
Elea melihat kemarahan dimata Ariel, tetapi kemudian menggela napasnya. "Memangnya apa yang salah dengan aku menyematkan nama belakangku pada nama putriku?"
"Harusnya namaku sebagai ayah darinya!!" Seru Ariel dengan tatapan tajam.
"Namamu tetap akan tersemat di akte kelahirannya sebagai ayahnya, lalu kenapa kau mempermasalahkan hal sekecil ini?"
"Ini bukan hal kecil El, dia lahir kau tidak menghubungiku, kau memberinya nama juga tanpa memberitahuku tanpa berdiskusi denganku tapi aku menghargai itu dan ternyata kau tidak menyematkan namaku di akhir nama bayi kita, aku berhak melakukan hal yang menjadi kewajibanku sebagai seorang Ayah, aku ayah kandungnya!!"
Elea tersenyum sinis ke arah Ariel. "Memang siapa yang bilang kalau kau bukan ayahnya? Semua orang juga tahu kau ayahnya, ayah yang menceraikan ibunya disaat mengandungnya dan ayahnya itu lebih memilih perempuan lain dibanding ibunya sendiri, apa kau tidak malu menyebut dirimu sebagai ayahnya?"
Ariel menggertakkan giginya dengan amarah yang sudah memuncak, dengan refleks dia mengangkat telapak tangannya dan ingin menampar Elea agar perempuan diam. Elea memejamkan matanya bersiap menerima tamparan Ariel. Tetapi gerakan Ariel terhenti karena ada seseorang yang menahan pergelangan tangannya dan dia menoleh melihat Danist kini berdiri dibelakangnya.
"Kau menyebut dirimu seorang ayah tetapi kau justru mengangkat tanganmu untuk memukul seorang ibu yang baru saja melahirkan putrimu, kau ini manusia atau iblis? Bahkan hewan pun tahu tentang arti mencintai betina nya yang melahirkan anaknya, tingkahmu memuakkan sekali, kau datang dan membuat keributan disini, apa kau tidak malu dengan bayi itu, apa kau juga tidak malu dengan ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan Elea dan kau malah akan memukul anaknya dihadapannya, dimana otakmu?" Gumam Danist mencemooh Ariel.
Rupanya disaat itu papa Elea sedang berdiri ditengah pintu, dia baru saja datang membeli makan untuk istrinya dan saat sampai dia melihat kegaduhan yang terjadi diruangan putrinya. Dan dibelakang Papa Elea juga berdiri Cahya, Aditya dan orangtua mereka yang memang sengaja datang untuk menengok Elea serta bayinya, mereka berpapasan dengan Papa Elea diparkiran rumah sakit. Mereka semua terkejut dengan apa yang ada dihadapan mereka saat ini, Ariel berdiri dengan tatapan penuh amarah ke arah Danist sementara Danist menahan pergelangan tangannya.
*****
Ariel menarik kasar tangannya agar terlepas dari pegangan Danist. Kedua lelaki itu saling bertatapan tajam satu sama lain. Papa Elea menghampiri keduanya, dan langsung memukul wajah Ariel dengan keras. Ini adalah kedua kalinya dia bertemu Ariel setelah lelaki itu menceraikan putrinya dimana pertemuan pertama mereka terjadi di restoran milik Ariel. Dia telah mendengar bahwa Ariel sering mengunjungi Elea ditempat tinggal baru mereka dan juga meminta maaf kepada putrinya itu, tetapi karena dia harus bekerja diluar kota dia tidak pernah bertemu dengan Ariel selain di restoran waktu itu. Dan sekarang akhirnya dia bertemu lagi. Melihat ulah bekas menantunya itu, papa Elea merasa sudah geram atas segala tingkah lakunya selama ini membuatnya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya.
Pukulan Papa Elea membuat Ariel terkejut dan dia hampir terjatuh ke lantai. "Berani-beraninya kau datang menemui putriku dan juga cucuku lalu ingin menyakitinya lagi? Apa kau belum puas sudah menghancurkan hidup mereka? Pergi kau dari sini sebelum aku menghabisimu"
Ariel mengangkat tubuhnya dan mengusap darah yang keluar dari lubang hidungnya.
"Papa tidak bisa mengusirku, aku ayah dari bayi ini aku memiliki hak untuk menengok putriku"
"Hak mana yang sedang kau bicarakan? Kau membuang putriku seperti sebuah sampah, dia selama ini sudah mengurus dirinya dan bayinya sendiri tanpa bantuanmu, lalu kau berbicara hak seolah kau sedang menggenggam dunia ini, sekarang kau pergi dari tempat ini jangan pernah berani menampakkan wajahmu didepanku dan putriku serta cucuku, kami bisa mengurusnya sendiri tanpa bantuanmu, cepat pergi!!!!"
