
"Danist melakukan ini semua hanya untuk menjaga hubungannya denganmu, wow!!!" Gumam Aditya.
Aditya melirik ke arah Ariel dan menyentuh pundak sahabatnya yang terdiam itu. "Dia benar-benar melakukannya Iel...!!! Sudahlah lebih baik segera akhiri semua ini dan kalian harus berfokus pada Gienka, bagaimanapun dia tetaplah kakakmu"
"Ini pasti bagian dari rencananya, dia pasti sudah mendapatkan milyaran uang sebelum menandatangani ini, tidak mungkin dia mau melakukannya secara gratis" Ucap Ariel.
Aditya memejamkan mata dan membuang muka, dia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Ariel. Padahal jelas-jelas Danist tidak mau menerima sepeserpun harta dari Ayahnya, bahkan Danist juga tidak ingin Friddie menerima apapun, semua sudah diberikan kepada Ariel, dan Ariel nantinya juga berhak mengalihkan semua itu menjadi nama Gienka. Ya hanya Gienka saja, tidak dengan Friddie, meskipun keduanya adalah cucu dari pak Andi. Tidak ingin berdebat atau menjelaskan panjang lebar kepada Ariel, Aditya memilih tidak mengatakan apapun lagi, dan dalam hatinya dia berharap suatu saat Ariel mau membuka lebar jalan pikirannya bahwa Danist adalah orang yang baik.
Ariel menatap nyalang berkas yang ada di depannya. Pada akhirnya Ayahnya telah benar-benar memberikan semua kepadanya. Tetapi Danist, Ariel masih tidak percaya jika lelaki itu mau melakukan ini semua secara percuma, pasti sebelum melakukan itu Danist sudah mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi tanpa dia ketahui. Mungkin Ayahnya memiliki sesuatu yang tidak dia ketahui dan itu diberikan kepada Danist sebelum menyuruhnya untuk tanda tangan. Sangat tidak mungkin Danist ataupun anaknya tidak meminta apapun dari Ayahnya, mengingat mereka berdua juga punya hak yang sama dengannya juga Gienka.
"Iel, kenapa diam saja, ayo kita bahas masalah pembelian apartemenmu itu" Aditya membuyarkan lamunan Ariel.
Mereka berdua pun membahas lagi tentang apartemen yang tadi mereka kunjungi. Ariel juga akan memutuskan nanti tentang berkas-berkas warisan dari Ayahnya, dan tidak ingin gegabah menandatanganinya. Dia harus mencari tahu apapkah Danist benar-berar tidak menerima apapun dari Ayahnya sebelum menandatangani berkas itu.
******
Elea duduk bersama Cahya di halaman belakang sambil memantau anak-anak yang sedang asik berenang. Sambil memangku Friddie, Cahya mendengarkan Elea yang bercerita tentang kedatangan sahabat dari mendiang Mama Ariel ke rumah ini. Dan yang tidak mereka duga adalah cerita tante Donna mengenai penyesalan dan kesedihan dari mendiang Mama Ariel serta niatnya yang belum kesampaian untuk menemui Mama Danist karena Tuhan sudah memanggilnya lebih dulu. Setelah kematian Mama Ariel, tante Donna sama sekali tidak bisa menghubungi Ariel ataupun pak Andi karena sepertinya mereka mengganti kontak mereka. Dan setelah itu mereka benar-benar lost contact, karena tante Donna memboyong seluruh keluarga dan suaminya ke luar negeri untuk tinggal disana dan tidak bisa meninggalkan ibunya yang sedang sakit, hingga dia tidak tahu apa yang sudah terjadi antara Ariel dan Ayahnya selama ini.
