
Setelah berjalan-jalan beberapa hari, kini tinggal bersiap untuk kembali pulang. Kemarin Cahya dan Aditya juga sudah berbalanja oleh-oleh, seperti sebelumnya Cahya membeli banyak cokelat dan keju untuk dibawa pulang. Besok siang mereka akan kembali, bersama Danist dan Elea. Ya Aditya meminta keduanya untuk pulang bersama dengannya dan Cahya dengan menggunakan pesawat pribadi miliknya untuk kenyamanan Gienka dan si kembar, dimana di pesawat itu dilengkapi dengan sebuah kamar yang bisa di gunakan untuk beristirahat dengan nyaman. Sedangkan GM yang lain sudah kembali tadi siang dengan penerbangan kelas bisnis yang sudah di siapkan oleh kantor.
"Sayang, anak-anak sepertinya sudah tidur di kamar Mama, kau tidak mengambil mereka?" Tanya Aditya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya membuat Cahya yang sedang merapikan koper terlonjak.
"Kau ini mengejutkanku saja, biarkan saja mereka tidur disana, Mama tadi sudah meminta ijinku untuk mengajak mereka tidur bersama"
Aditya duduk diatas tempat tidur dan membantu Cahya merapikan pakaian-pakaiannya. Setelah semua beres, Aditya menurunkan kopernya dari tempat tidur. Sementara Cahya berdiri mendekati meja rias dan menyisir rambutnya disana.
Aditya mengarahkan pandangannya ke Cahya yang terlihat begitu cantik dengan gaun tidur sutranya. Ini malam terakhirnya disini bersama Cahya, Aditya tidak boleh melewatkannya begitu saja. Aditya melangkah mendekati Cahya dan memeluknya dari belakang. Aditya menciumi leher Cahya membuat istrinya itu merasa geli.
"Kau cantik sekali setiap memakai gaun tidur ini" Bisik Aditya dengan suara serak.
"Kau yang memberikannya untukku, ayo tidur dan jangan menggodaku dengan rayuanmu itu"
"Ini malam terakhir kita disini, setidaknya harus kita manfaatkan dengan baik, aku tahu kau juga selalu menginginkanku kan?? Terutama disini!" Jemari Aditya menelusup ke dalam gaun tidur Cahya, dan jemarinya mengusap ke area diantara paha Cahya, membuat Cahya memejamkan matanya merasakan sensasi nikmat akibat gerakan Aditya di miliknya.
"Sssshhhh...... Hentikan sayang, kita tidak bisa melakukannya sekarang....!"
"Aku menginginkanmu bagaimana bisa kita tidak akan melakukannya, jangan bersuara seperti biasanya, kita nikmati malam ini" Gumam Aditya kemudian menyingkirkan sutra putih berenda yang membungkus milik Cahya dan menelusupkan jari tengahnya ke dalam sana membuat Cahya memejamkan matanya berdesis pelan kemudian menggigit bibirnya dan menyandarkan kepalanya di pundak Aditya.
Dengan sangat ahli, Aditya memainkan jarinya di dalam sana, membuat Cahya menggeliat merasakan sensasinya dan istrinya itu menarik kepalanya agar menciumnya. Aditya tahu bahwa Cahya ingin mengalihkan suara yang ditahannya dengan ciuman. Sambil berciuman, Aditya terus memainkan istrinya dengan jarinya hingga akhirnya tubuh Cahya menegang dengan suara lirih menandakan bahwa istrinya itu telah mencapai puncaknyanya. Napas Cahya tersenggal akibat sensasi luar biasa itu.
"Aku akan memberimu yang lebih nikmat dari ini sayang!" Gumam Aditya.
Aditya mengangkat gaun Cahya lalu melepaskannya, begitu juga dengan penutup dadanya dan membiarkan Cahya terbuka bebas untuknya,
“Ini milikku" Aditya menyentuh dada Cahya dengan lembut, menikmati ketika mendengar suara tersiksa dari istrinya itu lalu mengangkatnya dan membaringkannya diatas tempat tidur.
“Seluruh tubuhmu milikku" Aditya mengecup ujung dada Cahya, mencecapnya dengan lidahnya secara perlahan agar tidak mengeluarkan Asi. Lalu mengunjungi Cahya, menelusuri bagian sampingnya dengan mengetahui jejak-jejak jejak basah di sana.
Aditya perlahan menurunkan tubuhnya, dan Cahya menekuk kedua kakinya. Dengan cepat, Aditya menciumi area milik Cahya, lalu ciuman itu berganti menjadi permainan lidah, Cahya pun mencoba meraih bantal disampingnya dan menggigit bantal itu untuk menahan suara suaranya. Cahya melengkungkan punggungnya di atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun, merasakan suaminya itu memainkannya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang begitu ahli. Berbagai sensasi luar biasa yang Cahya rasakan seperti gelenyar yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin hangat ketika menyatu di pusat dirinya.
