akhirnya dia bertemu juga dengan Andi mantan suaminya yang dulu meninggalkannya begitu saja lalu menikah dengan perempuan kaya raya yang sebelumnya menjadi selingkuhannya.
Dan sekarang kenyataan dihadapannya membuatnya gelisah tidak bisa tidur. Pantas saja saat pertama kali melihat Ariel datang ke rumah Elea dan membuat keributan disana, hatinya langsung diliputi banyak pertanyaan karena saat mekihat wajah Ariel dia langsung teringat dengan wajah Andi, mereka begitu mirip dan ternyata Ariel memang putra Andi. Sekarang dua bersaudara itu sedang merebutkan cinta dari perempuan yang sama, mereka berdua mencintai Elea. "Ya Tuhan, kenapa kau mempertemukanku lagi dengan Andi dan sekarang justru kau hadapkan kami dengan hal besar seperti ini, bagaimana jika suatu saat Danist tahu jika Andi adalah ayahnya dan Ariel adalah saudaranya?" Gumamnya sedih.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Danist muncul disana, dia terbangun karena hendak pergi ke toilet yang ada didalam kamar Elea yang kini ditempati oleh sang Mama, Danist terkejut karena mama nya ternyata belum tidur. "Mama, kenapa belum tidur? Ini sudah jam 12 malam, apa Mama baik-baik saja?"