
5 Tahun kemudian......
Langkah kaki kecilnya yang menggemaskan itu membuat sang Mama harus kembali mengejarnya. "Hei....Athan...! Jangan berlari terus...! Ammi lelah harus selalu mengejarmu...!" Teriak Kyra pada putranya itu.
Athan Axel Sahasya, bocah berusia 4 tahun itu terus berlari tanpa memperdulikan panggilan dari Kyra. Dia terus berlari sambil tertawa mengejek Ammi nya dan tidak sadar dia menabrak Cahya. Dengan cepat Cahya langsung menggendong cucunya dan menciumnya dengan gemas.
"Hei...! Kau mau kemana? Sudah berapa kali Amam bilang, bahwa kau harus melihat ke depan ketika berjalan ataupun berlari...!" Gumam Cahya.
Ya, Cahya dan Aditya meminta agar Athan memanggilnya sama dengan cara Kyra dan Axel memanggil mereka, yaitu Amam dan Apap. Bukan tanpa sebab, karena Cahya dan Aditya menolak untuk di panggil Oma dan Opa, itu membuat mereka merasa tua.
"Ammy..! Dia memintaku minum susu, tapi aku sudah bosan!" Jawab Athan dengan suara polos khas balita.
Cahya tergelak dan mencubit pipi cucunya itu. "Okay... Jika kau bosan dengan susu, Amam akan membuatkanmu jus, kau mau???"
"Ya....!"
"Anak pintar....! Sekarang panggil Apap dan suruh dia kesini, kita akan makan siang!"
Athan mengangguk, Cahya kemudian menurunkannya dan bocah itu langsung berlari ke ruang kerja Aditya.
"Ra...! Panggil Gienka juga, kasihan dia sendirian diatas sejak tadi, ajak turun dan kau juga harusnya menemani dia mengobrol sambil bermain dengan putramu...!"
Kyra tersenyum. "Sorry Mam, tadi Athan Athan tidur jadi aku meninggalkan Gie sendirian, aku akan menyusulnya...!"
Kyra kemudian meninggalkan Cahya dan melangkah menuju lift untuk menemui Gienka di kamarnya.
Gienka duduk sendirian, menatap nyalang langit yang biru sambil mengelus perutnya yang semakin hari semakin membesar. Usia kehamilannya sudah memasuki 26 minggu, dan selama itu pula dia melewati semuanya sendirian tanpa Kyros dan hanya ditemani oleh keluarga mertuanya juga keluarganya yang selalu mendukungnya. Kehamilannya baru terungkap ketika Kyros baru saja pergi ke luar angkasa untuk pekerjaannya. Sebelum keberangkatan Kyros, seluruh keluarganya, seperti Cahya, Aditya, Tuan dan Nyonya Harry serta Kyra dan Athan pergi ke Amerika untuk menjemput Gienka dan membawanya pulang. Mereka tidak tega jika Gienka harus hidup disana sendirian selama Kyros pergi. Mereka tinggal selama beberapa hari sampai hari dimana pemberangkatan Kyros.
Setelah Kyros pergi, mereka langsung membawa Gienka pulang bersama dengan mereka. Ketika itu tidak ada yang tahu jika Gienka sedang hamil, bahkan Gienka sendiri juga belum mengetahuinya. Sampai di Jakarta, Gienka langsung mengalami sakit selama beberapa hari, badannya menjadi lemas, tidak napsu makan, dan juga selalu merasa mual. Awalnya Gienka hanya mengira bahwa dia sakit karena efek jetlag setelah perjalanan jauh. Merasa khawatir dan tidak ada perubahan dengn kondisinya, akhirnya Kyra dan Cahya mengantar Gienka ke rumah sakit. Sampai disana dokter justru memberikan kabar bahagia dimana ternyata Gienka sedang hamil dan usia kehamilannya sudah 6 minggu.
