SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 334



"Tuhan memberimu cobaan seperti itu bukan karena kau ataupun Mama Sari adalah orang jahat, tetapi karena Tuhan yakin bahwa kalian bisa melewati semua ini, apa kau lupa bahwa semua perjuanganmu dulu sudah membawamu pada titik teratas hidupmu, kau bisa menjadi kebanggaan Mama, kau mendapat kelancaran dalam segala urusanmu, kau bisa buktikan kepada orang-orang yang sudah menghinamu dulu bahwa hidupmu sekarang sangatlah luar biasa, bahkan kalian juga bisa melewati semua itu tanpa bergantung kepada om Andi, lalu bagaimana kau bisa menganggap bahwa Tuhan jahat kepadamu?" Elea tersenyum sambil terus mengusap kepala Danist.


"Jangan ceritakan ini pada Mama, aku tidak ingin melihat kesedihannya lagi"


"Aku tidak akan mengatakan apapun padanya, lalu bagaimana denganmu sendiri??? Kau sudah mengetahui semuanya, apa yang akan kau lakukan??"


Danist menatap langi-langit kamar hotel itu, dan sibuk dengan pikirannya sendiri, dia berusaha mencari jawaban dari pertanyaan Elea. Dia sekarang sudah mengetahui semuanya walaupun jika dipikir-pikir itu tidak berarti apapun. Benar kata Elea bahwa selama ini dia dan Mamanya bisa melewati semuanya dengan baik tanpa perlu bantuan dari Ayahnya.


"Aku tidak ingin melakukan apapun, aku juga tidak peduli dengannya, bagiku sudah cukup tahu siapa dia, mengenai pertanggung jawaban yang dia katakan aku tidak menginginkannya, aku juga tidak ingin mengganggu tumbuh kembang Gienka karena permasalahanku dengan Ayahnya, aku ingin semuanya seperti sedia kala tidak peduli dengan apa yang dikatakan Ariel, biar saja! Mereka punya kehidupan sendiri selama ini, begitu juga denganku, whatever"


"Lakukan apapun yang kau inginkan, Ayahmu memang melakukan kesalahan yang begitu besar tetapi ingat jangan pernah sekalipun kau balas dendam atas semua perbuatan yang sudah dia lakukan, seburuk apapun itu dia tetaplah ayahmu, kau harus ingat itu, sekarang tidurlah kau pasti lelah sekali" Ucap Elea.


Elea terus mengusap kepala Danst hingga akhirnya lelaki itu tidur dipangkuannya, setelah memastika bahwa Danist sudah tidur dengan nyenyak, Elea mengangkat kepala Danist dan mengambil bantal, perlahan dia meletakkan bantal itu di kepala suaminya. Setelah itu dengan hati-hati juga, Elea merubah posisi tidur Gienka dan dia pun berbaring disebelah Gienka.


*****


Keesokan harinya, sejak semalam sampai di apartemennya, Ariel hanya diam mengurung dirinya dikamar, tidak tidur dan tidak makan. Hari ini dia juga tidak berangkat ke kantor. Ini sama seperti saat dulu dia melihat perselingkuhan yang dilakukan Ayahnya tepat di depannya juga almh. Mamanya, Ariel sangat kesakitan melihat itu. Bahkan Ariel juga masih ingat betul wajah wanita yang menjadi sekretaris Papanya dulu yang juga merangkap sebagai selingkuhannya. Saat itu juga Ariel merasa sangat hancur, hal sekejam itu dilakukan oleh Ayahnya didepan mereka padahal Mamanya dulu dalam keadaan sudah tidak berdaya. Dan kali ini dia mendapatkan satu kenyataan lagi bahwa Ayahnya ternyata memiliki seorang anak dari perempuan lainnya.


Entah sudah berapa banyak wanita yang menjadi selir Ayahnya itu, masalalunya sangat mengerikan. Jika Mamanya masih hidup dan tahu tentang hal ini pastilah dia akan hancur sekali. Ariel masih tidak mengerti kenapa Ayahnya bisa berperilaku begitu buruk dulu, padahal dia tahu bahwa Almh. Mamanya begitu mencintainya tetapi kenapa bisa Ayahnya justru melakukan hal itu.


Sekali lagi Ariel sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan baiknnya dengan Ayahnya itu. Ariel tidak akan peduli lagi dengan Ayahnya. Dan dia tidak akan lagi pulang ke rumah. Ariel benar-benar merasa muak dengan keseluruhan hidup Ayahnya yang oenuh dengan pengkhianatan. Ayahnya itu sama sekali tidak bisa menghargai apa itu suatu hubungan, lelaki tua itu sama sekali tidak peduli dengan kesakitannya.


