SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 263



Yongki melempar tubuhnya ke tempat tidurnya, dia baru saja kembali dari tugasnya dan memilih untuk pulang karena merindukan orangtuanya walaupun besok dia harus kembali lagi bertugas. Karena terlalu lelah Yongki pun tertidur dengan seragam militer yang masih menempel ditubuhnya.


Sore menjelang Yongki terbangun dan langsung pergi mandi. Saat keluar kamar, Yongki memanggil Ayah dan Ibunya, kondisi rumahnya terlihat sepi. Yongki masuk ke kamar orangtuanya dan disana juga tidak ada siapapun, karena sepertinya kedua orangtuanya sedang pergi, dan tidak memberitahunya karena mungkin takut mengganggu istirahatnya.


Saat hendak keluar kamar, dia melihat monitor komputer Ayahnya masih menyala. Yongki menarik kursi kerja Ayahnya dan duduk disana. Dia membuka satu per satu folder yang tersimpan disana. Yongki masih menyimpan berbagai foto disana kemudian dia menemukan sebuah folder yang dia beri nama "Lil Sun" dimana dia menyimpan foto masa kecil Cahya dan Chika juga keluarga mereka.


Yongki tersenyum melihat foto-foto itu, seraya mengingat tentang masa kecilnya bersama kedua adiknya itu, juga Bibinya dan Alm. pamannya. Beruntungnya dulu dia sempat mengambil foto-foto itu dari album yang ada di rumah Cahya dengan ponselnya, jika tidak pasti dia tidak akan memiliki kenangan itu, mengingat rumah Cahya sudah habis terbakar. Dan kemudian Yongki memiliki sebuah ide, Yongki masuk ke akun emailnya dan akan mengirim beberapa foto kepada Aditya karena pasti Aditya tidak memiliki foto Cahya semasa kecil.


*****


Setelah puas bermain dengan si kembar, Aditya mengambil laptopnya di meja ketika akhirnya si kembar sudah tidur dan kini sedang ditemani oleh Cahya. Aditya membuka laptopnya dan mengecek emailnya, karena seharian ini dia belum memegang ponselnya, mungkin saja ada email yang masuk yang belum dia ketahui.


Benar saja, ada beberapa email yang masuk dari kantornya dan ada 1 dari Yongki. Aditya mengernyit dengan apa yang sebenarnya dikirim oleh kakak sepupu istrinya itu kepadanya. Karena penasaran, Aditya pun membuka email dari Yongki, ada beberapa foto anak kecil yang dikirim oleh lelaki itu. Aditya menggerutkan dahinya seolah tidak asing dengan wajah itu tetapi sedetik kemudian dia menyadarinya dan langsung tertawa terbahak-bahak.


Cahya yang tengah asyik berbaring dengan si kembar di tempat tidur pun dibuat terkejut oleh suara tawa Aditya. Karena penasaran, Cahya bangkit dan menghampiri suaminya, ingin tahu apa yang sedang ditonton suaminya itu sehingga membuat lelaki itu tertawa terpingkal-pingkal.


"Kau kenapa? Apa yang kau lihat di layar laptopmu sehingga kau tertawa seperti itu? Anak-anak baru saja tidur, jangan sampai kau membuat mereka bangun karena suara tawamu" Protes Cahya pada Aditya.


Aditya menoleh dan langsung menutup layar laptopnya saat Cahya mendekatinya. "Tidak apa-apa sayang" Ucapnya seraya menahan tawanya.


Cahya menaruh curiga karena Aditya tiba-tiba menutup laptopnya. Apa yang sebenarnya dilihat oleh suaminya itu hingga dia tertawa dan kenapa juga seperti menyembunyikan sesuatu di laptopnya.


"Apa yang kau lihat? Kenapa kau buru-buru menutup laptopmu??"


"Tidak ada, kau tidur saja dengan anak-anak"


"Buka cepat aku ingin lihat!!!" Seru Cahya.


Tetapi Aditya tidak mau membuka laptopnya seraya terus tertawa sehingga membuat Cahya semakin penasaran dengan cepat Cahya menarik laptop suaminya itu, lalu duduk di sofa dan membukanya. Mata Cahya terbelalak melihat apa yang ada di hadapannya.







