
Dalam perjalanan pulang Aditya hanya diam tidak bicara apapun, membuat Cahya bingung kenapa dengan perempuan itu sehingga membuat Aditya seolah ingin marah.
“ Perempuan tadi itu siapa Dit? Kenapa kau terlihat marah saat dia datang menghampirimu tadi?” Tanya Cahya membuka obrolannya sekaligus agar bisa menjawab rasa penasarannya terhadap perempuan itu.
“ Diamlah kau Ca!!” Teriak Aditya dengan suara yang sangat keras hingga membuat Cahya terkejut setengah mati padahal dia hanya bertanya saja, tetapi respon Aditya tidak diduga, baru kali ini dia dibentak oleh Aditya membuatnya ingin menangis karena suara Aditya sangat marah bahkan lebih marah daripada saat menghajar Theo kemarin.
Sesampainya dirumah Aditya langsung pergi masuk ke dalam rumah tanpa membantu Cahya membawa barang belanjaan mereka. Cahya sudah ingin menangis tetapi ditahannya, dia membuka bagasi sendiri dan mengeluarkan semua barang belanjaannya lalu membawanya satu per satu masuk ke dalam rumah dan langsung menata semuanya didalam kulkas. Ibunya menghampirinya didapur menanyakan kenapa Aditya membanting pintu kamar seperti orang yang sedang marah. Cahya tidak ingin ibunya tahu bahwa tadi Aditya membentaknya pasti nanti akan khawatir.
“ Ehhh dia sedang ada masalah di kantor bu, jadi lebih baik kita tidak mengganggunya” Ujar Cahya berbohong.
Ibunya pun terlihat menerima penjelasan putri nya itu. Cahya meminta ibunya untuk melanjutkan menata barang belanjaannya karena dia ingin pergi mandi. Didalam kamar mandi dia menangis tersedu mengingat sikap Aditya di mobil tadi, teriakan Aditya itu sangat melukai hatinya.
****
Setelah mandi Cahya tidak masuk ke kamarnya, dia lebih memilih masuk ke kamar Chika dan memakai pakaiannya karena takut Aditya akan memarahinya lagi. Cahya pergi ke dapur dan menyiapkan makan malam, seburuk apapun hatinya sekarang dia tidak boleh melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang anak dan juga istri.
Didalam kamar, Aditya tersadar jika tidak seharusnya dia membentak istrinya begitu keras, pertemuannya dengan Erica tadi membuatnya tidak bisa mengontrol emosinya dan justru malah dia lampiaskan pada Cahya yang tidak tau apa-apa, dia sangat menyesalinya dan akan bicara padanya nanti. Akibat perasaannya saat ini tidak baik karena Aditya, Cahya hanya membuat nasi goreng untuk makan malam hari ini, dia pun memanggil ibunya untuk makan bersama dan sengaja tidak memanggil Aditya karena takut dia masih marah.
Setelah selesai makan dia memberikan ibunya obat dan membereskan piring dan gelas di meja makan, tetapi masih menyisakan untuk Aditya, ketika amarahnya sudah hilang mungkin dia akan mencari makanan.
*****
Aditya keluar kamar dan menemukan rumah sudah dalam keadaan sepi, jam sudah menunjukkan pukul 10 Malam. Ibu mertuanya pasti sudah tidur, tetapi kemana Cahya kenapa dia belum masuk ke kamar. Aditya pun mencari istrinya dikamar Chika mungkin dia tidur disana karena tidak mau mengganggunya tetapi tidak ada, dia melihat pintu belakang masih terbuka mungkin Cahya ada dihalaman belakang, benar saja dia sedang duduk sendirian disana, Aditya segera menghampirinya.
“ Ini sudah larut kenapa duduk disini sendirian, ayo masuk?” Pinta Aditya tapi Cahya hanya diam tidak meresponnya, dia pun duduk disebelah Cahya.
“ Maafkan aku, maaf atas sikapku tadi sore, seharusnya aku tidak melakukannya, sorry Ca” Ucap Aditya menyesal.
