SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 408



Dokter sudah mengobati luka Kyra juga sudah melakukan rongent dikaki Kyra. Tidak ada cidera yang parah, Kyra hanya terkilir saja tetapi tetap harus menjaga kakinya agar tidak di pakai bergerak terlalu berlebihan. Sementara memar ditangan Kyra juga sudah diobati serta diberi anti nyeri, tetapi Kyra masih merasakan sakit disana.


"Gie...! Apa yang harus kita katakan jika Amam dan Apap bertanya tentang hal ini? Aku tidak mau nanti malah jadi timbul masalah baru...!" Gumam Kyra.


"Ra....! Ini masalah yang serius, tentu saja kau harus mengatakan semuanya, sudahlah jangan takut, aku yang akan mengatakan pada kedua orangtuamu nanti...!"


"Jangan deh Gie, kau tahu sendiri kan bagaimana Apapku? Dia pasti akan marah besar dan akan mencari sampai ke akarnya, aku tidak mau itu terjadi, yang ada nanti jadi masalah baru lagi dan merembet kemana-mana!"


Gienka menoleh ke Kyra. "Lalu apa yang akan kau katakan pada mereka saat melihat lukamu ini???"


Kyra pun diam dan mencoba memikirkan jawaban apa yang akan di berikan kepada kedua orangtuanya nanti. Setelah mendapatkannya Kyra pun memberitahu Gienka agar nanti bisa memiliki jawaban yang sama dengannya. Gienka ingin sekali menolak untuk berbohong kepada Aditya dan Cahya tetapi Kyra meyakinkannya agar mau membantunya itu. Padahal Gienka ingin sekali Jelena busa mendapatkan hukuman atas perbuatan kejamnya pada Kyra, tetapi Kyra justru memilih tidak ingin memperpanjang masalah.


Gienka pun terpaksa menyetujui keinginan Kyra. Walaupun Kyra menolak untuk memberi pelajaran pada Jelena, tetapi Gienka sudah menceritakan semuanya pada Kyros, dia yakin Kyros nanti yang akan menjelaskan semuanya kepada orangtuanya, dan Gienka yakin bahwa jika suatu saat Kyros kembali kesini, Kyros pasti tidak akan mengampuni Zayan. Lelaki itu juga harus mendapatkan balasan atas apa yang sudah dilakukannya pada Kyra, dan Kyros pasti akan memberi pelajaran pada Zayan yang kurang ajar itu.


"Oh iya Ra, tadi saat aku mengambil dompetmu, aku melihat ponselmu berbunyi jadi aku mengangkatnya, kau tahu tidak siapa yang tadi menelepon???"


Kyra menoleh ke arah Elea yang mengemudikan mobil, wajah Kyra seketika pucat pasih, takut jika yangenghubunginya adalah orangtuanya dan Gienka jangan-jangan sudah mengatakan semuanya kepada mereka. "Siapa Gie?? Amam atau Apap??? Jangan-jangan kau sudah memberitahu kondisiku pada mereka ya??? Astaga Gie...! Kenapa kau mengatakannya??" Seru Kyra panik.


Gienka justru tertawa melihat kepanikan sahabatnya itu. "Tidak Ra...! Bukan Aunty Cahya atau Uncle Adit, tapi?????"


"Tapi siapa...!!!" Sahut Kyra dengan cepat yang justru membuat Gienka tertawa terbahak-bahak karena sikapnya. "Aku serius Gie, kenapa kau malah tertawa...! Apa itu Oma dan Opa??"


"Tenanglah Ra.... Bukan mereka tetapi yang tadi menelepon adalah.......!!! Kyros...!" Ujar Gienka seraya tersenyum lebar memandang Kyra yang panik.


Seketika itu wajah panik Kyra berubah menjadi terkejut. "What....??? Are you seriously??? Ky menelepon?? Kenapa tidak kau berikan padaku???" Dengan cepat Kyra mencari ponselnya dan hendak memeriksa daftar panggilan teleponnya.


Senyum Kyra tersungging di bibirnya, dan dia hampir saja memencet nomor itu untuk menelepon balik Kyros tetapi dengan cepat Gienka melarangnya. "Ehh ehh eh apa yang akan kau lakukan?? Menghubungi balik Kyros ya?? Tidak bisa Ra....! Kyros tadi memakai telepon kantornya, dia masih recovery dan belum diijinkan keluar, dia akan menghubungimu besok lagi, jadi bersabarlah...!"


Kali ini wajah Kyra berubah kecewa. "Kau jahat sekali Gie... Kenapa tidak memberikannya padaku tadi?? Aku sudah sangat merindukannya...!" Gumam Kyra sedih.


"Bukannya jahat tapi kau tadi ada di ruang rongent, dan Kyros juga tidak bisa lama-lama karena masih banyak yang harus dia kerjakan, dia mengatakan padaku jika dia sudah menghubungi orangtua kalian sebelum menghubungimu...!"


"Menunggu itu sangat tidak menyenangkan...!!" Gerutu Kyra.


