
"Apa yang ku injak tadi, astaga" Gumam Danist sambil tertawa.
"Mungkin kau menginjak mainan Gienka yang tak sengaja tadi terjatuh hahaha maaf, aku belum sempat mengambilnya"
"Ah ya Tuhan, aku jadi refleks menarikmu, maaf maaf"
Elea hendak berdiri tetapi Danist menahannya. "Tunggu El" Danist mendekatkan wajahnya dan mencoba mengambil benang yang masih menyangkut di rambut Elea. Setelah berhasil, Danist menunjukkannya pada Elea lalu mereka sama-sama tertawa lagi, karena benang itulah penyebab keduanya harus terjatuh.
Elea menatap wajah Danist yang kini tepat di hadapannya. Danist terlihat begitu manis saat tertawa, dan ketampanannya semakin jelas terlihat ketika dilihat dari dekat. Elea seolah tersihir oleh apa yang ada di depannya saat ini. Laki-laki ini telah melakukab banyak hal untuk hidupnya, penyelamatnya, selalu jadi yang terdepan saat dia membutuhkan bantuan, dan selama ini Danist mencintainya. Elea semakin mendekatkan wajahnya membuat Danist menghentikan tawanya melihat Elea.
Danist mencoba bangkit agar dia dan Elea bisa saling menjauh, tetapi saat melakukannya justru Elea semakin menekan dan menahan tubuhnya seolah menolaknya. Elea menatapnya begitu dalam dan semakin dekat dengan wajahnya lalu mengusap lembut pipinya, membuat Danist memejamkan matanya.
Saat Danist membuka matanya, Elea tepat di hadapannya hanya berjarak beberapa senti wajah mereka akan saling menempel. Elea tersenyum begitu cantiknya, sedetik kemudian, Danist dikejutkan oleh Elea yang tiba-tiba menciumnya. Danist terpaku tidak menerima ciuman Elea, tetapi menyadari jika Elea sedang berusaha menelusup ke dalam mulutnya. Danist membuka mulutnya untuk berbicara pada Elea agar tidak melanjutkan ini semua, tetapi belum sempat mengatakan apapun, Elea sudah memasukkan lidahnya ke dalam mulut Danist dan bermain disana.
Elea memegang kedua pipi Danist, berharap lelaki itu mau membalasnya tapi lelaki itu hanya diam. Merasa kesal, Elea menggulingkan tubuhnya dan menarik Danist, saat ini dia ada dibawah Danist.
Dan lagi, Danist masih belum bisa membaca kode yang Elea berikan, dia malah hendak berdiri untuk menjauh dari Elea. Dengan sigap Elea melingkarkan kedua tangannya di leher Danist, juga melebarkan kedua kakinya lalu mengunci tubuh Danist. "Kau mau kemana???" Tanya Elea.
"El, lepaskan aku, kau ini kenapa? Apa kau mabuk?"
"Aku tidak mau melepaskanmu, aku juga tidak sedang mabuk, kau ini payah sekali istrimu berusaha menciummu tapi kau malah diam seperti patung" Gumam Elea dengan memasang wajah kesal, tetapi Elea bisa merasakan ada sesuatu yang bereaksi di tubuh Danist hanya saja lelaki itu tampaknya masih ragu, masih ada ketakutan di matanya dan belum menyadari jika sebenarnya dia sudah ingin menyerahkan dirinya pada Danist.
"Hmmmmm atau kau ini sebenarnya tidak bisa berciuman ya? Atau jangan-jangan kau iimpoten sampai kau menolakku?" Gumam Elea menggoda, wajah Danist pun berubah seketika.
"El, lepaskan aku, kau ini bicara apa? Sembarangan saja mengatakan aku impotten, El lepaskan, aku akan membuatkanmu makan siang" Danist masih berusaha melepaskan diri dari Elea tetapi sambil menahan tawa, Elea masih tidak mau melepaskannya dan justru menguncinya semakin erat.
"Buktikan sekarang dong jika kau memang tidak impotenn" Tantang Elea lagi.
"El jangan begini, jangan memancingku, aku tidak bisa melakukannya, aku sudah berjan...." Belum selesai berbicara, Elea tiba-tiba menutup mulut Danist dengan jari telunjuknya.
"Sssstttt..... Jangan banyak bicara, Gienka sedang tidur" Gumam Elea pelan lalu mengangkat kepalanya dan memeluk paksa Danist. "Dan...!!! lakukanlah apa yang menjadi hak mu, aku memberimu ijin untuk mendapatkannya, mulai sekarang aku akan melakukan kewajibanku sebagai istrimu yang sebenarnya, aku milikmu, lakukanlah" Bisik Elea di telinga Danist.
Danist masih belum percaya dan masih terdiam setelah mendengar ucapan Elea. Elea melepaskan pelukannya dan menatap Danist dalam-dalam sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Elea menarik lagi kepala Danist agar mendekat ke wajahnya dan mulai menciumi wajah lelaki itu dengan lembut.
Danist masih terdiam merasakan bibir Elea bermain di wajahnya, ya Elea sepertinya serius dengan ucapabbya. Elea mengatakan sudah memberinya ijin, Elea ingin melakukan tugasnya sebagai istrinya. Elea yang selama ini di cintainya sudah menyerahkan dirinya, ini adalah moment yang sudah lama Danist tunggu, tetapi kenapa dia justru bersikap seperti ini. Tidak boleh, penantiannya sudah berakhir dan Elea sendiri sudah memberinya ijin, kenapa harus menolaknya.
