
Elea melirik ke arah Danist yang duduk berjongkok dan tidak bergerak dari tempatnya padahal tadi suaminya itu hanya ingin memungut buku yang terjatuh. Elea menutup nivel yang dibacanya, lalu berdiri dan menghampiri Danist.
"Kau kenapa???" Tanya Elea.
Danist sedikit terlonjak lalu berdiri, dia tersenyum kepada Elea kemudian menunjukkan foto itu padanya. "Aku menemukan foto ini di dalam buku itu, apa kau bisa mengenalinya???"
Elea mengambil foto itu dan mencoba memperhatikan dengan detail itu sepertinya adalah Ayah Ariel, dan yang disebelahnya Elea seperti pernah melihatnya. Elea mendekatkan foto itu dan menatap dengan seksama sambil mengingat sesuatu.
"Ini seperti om kamu kan??? Om Farhan???"
"Iya El, ini om Farhan, lalu kenapa dia bisa berfoto dengan pak Andi???"
"Hmmmm mungkin mereka dulu berteman, lihatlah foto ini sudah usang pasti sudah lama sekali, mungkin kapan-kapan kau harus menanyakannya atau mungkin nanti di acara resepsi kita, kau bisa mempertemukan mereka"
"Bukan begitu El..." Belum selesai Danist berbicara, pintu perpustakaan itu dibuka oleh seorangbpelayan yang memanggil mereka untuk makan siang karena Ariel sudah menunggu di ruang makan.
Elea mengajak Danist untuk segera keluar dan bergabung bersama Ariel. Danist meletakkan buku serta foto itu di atas meja dan mengikuti Elea keluar dari ruangan itu.
Berbagai pertanyaan menggelayuti pikiran Danist setrlah melihat foto itu. Dia jadi mengingat pembicaraannya dengan Mamana juga Om nya sesaat setelah pernikahannya dengan Elea dulu, dimana dia waktu itu memberitahu Mamanya bahwa Pak Andi datang ke kantornya dan memintanya untuk diantar menemui Mamanya karena ada yang ingin dibahas. Setelah bercerita tentang hal itu kepada Mamanya, Om nya saat itu terlihat terkejut ketika mendengar nama pak Andi, tetapi saat dia menanyakan apakah Om nya mengenal pak Andi, dengan cepat Mamanya menyahut dengan cepat mengatakan bahwa mereka tidak mengenal Pak Andi.
Dan foto itu jelas adalah pak Andi dan Farhan om nya, mereka terlihat begitu dekat, bahkan lengan pak Andi merangkul pundak om nya dan mereka tertawa, lalu kenapa saat itu Mamanya dan Om nya itu mengatakan tidak mengenal pak Andi. Danist dibuat bingung sekali dengan hal itu, apa yang sebenarnya terjadi, itu kebetulan atau mungkin Mama dan Om nya saat itu tidak menyadari bahwa yang dimaksud pak Andi adalah pak Andi yang ini atau pak Andi yang lainnya.
Saat sampai diruang makan, Ariel ternyata memang sudah menunggu mereka, Gienka juga di baringkan di stroller yang entah darimana Ariel mendapatkannya.
"Silakan duduk, kudengar kalian dari perpustakaan ya??? Nikmati saja lagi jika kalian suka, Gienka tampaknya menyukai suasana disini, dia tidak rewel sekali, apa dia belum tidur siang???"
"Tadi selama perjalanan dia tidur, mungkin sekarang tidak mengantuk lagi tetapi jika dia rewel kau bisa memberikannya padaku"
"Aku akan memanggilmu nanti" Ariel melirik ke arah Danist yang sejak tadi diam dan tampak ada yang sedang mengganggu pikirannya. "Apa kau baik-baik saja???" Tanya Ariel tetapi Danist tidak menjawab pertanyaannya dan diam saja.
Elea menyikut pinggang Danist, membuat lelaki itu sedikit terkejut. "Kau kenapa??? Ariel bertanya padamu!" Bisik Elea.
"Ah iya, kau bertanya apa tadi??? Sorry sorry!" Danist tersenyum dan mengusap kedua telapak tangannya ke wajahnya.
"Apa kau baik-baik saja??? Apa ada yang membuatmu tidak nyaman berada disini?? Apa kau ingin segera pulang? Jika iya tidak apa kau bisa membawa Gienka pulang" Tanya Ariel lagi.
"Ah tidak, kau bisa menikmati waktumu dengan baik bersama Gienka, aku hanya merasa sedikit pusing saja, sorry!"
"Makanlah biar nanti pelayanku memberimu obat agar pusingmu bisa segera hilang!, kau juga bisa beristirahat dikamar tamu nanti"
Setelah makan siang bersama Ariel, Elea pergi ke perpustakaan lagi karena Danist mengajaknya kesana lagi. Danist kembali memperhatikan foto itu dengan seksama lalu mengambil ponselnya dan memotretnya, sementara Elea masih dibuat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi kemudian menanyakannya. Danist pun menceritakan pada Elea tentang pernyataan dari Mama dan Omnya bahwa mereka pernah mengatakan tidak mengenal pak Andi, tetapi foto itu menjelaskan yang berbeda dengan apa yang mamanya katakan.