Gienka hanya melempar senyumnya melihat Kyra yang tampak sedih lalu berusaha menghiburnya.


Dan sampailah mereka di rumah Kyra, security dengan cepat membuka gerbang dan mempersilahkan mobil Gienka masuk. Setelah membawa mobilnya ke halaman depan rumah Kyra, Gienka keluar dari mobil dan memanggil securitya untuk membantunya. Bergegas security menghampiri Gienka kemudian Gienka menyuruhnya untuk mengeluarkan kursi roda yang ada di bagasi. Sementara itu Gienka membantu Kyra keluar dari mobil, dan kursi roda juga sudah di lebarkan oleh security. Kyra duduk dan Gienka perlahan membawanya masuk ke dalam rumah.


Art keluarga Kyra membuka pintu dan terkejut ketika melihat majikannya berada di kursi roda padahal saat berangkat tadi dia dalam keadaan baik-baik saja. Dengan cepat Kyra menanyakan keberadaan Cahya dan Aditya karena melihat rumah sudah dalam keadaan sepi.


"Tuan Aditya dan Nyonya Cahya sedang ada di ruang kerja, sedangkan Tuan besar sepertinya sudah tidur!"


Kyra kemudian mengajak Gienka untuk membawanya masuk. Tetapi baru beberapa meter masuk ke dalam rumah, Cahya muncul dan berlari mendekati Kyra, terlihat panik melihat kondisi Kyra. "Kenapa pulang dengan kursi roda??? Kau kenapa Ra??? Katakan kau kenapa???" Cahya memandang ke Gienka dan menanyakan pertanyaan yang sama, yaitu kenapa Kyra pulang dalam kondisi seperti ini.


"Mam tenanglah...! Aku tidak apa-apa..!"


"Bagaimana aku bisa tenang, pulang-pulang keadaanmu seperti ini, kaki dan tanganmu dalam balutan perban, dan kau duduk di kursi roda pasti sudah terjadi sesuatu...!"


Belum sempat Kyra menjawab, Aditya keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri istri dan anaknya. Aditya juga tak kalah terkejutnya melihat Kyra pulang dalam keadaan kaki dan tangannya dibalut perban.


Kyra tersenyum kepada kedua orangtuanya dan menyuruh mereka untuk tenang karena tidak terjadi hal yang serius kepadanya. Kyra mengatakan bahwa dia mengalami insiden kecil, yaitu kakinya terkilir karena dia tidak bisa menjaga keseimbangannya saat berjalan akibat sepatunya terlalu tinggi, setelah itu dia terjatuh dan tidak sengaja ada barang yang jatuh dari atas lalu menimpa tangannya.


Aditya tidak mempercayai begitu saja ucapan Kyra, mengingat putrinya itu menjawab dengan sedikit terbata dan juga terlihat berpikir. Aditya takut Kyra menyembunyikan hal yang besar padanya. "Gie...! Apa benar yang diucapkan oleh Kyra??? Aku tahu kau pasti tahu detailnya tadi karena kau bersamanya???"


Dan inilah yang dikhawatirkan oleh Gienka, pertanyaan dari orangtua Kyra. Dan Kyra sudah membuatnya berjanji agar tidak mengatakan apa yang terjadi tadi, dan dengan terpaksa dia harus membohongi Cahya dan Aditya atas permintaan Kyra.


"Eh sebenarnya aku tidak tahu pastinya Uncle, itu juga yang tadi Kyra ceritakan padaku karena sebelumnya Kyra berpamitan padaku untuk pergi ke toilet tetapi tidak kunjung kembali, tahu-tahu ketika aku meneleponnya dia mengatakan bahwa kakinya terkilir, jadi? Aku langsung menyusulnya, kita lergi dari pesta dan aku membawanya ke rumah sakit, beruntungnya saat di tempat pesta itu Kyra sudah mendapatkan pertolongan pertama jadi kondisinya tidak terlalu parah!" Ujar Gienka.


Setidaknya apa yang dikatakannya tadi adalah apa yang memang terjadi disana jadi dia tidak perlu banyak berbohong, dan kebohongannya hanyalah mengiyakan ucapan Kyra saja. Gienka berharap Aditya ataupun Cahya tidak lagi bertanya padanya.


Tampaknya harapan Gienka itu terwujud karena baik Aditya ataupun Cahya tampak menerima jawabannya. Kemudian keduanya menyuruhnya untuk pulang karena sudah larut dan mereka yang akan membawa Kyra ke kamarnya. Gienka pun berpamitan dan mencium kedua tangan orangtua Kyra lalu meninggalkan rumah itu serta menyuruh Kyra untuk beristirahat agar kondisinya bisa segera pulih dalam beberapa hari nanti.


★★★★★★


Gienka akhirnya sampai di rumahnya setelah mengantar Kyra. Tampaknya seluruh keluarganya juga sudah tidur karena rumah sudah dalam keadaan sepi. Gienka langsung naik ke kamarnya untuk segera beristirahat. Sebelum tidur, Gienka membersihkan make upnya dan berganti pakaian.


