
Brianna mengambil tisu dari tangan Ariel, masih terisak dia mencoba menyeka air matanya dan mengucapkan terima kasih kepada Ariel. "Aku tidak percaya kalau kau pernah mengalami penolakan seperti ini? Kau begitu sempurna dan memiliki segalanya lalu bagaimana bisa ada perempuan yang menolakmu???" Ujar Brianna seraya tersenyum tipis.
Ariel terkekeh dan menarik kursi lalu duduk disana. "Lalu apa kau pikir orang sepertiku tidak memiliki masalah??? Aku juga manusia biasa Ann, dan justru kehidupanku begitu pelik hingga membuatku sempat lupa cara untuk bersikap baik kepada orang lain, dan aku rasa permasalahanku sebelumnya lebih berat daripada masalahmu"
"Aku menjalani kesendirianku selama bertahun-tahun tidak pernah berhenti berharap untuk bisa kembali dengannya tetapi lihatlah, dia sudah memiliki orang lain!" Ucap Brianna dengan sedih.
Ariel hanya tersenyum. "Kalau kau tidak ingin kehilangan seseorang maka jaga dia dengan baik jangan tinggalkan dia, ketika kau lengah maka penyesalan selalu datang di belakang, lalu kau akan kehilangan dia selamanya, jika kau kehilangan Danist karena dia memilih Elea maka aku kehilangan Elea karena dia memilih Danist"
Brianna mengernyit kebingungan tetapi kemudian Ariel menjelaskan semuanya bagaimana dia bisa berpisah dengan Elea. Juga kenyataan bahwa akhirnya Elea dan Danist menikah hingga fakta Danist adalah kakaknya. Semua kepahitan yang dihadapinya kemarin pada akhirnya berakhir jika hati sudah mengikhlaskan semuanya. Karena Tuhan sendiri sudah menuliskan setiap takdir hambanya, akan seperti apa jalannya.
Ariel juga membahas bagaimana Danist sudah mencintai Gienka bahkan ketik bayi itu masih ada di perut Elea. Danist sudah hadir menjadi pengganti dirinya ketika dia pergi meninggalkan Elea dulu. Danist yang selalu setia mendampingi Elea hingga perempuan itu melahirkan.
"Mereka punya cinta yang kuat sejak lama, jadi saranku lebih baik kau ikhlaskan saja, mulai lagi semua dari awal dan kau akan merasa lebih nyaman nantinya" Gumam Ariel.
Brianna terdiam. Semua kisah Ariel membuatnya terkejut, masalah itu begitu pelik tetapi Ariel termyata bisa melewatinya. Dan dari kisah Ariel, dia juga bisa melihat kebaikan dan ketulusan Danist yang memang sejak dulu tidak pernah luntur dari laki-laki itu. Begitu juga dengan Elea, perempuan itu pastilah sangat istimewa hingga Ariel sendiri merasa begitu menyesal setelah meninggalkan Elea dan Elea juga menolak kembali kepadanya. Sementara itu Danist sejak awal bertemu dengan Elea juga langsung menyukainya, jika Elea tidak istimewa mungkin kedua bersaudara itu tidak akan mencintai Elea seperti ini.
Keadaan saat ini memang sudah berubah seperti dulu, hal ini terjadi juga karena kesalahnnya. Jika saja dulu dia tidak meninggalkan Danist dan memberi waktu lelaki itu untuk bisa membuktikan semuanya kepada kedua orangtuanya pasti akan ada cerita yang lain saat ini. Brianna juga masih tidak menyangka jika kedua orangtuanya pernah memenjarakan Danist, hingga membuat laki-laki itu akhirnya memilih jalan untuk melupakannya. Siapapun pasti akan marah dengan hal itu, dituduh tetapi yang bersangkutan tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Kemarahan Mama Danist juga sangatlah beralasan. Mungkin memang saat ini dia harus merelakan Danist dengan Elea, dan membiarkan mereka berbahagia dengan keluarganya.
Brianna menghela napas dan tersenyum melihat Ariel. "Mungkin kau memang benar, kita harus membiarkan mereka berbahagia, dan kita harus mencari kebahagiaan kita sendiri. Thanks Iel, jika bukan karena kau, mungkin aku akan jadi orang jahat dengan merusak kebahagiaan mereka" Ujar Brianna dengan perasaan lega dan dia harus berusaha mengikhlaskan semuanya.
Ariel meminta Brianna agar menunggu karena dia akan mengambil minuman di dapur dan akan kembali lagi nanti. Ariel masuk dan menaiki tangga untuk mengambilkan Brianna minuman sehingga mereka bisa melanjutkan mengobrol. Ariel tahu jika suasana hati Brianna saat ini pastilah tidak baik, tetapi dia akan mencoba menghibur perempuan itu. Sampai di dapur, Ariel mengambil sebotol wine dan menuangkannya di gelas, tetapi kemudian pandangannya tertuju ke luar, dimana disana dia melihat mobil Maysa melangkah pelan akan memasuki halaman rumahnya. Ya perempuan itu tadi sudah mengatakan akan kesini dan membawa makan siang untuknya.
Ariel meletakkan botol yang ada di tangannya dan berlari ke ruang tamu untuk keluar rumah dan menyambut Maysa, tetapi batu membuka pintu, mobil Maysa malah maju terus tidak belok masuk halaman rumahnya. Ariel mengernyit tetapi kemudian dia dengan cepat menuruni tangga, dan mendapati mobil Maysa sudah berbalik arah, seharusnya Maysa bisa masuk saja ke halaman rumah mengingat itu masih muat satu mobil lagi, dan bisa memarkirkan kendaraannya di sebelah mobil Brianna.