Semua keluarga sangat bahagia mendengar hal itu, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Gienka akhirnya hamil, setelah selama 1 tahun dia menunda untuk hamil. Dan selama lebih dari 3 tahun dia dan Kyros menunggu, tetapi bayi itu tidak kunjung datang juga. Disaat akhirnya yang ditunggu sudah tiba justru Kyros harus pergi bertugas lagi. Bukan 3 bulan seperti sebelumnya, kali ini Kyros harus pergi selama 6 bulan, membuat Gienka setiap harinya dilingkupi kesedihan dan kerinduan yang luar biasa pada suaminya. Sampai detik ini Kyros tentu masih belum mengetahui jika Gienka sedang hamil anak pertama mereka yang sudah di diagnosa oleh dokter berjenis kelamin perempuan.
Tidak ada pilihan lain bagi Gienka selain harus sabar menunggu kepulangan Kyros, itupun tentu tidak bisa dipastikan kapan waktunya, mengingat saat kembali, Kyros tidak bisa langsung pulang dan harus menjalani karantina untuk pemulihan yang waktunya juga tidak pasti. Hal lain yang harus diterima Gienka adalah, dia tidak diijinkan oleh keluarganya untuk kembali ke Amerika dalam keadaan hamil besar, dimana jika Kyros sudah selesai recovery dan pulang ke rumah yang ada disana, Kyros juga tidak akan mungkin langsung mendapat ijin cuti untuk datang kesini dan menemaninya saat persalinan. Setiap hari Gienka mencoba untuk menenangkan hatinya sendiri ketika kesedihan menderanya saat teringat akan suaminya yang sekarang berada jauh dari dirinya.
Gienka menitihkan airmatanya dan mengusap lembut perutnya karena bayinya sedang menendang-nendang perutnya.
"Kenapa sayang? Apa kau merindukan ayahmu??? Dia akan segera pulang dan berkumpul bersama kita...!" Gumam Gienka sendiri sambil berurai airmata, dengan cepat dia menyekanya dan kembali menatap langit.
"Ky... I would like you to come home...!" Gumam Gienka dengan sedih.
Kyra menyentuh pundak Gienka, membuat saudara iparnya itu sedikit terlonjak. Gienke dengan cepat mengusp airmatanya yang tadi sempat menetes. Dia kemudian tersenyum pada Kyra.
"Gie...! Makan yuk, sudah ditunggu yang lainnya...!" Ujar Kyra. Gienka hanya mengangguk lalu berdiri.
Kyra sangat sedih melihat keadaan Gienka yang setiap hari selalu saja melamun memikirkan Kyros. Gienka yang dulu tidak pernah mau berada jauh dengan Kyros, sekarang justru ditinggal dalam waktu yang lama dan dalam keadaan seperti ini. Kyra tahu bahwa ini adalah masa tersulit yang harus dihadapi oleh Gienka, tetapi Kyra yakin Gienka bisa melewatinya, dan Kyros pasti juga akan segera kembali.
Kyra memperlambat langkahnya ketika sedang berjalan dengan Gienka. Tubuh kurus Gienka dan perut besarnya membuat Gienka cukup kesulitan ketika berjalan. Kyra sendiri heran karena biasanya ketika seorang permpuan hamil tubuhnya akan terlihat lebih berisi, tetapi tidak dengan Gienka, tubuhnya tetap sama. Semua itu terjadi karena Gienka sering telat makan dan lebih sering menghabiskan waktunya untuk melamun.
Kyra menarikkan kursi makan untuk Gienka dan langsung juga menyiapkan makanan untuknya. "Gie... Makanlah yang banyak... Kau tahu kan bahwa Ky sebentar lagi akan kembali, dia pasti tidak ingin terus melihatmu dalam keadaan seperti ini terus! Bayimu juga butuh asupan, begitu juga dirimu...! Makan ya banyak ya???" Ujar Kyra
"Iya Gienka sayang, makan yang banyak ya?" Sahut Cahya.
"Iya Mam...!" Jawab Gienka kemudian.
