
Chika kini sudah dalam perjalanan untuk pulang, dia langsung memesan taksi online setelah diberitahu oleh Danist bahwa Aditya menyuruhnya untuk pulang padahal tadi dia sebenarnya sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Chika sendiri merasa ada yang aneh karena ini terlalu mendadak dan curiga sepertinya telah terjadi sesuatu karena biasanya Aditya akan memintanya pulang jauh-jauh hari sebelumnya tetapi ini terlalu cepat.
Saat sampai di rumah Aditya, Chika langsung memanggil security yang berjaga agar membuka gerbangnya. Pintu dibuka oleh asisten rumah tangga kakaknya, Chika kemudian dipersilahkan masuk karena Cahya saat ini berada di ruang keluarga bersama si kembar. Chika buru-buru naik ke lantai 2 untuk menemui kakak dan dua keponakannya.
"Kak....!!!" Teriaknya.
Cahya menoleh dan tersenyum. "Kau sudah datang, ayo duduklah" Gumam Cahya.
Chika melepaskan tas dan jaketnya lalu duduk di lantai dan mencium Kyra dan Kyros yang sedang duduk dan bermain. "Kak Adit pergi kemana? Kenapa dia menyuruhku untuk datang menemani kakak??"
"Adit ada di kantor, dia ada meeting tetapi sebentar lagi pasti akan pulang"
"Sebentar lagi akan pulang??? Kalau begitu kenapa harus menyuruhku datang kesini untuk menemani kakak??" Gerutu Chika.
"Dhek...!!! Sebenarnya ibu ada disini, Adit menyuruhmu datang agar kau bisa membantu kakak mengurus Ky dan Kyra"
Chika mengernyit dan masih tidak mengerti dengan apa yang diucapkan kakaknya. Ibunya ada disini tetapi kenapa Aditya masih menyuruhnya untuk datang juga, jika hanya mengurus si kembar tentu kakaknya sendiri bisa menanganinya terlebih ini ibunya juga ada disini. "Maksud kakak sama kak Adit apaan sih??? Kakak kan sudah terbiasa mengurus Kyra dan Ky, dan sekarang disini juga ada ibu lalu kenapa aku masih dsuruh untuk datang?"
"Rumah kita terbakar lagi, eh maksud kakak tempat usaha cathering ibu terbakar lagi semalam"
"Apa??!!! Terbakar lagi, bagaimana bisa???" Seru Chika.
"Aku tidak tahu bagaimana bisa terjadi, ibu shock dan sekarang beristirahat di kamar kakak, itu sebabnya Adit menyuruhmu darmtang untuk menemani kakak"
"Aku ingin melihat ibu, ayo kak" Chika berdiri lalu membungkuk dan menggendong Kyra.
Kedua kakak beradik itu berjalan menuju kamar Cahya sambil membawa si kembar lalu masuk. Rupanya ibunya terjaga dan membuka matanya. Chika kemudian duduk disebelah ibunya seraya menanyakan keadaannya. Chika tidak bisa menahan kesedihannya saat melihat ibunya yang tampak masih shock dan terpukul.
Sambil menggendong putranya, Cahya keluar kamar memanggil asisten rumah tangganya agar membawakan bubur untuk ibunya. Sejak kejadian itu ibunya belum memakan apapun, sudah pasti perutnya saat ini sedang kosong. Cahya tidak ingin ibunya bertambah sakit lagi.
"Ibu makan dulu ya? Mbak Tina sudah membuatkan bubur khusus untuk ibu"
"Tidak Ca, ibu tidak lapar"
"Ibu, ibu harus makan dan jangan membantahku, dhek berikan Kyra pada kakak, kau suapi ibu" Ucap Cahya.
Cahya lalu meletakkan Kyros di lantai didepan sofa yang biasa dia gunakan untuk bermain dengan kedua anaknya, kemudian mengambil putrinya dari Chika. Dengan sedikit paksaan akhirnya ibunya mau makan, dan Chika menyuapinya.
****
Sementara Ariel dan Randy sampai lebih dulu di kediaman Aditya. Mereka langsung disambut oleh Cahya dan mempersilahkan keduanya untuk masuk. Ariel dan Randy ingin menemui ibu Cahya dan melihat keadaannya, mengingat pihak kepolisian nanti akan meminta keterangan kepadanya.