****
"Dan....!!! Kenapa kau diam saja, apa kau memang tidak menginginkannya???" Protes Elea.
Danist menggelengkan kepalanya. "Apa kau yakin?? Aku hanya takut kau akan marah kepadaku jika aku melakukannya"
Danist membalas senyum Elea dan mendekatkan wajahnya dan langsung mencium bibir Elea dengan lembut dan Elea membalasnya. Dengan pelan dia menguak bibir Elea, mencicipinya pelan pelan kemudian mellumatnya lembut. Lidahnya menelusuri seluruh bibir Elea dan kemudian bermain-main dengan lidah Elea disana, mencecapnya habis-habisan.
Sambil berciuman, Elea mencoba melepaskan Tshirt yang di pakai Danist dan memeluk tubuh lelaki itu. Ketika ciuman itu terlepas, napas keduanya terengah-engah.
"El, apa kau yakin??" Danist masih bertanya lagi karena dia tidak mau ini terjadi hanya karena keduanya terbawa suasana. Danist ingin semuanya terjadi bukan karena keterpaksaan atau karena situasi tetapi Danist ingin ini terjadi karena keinginan Elea sendiri.
"Lakukanlah... Dan jangan menolak, aku tahu kalau kau mencintaiku, lakukanlah please ....."
Erangan itu membuat Danist ingin segera menyerah kepada Elea. Tubuhnya sendiri sudah sangat bergairah sampai terasa nyeri, tetapi ia tahu betapa pentingnya mendapatkan persetujuan Elea sebelum bercinta dengannya. Karena setelah bercinta nanti, ia pasti ingin mencicipi Elea lagi dan lagi dan dia ingin isterinya terus menginginkannya dengan hasrat yang sama besarnya.
Danist mencoba melepaskan dress Elea setelah berhasil di menelusurkan tangannya ke bawah dan mengangkat pinggul Elea melepaskan sutra putih yang dipakai Elea. Kemudian Elea melingkarkan lagi kedua kakinya di tubuh Danist mendekap Danist ke tubuhnya, membuka diri.
Elea membuka bibirnya dan mencium Danist, lelaki itu menerimanya ciumannya dan berlangsung dengan sangat sensual. Elea menggoda Danist dengan belaian dan jiilatan lidahnya dan kemudian mencicipi lagi bibir suaminya itu.
Kedua tangan Elea mencengkeram rambut Danist, untuk sejenak Danist tampak ragu, tetapi kemudian lidahnya membalas, membelai bibir Elea dengan malu-malu dan hati-hati. Danist tidak dapat menahan diri lagi, dia melepaskan pelukan Elea dan melepaskan celananya.
Danist menunduk menatap waja Elea yang ada di bawahnya. Elea menganggukan kepalanya lalu mengerang merasakan sesuatu yang menelusup ke dalam dirinya. Sudah lama sekali Elea tidak merasakan hal ini, dan kini bukan lagi Ariel yang melakukannya tetapi Danist.
Danist sudah berada di dalam tubuh Elea sebelum mereka sempat menarik napas. Elea merapat, berusaha agar mereka menyatu lebih dalam lagi. Danist menahan diri, meskipun gairah membuat tubuhnya menegang.
“Cium aku lagi Dan..."
Danist merespon dengan malu-malu tetapi tepat, tubuh Elea sedikit maju ke atas, lalu menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan menciumnya. Kelembutan sikap Danist mengguncang Elea dan meruntuhkan segenap kendali dirinya.
Sambil menjalin jemarinya dengan jemari Elea, Danist mendesak lebih dalam. Api gaiirah berdesir di dalam tubuhnya, mendesaknya untuk menandakan kepemilikannya pada diri Elea.
Sambil menggertakkan gigi untuk melawan godaan melakukannya dengan cepat, Danist bergerak sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Elea. Sebagian dirinya yang benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Ini pertama kalinya, dan akhirnya Elea adalah miliknya. Selamanya dan hanya dirinya yang boleh memiliki Elea.
Danist meraih bibir Elea dengan ciuman lembut dan bergerak kembali dengan perlahan. Dan bagi Elea ini adalah kenikmatan yang sudah lama tidak dia rasakan dan rasanya sudah tak terlukiskan lagi. Sementara bibir mereka masih bertautan, Elea hampir kehilangan kewarasannya. Danist bergerak begitu lembut, dan Elea tahu bahwa ini sepertinya pengalaman pertama bagi Danist.
“Kau bisa bergerak lebih cepat lagi Dan?" Pinta Elea seolah mengerti apa yang dirasakan Danist, permintaan panas itu dibisikkan ke telinga Danist yang nyaris tenggelam dalam hasrat gaiirahnya.
Danist bergerak lebih cepat dari sebelumnya ketika jemarinya menyentuh sekujur tubuh Elea, perempuan itu pun langsung menyerahkan dirinya. Tubuh Elea mendesak di tubuh Danist sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya.
Orrgasme Elea menggiring Danist hingga ke ambang batas kesadarannya, ia semakin mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Elea. Terbenam dalam puncak kepuasannya. Napas keduanya terengah, Danist menarik tubuhnya dari Elea lalu berbaring nyalang disisi perempuan itu.
Ini luar biasa, Elea mendekatkan tubuhnya pada Danist, memeluk lelaki itu dan tiba-tiba mengantuk luar biasa. Keduanya pun akhirnya tertidur setelah akhirnya sama-sama melakukannya.