
Tamu sudah meninggalkan tempat itu, sementara keluarga Elea dan juga Danist berpamitan kepada mereka. Danist, Elea dan Gienka kemudian diantar oleh petugas ke kamar pengantin mereka. Tak disangka mereka berdua bertemu dengan Aditya dan Randy di belakang pelaminan. Elea pun menanyakan kenapa mereka belum pulang dan malah berada di tempat ini.
Dengan gugup Aditya menjawab jika dia dan Randy mencari toilet, juga mengatakan bahwa Randy juga menginap disini dan mereka akan membahas pekerjaan. Danist kemudian mengucapkan selamat malam dan permisi kepada mereka. Setelah kepergian Danist dan Elea, Aditya dan Randy pelan-pelan masih mencoba mengikuti Ariel, yang saat ini entah berada dimana, tetapi mereka akan berusaha menemukannya lagi.
Ariel terus mengawasi Ayahnya yang tadi masuk ke sebuah ruangan di ujung. Tiba-tiba dia mendengar suara Elea yang sedang mengobrol, bergegas Ariel bersembunyi dengan masuk ke toilet yang tepat berada disampingnya.
Saat Elea dan Danist sampai di depan ruang ganti ballroom itu, tiba-tiba seseorang memanggil mereka. Keduanya cukup terkejut menemukan pak Andi berada di dalam sana.
"Maaf, om mengganggu waktu kalian" Gumamnya.
"Tidak apa-apa pak, apa ada yang bisa kami bantu???" Tanya Danist.
"Eh apa keluarga kaliannjuga menginap disini??"
"Tidak, mereka sudah pulang!" Sahut Elea.
" Eh jadi begini Dan...! Saya ingin berbicara berdua denganmu, sebentar saja, apa kau bisa?? Ini penting!"
Danist menoleh menatap Elea, Elea pun menganggukkan kepalanya. "Aku akan membawa Gienka ke kamar" Ucap Elea lalu melanjutkan langkahnya menuju lift untuk ke kamarnya.
Sementara itu Aditya dan Randy masih mencari Ariel, tetapi kemudian mereka melihat Ariel keluar dari kamar mandi. Aditya menepuk pundak Ariel membuat sahabatnya itu terkejut. "Kau sedang apa disini???" Tanya Aditya.
"Aku ingin memeriksa sesuatu" Bisik Ariel kemudian menyuruh kedua sahabatnya untuk diam dan tidak bersuara, Aditya dan Randy kemudian mengikuti Ariel dari belakang. Langkah mereka bertiga terhenti di ruang ganti itu, tetapi tetap mencoba bersembunyi di depan ruangan itu tanpa masuk karena di dalam sana ada Ayahnya juga Danist.
******
Danist berdiri berhadapan dengan Ayah Ariel, dia masih bingung dengan apa yang ingin dibicarakan dengannya. Tiba-tiba Ayah Ariel memeluk Danist begitu erat dan terdengar isakan dari lelaki tua itu di pundaknya.
"Danist, maafkan aku, selama ini aku tidak mengetahui keberadaanmu, andai saja waktu itu Mamamu mengatakan semuanya tentu aku tidak akan meninggalkannya" Gumam pak Andi.
Melihat kebingungan Danist, dengan berurai airmata pak Andi memegang pundak Danist. "Aku minta maaf, aku sudah lama ingin mengatakan semua ini padamu tetapi Mamamu tidak mengijinkanku melakukan itu, aku ingin mengatakan bahwa aku adalah Ayahmu"
Danist membelalakkan matanya dengan apa yang baru saja didengarnya. Selama berpuluh-puluh tahun dia tidak memgetahui siapa sebenarnya ayahnya, dan sekarang pria didepannya itu mengaku bahwa dia adalah ayahnya. Orang yang selama ini sering bertemu dengannya dan dia juga adalah ayah dari mantan suami istrinya.
Sementara itu, diluar Ariel, Aditya dan Randy juga mendengar semua itu. Aditya dan Randy yang sebelumnya sudah tahu tampak memejamkan matanya, akhirnya apa yang mereka dengar selama ini ternyata benar. Sedangkan wajah Ariel langsung berubah pucat pasih, sekali lagi Ayahnya telah bermain dengan perempuan lain, bahkan kali ini dia memiliki anak dari perempuan itu. Danist adalah saudaranya, lelaki yang kini menjadi suami Elea ternyata adalah saudaranya. Ariel masih diam ditempatnya berdiri untuk menguping pembicaraan itu.
Danist mengernyit. "Jadi itu anda???" Gumamnya tanpa ekspresi. "Baiklah akhirnya aku mengetahuinya!" Danist tersenyum tipis lalu membalikkan tubuhnya untuk pergi dari ruangan itu.
