
"Kau ada disini??? Apa kau membawa Gienka??? Jika iya aku akan menemuinya nanti!" Ujar Ariel.
"Aku datang hanya untuk urusan pekerjaanku dan akan langsung kembali, lagipula Elea juga sedang banyak pekerjaan di kantor tentu saja aku tidak mengajaknya ataupun Gienka"
"Oh... Ku pikir kau membawa mereka, baiklah kalau begitu aku akan datang mengunjungi Gienka besok, aku permisi dulu" Ariel tersenyum lalu meninggalkan Danist.
Masih ada kecanggungan diantara mereka, bahkan setiap Ariel datang menjenguk Gienka, Danist hanya diam mengawasinya dan Ariel juga enggan mengajak Danist bicara. Danist merasa masih kesal jika mengingat semua yang sudah dilakukan oleh Ariel, tetapi dia berusaha untuk tetap menghargainya sebagai ayah dari Gienka. Tetapi entah sampai kapan hubungan dingin diantara mereka akan berakhir, Danist masih ingin melihat sejauh apa Ariel bersikap kedepannya.
Akhirnya jam makan siang sudah berakhir, Danist dan yang lainnya diminta ke ruangan pertemuan dimana mereka akan menemui Aditya. Tentu pertemuan kali ini akan membahas tentang hasil kerja mereka di Swiss beberapa waktu yang lalu. Mereka mendapat banyak pujian dari para petinggi HS Enterprise karena kesuksesan mereka disana serta membawa pulang kerjasama besar dengan beberapa perusahaan.
Mereka duduk dan menunggu kedatangan Aditya yang masih menyelesaikan makan siangnya. Sekitar 15 menit mereka menunggu, akhirnya Aditya masuk bersama dengan sekretarisnya. Mereka langsung berdiri dan satu persatu menyalami Aditya dengan sopan, Aditya kemudian menyuruh mereka untuk duduk di kursi masing-masing.
"Oke kita mulai rapat kita hari ini, tetapi ku rasa ini bukan rapat jadi jangan terlalu formal, kita santai saja" Ucap Aditya sambil tersenyum.
Maysa menyerahkan sebuah berkas ke Aditya, dan Aditya terlihat mengeceknya sebentar sebelum memulai pertemuan ini.
"Well, tidak perlu aku berbicara panjang lebar, apa yang kalian lakukan di Swiss sangat membuatku dan perusahaan ini bangga, kita menerima kerjasama yang luar biasa dari beberapa perusahaan untuk produk teh kita, investasi kita juga meningkat dengan luar biasa, aku tidak pernah menyangka perusahaan milik keluarga Mamaku itu yang awalnya mengalami penurunan ternyata bisa bangkit dengan cepat dalam waktu beberapa bulan saja dan sekarang tentunya sudah menjadi bagian dari HS Enterprise, Danist sudah membuat gebrakan yang menurutku sangat gila tetapi sangat berhasil, kurasa kita patut memberinya apresiasi"
Aditya bertepuk tangan kemudian diikuti dengan yang lainnya. "Kalian juga sudah bekerja keras secara tim dengan sangat sangat baik, aku sangat bangga dengan kalian, maka dari itu perusahaan sudah menyiapkan beberapa hadiah untuk kalian berlima, selain mendapatkan bonus dari perusahaan kalian juga akan mendapatkan kenaikan jenjang karir dari sebelumnya, aku berharap ini bisa menjadi motovasi untuk teman-teman kalian yang lainnya agar bisa melakukan hal yang sama seperti yang sudah kalian lakukan" Ujar Aditya yang kemudian menyuruh Maysa untuk membacakan satu persatu nama mereka dan bonus serta jabatan apa yang mereka dapatkan sekarang.
Keluar dari ruangan pertemuan, wajah Danist dan yang lainnya tampak berbinar. Tentu saja, karena perusahaan memberikan bonus yang sangat besar sekali kepada mereka dan jenjang karir yang lebih cepat dari yang mereka duga. Kerja keras mereka membuahkan hasil yang luar biasa.
*****
Setelah melakukan pertemuan, Aditya langsung keluar kantor dan pulang karena sudah tidak ada pekerjaan yang penting yang harus di kerjakan. Aditya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan kedua anaknya.
Sebelum masuk ke gerbang rumahnya, Aditya kembali melihat mobil itu masih terparkir di tempat yang sama. Sudah beberapa hari ini Aditya memperhatikan mobil itu tetapi masih belum menyadari jika mobil itu yang pernah membuntutinya beberapa hari yang lalu. Aditya berpikir mungkin mobil itu sengaja ditinggal pemiliknya disana, jadi dia tidak mau terlalu memikirkannya.
Cahya ternyata sedang berada di halaman depan bersama Kyra dan Kyros. Aditya bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri istri serta kedua anaknya.
"Kau pulang lebih cepat lagi???" Tanya Cahya.
Aditya mengangkat Kyros dari stroller dan menciumnya. "Tidak ada pekerjaan penting di kantor jadi lebih baik aku pulang dan menghabiskan waktu bersama kalian! Ibu mana??"