Belasan tahun berlalu, akhirnya dia bisa memiliki waktu untuk berkunjung lagi kesini bersama anaknya. Hanya berkunjung untuk beberapa waktu saja karena mereka sudah menetap di luar negeri saat ini. Ketika baru sampai 2 hari disini, dan dia ingin mencoba datang ke rumah dimana dulu Mama Ariel tinggal berharap bisa bertemu dengan Ariel, tetapi ang didapatnya justru pemandangan karangan bunga yang berjejer dirumah itu, saat itu dia tahu jika Pak Andi baru saja meninggal. Dia langsung datang mengikuti prosesi pemakaman tetapi tidak menemukan Ariel disana. Dan beberapa hari kemudian dia akhirnya tahu semua permasalahan yang selama ini terjadi antara Ariel dan Ayahnya, kemudian datang ke rumah ini dan meminta maaf pada Danist dan Mamanya. Menyampaikan semuanya, serta akan memberitahu Ariel apa yang sebenarnya terjadi di masalalu tentang kebenaran mendiang Mamanya, Ayahnya dan juga Mama Danist.
Saat itu Elea dan Danist merasa tidak yakin jika tante Donna akan bisa menjelaskankan semuanya kepada Ariel, mengingat selama ini saja mereka kesulitan untuk memberitahu tentang yang sebenarnya kepada Ariel. Juga karena Ariel begitu keras kepala dan tidak mau mendengarkan siapapun. Tetapi ternyata usaha Tante Donna berhasil, hanya saja sampai sekarang Ariel masih belum meminta maaf pada Danist dan Mamanya. Pagi tadi pun Ariel tidak mengatakan apapun dan hanya memberikan mainan untuk Friddie.
"Mungkin dia malu mengatakannya El? Karena apa yang dituduhkannya selama ini itu salah, dia gengsi" Gumam Cahya.
"Aku juga berpikir seperti itu Ca, tetapi apa dia akan bersikap seperti itu saja seterusnya nanti??? Ya setidaknya dia mau mengakui kesalahannya itu pasti sudah cukup bagi Danist jika dia merasa malu untuk meminta maaf"
******
Aditya kembali ke rumah Elea dan Danist setelah berbicara tentang pembelian apartemen Ariel. Dan selama pembicaraan itu, Ariel terlihat tidak berkonsentrasi seperti biasanya. Ariel banyak diam, dan Aditya harus beberapa kali mengulang pertanyaan oada sahabatnya itu. Aditya tahu Ariel pasti memikirkan tentang berkas-berkas itu dan entah apa yang mengganjal, padahal semua sudah jelas tertulis tetapi tampaknya Ariel masih meragukan kebaikan Danist.
Aditya masuk ke rumah Elea yang pintunya terbuka, dan Danist sedang duduk sendirian di ruang tamu. Danist langsung berdiri ketika melihat kedatangan Aditya dan segera mempersilahkan atasannya itu untuk duduk. "Sendiri saja Dan??? Mana yang lainnya???" Tanya Aditya.
"Iya pak, semua ada bawah, anak-anak sedang bermain di belakang, saya akan panggilkan bu Cahya dan Kyra Kyros kalau bapak sudah ada disini!"
"Tidak perlu Dan, biarkan saja, kami sedang tidak buru-buru, oh iya tadi pengacara baru saja dari rumah Ariel, mereka membahas tentang warisan almarhum om Andi". Aditya tersenyum tetapi melanjutkan lagi ucapannya. "Kenapa kau melakukan itu Dan, bukankah kau dan Friddie juga memiliki hak yang sama seperti Ariel? Harusnya walaupun semisal hanya 5% kau tetap harus memilikinya juga, lalu bagaimana dengan Friddie nanti??"