Karena sejak pagi Ariel tidak membalas pesannya, dan merasa khawatir, sepulang dari kantor, Maysa langsung mendatangi apartemen Ariel. Dia merasa sangat khawatir sekali dengan lelaki itu, dan ingin memastikan apa Ariel baik-baik saja mengingat semalam dia mengatakan bahwa akan menghadiri acara pernikahan Elea, tetapi setelahnya sampai sore ini Ariel sama sekali tidak membalas pesannya juga tidak mengangkat teleponnya.


Maysa menekan tombol interkom apartemen Ariel, lama sekali tidak ada jawaban atau tanda-tanda pintu akan dibuka. Maysa berpikir mungkin Ariel saat ini sedang tidak berada di apartemen ini. Maysa oun hendak pergi meninggalkan apartemen Ariel tetapi terdengar suara pintu dibuka, dia pun menoleh dan menemukan Ariel berdiri disana.


"Aku pikir kau tidak ada di dalam, sejak pagi kau tidak mengangkat teleponku ataupun membalas oesanku" Gumam Maysa.


Ariel tersenyum. "Maaf, aku sama sekali tidak memegang ponselku, masuklah"


"Aku membeli Gyoza, apa kau mau???"


Ariel hanya tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Sejak pagi perutnya tidak terisi apapun, dia terlalu kalut dengan permasalahan Ayahnya. Maysa sudah datang dan membawa camilan, setidaknya Ariel harus bisa menghargainya.


"Baiklah" Maysa membuka kantong makanan yang dibawa nya kemudian mengeluarkan isinya dimana disana juga ada minuman. Dia kemudian membukanya dan memberikannya pada Ariel.


"Kau terlihat tidak baik, apa kau sakit???" Tanya Maysa.


"Tidak!" Jawab Ariel singkat kemudian mengambil gyoza dengan sumpit lalu memakannya.


"Lalu kenapa kau pucat sekali?? Kau tidak tidur ya??? Jika ada sesuatu yang mengusikmj kau bisa membaginya denganku, jangan menyimpannya sendiri!" Ujar Maysa.


Ariel berpikir bahwa tidak ada salahnya dia menceritakan pada Maysa tentang apa yang terjadi semalam. Perempuan itu adalah kekasihnya, pasti bisa memahami kesedihannya saat ini. Setidaknya bebannya akan sedikit berkurang jika dia bisa membagi kesedihannya pada Maysa.


Ariel menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghelanya. Setelah itu dia menceritakan semuanya kepada Maysa tentang apa yang sudah dilakukan Ayahnya. Maysa pun mendengarkan Ariel dengan seksama, dan melihat dengan jelas betapa kecewanya Ariel saat ini.


"Bagaimanapun dia adalah ayahmu, tidak baik jika kau marah secara berlebihan kepadanya, jangan seperti itu" Maysa mencoba memberikan pendapatnya atas keputusan yang akan diambil Ariel kepada Ayahnya. Ya Ariel mengatakan tidak akan lagi pulang ke rumah dan akan mengabaikan Ayahnya lagi.


"Aku sudah pernah melakukan itu sebelumnya, selma bertahun-tahun aku tidak mau berbicara dengannya, aku melakukan itu karena dia selalu saja berulah dan membuatku muak melihat semua tingkah lakunya" Ucao Ariel dengan suara penuh kekesalan.


"Kau sudah pernah melakukannya sebelumnya??? Memang apa yang dia lakukan sebelumnya?" Tanya Maysa.


"Dia berselingkuh dengan sekretarisnya, dan kau tahu yang semakin membuatku murka saat itu adalah, dia membawa wanita itu datang ke rumah dan mereka tidur di kamar utama dimana kamar itu adalah kamar almh. mamaku, bahkan saat itu mamaku sedang terbaring sakit dan tidak berdaya, mereka berdua tidak peduli sama sekali, lalu bagaimana bisa aku bisa memaafkan kesalahan yang begitu besar, setelah kejadian itu kondisi Mama semakin memburuk sampai akhirnya dia meninggal dunia, bukannya berduka Ayahku justru menikahi wanita itu tak lama setelah kematian ibuku, sebagai seorang anak yang sangat mencintaiku Ibuku, aku memutuskan pergi dari rumah dan mulai membenci Ayahku, aku masih ingat jelas wajah wanita itu dan tidak akan bisa melupakannya, aku melihat dia tertawa dan berbahagia atas kematian Mamaku, sunggubmh ironi bukan??"


Maysa ternganga dengan cerita Ariel. "Bagaimana bisa ada wanita seperti itu??? Dia kejam sekali!! Astaga, harusnya dia mengerti sebagai sesama wanita, jahat sekali" Seru Maysa.


"Itulah May, aku tidak bisa melupakan semua itu, bahkan jika ada kesempatan bertemu lagi dengan wanita itu, aku ingin sekali meludahi wajahnya sebagai ungkapan kemarahanku selama ini, karena dialah aku harus melihat kematian Mamaku yang begitu menyakitkan"