
Beberapa minggu kemudian.....
Ariel menjemput Gienka di sekolahnya ditemani oleh Randy, hari ini dia akan datang lagi ke kantor Aditya untuk menyelesaikan hal terakhir perihal pembelian apartementnya oleh Aditya. Hari-harinya berlalu seperti biasa, dia tetap menjalankan tugasnya setiap hari untuk menjemput Gienka di sekolah. Perihal hubungannya dengan Danist tentu masih sama seperti sebelumnya, masih tetap dingin. Ariel tidak terlalu mengambil pusing semua penjelasan dari sahabat mendiang Mamanya beberapa waktu yang lalu tentang cerita masalalu orangtuanya. Sebenarnya dia ingin meminta maaf kepada Danist ataupun Mamanya tetapi setelah kedatangan pengacara Ayahnya, semua niat itu tidak jadi untuk dia lakukan karena entah kenapa dia merasa masih ada yang mengganjal tentang warisan dari Ayahnya dan meragukan isinya mengingat tidak mungkin Danist tidak mendapatkan apapun dari Ayahnya. Seharusnya Danist mengatakan yang sejunurnya saja tenang apa yang dia dapatkan, jika seperti ini bagi Ariel, Danist terkesan munafik dan licik karena menyembunyikan hal besar lainnya yang tidak ingin diketahui olehnya.
Ariel sangat yakin jika Danist dan Mamanya telah merencanakan sesuatu dibalik surat wasiat serta warisan Ayahnya. Sayangnya dia masih belum memiliki waktu untuk mencaritahu tentang hal ini. Tetapi dalam.waktu dekat fia kana mencoba mencaritahu. Dan itu juga penyebab kenapa sampai saat ini dia masih mengabaikan surat wasiat serta berkas peralihat harta Ayahnya serta belum menghubungi pengacara Ayahnya itu. Ariel masih menunggu waktu untuk bisa mencaritahu tentang Danist dan Mamanya.
******
"May...! Bisakah kau ke ruanganku sekarang..??"
"Baik pak...!" Maysa berdiri dan melangkah menuju pintu ruangan Aditya.
Maysa mengetuk pintu dan dari dalam terdengar suara Aditya mempersilahkannya untuk masuk. Aditya menyerahkan beberapa berkas agar Maysa bisa menyalinnya kemudian memberikannya lagi kepadanya. Selain itu Aditya juga meminta agar Maysa membawakannya cek untuk pembayaran apartemen yang baru saja dia beli. Maysa kemudian membawa berkas itu dan keluar lagi dari ruangan Aditya.
Selang beberapa menit setelah kepergian Maysa dari ruangan Aditya, Ariel datang untuk bertemu Aditya dengan membawa surat perjanjian jual beli apartemennya. Ariel tidak datang sendiri melainkan bersama dengan Randy juga Gienka yang tadi dia jemput disekolahnya. Gienka berlari ke sudut ruangan Aditya dimana disana ada area bermain milik Kyra dan Kyros.
Ariel langsung duduk di depan meja Aditya dan memberikan surat perjanjian itu padanya. Aditya mengambilnya dan membacanya dengan teliti sebelum menandatanganinya. Sementara Randy sibuk mencari minuman di dalam chiller yang ada di ruangan Aditya.
"Jadi kau pindah kapan??? Biar aku bisa mencari orang untuk membantu kepindahanmu dan orangtuamu"
"Mama dan Papa akan langsung pindah setelah kembali dari pernikahan Adri dan Chika di Bali, sedangkan aku mungkin beberapa hari setelahnya, kami hanya pergi membawa pakaian dan beberapa barang saja jadi tidak perlu bantuan, kecuali untuk memindahkan sementara furnitur-furnitur serta barang lainnya ke gudang yang ada di belakang kantor ini, kebetulan saat ini sudah dikosongkan, jadi kurasa lebih aman"
"Oke aku mengerti, aku akan mengurus untuk pemindahan barang dan furniturmu, dan renovasi rumahmu akan kupastikan selesai dalam 6 bulan paling lama"
"Thx Iel, kuserahkan semua padamu" Aditya kemudian menandatangani surat-surat itu.
Ariel juga memanggil Randy untuk ikut tanda tangan sebagai saksi. Setelah itu Aditya menunggu Maysa untuk membawa cek yang akan diberikan kepada Ariel sebagai bukti pembayarannya. Dan saat ini Maysa masih belum kembali dari tugas yang diberikan Aditya untuk menyalin dokumen-dokumen.
Randy menyerahkan sekaleng minuman soda di depan Ariel, tetapi Ariel menolaknya karena dia tidak mau meminum soda. Randy mencemooh sikap Ariel yang tidak tahu terima kasih karena sudah di ambilkan, kemudian dengan kesal menyuruhnya agar mengambil sendiri minuman yang diinginkannya.
"Kau payah sekali Ran!" Gumam Ariel kemudian memundurkan kursi yang didudukinya dan berjalan menuju mini bar yang ada di ruangan Aditya itu dan mencari brendi.
Sebuah ketukan pintu mengalihkan Aditya dan Randy, Maysa masuk membawa berkas yang sudah disalinnya dan juga cek yang diminta oleh Aditya tadi. Ariel hanya diam dan melirik ke arah Maysa yang sedang berbicara dengan Aditya.
Maysa mengingatkan Aditya lagi jika besok atasannya itu memiliki schedule untuk meeting dengan klien jepang. Aditya menganggukkan kepalanya, tetapi Aditya melirik ke jam dinding di depannya.