Mungkin karena Danist selama ini tidak pernah mencari tahu siapa Ayahnya yang sebenarnya membuatnya tidak bereaksi apapun. Lelaki didepannya sudah mengakui bagi Danist itu sudah cukup. Tidak ada lagi yang dia harapkan karena selama ini dia hanya hidup bersama Mamanya. Perjuangan Mamanya dulu sangatlah luar biasa untuk membesarkannya. Tidak pernah sekalipun Mamanya mengeluh ataupun mengatakan bahwa dia lelah merawatnya atau membesarkannya. Mamanya selalu berusaha yang terbaik untuknya selama ini. Jika saat ini semua rahasia itu akhirnya terungkap setidaknya Danist sudah mengetahuinya. Danist juga tidak akan marah kepada Mamanya nanti setelah dia mengetahui bahwa Mamanya lah yang mencoba menghalangi pak Andi untuk memberitahunya, mungkin Mamanya merasa ini sudah sangat terlambat.
Menyadari Danist akan meninggalkan ruangan itu, bergegas pak Andi menahan tangan Danist. "Ayah tahu kau pasti marah kepada Ayah tetapi setidaknya dengarkan dulu, aku ingin mengatakan hal yang lebih penting lagi denganmu"
Danist kembali menghadap ke arah pak Andi dan bergumam datar. "Apa lagi yang ingin anda katakan, aku lelah sekali dan ingin segera beristirahat"
"Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu selama ini, setidaknya berikan aku kesempatan untuk melakukannya, kau adalah putraku aku ingin memberikan hak mu, kau juga harus mendapatkan sama seperti yang Ariel dapatkan jadi aku berniat membagi aset milikku kepadamu dan Ariel dengan nilai yang sama, ku harap kau mau menerimanya, aku akan sudah membawa berkasnya kau tinggal menandatanganinya, anggap saja itu sebagai ganti rugi untuk perawatanmu selama ini, aku juga berharap kau dan Ariel bisa menjaga perusahaanku dengan baik, kalian adalaha saudara"
Danist kembali memgernyit. "Tidak perlu sama sekali, aku sudah dewasa begitu juga saat ini Mamaku sudah tidak menginginkannya lagi, jadi daripada anda membuang-buang waktu dan tenaga lebih baik tidak perlu melakukan itu semua" Ucap Danist masih dengan ekspresi datar.
Semua memang sudah sangat terlambat. Semua perjuangan Mamanya selama ini tidak bisa begitu saja digantikan oleh materi. Emosi, jerih payah dan perjuangannya begitu berat dulu, bahkan di masa kecilnya Danist juga sering mendapat cercaan dari teman-temannya karena dia sering membantu Mamanya berjualan. Semua itu dia terima dengan ikhlas, sesakit apapun perasaannya saat itu tetapi dia tidak pernah terlalu memikirkannya.
Dan kini Danist sudah tahu semuanya, Ariel yang dulu menghinanya ternyata adalah adiknya sendiri. Sudah pasti bahwa Ariel adalah anak dari wanita yang telah menghancurkan kebahagiaan Mamanya. Wanita yang tidak memperdulikan penderitaan wanita lainnya. Danist juga mulai menyadari bahwa apa yang dilakukan Ariel pada Elea dulu adalah buah dari perilaku ayahnya yang pernah melakukan hal yang sama pada Mamanya.
"Benar jika ada pepatah mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya" Gumam Danist dalam hati. Ayahnya ingin menggantikan penderitaan Mamanya selama ini dengan harta dan materi, tentu Danist merasa tidak menginginkan itu semua, dia sudah memiliki pekerjaan yang bagus karena usahanya dan jerih payahnya sendiri, itu akan lebih berarti dibanding harus menerima warisan dari orang yang sudah menyengsarakan Mamanya.
Diluar, Ariel sudah tidak bisa menahan dirinya. Jadi inilah alasan Ayahnya hanya memberinya tanggung jawab di 50% dari asetnya. Dan 50% sisanya akan diberikan kepada Danist yang tak lain adalah anak hasil hubungan gelap Ayahnya dengan Mama Danist. Ariel benar-benar murka, dia pun langsung masuk ke ruangan itu membuat Ayahnya sangat terkejut dengan kedatangannya.
Ariel melangkah masuk sambil bertepuk tangan. "Wow..... Wow..... Jadi inilah alasanmu kenapa kau hanya memberiku 50% dari total seluruh asetmu, wooow..... Ternyata keputusanku untuk memperbaiki hubungan denganmu sangat salah, seratus persen sangat salah Andi......!!!" Teriakan Ariel memenuhi seluruh ruangan itu.,