SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 119



Cahya melepaskan pegangan Theo dan langsung pergi meninggalkan belanjaannya yang masih tercecer dilantai. Cahya berlari memegang perutnya sambil mencari keberadaan Aditya tetapi dia tidak menemukannya, Cahya pun semakin ketakutan.


Brruuuuukkk........!!!


Karena matanya melihat ke berbagai arah, Cahya tidak sadar menabrak seseorang dan orang itu langsung memegangnya agar tidak terjatuh. "Hei, sayang hati-hati, ada apa??? Kau sedang hamil Ca kenapa berlarian?"


Mendengar suara Aditya dan menyadari jika yang ditabraknya adalah suaminya, Cahya langsung memeluknya. Aditya langsung menyadari jika ada sesuatu yang terjadi pada istrinya, dia pun melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Cahya dan menatapnya.


"Hei ada apa? Kenapa kau terlihat ketakutan? Mana keranjang belanjaanmu katanya kau mau mengambil sayuran?" Tanya Aditya.


Cahya hanya diam tidak menjawab pertanyaan Aditya, dan Cahya mulai menangis. Aditya semakin bingung dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada istrinya. "Kenapa menangis? Ada apa? Oke oke sekarang kita pergi mengambil sayuran bersama setelah itu langsung ke villa oke, sudah jangan menangis, kau pasti kelelahan ya? Tunggu sebentar aku ambil ikannya dulu" Aditya meninggalkan Cahya dan troli belanjaannya untuk mengambil ikan segar yang tadi dipilihnya ke pegawai supermarket yang membungkus ikan itu.


****


"Kau menjatuhkan belanjaanmu dan meninggalkannya, ini ambillah"


Cahya membalikkan badannya dan sekali lagi dia berhadapan dengan Theo. Theo melemparkan senyumnya pada Cahya seraya mengulurkan keranjang berisi sayuran milik Cahya. Cahya mengambil keranjang itu, dia hanya diam tidak berkata apapun dan semakin ketakutan, dan tidak bisa menahan airmatanya berharap Aditya segera datang.


"Kau hamil lagi ya Ca, sudah berapa bul...." Belum sempat Theo menyelesaikan pertanyaannya, badan Theo sudah terdorong keras ke samping membuatnya seketika jatuh dan mata semua orang yang ada disitu tertuju pada Aditya yang telah mendorong Theo hingga terjatuh.


"Kau lagi? Pantas saja istriku ketakutan seperti melihat hantu, ternyata ada iblis disini" Suara Aditya terdengar sangat menakutkan dan pandangan membunuhnya terlihat sangat jelas. Sebuah pukulan keras mendarat diwajah Theo membuat lelaki itu langsung terlentang.


"Ada apa ini?" Seorang petugas keamanan mendatangi mereka untuk melihat keributan apa yang terjadi.


"Maaf pak, aku tidak bisa menahan emosiku, lelaki brengsek ini telah mengganggu istriku, membuatnya ketakutan, lihatlah istriku sampai menangis karena takut" Ujar Aditya.


Petugas keamanan itu langsung melihat kearah Cahya yang sedang terisak lalu membantu Theo untuk berdiri. "Bapak silakan pergi dari sini, dan jangan mengganggu kenyamanan para pengunjung, mari ikut saya pergi dari sini" Petugas itu membawa Theo pergi.


Aditya langsung menenangkan Cahya yang terus terisak. Setelah beberapa saat akhirnya Cahya sudah mulai tenang, dan mereka berdua membawa belanjaan mereka ke kasir dan membayarnya lalu langsung melanjutkan perjalanannya.


****


Sampailah mereka di villa, Aditya membukakan pintu dan Cahya keluar dari mobil, setelah itu Aditya membuka bagasi dan mengeluarkan semua barang bawaanya. Mereka juga sudah disambut oleh Pak Rahmat yang mengurus kebersihan villa milik keluarga Aditya.


"Selamat datang Mas Aditya dan Mbak Cahya" Sapa Pak Rahmat ramah dan menyalami Aditya serta Cahya.


"Sayang, ini pak Rahmat, beliau ini orang kepercayaan Papa yang bertugas mengurus villa"


"Saya Rahmat dan ini istri saya"


"Gimana pak, apa sudah dibersihkan semuanya?" Tanya Aditya.


"Sudah Mas, saya dan istri saya sudah membersihkan semua ruangan seperti tidak pernah ditinggalkan termasuk kamar utama, sprei juga sudah diganti, air kolam renang juga sudah dikuras dan diisi dengan air baru"


"Terima kasih pak, oh iya tolong belanjaan dikursi belakang dibawa ke dapur dibereskan dan didalam box putih yang dibagasi itu ada daging dan ikan, dan ikannya tolong dibersihkan lebih dulu buang kotoran dan sisiknya sebelum dimasukkan ke freezer biar nanti lebih mudah saat mau dimasak"


"Baik Mas... Mari silakan masuk"


Cahya duduk ditepi tempat tidur, perasaannya masih diliputi ketakutan setelah perjumpaannya dengan Theo tadi. Aditya yang sedang sibuk membongkar kopernya pun menghentikan kegiatannya dan menghampiri istrinya.