"May, apa kau tidak ke sidangmu lagi?? Ini sudah siang, biasanya kau sudah bersiap untuk pergi??" Tanya Aditya.
"Sidang saya sudah selesai minggu lalu pak dan sudah ada keputusannya" Jawab Maysa.
"Oh sudah selesai, baiklah kalau begitu, pesankan makan siang untuk kami bertiga, dan ambilkan kue untuk Gienka"
Maysa mengangguk dan mengucapkan permisi kepada Aditya lalu keluar dari ruangan itu.
"Bukan...! Setiap seminggu sekali Maysa meminta ijinku untuk masuk setengah hari karena dia harus menghadiri sidang perceraiannya"
"Perceraian??? Dia bercerai??" Seru Randy.
Ariel diam menuang brendi ke sebuah gelas, berpura-pura tidak peduli dengan bahasan Aditya dan Randy tentang Maysa tetapi dia diam-diam menyimaknya.
"Iya, dia diceraikan oleh suaminya, biasalah jika rumah tangga terlalu direcoki oleh orangtua endingnya tidak pernah akan bagus, mertuanya menginginkan cucu tetapi sayangnya Maysa tidak bisa memberikannya, maka itu jalan satu-satunya"
"Ciiihhh..... Masih ada juga yang seperti itu, padahal wajah suami Maysa juga tidak terlalu tampan, tetapi orangtuanya bersikap seburuk itu pada menantunya, menjijikkan...!"
Aditya melirik ke arah Ariel dan memergoki sahabatnya itu sedang sibuk menyimak pembicaraannya dengan Randy. Aditya tersenyum. Jika saja Ariel dulu tidak mencapakkan Maysa mungkin saat ini baik Ariel atau Maysa akan bahagia dalam sebuah pernikahan, tetapi itu juga tidak bisa menjamin karena mungkin saja Ariel juga akan menuntut Maysa agar memiliki anak, mengingat dulu Ariel juga melakukannya saat bersama Elea.
Randy heran melihat Aditya tersenyum sendiri, tetapi kemudian dia mengarahkan pandangannya ke Ariel yang masih berdiri di depan meja bar. Randy ikut tersenyum, menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Ariel saat ini.
"Iel....!!!! Apa kau tidak memiliki niat mendekati Maysa lagi? Menikahlah lagi sebelum kau menjadi duda lapuk!" Ucap Randy dengan nada menggoda.
"Diamlah kau...!"
"Masalalu sudah berlalu Iel, lupakan saja, kau juga mintalah maaf pada Maysa, selama ini kau tidak pernah melakukannya kan??? Kesalahan bukan padanya, jadi tidak ada salahnya kau melakukannya"
Ariel tidak menanggapi Randy dan malah asyik menikmati brendi yang ada di dalam gelas yang dia pegang.
"Gienka....!!!" Teriak Randy kemudian menggerakkan tangannya agar Gienka mau mendekat kepadanya.
Gienka berlari dan menghampiri Randy. "Ada apa Uncle??"
Saat itu juga, Maysa kembali datang ke ruangan Aditya dengan membawa beberapa potong kue cokelat di piring. Maysa tersenyum saat melihat mata Gienka tidak berkedip melihat kue yang dipegangnya. Maysa menyentuh rambut Gienka dan mengusap lembut pipi tembem bocah itu seraya memberikan kue yang dipegangnya. "Kue cokelat manis untuk anak yang tidak kalah manisnya" Gumam Maysa.
"Telima kasih, kau cantik sepelti Mamaku dan baik hati" Ucap Gienka yang kemudian disusul dengan sebuah kecupan di pipi Maysa. "Aku pelnah melihat fotomu dilumah Papa Yel, dilaci kamalnya, papa Yel sedang mencium pipimu dan kau telsenyum, tetapi kenapa aku tidak pelnah melihatmu ada di lumah papa Yel?" Gumam Gienka dengan polosnya.
Semua orang terkejut mendengar ucapan Gienka, termasuk Ariel. Dia tidak menyangka jika Gienka bisa menemukan foto itu.
Maysa hanya tersenyum menatap Gienka, sedangkan Gienka memutar badannya dan memandang Randy.
"Tadi Uncle memanggilku, ada apa??"
"Ah iya uncle lupa, umhhh tadi kau bilang bahwa tante Maysa cantik dan baik hati seperti mamamu, dan juga kau pernah melihat fotonya bersama Papa Yel mu, apa kau setuju jika tante Maysa tinggal dirumah papa Yelmu, jadi Gie bisa bermain dengannya dan setiap hari Gie bisa makan kue lezat seperti ini"
Dengan polosnya Gienka menganggukkan kepalanya. "Tentu saja, tante bisa tinggal dilumah papa Yel, bisa membantunya memasak dan menemaniku membuat teh untuk Papa Yel, sepelti yang dilakukan Mamaku untuk Papa Dan! Tante cantik kapan tante mau ke lumah papa Yel?"
Aditya dan Randy terkekeh, sementara wajah Maysa berubah menjadi memerah. Disudut lain, Ariel tampak menahan kekesalannya pada Randy. Maysa dengan cepat mengucapkan permisi dan meninggalkan ruangan Aditya. Sepeninggal Maysa, Aditya dan Randy melepaskan tawa mereka. Ariel ingin sekalienghajar dan mengumpat Randy tetapi dia tidak bisa melakukannya saat ada Gienka didekatnya. Randy memang sangat keterlaluan memanfaatkan kepolosan Gienka untuk mengerjainya dan membuatmya malu di depan Maysa.