“ Kau menyakiti perasaanku, aku tidak pernah sekalipun diteriaki seseorang sekeras itu padahal aku merasa tidak melakukan kesalahan apapun, aku hanya bertanya jika kauntidak mau menjawab tidak masalah kau tinggal menjawab tidak mau tanpa harus berteriak padaku” Cahya menyeka airmatanya yang mulai menetes.
“ Kau memukuli Theo karena dia menyeretku tanpa alasan tetapi apa bedanya kau dengannya, kau meneriaki ku tanpa alasan, kalau kau marah dengan perempuan itu kenapa kau melampiaskannya padaku??”
“ Cahya maafkan aku, aku sangat menyesal, aku mohon maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi, please ku mohon maafkan aku??”
Cahya justru berdiri dan masuk ke dalam rumah mengabaikan ucapan Aditya, dengan segera Aditya menyusulnya ke dalam dan melihat Cahya sedang mengambil piring dan sendok dan menaruhnya di meja.
*****
Setelah menyelesaikan makan malamnya Aditya masuk ke dalam kamar dan melihat ternyata Cahya sudah tidur, Aditya melihat ada bekas airmata yang mengering disudut mata Cahya. “ Apakah Cahya menangis hingga tertidur? Dan itu karena kesalahanku? Shiitt kenapa aku melakukan hal sebodoh itu??” Gerutunya dalam hati.
Suasana sarapan pagi ini tidak seperti biasanya, rupanya Cahya masih marah pada Aditya karena dia sama sekali tidak mengajak Aditya bicara dan hanya bicara pada ibunya saja. Aditya terlihat sangat bingung dengan keadaan ini, dia mengutuk dirinya sendiri dan bagaimanapun dia harus mendapatkan maaf dari Cahya hari ini juga. Tidak jauh beda dengan suasana sarapan, dimobil Cahya hanya diam saja, membuat Aditya menghentikan mobilnya.
“ Kenapa berhenti?? Nanti aku telat!”
“ Ca, kamu masih marah ya? Aku minta maaf Ca, please maafkan aku?”
“ ini jam masuknya tinggal 15 menit lagi, aku ada meeting dengan tim ku, ayo buruan Dit!!!” Ucap Cahya jengkel sambil melihat jam tangannya.
“ Aku ga akan jalan kalau kamu ga maafin aku?”
“ Iya iya aku maafin, sekarang buruan jalan!”
Aditya tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu menjalankan mobilnya lagi sedangkan Cahya terlihat sangat kesal dengan sikap Aditya yang suka memaksa.
Sore tiba seperti biasa Aditya menjemput Cahya, dan mengajaknya untuk mengunjungi Mamanya. Nyonya Harry sangat bahagia melihat anak dan menantunya datang setelah beberapa hari tinggal dirumah besannya.
“ Ca, mama sangat kangen sama kamu, gimana kabar ibumu??”
“ Alhamdulillah Ma, ibu sudah semakin membaik tapi aku masih belum mengijinkannya melakukan banyak aktifitas, Mama sendiri bagaimana??”
“ Mama sangat baik sayang, jaga ibumu sampai benar-benar sembuh ya, oh iya kita ke taman belakang sambil ngeteh dan ngobrol-ngobrol, habisnya mama kangen banget sama kamu”
Mereka berjalan ke taman belakang untuk melepas rindu, sedangkan Aditya berbincang dengan tuan Harry membahas perkembangan perusahaannya. Sebenarnya selain merindukan Mamanya, Aditya juga ingin agar Cahya tidak terus-terusan marah padanya jadi mengajaknya untuk bertemu Mamanya agar moodnya menjadi lebih baik, semoga berhasil ucapnya dalam hati.
Langit sudah mulai gelap, Aditya segera memanggil Cahya untuk mengajaknya pulang.
" Mama sayang, aku harus mengajak Cahya pulang?" Ucap Aditya seraya menundukkan kepalanya, meminta pengertian mamanya.
" Iya ajak Cahya pulang, kasian bu Rina sendirian, hati-hati ya kalian". Nyonya Harry memaklumi walaupun sebenarnya dia masih ingin Cahya dan Aditya lebih lama disini.