Mereka menikmati makan siang bersama. Gienka juga mencoba untuk untuk memakan makanan yang sudah tersedia meskipun sebenarnya dia tidak begitu lapar, tetapi dia tidak ingin membuat semua orang merasa khawatir dengan keadaannya.
Axel akhirnya sampai di rumah, dia selalu menyempatkan untuk pulang setiap weekend. Melihat suaminya pulang, Kyra langsung menghentikan menyuapi Athan, meminta putranya itu untuk makan sendiri, sentara dia akan mengurus Axel. Bukannya melanjutkan makan, Athan justru turun dari kursi dan berlari menghampiri Axel.
"Baba.....!" Teriak bocah itu dan Axel langsung menangkap serta menggendong dan menciuminya.
"Bagaimana Jagoan Baba hari ini? Apa dia selalu kabur saat disuruh minum susu???" Tanya Axel.
"Ya...! Aku bosan...!"
"Tapi kau harus minum susu, supaya tubuhmu cepat besar...!" Axel membawa Athan ke ruang makan lagi dan mendudukkannya di kursi.
Sebelum naik ke kamar, Axel menyapa semua orang lebih dulu, menyalami mereka satu persatu, dan mentoel pipi Athan juga menciumnya setelah itu dia pergi bersama dengan Kyra ke kamar.
"Aunty Gie...!" Panggil Athan pelan, membuat Gienka menoleh dan meletakkan sendoknya.
"Ya, Athan sayang...!" Jawab Gienka sambil tersenyum manis pada keponakannya yang sedang duduk di sebelahnya.
"Suapi aku, Ammi selalu pergi meninggalkanku saat Baba pulang!"
Gienka tergelak dan mengusap kepala Athan lembut. "Aunty mau menyuapimu tapi berikan aunty sebuah hadiah ciuman disini...!" Gienka menunjuk ke arah pipinya dan memiringkan kepalanya agar memudahkan Athan menciumnya dan bocah itu bersemangat sekali menciumnya.
Gienka kemudian mengabulkan keinginan Athan dan menyuapinya sampai habis. Gienka cukup senang dengan kehadiran Athan, karena bocah itu selalu saja bertingkah lucu dan menggemaskan membuat orang disekitarnya selalu tertawa. Athan bisa membuat suasana hati Gienka sedikit membaik saat dia merasa sedang sedih karena teringat Kyros.
"Athan sayang...! Aunty Gie sudah menyuapimu, kau harusnya juga menyuapi dia? Lihatlah piringnya masih ada makanan....!" Ucap Aditya.
Athan melirik ke arah piring yang ada di depan Gienka. "Aunty, aku akan menyuapimu juga...! Berikan piringnya...!"
Gienka tersenyum dan menggeser piringnya ke depan keponakannya. Athan melakukan apa yang disuruh oleh Aditya. Cahya, dan Aditya saling menoleh kemudian tersenyum, karena memang hanya dengan Athan, Gienka akan mengalah pada keadaan. Gienka tidak pernah bisa menolak keinginan dari keponakannya itu.
★★★★★★
Waktu berlalu, perut Gienka semakin membesar. Usia kandungan Geinka sudah memasuki minggu ke 35. Kyros tidak kunjung menghubungi orang dirumah padahal mereka sudah mendapat kabar jika Kyros sudah kembali dengan selamat sudah sekitar dua bulan yang lalu. Gienka semakin sedih dengan hal itu, dan mulai berpikir bahwa Kyros mungkin melupakannya atau tidak merindukannya. Gienka juga mulai ketakutan Kyros tidak pulang ke rumah melainkan ke apartemen dan disana bisa saja bertemu dengan Camilla. Banyak sekali yang ditakutkan oleh Gienka, dan itu semkin membuat dadanya semakin sesak saja.