Dengan bijak Elea mencoba menenangkan Danist agar tidak terlalu memikirkan tentang foto itu, mungkin bisa jadi di masalalu mereka terlibat suatu permasalahan yang membuat hubungan mereka memburuk dan saling berpura-pura tidak mengenal satu sama lain, karena permasalahan itu kerap terjadi dalam suatu hubungan, baik itu pertemanan atau persahabatan. Danist tampaknya menerima semua perkataan Elea, ya bisa jadi mereka memang memiliki permasalahan di masalalu. Tetapi Danist akan mencoba mencaritahu permasalahan itu, apa dan kenapanya, perasaannya tidak tenang jika belum bisa menemukan jawaban dari ini semua.
Disisi lain, Ariel membaringkan Gienka ditempat tidurnya, kali ini dia benar-benar menikmati perannya sebagai seorang Ayah. Ariel bernyanyi dan tampak luwes memainkan beberapa mainan di didepan Gienka. Putrinya itu juga tidak rewel sama sekali saat bersamanya, bahkan sangat ceria. Gienka seolah bisa merasakan kehangatan serta cinta yang begitu besar dari Ariel. Tetapi disaat seperti inilah, Ariel merasa dirinya telah gagal menjadi Ayah yang baik untuk putrinya, perbuatannya di masalalu sungguh memalukan jika diingat. Ariel memejamkan matanya dengan sedih berharap semoga suatu saat nanti Gienka mau memaafkan perbuatannya dulu yang sudah menyakiti Ibunya begitu dalamnya.
Andaikan dulu dia tidak menyakiti Elea, mungkin saat ini mereka akan berbahagia dan membesarkan Gienka mereka yang cantik ini. Sayangnya waktu tidak bisa lagi diputar, kesalahannya telah membuatnya harus berpisah dengan mereka berdua, dan Ariel hanya bisa menikmati seperti ini hanya beberapa jam dalam seminggu untuk bersama Gienka. Jika waktu bisa diputar tentu Ariel ingin bisa memperbaiki keadaan tetapi ternyata Tuhan memiliki jalan lain untuknya dan Elea.
Hingga sekitar satu jam kemudian, mata Gienka terlihat mulai menutup tak lama dia tertidur begitu saja membuat Ariel tersenyum. Sambil menatap putrinya yang terlelap, Ariel pun mulai berkakhayal dan berniat membuatkan kamar khusus untuk putrinya ini disini sehingga jika Gienka sudah besar nanti, dia bisa tidur dengan nyaman saat berkunjung kesini. Ariel sibuk dengan khayalannya membuatnya tak sadar juga dan ikut tertidur di samping Gienka.
Hingga sore pun tiba, Gienka bangun sudah cukup lama tetapi tidak menangis, dan Ariel masih tidur disebelahnya. Jemari mungil bayi itu masuk ke lubang hidung Papanya membuat Ariel terlonjak dan langsung bangun. Senyumnya langsung melebar menyadari bahwa dia tertidur dan Gienka berusaha membangunkannya. "Kau membangunkan Papa ya??? Maafkan Papamu yang konyol ini, Papa malah tertidur"
Ariel bangun dan mengangkat Gienka lalu kembali menciuminya. Dia melihat kearah jam dinding dan sudah hampir pukul empat sore. Ariel beranjak dari tempat tidurnya dan mengajak Gienka keluar kamarnya, mungkin Elea sudah menunggu di bawah. Dari atas Ariel melihat Elea dan Danist sedang mengobrol di ruang tamu.
"Sorry aku tertidur diatas, tadi Gienka juga tidur soalnya, kalian menunggu lama ya??? Sepertinya dia lapar" Ariel memberikan Gienka pada Elea.
"Tidak apa Iel, itu sebabnya kami tidak ingin mengganggu kalian, oh iya kami harus segera ke apartemen, ini sudah sore Gienka juga harus mandi" Ucap Elea
"Baiklah, terima kasih sudah membawanya datang kesini, lain kali jika kalian ingin datang beritahu lebih dulu jadi aku bisa bersiap"
Elea mengambil 2 undangan dari tasnya yang akan diberikan kepada Ariel dan Ayahnya. Elea memberikan undangan itu pada Ariel.
"Ini untukmu dan untuk Om Andi, jika ada waktu ku harap kalian berdua bisa datang" Gumam Elea.
Ariel menerima itu lalu membacanya dan mengernyit. "Undangan pernikahan kalian??? Kalian kan sudah menikah??"
"Kami ingin mengesahkan pernikahan kami" Sahut Danist.
"Mengesahkan??? Jadi selama ini kalian belum menikah?? Lalu kenapa kalian mengatakan jika kalian sudah menikah padaku???" Ariel menatap curiga kepada Elea dan Danist. "Jadi kalian membohongiku ya selama ini??? Berani sekali!!!" Geram Ariel.
Danist dan Elea terkejut melihat ekspresi Ariel. Sepertinya kali ini wajah Ariel berubah lagi menjadi dingin dan tatapannya tidak bisa dibohongi bahwa lelaki ini tampaknya sedang marah besar. Ariel berdiri dari duduknya, melihat itu Danist dan Elea juga berdiri. Ariel perlahan menghampiri Danist, mereka berhadapan dan menatap tajam lelaki itu. Dengan cepat Ariel menarik kerah kemeja Danist penuh dengan kemarahan.