"Its okay, semua akan baik-baik saja sayang, jangan terlalu dipikirkan, aku tidak akan membiarkan si brengsek itu mengganggumu lagi, sekarang beristirahatlah"


Cahya menarik lengan Aditya, menahannya agar suaminya tidak meninggalkannya. "Jangan tinggalkan aku sendirian, aku takut Theo akan datang lagi"


"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu, jika si brengsek itu berani mengganggumu lagi, aku akan buat wajahnya semakin parah, ayo tidurlah supaya lelahmu hilang" Aditya duduk disebelah Cahya, melepas Tshirt yang dipakainya memeluk istrinya agar dia merasa lebih nyaman dan juga tenang.


Benar saja tidak butuh lama, Cahya akhirnya tertidur dipelukan Aditya. Aditya pun membaringkan istrinya dan menyelimutinya dan dia melanjutkan lagi kegiatannya membongkar isi kopernya. Aditya memikirkan bagaimana bisa Theo ada dikota ini, dia benar-benar lupa jika masa hukuman Theo sudah berakhir beberapa bulan yang lalu sehingga ceroboh membiarkan pria itu bisa berkeliaran. Aditya harus menghubungi Randy untuk meminta bantuannya mengurus Theo.


*****


Suara ketukan pintu kamar mengalihkan Aditya datlri kegiatannya, dan dia langsung membuka pintu. Pak Rahmat berdiri dan ingin berpamitan kepada Aditya karena dia dan istrinya sudah selesai melakukan semua tugas yang sudah diberikan Aditya.


"Terima kasih pak, oh iya bolehkah saya meminta bantuan bapak lagi, tadi saya dan istri saya tidak sempat membeli buah-buahan, bisa tolong belikan aneka buah-buahan dan antar kesini, karena saya dan istri saya menyukai jus jadi kami sangat membutuhkan buah-buahan"


"Bisa Mas Aditya, mau dibelikan buah apa?"


"Beli saja semua buah-buahan yang ada ditoko buah, terutama semangka, ini uang untuk buahnya dan ini untuk Pak Rahmat buat jajan anak-anak" Aditya memberikan lembaran uang ratusan ribu kepada pak Rahmat.


****


Cahya terbangun menjelang sore, ternyata dia tertidur cukup lama. Dia tidak menemukan Aditya dikamar, bangkitlah dia dari tempat tidurnya dan mencari keberadaan suaminya. Cahya baru menyadari jika villa ini cukup luas dan memiliki design yang begitu indah.Cahya turun dan mendengar suara berisik dari arah belakang. dia pun mencari sumber suara itu dan menemukan Aditya sedang berada didapur.


"Apa yang kau lakukan?? Kau memasak?" Suara Cahya mengejutkan Aditya yang sedang sibuk menumis sesuatu di Pan.


"Astaga kau mengejutkanku, kau sudah bangun ternyata, bagaimana apa tidurmu nyenyak?"


"Sangat nyenyak, apa yang sedang kau buat?" Tanya Cahya.


"Ah ini aku merasa sangat lapar jadi aku menumis daging dan memasak nasi, aku tidak tahu mau membuat apa, aku hanya bisa membuat tumisan tumisan sederhana seperti ini"


"Sepertinya enak baunya sangat harum, tetapi kenapa kau tidak membangunkanku jika merasa lapar?"


"Kau tidur sangat nyenyak aku tidak mau mengganggumu, sudah siap tinggal menunggu nasinya matang" Aditya mematikan kompornya dan menuang tumisan dagingnya kedalam piring.


"Ya bagaimanapun aku kan istri kamu jadi kalau kamu merasa lapar ya harus mengatakannya padaku, Villa ini sangat bagus, aku akan ke kolam renang"


Cahya berdiri ditepi kolam renang menikmati pemandangan sungai yang mengalir dengan jernih dihadapannya. Aditya memeluk Cahya dari belakang, jemarinya mengusap lembut perut istrinya, tanpa sadar Cahya juga melakukan hal yang sama. Kemudian jari mereka berdua bersentuhan, Aditya menggenggam jemari Cahya. Lama mereka berpelukan dalam diam saraya menikmati pemandangan alam dihadapan mereka.


Perlahan Aditya melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Cahya lalu membalikkan badannya. Cahya menatap Aditya, mengagumi ketampanan lelaki itu, tangannya mengusap lembut pipi Aditya, membuat lelaki itu memejamkan matanya merasakan usapan lembut dari tangan halus istrinya.


Cahya sangat mencintai Aditya, suaminya yang selalu menjaganya dan memastikan kebahagiaannya.


Aditya menelusurkan bibirnya dengan ringan di telinga Cahya, membuat Cahya menggeliat geli. Lelaki itu lalu mengecup telinganya dan memaguttnya dengan penuh gairah. Ciumannya lalu berpindah ke rahang Cahya, meninggalkan kecupan-kecupan panas di sana. Lelaki itu lalu menggunakan jemarinya untuk mendongakkan dagu Cahya. Mata Aditya berkilat penuh gaiirah, suaranya serak dan sensual. Lalu lelaki itu mellumat bibir Cahya dengan lembut tetapi penuh nafsu.