Gienka sudah siap jika seandainya Kyros tidak bisa pulang untuk menemaninya saat persalinan, tetapi yang diharapkannya saat ini adalah bisa berbicara atau sekedar melakukan panggilan video dengan suaminya itu. Gienka hanya ingin melihat wajah Kyros dan memastikan bahwa suaminya itu baik-baik saja tetapi dia sudah menunggu cukup lama dan Kyros tidak kunjung menghubunginya. Apakah butuh waktu se lama itu untuk recovery, padahal dulu hanya membutuhkan kurang dari 2 minggu. Gienka semakin gusar saja setiap harinya. Beruntungnya Gienka memiliki keluarga yang selalu mensupportnya, setiap hari orangtuanya selalu datang kesini, baik itu Danist dan Elea, juga Ariel serta Maysa. Keluarga Kyros juga melakukan hal yang sama, mereka selalu ada untuk Gienka. Cahya, Kyra, Nyonya Harry dan ibunya Cahya juga selalu bergantian menemani Gienka tidur, terkadang Maysa dan Elea juga menginap disini. Mereka semua bekerja sama untuk menemani Gienka agar tidak merasa kesepian dan memastikan bahwa Gienka tidak kekurangan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya, mengingat Gienka terkadang menangis ketika merindukan Kyros.
"Gienka sayang....! Box bayinya sudah datang, mereka akan membawanya kesini...!" Cahya menghampiri Gienka yang duduk di kursi rooftop. "Loh Kyra mana??" Tanya Cahya lagi.
"Kyra ada di kamar mandi Mam, Athan ingin buang air kecil tadi, sudah datang ya? Pasti lucu sekali ya...!" Ujar Gienka.
"Ya... Amam juga tidak sabar melihatnya...! Kamarmu sudah siap kan??"
"Ya...! Sudah Mam...!"
Cahya mengusap lembut perut menantunya itu. Tinggal beberapa minggu lagi Gienka akan melahirkan dan Cahya sudah tidak sabat untuk menggendong cucu keduanya. Kebahagiaan keluarganya akan semakin lengkap sekali, karena Gienka akan melahirkan seorang putri, dan Kyra sudah memiliki seorang putra. Semua sangat berbeda, dimana dulu ketika Kyra hamil, Kyra mendapat perhatian yang luar biasa dari Axel, dimana Axel membawa Kyra bersamanya, dan Cahya harus mengunjungi Kyra beberapa hati sekali. Dan saat ini Gienka justru mengalami hal yang sebaliknya, dimana Gienka di uji oleh Tuhan seberapa kuatkah dia melewati masa sulitnya tanpa kehadiran Kyros disampingnya dari awal kehamilannya. Cahya merasa bangga sekali Gienka selalu berusaha melewati itu dengan sabar dan ikhlas meskipun sering sekali Cahya menemukan menantunya itu diam-diam menangis, tetapi tidak ada banyak hal yang bisa dia lakukan selalin selalu mensupport Gienka setiap waktu.
Di awal-awal kehamilannya, Gienka menyibukkan dirinya dengan kembali bekerja di kantor Ariel, tetapi semakin hari perutnya semakin membesar dan Ariel tidak tega jika harus melihat putrinya datang ke kantor. Ariel pun tetap memberi Gienka pekerjaan di rumah tanpa harus ke kantor untuk membuat Gienka sibuk hingga tidak selalu mengingat Kyros. Tetapi meskipun begitu, Gienka sangat merindukan suaminya disetiap detiknya, sesibuk apapun pekerjaannya, jika dia mengkngat Kyros tentu dia akan menangis.
Gienka dan Cahya masuk ke dalam rumah, dan tak lama Kyra dan Athan juga keluar dari kamar Gienka menyusul Amam serta iparnya ke dalam rumah. Pintu lift mulai terbuka, ada Aditya dan Axel berdiri disana, dengan sebuah box besar yang ada di atas trolli. Aditya dan Axel mendorong trolli itu keluar dari lift.
"Gie... Ini box bayi yang kau pesan, sangat besar dan berat sekali....!" Ucap Axel.