"Ya Tuhan ...! Kenapa dia turun, padahal aku tidak ingin mengganggunya dan Brianna" Gumam Maysa.
Tadi dia ingin makan siang bersama Ariel tetapi saat sampai dia malah menemukan ada mobil Brianna disana membuatnya mengurungkan niatnya karena tidak ingin mengganggu mereka. Sayangnya Ariel malah memergoki kedatangannya, kali ini dia tidak bisa mundur dan terpaksa menghentikan mobilnya kemudian turun. Maysa tersenyum ketika turun dari mobil dengan menenteng makanan yang dibawanya.
"Kenapa kau harus memutar mobilmu, kau bisa masuk ke halaman dan memundurkannya lalu membelokkan ke arah kanan dan kau nanti bisa pergi dengan mudah seperti biasanha?" Tanya Ariel.
"Ehhhhh tidak apa aku hanya ingin mencoba yang berbeda saja"
Maysa menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa dia gmhanya ingin mengantar makan siang untuk Ariel saja, dan harus segera pergi untuk urusan mendadak. Setelah memberikan makanan yang di bawanya, Maysa buru-buru kembali ke mobilnya dan langsung meninggalkan Ariel. Sementara Ariel dibuat keheranan dengan sikap Maysa yang tidak seperti biasanya, tetapi dia tidak mau terlalu ambil pusing lalu masuk ke dalam rumahnya untuk menemui Brianna lagi.
Ariel membawa minuman dan menghampiri Brianna yang sedang memainkan ponselnya. Brianna menoleh dengan senyumnya. "Kau kemana saja??? Apa dapurmu ada di luar pulau??? Sehingga mengambil minuman saja begitu lama???" Ejek Brianna.
Ariel tertawa. "Tidak bukan begitu, tadi Maysa datang dan dia membawa makan siang untukku!!" Jawab Ariel.
"Maysa datang??? Dimana dia???"
"Sudah pergi, dia bilang ada urusan mendadak, padahal tadi dia mengatakan akan makan siang bersamaku, tetapi tiba-tiba saja dia pergi, aneh sekali, tidak biasanya dia bersikap seperti itu"
Brianna tersenyum dan langsung menyadari bahwa sepertinya Maysa pergi bukan karena urusan, melainkan karena ada dirinya. Beberapa waktu yang lalu saat di mobil, dia sempat melihat wajah kesal Maysa lewat kaca, saat dia sedang asyik mengobrol bersama dengan Ariel. Maysa mungkin merasa cemburu kepadanya melihat keakrabannya dengan Ariel, katena itulah biasanya yang sering terjadi.
"Harusnya kau menahannya dan aku yang akan pergi, jadi kalian bisa lunch bersama, kau ini sebagai laki-laki harusnya peka, kekasihmu itu pasti cemburu karena ada aku disini haha, hubungi dia dan suruh dia kembali, aku akan pergi sekarang!"
"Maysa bukan kekasihku kenapa dia harus cemburu???"
Brianna kembali tertawa tetapi kemudian dia menjelaskan apa yang sempat dilihatnya saat dimobil waktu itu. Dan ekspresi Ariel langsung terkejut, tidak percaya dan menyangkal bahwa mungkin saja Maysa saat itu memang sangatlah lelah. Ariel juga menjelaskan kepada Brianna bahwa Maysa bukan lagi kelasihnya, mereka sudah lama mengakhiri hubungan mereka karena suatu hal dan tidak mungkin bisa kembali lagi karena kesalahannya begitu besar pada perempuan itu yang sudah pasti jika dia mengajaknya kembali Maysa pasti akan menolak mentah-mentah.
"Jika dia menolak, tentu dia tidak akan dekat lagi denganmu, kenapa kau tidak mencoba untuk kembali lagi dengannya? Tanya Brianna lagi.
"Kesalahanku begitu besar hingga akan sulit untuk diterima, aku melukai hatinya begitu dalam, bahkan aku juga sering merasa malu ketika bersamanya, malu terhadap diriku sendiri karena dia mau memaafkanku dan berteman denganku, padahal seharusnya dia tidak perlu melakukan itu"
"Itulah masalahnya Iel, jika dia mau menerimamu lagi sebagai sahabat atau temannya tentu dia akan juga akan menerimamu lagi sebgai kekasihnya" Brianna menyesap lagi wine nya dan menatap Ariel. "Jangan sampai kau kehilangan kesempatan lagi untuk kedua kalinya, jika kau masih sangat mencintainya lebih baik segera ungkapkan, jika dia menolaknya itu tidak msalah setidaknya kau berusaha dan memanfaatkan kesempatan itu dengan baik untuk mengatakannya, oke aku harus segera pergi, aku harus menemui pasienku, good luck dan segera saja ungkapkan semuanya"
"Kau juga Ann, aku berharap kau bisa menerima semua ini dengan baik dan melanjutkan hidupmu dengan baik"
Ariel dan Brianna berpelukan kemudian cipika-cipiki. Ariel mengantar Brianna sampai di depan rumahnya sebelum perempuan itu pergi. Setelah Brianna pergi, Ariel menyebrang dan menuju ke rumah Danist. Dia harus berbicara sesuatu yang penting dengan kakaknya itu tentang apa yang dikatakan oleh Brianna tadi.