"Ibu kan sudah pulang tadi siang dia dijemput oleh supir, apa kau lupa"
"Aku memetik bunga, ayo bawa mereka masuk, kau juga harus mandi"
"Bentar dulu, disini sejuk" Aditya mengajak Kyros duduk di bangku. "Kenapa hanya mengambil sedikit bunga, ambil lagi yang lebih banyak, berikan Kyra padaku, aku akan memangku keduanya"
Cahya memberikan Kyra pada Aditya, lalu kembali berkeliling dan memetik mawar lagi. Aditya tersenyum melihat istrinya yang sangat menyukai bunga, terutama mawar, dimana disetiap sudut kamar mereka ada vas berisi mawar yang di petik dari taman belakang maupun halaman depan rumah. Mamanya memang menyukai mawar dan ternyata itu menular juga kepada Cahya.
Aditya jadi berpikir bahwa selama ini dia terlalu mengekang Cahya dan membatasi kegiatan Cahya di luar rumah, Cahya pasti merasa sangat bosan tetapi tidak berani mengatakan padanya. Sepertinya dia memang sekali-kali harus mengajak Cahya dan kedua bayinya untuk jalan-jalan keluar agar Cahya tidak suntuk di rumah terus. Aditya merasa dirinya terlalu keterlaluan selama ini, tetapi dia memang harus melakukannya untuk memastikan keamanan Cahya terutama disini. Saat di Swiss tentu suasananya berbeda, Aditya merasa tenang dan membiarkan Cahya pergi jalan-jalan kemana-mana, tetapi saat kembali kesini dia tidak bisa membebaskan istrinya begitu saja karena banyak hal yang sudah terjadi, akan tetapi dia juga tidak boleh terlalu berlebihan membatasi kegiatan Cahya.
"Sayang!!!" Teriak Aditya membuat Cahya menengok ke arahnya.
Cahya berjalan mendekatinya, mengira Aditya kesulitan dengan kedua bayinya. "Ya?? Apa kau lelah memangku mereka?"
"Tidak...!!! Kau sudah terlalu lama berdiam diri di rumah, bagaimana kalau besok kita ajak anak-anak jalan-jalan"
"Jalan-jalan??? Kemana?? Ke Villa di Puncak??"
"Tidak, kita akan jalamln-jalan disini, apa kau ingin pergi ke suatu tempat??"
"Tidak ada sebenarnya tetapi jika kau mengajakku dan anak-anak bagaimana kalau kita ke taman saja? Di dekat sini ada taman dan setiap weekend disana ramai sekali, kita kesana saja, anak-anak pasti suka"
"Baiklah besok kita kesana!"
Cahya tiba-tiba mendaratkan sebuah kecupan ke pipi Aditya dan mengucapkan terima kasih kepada suaminya. Aditya juga merasa senang bisa membuat bahagia keluarga kecilnya ini. Aditya tidak berhenti bersyukur atas kebahagiaan yang sudah Tuhan berikan kepadanya, seorang istri yang cantik yang sangat dia cintai, juga dua anak yang sangat manis dan menggemaskan yang semakin melengkapi kebahagiaannya. Aditya selalu berharap agar dia dan keluarga kecilnya ini selalu bahagia dan di hindarkan dari segala keburukan atau niat jahat dari orang yang tidak menyukai kebahagiaan mereka.
*****
Danist pulang dengan perasaan bahagia, dan Sang Mama juga Elea pasti akan merasa sangat senang mendengar kabar ini. Semua diluar ekspektasinya, bahkan bonus yang di berikan perusahaan begitu besar. Tentu hal ini akan mempercepat Danist membangunkan rumah untuk dia tinggali bersama dengan Elea, rumah impian yang selama ini dia idamkan. Dia selama ini sudah mengumpulkan sedikit demi sedikit gajinya untuk mewujudkan impiannya membeli atau membangun rumah yang kelak bisa dia tinggali bersama dengan keluarganya. Tetapi tanpa diduga Tuhan begitu cepat mendengarkan doanya, yang harusnya dia harus menunggu beberapa tahun lagi untuk memiliki rumah ternyata hanya dalam sekejap dia sudah akan bisa mewujudkannya.
Danist masih teringat bagaimana dulu Ariel sudah menghinanya, dan meremehkannya karena tidak bisa memberikan tempat tinggal yang layak bagi Elea dan Gienka. Hinaan itu membuat Danist bertekad untuk lebih berusaha menunjukkan bahwa dia bisa memberikan yang terbaik bagi keluarganya agar tidak ada lagi orang yang merendahkan dirinya.
Selain membahagiakan Elea, tentu Danist tidak bisa melupakan begitu saja perjuangan sang Mama, dimana Mamanya sudah berjuang habis-habisan untuk membesarkannya sendiri. Bagi Danist ini adalah awal untuk menunjukkan kepada Ayahnya yang sampai saat ini tidak dia ketahui keberadaannya bahwa dia bisa menjadi seperti sekarang tidak lain adalah karena Mamanya, bukan Ayahnya yang sudah begitu jahat kepadanya juga kepada Mamanya.