Tiba-tiba saja, Kyra sudah membawa membawa gunting dan memotong selotip yang merekatkan box besar itu, kemudian membiarkan Gienka membukanya sendiri. Gienka tidak curiga sama sekali, dan dia melangkah pelan kemudian menarik selotip yang ada di atas box itu. Di bantu Axel menarik selotip itu, Gienka lalu membuka box itu perlahan.
Gienka terlonjak ketika bukan box bayi yang ada di dalamnya, melainkan punggung seseorang. Sedetik kemudian punggung itu bergerak dan orang yang ada di dalamnya berdiri.
"Surprise.....!!!" Teriak semua orang yang ada di ruangan itu sambil bertepuk tangan.
Kyros muncul dari dalam box besar itu dan tersenyum lebar menatap Gienka. Kyros mengangkat box itu dan melemparnya begitu saja lalu turun dari trolli dan memeluk Gienka. Detik itu juga Gienka langsung menangis, memukuli dada Kyros meluapkan kebahagiaannya. "Kau jahat....! Kenapa kau tidak pernah menghubungiku....!" Isakkan Gienka semakin menjadi-jadi.
"Maafkan aku....!" Ucap Kyros dan menciumi kepala istrinya.
Kyros melepaskan pelukannya, mendongakkan kepala Gienka dan mencium bibir serta kening istrinya itu. Kyros juga tidak bisa menahan airmatanya, dia sudah meninggalkan istrinya sangat lama. Dan dia tidak bisa menahan dirinya ketika dia mengetahui dari Smith dan Shanon bahwa ternyata setelah kepergiannya, Gienka dinyatakan hamil. Kyros duduk berjongkok di depan perut Gienka dan mengusap serta menciumi perut istrinya itu.
"Maafkan aku sayang....!! Daddy harap kau tidak marah kepada Daddy karena sudah meninggalkanmu dan Mommy mu cukup lama...!" Gumam Kyros diiringi oleh isakannya yang terdengar penuh dengan penyesalan.
Kyros berdiri dan memeluk Gienka lagi. Dia benar-benar merasa bahagia akhirnya bisa kembali dengan keluarganya. Sebenarnya setelah kembali ke Bumi dan selesai menjalankan masa recoverynya, dia sudah ingin menghubungi keluarganya. Tetapi saat itu Smith menemuinya dan menceritakan semuanya tentang keadaan Gienka saat ini. Mendengar itu, Kyros tidak bisa menahan dirinya untuk segera bisa pulang menemui Gienka. Tetapi dia masih punya banyak tanggung jawab dengan pekerjaannya, sebisa mungkin pekerjaannya itu harus selesai lebih cepat agar bisa mendapatkan ijin untuk pulang.
Kyros sengaja tidak menghubungi Gienka yang nanti membuatnya semakin ingin bertemu dengan istrinya itu, dan menjadi tidak fokus dengan deadline yang sedang dikejarnya. Dan Kyros juga tidak menghubungi keluarganya yang lain, dia baru menghubungi Apapnya seminggu sebelum dia akan pulang, agar Apapnya bisa mengirim pesawat untuk menjemputnya. Kyros juga meminta agar Apapnya tidak memberitahu siapapun tentang rencana kepulangannya. Semua keluarga juga baru tahu kemarin, jika hari ini dia akan pulang, dan hanya Gienka yang tidak tahu, karena Kyros ingin memberi istrinya itu kejutan.
Cahya dan Kyra menyela airmatanya, merasa terharu atas apa yang ada di hadapan mereka saat ini. Penderitaan Gienka sudah berakhir, dan Kyros saat ini sudah ada disampingnya. Kyros sudah mengurus ijin cutinya agar bisa tinggal lebih lama untuk menemani istrinya melahirkan nanti. Dan ketika masa cutinya habis, Kyros juga harus bersiap kembali lagi, tetapi tidak masalah karena itu baru akan terjadi setelah Gienka melahirkan.