Ariel tersenyum masam lalu mendekat ke Papa Elea dan berhadapan langsung dengan wajah pria itu. "Papa tidak memiliki hak untuk melarangku bertemu dengan putriku, aku yang memiliki hak sepenuhnya atas putriku, aki akan pastikan cepat atau lambat aku akan membawa putriku pulang bahkan aku juga bisa membawa Elea kembali lagi kepadaku, aku akan pastikan itu dan papa tidak akan bisa menghentikanku" Ancam Ariel.
Aditya menarik Ariel keluar dari ruangan itu sementara Danist mencoba menahan Papa Elea yang masih ingin mengejar Ariel.
"Aku akan melakukan apapun untuk membuat Elea kembali padaku, bahkan jika itu harus menyakiti kalian semua yang menghalangiku" Ucap ariel dengan setengah berteriak.
*****
Dan tangis Gienka terdengar, bayi itu menangis karena mendengar kebisingan yang akhirnya membuat tidurnya terganggu. Mama Elea segera mengangkat cucunya dan mencoba menenangkannya. Tangis Elea pecah saat itu juga, sekali lagi Ariel membuat kekacauan dihadapan banyak orang, Elea merasa malu atas apa yang terjadi di hidupnya selama ini.
Mama Aditya memegang pundak Cahya dan menyuruhnya untuk menenangkan Elea, sementara itu dia dan ibu Cahya serta kedua Cucunya akan ke villa saja dan menunda menengok Elea dan Bayinya, karena ketegangan yang baru saja terjadi pasti akan membuat perasaan Elea dan keluarganya menjadi tidak nyaman. Cahya pun menyetujui usulan Mama mertuanya itu dan menyuruh mereka untuk kembali bersama mobil, nanti dia dan Aditya akan naik taksi untuk menyusul mereka.
Cahya langsung masuk dan memeluk Elea, mencoba menenangkan sahabatnya itu. Perasaan Elea saat ini pasti sangat tidak baik dan hancur, Ariel memang benar-benar keterlaluan, tidak ada hentinya dia membuat kekacauan dan tidak membiarkan Elea bisa bernapas dengan tenang. Danist pergi keluar untuk menyusul Aditya, takut bos nya itu juga akan diserang oleh Ariel.
Sementara diluar Rumah sakit, Aditya mencoba membuat sahabatnya itu mengerti dan berhenti untuk bertindak konyol seperti yang baru saja dia lakukan.
"Astaga Iel, kau ini kenapa? Ini rumah sakit, dan itu adalah Papanya Elea, kau berbicara kepadanya seolah kau tidak pernah menyekolahkan mulutmu saja"
"Sudahlah Dit, kau juga sama saja, kenapa kau tidak mengatakan padaku jika Elea melahirkan, kau ini sahabat macam apa? Sudah berapa kali kau membohongiku hah? Aku sudah mencoba menerima kebohongan terbesarmu kemarin saat kau bersekongkol menyembunyikan Elea dariku dan sekarang kau melakukannya lagi, cukup Dit kau dan Cahya berhentilah ikut campur dengan urusanku dan Elea"
"Iel, aku dan Cahya tidak pernah ikut campur dengan urusanmu dan Elea, istriku hanya ingin membantu sahabatnya, apa yang salah dari itu, aku mohon padamu sudah cukup bersikap seperti ini, hargai keputusan Elea toh dia juga tidak akan pernah menghalangimu bertemu dengan Gienka, jangan mengancamnya dalam keadaan marah seperti ini, itu justru akan memperburuk keadaan"
"Diamlah.....!!!!" Teriak Ariel penuh amarah di depan wajah Aditya. "Aku akan tetap dengan pendirianku, bagaimanapun caranya aku akan membawa Elea dan Gienka pulang ke rumahku, aku tidak peduli dengan apapun, mereka berdua harus kembali padaku, jika perlu aku akan menculik atau memaksa mereka lalu akan menjauhkan mereka dari kalian semua!!! Aku akan pergi sekarang tetapi aku akan kembali untuk membawa mereka" Dengan perasaan marah, Ariel meninggalkan Aditya.
Ternyata Danist mendengar semua pembicaraan antara Ariel dan Aditya. Ancaman Ariel begitu terngiang-ngiang di telinganya, lelaki egois itu bahkan berencana membawa pergi Elea dan Gienka. Entah akan ada kekacauan apalagi yang akan dilakukan Ariel setelah ini.
Danist berjalan menuju taman rumah sakit lalu duduk dibangku taman, dia merasa sangat gelisah dengan apa yang baru saja terjadi dan di dengarnya, mengingat jika Ariel bukanlah pria yang mudah menyerah. Danist mulai berpikir bahwa dia harus melakukan sesuatu agar hal buruk itu tidak terjadi lagi pada Elea, tetapi dia bingung apa yang harus dia lakukan untuk menghentikan kekacauan ini.