Setelah bersih-bersih, Gienka langsung melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia masih kesal dengan apa yang tadi terjadi. Masih tidak menyangka jika ada orang jahat seperti Jelena itu. Ingin rasanya tadi dia menjambak rambut Jelena dan menghajarnya, melakukan seperti apa yang dilakukan perempuan itu pada Kyra, sayangnya itu ditempat umum dan Kyra sendiri tidak ingin ada keributan. Membuat Gienka mengurungkan niatnya dan hanya melempar minuman serta menampar Jelena saja. Gienka memejamkan matanya untuk tidur dan besok akan ke rumah Kyra untuk menjenguknya lagi tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada nama Axel serta foto laki-laki itu. Gienka tersenyum dan mengangkatnya.


"Ya.... Ada apa kau menghubungiku??? Apa kau sudah merindukanku???" Tanya Gienka diselingi gelak tawanya.


"Merindukanmu??? Tentu saja tidak...! Aku lebih merindukan temanmu daripada dirimu...!" Jawab axel.


"Apa kau bilang???" Seru Gienka.


"Ah... tidak....! Aku hanya bercanda Gie...! Oh ya btw bagaimana kondisi Kyra? Apa kau sudah membawanya ke klinik???"


"Aku sudah membawanya ke rumah sakit tadi, dia sudah diperiksa dan mendapat penanganan dari dokter!"


"Ahhhh syukurlah...!" Axel mengheka napasnya merasa lega dengan kabar baik dari kondisi Kyra. "Bisakah kau besok mengantarku menemuinya? Aku ingin menjenguknya??"


"Apa...!??? Kau ingin menjenguk Kyra??? Kenapa??? Hmmm.... Sepertinya aku mencium bau-bau buaya sedang mencari mangsa...! Hahahaha".


"Diamlah dan jangan menggodaku, aku hanya khawatir dan ingin melihat kondisinya saja, kau mau tidak???"


Gienka terus tertawa tetapi kemudian mengiyakan permintaan Axel, dan mengatur janji untuk bertemu lalu pergi bersama ke rumah Kyra. Gienka sendiri sangat tahu bagaimana sikap Axel jika dia mulai tertarik pada seseorang, dan sangat yakin jika temannya itu tertarik pada Kyra. Jika memang Axel punya ketertarikan dengan Kyra tentu hal ini adalah hal yang bagus karena dengan itu dia bisa menjodohkan keduanya, mengingat Axel adalah laki-laki yang baik. Gienka yakin mereka pasti akan cocok.


"Katakan padaku, kau tertarik ya pada Kyra?? Jujur saja, jika iya aku bersedia membantumu!!" Ujar Gienka.


Axel tertawa dan merasa malu karena Gienka tampaknya sudah sangat faham dengan kebiasaannya. Dengan malu-malu Axel mengiyakan dan meminta nomor ponsel dari Kyra.


Gienka kembali tertawa dan berpikir untuk mengerjai Axel. "Kau yakin ingin mendekati Kyra? Kau tidak tahu ya bahwa Kyra adalah putri tunggal pemilik HS ENTERPRISE, salah satu Raksasa perusahaan yang terbesar di negara ini, dan dia adalah putri dari Armand Aditya Sahasya, Kyra adalah pewaris dari seluruh perusahaannya, bayangkan saja orangtuanya seperti apa ketika kau mendekatinya???" Gienka menahan tawanya di ujung telepon, dan tidak sabar dengan ekspresi Axel disana seperti apa ketika dia mengatakan fakta tentang Kyra.


"Apa....!!!??? Jadi Kyra itu adalah anak kembar pemilik Hs Enterprise yang terkenal itu? Berarti kakak Kyra adalah si astronot muda itu??? Astaga....!!!" Axel bergidik ngeri mendengar fakta itu.


"Ya...! Kyros Aditya Sahasya si astronot muda yang baru saja kembali ke Bumi setelah menyelesaikan misinya di luar angkasa adalah kakak Kyra, bagaimana? Apa kau masih mau mendekatinya? Jika iya aku bisa membantumu...!" Gumam Gienka yang masih berusaha menahan tawanya.


Kyra ternyata bukan sembarang orang, dan pantas saja tadi dia bertanya-tanya dengan ucapan Gienka pada Jelena tentang salah memilih musuh. Jadi ternyata itu adalah alasannya. Dia sudah sering mendengar tentang HS Enterprise dan keluarga pemiliknya yang ternyata salah seorang putranya telah menjadi astronot muda, kemudian putrinya nanti yang akan mewarisi sebagian besar perusahaan itu, sayangnya Axel sendiri tidak pernah melihat bagaimana wajah si calon pewaris itu m, dan ternyata dia tadi bertemu langsung dengannya. Tiba-tiba Axel merasa rendah diri untuk mendekati Kyra, sepertinya Kyra terlalu hebat untuknya.