Cahya kemudian mengajak semua orang untuk turun, dan membiarkan Kyros dan Gienka beristirahat. Kyros dan Gienka keluar menuju kamar mereka. Kyros meminta Gienka agar berbaring diatas tempat tidur, karena dia ingin sekali meletakkan kepalanya diatas perut istrinya dan merasakan pergerakan bayinya.
Kyros mengusap kening Gienka, menatapnya dengan dalam, dan itu cukup lama sekali dia lakukan. Kyros ingin meluapkan segala kerinduannya pada istrinya, dan tidak akan meninggalkannya. "Kau pasti sangat menderita sekali, melewati masa sulitmu ini tanpa diriku, tolong maafkan aku...!" Ujar Kyros dan dia kembali menitihkan airmatanya.
Gienka tersenyum dan menyeka airmata itu. "Aku memang kesulitan tanpa dirimu, tetapi semua orang ada bersamaku dan selalu berusaha menghiburku agar aku tidak merasa kesepian, tetapi kau sudah ada disini, aku sangat bahagia sekali...! Kau pulang dalam keadaan sehat...!"
Kyros membungkuk dan menenggelamkan kepalanya memeluk Gienka sambil mengusap perutnya. Kyros mengangkat kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Gienka lalu menciumnya. Gienka menyambutnya dengan senang hati, bibir yang sudah sangat lama sekali dirindukannya dan kini akhirnya menyatu lagi. Rasa manis yang sama dan rasa hangat yang sama, tidak pernah berubah, ini yang selalu Gienka rindukan dari Kyros.
Ciuman itu cukup lama dan akhirnya mereka saling melepaskan. Napas keduanya pun terengah. Gienka menyentuhkan jemarinya di pipi Kyros membuat lelaki itu memejamkan matanya merasakan kelembutan disana.
"Kau tidak ingin mengunjunginya di dalam sana???" Tanya Gienka.
Kyros tahu apa yang sedang dimaksud oleh istrinya itu. "Aku tidak mau menyakitimu dan bayi kita, aku bisa bertahan...!" Jawabnya.
"Kau tidak akan menyakiti kami jika kau melakukannya dengan pelan dan lembut, kau pasti juga merindukannya, lakukan saja...! Aku juga sangat merindukanmu, dokter bilang itu baik dilakukan rutin menjelang kelahiran" Ujar Gienka.
"Kau yakin???" Tanya Kyros lagi.
Gienka melempar senyumnya yang paling manis dan menganggukkan kepalanya. Mendapat ijin, Kyros tentu tidak mau menunggu lama lagi, dengan cepat dia melepaskan semua yang menempel di tubuhnya, meminta Gienka agar memegang miliknya yang sudah lama tidak disentuh. Gienka membuat Kyros cepat menegang hanya dengan sebuah sentuhan. Dia menggerakkan jemarinya perlahan, membuat Kyros hanya bisa merintih pelan menikmati kelembutan yang sudah lama tidak dia rasakan.
"Sudah cukup...! Aku tidak mau meledak disini, aku akan meledak di dalam saja, dan memperkenalkan diriku pada bayi kita disana...!" Gumam Kyros dengan suara terbata.
Secepat kilat, Kyros membantu Gienka melepas semuanya dan mereka tidak mau menunggu lama lagi. Kyros menenggelamkan dirinya secara perlahan dan langsung disambut oleh tarikan tubuh Gienka, membuat seluruh sarafnya berdenyut.
Kyros memejamkan mata, menikmati cengkeraman yang erat, membuatnya harus berjuang agar tidak meledak seketika itu juga.Dia sangat merindukan Gienka. Perempuan yang sekarang berbaring di depanya dengan mata berkabut, bibir sedikit membuka, napas tersengal, Gienka yang pasrah dan saat ini sedang mengandung anaknya.
Dengan hati-hari Kyros bergerak pelan dan hati-hati. "Apakah sakit?" Tanya Kyros sambil menggertakkan giginya, menahan diri agar tidak mendorong terlalu keras.