Cahya melihat foto-foto masa kecilnya, dan menemukan siapa pengirimnya ternyata adalah kakaknya. Aditya duduk di sebelah Cahya yang tampak diam menatap foto masa kecilnya itu. "Tidak dulu tidak sekarang, kau masih sama terlihat cantik dan manis juga sangat menggemaskan! Itu yang bersama Ibu, kau umur berapa? Kau gendut sekali sepertinya haha" Ujar Aditya.


Cahya menoleh ke Aditya sambil tersenyum "Itu sekitar umur satu tahun sepertinya"



"Itu Ayah???" Tanya Aditya kemudian, saat melihat wajah pria itu mirip sekali dengan Cahya.


"Ya, itu Ayah, foto ini di ambil saat aku pertama kalinya mengikuti kompetisi ballet yang ada di sekolah dan aku menjadi pemenangnya"


Cahya kembali mengklik untuk melihat foto selanjutnya, lalu tiba-tiba Cahya mulai terisak. Aditya kemudian melirik ke arah monitor dan melihat ada lagi foto istrinya dan mendiang Ayah mertuanya. Aditya merangkul Cahya menenangkan istrinya itu, mungkin Cahya sedang merasa rindu kepada Ayahnya.



"Sayang, kenapa menangis??? Kau sedang merindukan Ayah ya??"


"Setiap hari aku selalu merindukannya! Tetapi bagaimana bisa kakak memiliki foto-foto ini, semua barang dirumah kan sudah habis terbakar"


"Mungkin dia memiliki salinannya"


******


Di tempat lain, Pak Andi pergi diantar oleh supirnya untuk menemui Mama Danist sayangnya saat dia datang ke rumah Dinas putranya itu, ternyata mantan istrinya itu tidak ada disana. Pak Andi mencoba mencari tahu dengam bertanya kepada orang-orang yang ada di mess dan mereka mengatakan jika Bu Sari sudah hampir satu bulan tidak tinggal di rumah itu dan memilih pulang kampung sambil menunggu kedatangan Danist.


Setelah mendapat informasi itu, Pak Andi langsung menyuruh supirnya untuk pergi ke Bandung agar dia bisa menemui Bu Sari untuk membahas tentang keputusannya yang akan memberikan sebagian warisannya kepada Danist. Karena bagaimana pun Danist tetap berhak mendapatkan itu semua, terlebih lagi selama ini dia tidak pernah memberikan apapun kepada putra sulungnya itu.


Dan akhirnya sampailah dia disana, pintu rumah itu terbuka, menandakan bahwa memang ada orang di dalamnya. Beberapa kali dia mengetuk pintu sampai akhirmya, Mama Danist keluar dan dibuat terkejut dengan kehadiran mantan suaminya.


"Sar.... Bagaimana kabarmu???"


"Kenapa datang kesini??? Ada perlu apa???"


"Setidaknya ijinkan aku masuk dan duduk agar kita lebih mudah berbicara karena aku ingin membahas sesuatubyang penting tentang putra kita"


Mama Danist menatap Ayah Ariel dengan curiga, apalagi yang akan diinginkan oleh mantan suaminya ini. "Masuklah"


Ayah Ariel duduk dan matanya berputar melihat sekeliling rumah itu. Rumah yang dulu pernah dia tinggali bersama Sari. Ada beberapa yang sudah berubah, penempatan barang-barang, juga ada foto-foto Danist yang tertempel di dinding, dan tersenyum saat melihatnya.


"Apa yang ingin kau bahas??? Aku tidak memiliki banyak waktu, cepat katakan dan pergilah dari rumah ini"


"Sar.... Aku ingin memberikan sesuatu untuk Danist sebagai ungkapan permintaan maafku kepadanya karena selama ini aku tidak mengetahui tentang keberadaannya, aku ingin mendapat ijinmu saat aku akan memberikannya"


"Memberi sesuatu??? Tidak perlu, anakku tidak membutuhkan apapun darimu, lagipula jangan kau pikir aku akan memgijinkanmu untuk melakukannya lalu kau akan mengutarakan siapa dirimu sebenarnya kepada Danist, sampai kapanpun aku tidak akan mengijinkanmu mengusik kehidupanku dan putraku lagi"