"Friddie akan baik-baik saja, aku bisa mengurusnya dengan usaha dan kerja kerasku sendiri, lalu untuk apa jika semisal 5% itu justru membuat hubunganku dengan Ariel semakin memburuk dan juga semakin menimbulkan prasangka yang lebih berkepanjangan? Mungkin Gienka sekarang masih belum mengerti tetapi kedepannya dia pasti akan mulai menyadari bahwa hubunganku dengan Papanya buruk hanya karena warisan, lagipula selain memikirkan Gienka, alasanku yang sebenarnya menolak itu adalah karena aku tidak ingin mempersulit kepergian Ayah, aku ingin dia pergi dengan perasaan tenang tanpa beban karena memikirkan hubungan kedua anaknya, aku ingin mengakhiri semua ini pak, untuk apa aku menerima sesuatu tetapi aku harus mengorbankan hubungan persaudaraanku, bagaimanapun Ariel tetaplah Adikku yang harus ku jaga perasaannya, dia sudah tidak memiliki siapapun selain aku dan Gienka, semoga dengan ini dia bisa merasa bahagia"
"Kau masih memikirkan Ariel, padahal dia sudah terlalu sering menyakitimu! Hatimu itu terbuat dari apa Dan..???" Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap Danist. "Lalu bagaimana jika kau sudah melakukan semua ini tetapi Ariel masih tidak mau memperbaiki hubungannya denganmu???" Tanya Aditya lagi.
Danist terdiam. Dia sama sekali tidak memikirkan itu, tetapi tadi pagi melihat sikap Ariel yang masih sama padahal sudah mengetahui kebenarannya, Danist merasa bahwa mungkin semua yang sudah dilakukannya ini juga tidak akan ada artinya sama sekali bagi Ariel.
"Jika itu baik menurutnya ya biarkan saja Pak! Tetapi tentu aku tidak akan berhenti berharap untuk kebaikannya, aku tidak pernah menuntut permintaan maafnya padaku atau Mama, tanpa dia melakukannya, aku dan Mama sudah memaafkannya bahkan juga dengan semua kesalahan yang dilakukan Mamanya dulu pada kami, Mama sudah memaafkannya untuk ketenangannya di surga, yang berlalu tidak bisa lagi diubah, tetapi masa depan bisa diperbaiki, aku berharap setelah apa yang kulakukan ini dia akan memelukku dan bersama-sama melakukan yang terbaik untuk membesarkan Gienka, tetapi jika ternyata itu tidak mengubah apapun, ya mau bagaimana, aku sudah berusaha melakukan terbaik sebisaku, semoga Ayah dan Mama Ariel bisa mengerti dengan semua usahaku ini dan mereka tidak bersedih disana melihat semua ini" Danist berucap sambil menahan airmatana agar tidak tumpah membasahi pipinya di depan Aditya.
Aditya menepuk-nepuk pundak Danist, berusaha menguatkannya. Kebesaran hati yang begitu luar biasa yang dimiliki Danist. Bahkan jika dia ada di posisi Danist, belum tentu dia bisa melakukan pengorbanan sebesar ini, hanya untuk alasan kebaikan dari orang yang tidak pernah bisa melihat ketulusannya. Aditya berharap Ariel suatu saat nanti bisa membuka jalan berpikirnya dan memenuhi keinginan Danist yaitu mereka berdua bisa berpelukkan dan bersatu untuk kebaikan anak serta keluarganya. Benar kata Danist, masalalu tidak bisa lagi untuk di ubah, tetapi masa depan bisa diperbaiki. Danist sudah melupakan semua kesalahan dan hal sulit yang pernah dilewatinya bersama Mamanya, bahkan mereka berdua juga masih memikirkan tentang Mama Ariel yang sudah ada di pangkuan Tuhan, padahal dosa dan kesalahan yang dulu dilakukan begitu dalam meninggalkan luka, tetapi tugas manusia adalah bisa saling memaafkan kesalahan manusia lainnya agar hidupnya bisa lebih bahagia lagi, karena tidak ada gunanya menyimpan dendam terlalu lama yang hanya akan mengurangi pahala yang sudah dikumpulkan selama ini.
"Semoga kau selalu bahagia Dan....!!!" Gumam Aditya dalam hati.