Gienka menggelengkan kepalanya, "Tidak sayang, rasanya luar biasa"
Lelaki itu menahan diri, menunggu Gienka mencapai puncak. Dan ketika Gienka melengkungkan punggungnya dan meeintih pelan, Kyros mengikutinya. Perasaan dan kepuasan ini tiada duanya. Menyatu dengan orang yang dicintai memang selalu memberikan perasaan yang berbeda. Mereka mencapai titik itu bersama-sama setelah sekian lama saling menahan diri.
★★★★★★
2 minggu kemudian....
Sejak semalam, Gienka sudah mulai merasa mulas-mulas, Kyros dan kekuarganya segera membawanya ke rumah sakit. Geinka terus merintih menahan rasa sakit yang dirasakannya tetapi pembukaannya tidak juga bertambah. Kyros selalu memegang erat tangan istrinya itu dan tidak mau melepaskannya Sejak kepulangannya, Kyros benar-benar menghabiskan seluruh waktunya untuk bersama dengan Gienka dalam kondisi apapun, bahkan bisa dibilang Kyros juga tidak bisa tidur dengan nyaman. Saat malam dia akan sibuk dengan laptopnya tetapi tetap memantau Gienka yang sedang terlelap, karena ternyata setiap malam Gienka sering meminta minum, atau terkadang juga merasa lapar, sehingga Kyros harus menguoaskan buah-bahan untuk mengganjal perut Gienka.
Sudah terlalu lama dia meninggalakan istrinya, dan saat ini adalah saat yang tepat untuk memanjakannya, menuruti semua keinginannya. Kyros benar-benar mengabdikan dirinya hanya untuk Gienka dan calon bayi mereka.
Gienka terus merintih kesakitan, membuat Kyros tidak tega melihatnya. Ini sudah hampir 20jam tetapi tidak ada tanda-tanda bayinya akan keluar. Kyros benar-benar tidak kuat melihat istrinya tersiksa seperti ini. Kyros berdiskusi dengan Cahya serta Elea dan Maysa bahwa lebih baik Gienka melakukan operasi sesar saja. Gienka sudah terlalu lama kesakitan. Setelah melakukan pertimbangan dengan keluarga, dan Kyros juga berhasil membujuk Gienka. Tindakan operasi sesar pun di ambil. Kyros masuk ke dalam ruang operasi dan menemani Gienka.
★★★
Annora Galexia Sahasya, akhirnya lahir dengan selamat lewat operasi sesar. Tangisan begitu keras hingga memekikkan telinga. Bayi itu lahir cukup besar dengan berat 3.1 kg. Wajahnya begitu putih, dengan rambut lurus berwarna cokelat seperti rambut Ayahnya. Matanya begitu cantik berwarna abu-abu seperti mata Kyros tetapi wajahnya seperti Gienka. Dokter mengangkatnya dan langsung membersihkannya sebelum nanti diberikan pada Kyros untuk di adzankan kemudian diberikan kepada Gienka.
Kyros dan Gienka sebelumnya sudah menyiapkan nama yang cantik untuk putri mereka. Annora diambil dari nama awal Gienka yang memiliki arti Cahaya, sementara Galexia adalah nama pilihan Kyros yang berarti Galaksi, dan Sahasya tentu diambil dari nama keluarga Kyros yang artinya kuat. Nama itu tentu memiliki oengharapan yang besar untuk Kyros dan Gienka, sehingga kelak Lexia bisa menjadi perempuan yang bersinar seperti galaksi yang kuat.
Kyros terus menciumi kening Gienka dan tidak berhenti mengucao syukur kepada Tuhan karena istri dan bayinya selamat. Gienka masih dalam pengaruh bius hingga dia masih belum sepenuhnya sadar dan hanya menatap Kyros yang menangis diatasnya.
Setelah Baby Lexia dibersihkan, perawat memberikannya pada Kyros dan masih dalam perasaan terharu, Kyros mencoba melantunkan adzan ditelinga putrinya untuk pertama kalinya. Setelahnya dia kembali memberikan pada perawat.