Tidak lama setelah kedatangan Ariel dan Randy, mobil Aditya juga memasuki halaman rumahnya. Aditya langsung menemui Ariel dan Randy untuk membicarakan tentang perkembangan serta hal lainnya terkait kebakaran itu.
Dan setelah berbincang cukup lama dengan Randy dan Ariel, Aditya memutuskan untuk berbicara dengan ibu mertuanya. Aditya masuk ke kamarnya dan disana ibu mertuanya sedang ditemani oleh Cahya dan juga Chika. Aditya duduk di sebelah ibu mertuanya dan tersenyum kapadanya lallu memegang jemarinya.
"Bagaimana keadaan ibu? Ibu sudah makan?"
"Sudah! Ibu minta maaf kepadamu, ibu tidak bisa menjaga dengan baik kepercayaanmu, padahal kau sudah melakukan banyak sekali hal baik untuk ibu selama ini, maafkan ibu, kau pasti marah kepada ibu"
"Ibu tidak perlu meminta maaf ini musibah bukan salah ibu, dan aku tidak pernah marah kepada ibu, sekarang dengarkan Adit, yang terpenting sekarang adalah kita akan mencari tahu penyebabnya jika memang itu pure kecelakaan ya sudah kita akan memulainya lagi dari awal, akan tetapi jika ada unsur kesengajaan atau yang lainnya kita akan mencaritahunya, ibu apakah keadaan ibu sekarang sudah baik-baik saja?? Adit bertanya seperti ini karena mungkin nanti akan ada polisi yang datang untuk meminta keterangan ibu terkait hal ini, bagaimana???"
Ibu Cahya tidak menjawab dan hanya diam menatap Aditya dengan sedih.
"Oke kalau ibu belum siap, aku akan meminta mereka datang besok atau lusa sampai ibu siap melakukannya" Lanjut Aditya lagi, ia berusaha memastikan agar kondisi ibu mertuanya lebih baik lagi.
"Ibu tidak apa-apa, ibu bisa memberikan keterangan hari ini"
"Baiklah kalau begitu, ibu istirahat lagi saja sekarang, aku akan menghubungi mereka jika ibu siap" Gumam Aditya sambil tersenyum.
******
Beberapa polisi akhirnya datang sore harinya, untuk mengumpulkan informasi dan data-data yang di perlukan dalam penyelidikan kasus kebakaran yang terjadi tadi malam. Ternyata tidak hanya ibu Cahya saja akan tetapi polisi juga memeriksa karyawan serta saksi yang ada disana.
Cukup banyak pertanyaan yang ditanyakan oleh polisi. Sampai akhirnya selesai juga, tetapi polisi mengatakan jika sewaktu-waktu diperlukan keterangan tambahan, ibu Cahya harus siap lagi untuk datang dan memberi keterangan lanjutan. Aditya, Ariel dan Randy kemudian mengantar kepergian polisi-polisi itu sampai di depan rumah.
Setelah pergi, mereka bertiga saling bertatapan datar. "Aku yakin, ini pasti ada unsur kesengajaan" Gumam Ariel.
"Kenapa kau yakin sekali Iel?" Ujar Aditya kemudian.
"Entahlah, feelingku seperti itu, lalu menurutmu jika ada gas yang bocor tidak akan tiba-tiba terbakar jika tidak ada percikan api, well bangunan itu memiliki jarak yang cukup jauh dari rumah-rumah lainnya, listrik juga dalam keadaan mati, hanya diluar yang menyala, jika gas bocor tentu gasnya hanya akan berkumpul di dalam rumah saja, kurasa mungkin saja ada yang sudah sengaja membuat gas bocor sampai kemudian dia menyulut api dan terjadilah kebakaran"
"Lalu apa tujuannya melakukan hal itu? Memangnya ibu mertuaku punya musuh? Kalian tadi dengar sendiri kan saat polisi menanyakan hal itu, ibu mertuaku tidak memiliki masalah dengan siapapun"
"Dit, kita tidak tahu, semua kemungkinan bisa terjadi, mungkin ada yang tidak suka atau iri dengan usaha mertuamu jadi bisa melakukan hal ini" Gumam Ariel.
Aditya kemudian mengajak kedua sahabatnya itu untuk kembali masuk ke rumah.