Kemudian jemari Aditya menyentuh ke sana, dengan begitu ahli, memainkan Cahya sesuka hati. Tubuh istrinya itu meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari Aditya. Lalu bibir Aditya mengikuti jemarinya lagi. Cahya terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya.
“Sayang.... Ssshhh Astaga.... li..dah..mu nikmat sekali.." Gumam Cahya berbisik dengan suara parau.
Pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan.
“Sssttt…. Semua bagian tubuhmu milikku sayang, hanya Milikku" Aditya mengecup pusat gairah Cahya menyatakan kepemilikannya.
Dan saat Aditya bermain Cahya sudah terbaring, lemas, dan tak berdaya dengan nafas terengah-engah.Aditya tersenyum dan menaikkan kembali tubuhnya lalu berdiri dan melepaskan semua pakaiannya, hingga akhirnya seluruh tubuhnya berdiri tanpa sehelai kain pun. Aditya tengkurap diatas Cahya menahan tubuh kekarnya dengan kedua lengannya lalu mengecup bibir lembut Cahya. Dada bidangnya menyentuh dada Cahya, dan Cahya sudah merasakan milik Aditya yang keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda mengerti apa yang paling diinginkan Cahya. Aditya menempatkan dirinya dengan begitu tepat, karena dia telah mengenal setiap jengkal tubuh Cahya.
Perlahan Aditya mengusapkan miliknya di pusat Cahya dengan lembut lalu kemudian Cahya mulai merasakan tubuh Aditya yang keras dan hangat itu menyatu dengan tubuhnya, memberikan kenikmatan yang semakin menghujamnya.
“Cahya sayang!!!" Aditya menenggelamkan kepalanya di sebelah kepala Cahya dan mulai merasakan tubuh istrinya yang lembut, halus, dan membungkusnya dengan begitu erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin. Aditya ingin Cahya mengingat setiap detik percintaan mereka malam ini disini.
Ketika Aditya bergerak, Cahya pun bersuara pelan di telinganya. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir membuat frustrasi karena selalu menyerah dalam pusaran gaiirah Aditya. Cahya memeluk erat Aditya dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil di leher Aditya. "Astaga kenapa kau selalu nikmat untukku sayang! Milikmu selalu memenuhi seluruh tubuhku, dia begitu besar dan membuatku sesak" Bisik Cahya dengan napas tersenggal.
Aditya mengangkat kepalanya dan tersenyum menatap Cahya lalu dia menunduk kemudian mengecup sudut bibir Cahya dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya lagi dalam-dalam.
“Aku senang kau merasa nikmat, dan karena besar aku merasa kau sangat sempit"
Aditya merasakan gerakan pinggul Cahya, merasakan denyutannya yang menggenggam hangat tubuhnya, yang tertanam jauh di dalam tubuh Cahya. Mendesak dengan berani, menarik Cahya lebih dan lebih dekat lagi. Kemudian Aditya menggertakkan gigi, menahan diri, membiarkan istrinya menggerakkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri dengan sesuka hati. Dan tidak butuh waktu lama ketika akhirnya Cahya mencapai penuh kepuasannya.
“Oh… oh … Astaga sayanv…" Cahyaa memejamkan mata ketika kenikmatan itu meledak dan membanjiri tubuhnya dengan rasa hangat yang tidak tertahankan.
Dan walaupun Aditya bisa memperpanjang kenikmatannya sendiri, pemandangan akan pencapaian istrinya itu dan serta denyutannya yang sudah memijat dirinya jauh di dalam sana, membuatnya tidak bisa menahan diri lagi. Detik itu juga, Aditya meledakkan dirinya bergabung dengan istrinya dalam sensasi yang melemahkan dan menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.
Aditya menenggelamkan lagi kepalanya dan napasnya serta napas Cahya terengah. Kemudian dengan perlahan Aditya mengangkat tubuhnya dari Cahya yang masih terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena puncak itu. Aditya membaringkan tubuhnya di sisi Cahya dan membuka lengannya agar bisa menjadi bantal untuk istrinya menyuruhnya mendekat ke tubuhnya.
"Apa aku selalu memuaskanmu???" Tanya Aditya.
Cahya memiringkan tubuhnya dan memeluk Aditya. "Kau selalu memuaskanku sayang terima kasih" Gumam Cahya.
"Aku juga harus mengucapkan terima kasih karena kau selalu memenuhi kewajibanmu memuaskanku dengan baik, aku sangat mencintaimu" Ucap Aditya.
Dan rasa kantuk pun menyelimuti mereka berdua, sampai akhirnya keduanya tidur dengan masih dalam keadaan tidak memakai apapun di balik selimut.