Kyros pergi keluar ruang operasi dan memeluk Amamnya sambil menangis tersedu-sedu. Dia sudah menjadi seorang Ayah, dan putrinya sangatlah cantik seperti Gienka. Semua orang terlihat bahagia dan saling memeluk satu sama lain. Elea dan Maysa saling berpelukan, mereka akhirnya menjadi seorang nenek. Begitu juga dengan Ariel dan Danist, kebahagiaan yang tidak terkira. Sementara Kyros kini berganti memeluk Apapnya, meluapkan segala kebahagiaannya.
Perawat mengurus Gienka dan bayinya sampai benar-benar selesai. Baby Lexia sudah di bersihkan, saatnya membawanya pada Gienka yang juga sudah selesai di urus oleh dokter dan perawat. Bayi cantik itu langsung diletakkan di dada Gienka agar bisa mencari sendiri put*ng ibunya dan dengan cepat, Baby Lexia menghisapnya.
Beberapa hari kemudian, akhirnya Gienka dan Baby Lexia sudah boelh di bawa pulang. Box bayi berwarna pink sudah siap disebelah tempat tidur orangtuanya. Semua saling bergantian untuk menggendongnya. Kyra juga merasa senang sekali memiliki keponakan yang super cantik dan menggemaskan.
"Astaga, dia benar-benar cantik, pipinya menggemaskan sekali...!" Gumam Kyra.
Kyros dan Gienka tersenyum. "Athan sudah besar, seharusnya kau dan Axel sudah mulai membuatkannya adik!" Ucap Kyros.
"Kami selalu melakukannya setiap malam, tapi belum berniat menjadikannya seorang bayi hahahaha.... Nanti dulu lah....!" Sahut Kyra.
Kyros, Gienka dan Axel tertawa. Inilah kebahagiaan yang sebenarnya dalam sebuah keluarga, kehadiran seorang anak selalu membuat suasana semakin istimewa. Kyros tidak berhenti bersyukur karena akhirnya Tuhan memberikannya dan Gienka seorang putri yang begitu manis dan menggemaskan. Kebahagiaannya dan Gienka semakin bertambah. Dan Kyros berjanji bahwa dia akan selalu berusaha menjadi suami yang baik dan ayah yang baik untuk istri dan anaknya.
Kyra dan Axel membawa Baby Lexia keluar sari kamar Kyros dan Gienka. Sementara itu Kyros memluk Gienka. "Terima kasih sayang, kehadiranmu di hiduoku itu adalah anugerah yang selalu setiap saat aku syukuri, dan sekarang kau juga memberiku hadiah yang lebih luar biasa lagi, kau memberiku bayi yang cantik seperti dirimu, bahkan kecantikan kalian berdua mengalahkan kecantikan luar angkasa yang sering aku lihat, terima kasih, aku sangat mencintaimu....!" Ungkap Kyros dengan penuh kebahagiaan.
"Aku juga mencintaimu, terima kasih karena kau juga selalu menghujaniku dengan cinta disetiap waktu...!" Gienka membalas pelukan Kyros.
Sekali lagi CINTA bisa membuktikan keajaibannya, dimana kesabaran, penantian dan usaha akan selalu membawa hasil yang luar biasa. Tidak ada waktu yang tebuang sia-sia untuk menunggu sebuah CINTA, karena yang paling penting adalah kepercayaan dan saling melengkapi. Seseorang hanya membutuhkan tiga hal dalam hidup untuk jadi benar benar bahagia, yaitu sesuatu untuk dicintai, sesuatu untuk dilakukan, dan sesuatu yang kita berharap karenanya. Dan CINTA adalah suatu kondisi dimana kebahagiaan orang lain menjadi penting untuk kita. DiCINTAi memberikan kita kekuatan, sedangkan menCINTAI memberikan kita keberanian.
..."SOME LOVE STORIES, LIVE FOREVER "...
...★★ THE END ★★...