
Beberapa hari kemudian Cahya sudah diijinkan untuk pulang, Aditya sangat bahagia semoga dengan ini istrinya itu bisa kembali lagi menjadi Cahya nya yang penuh dengan perhatian dan menghiasi wajahnya dengan senyumannya yang manis. Selama dirumah sakit Cahya hanya terdiam dan hanya menimpali sekenanya saat orang-orang mengajaknya bicara membuat mereka semakin merasa sedih dengan keadaan istrinya.
Aditya membawa Cahya ke kamar dan menyelimutinya menyuruhnya untuk beristirahat agar kondisinya lebih baik lagi. Akhirnya Cahya tertidur setalah meminum obatnya. Aditya menatap sedih istrinya, keadaan seperti ini sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya.
Aditya turun ke bawah untuk menemui orang tuanya dan juga ibu mertuanya. Saat ini memang peran keluarga yang paling dibutuhkan oleh Cahya dalam kondisi seperti ini.
" Bagaimana kondisi Cahya??" Tanya Nyonya Harry pada putranya.
" Dia sedang tidur Ma setelah meminum obatnya"
" Mama hanya berharap menantu mama kembali seperti dulu"
" Mama kita harus bersabar, Cahya kita akan segera tersenyum kembali, hanya perlu bersabar dan harus mensupportnya agar bisa melewati semua ini" Aditya meyakinkan Mamanya.
Setelah mengobrol dengan orang tuanya, Aditya berpamitan untuk kembali ke kamarnya dan menunggui Cahya disana.
Aditya tersenyum melihat Cahya masih tertidur, dia mengambil laptopnya untuk mengecek pekerjaan yang sudah ditinggalkannya hampir 1 minggu.
Aditya sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak sadar bahwa Cahya sudah bangun dan melihatnya buerkutat didepan laptop. Cahya memandang suaminya dalam diam, merasa sangat bersalah atas semua yang terjadi. Aditya begitu mencintainya, lagi-lagi Cahya telah membuat ulah yang membuat suaminya itu mengalami kesusahan dan sekarang mereka harus kehilangan bayi mereka. Selama ini dia hanya bisa membuat kekacauan yang selalu berujung pada masalah besar.
Lama akhirnya Aditya menyadari jika istrinya tengah memandangnya dalam diam. Aditya bangkit dari duduknya dan mendekati Cahya.
" Hei, kau sudah bangun? Bagaimana apa tidurmu nyenyak?"
" Adit, sejak aku datang dalam hidupmu, banyak sekali masalah yang terjadi, aku selalu membuatmu dalam masalah besar, bahkan kau menikahiku juga karena kau ingin menyelamatkan harga diriku, setelah itu banyak masalah yang datang kepada kita karena kehadiranku dalam hidupmu, maafkan aku, karena keegoisanku juga telah membuat kita kehilangan bayi kita, maafkan aku"
" Kenapa kau bilang begitu, aku menikahimu bukan karena aku ingin menyelamatkan harga dirimu, jika saat itu Cyntia tidak membuat kekacauan aku akan mencari cara lain untuk menikahimu, aku sudah bilang padamu bahwa aku sudah mencintaimu saat aku melihat fotomu, permasalahan yang ada bukan karena dirimu, kita hidup didunia ini pasti memiliki masalah, masalah datang agar kita bisa mengambil pelajaran darinya, kau tidak melakukan kesalahan apapun jadi berhentilah meminta maaf"
" Aku yang menyebabkan kita kehilangan bayi kita, itu adalah kesalahan terbesarku yang aku perbuat padamu"
" Hei, dengarkan aku, berhenti menyalahkan dirimu, ini jalan Tuhan dan sudah terjadi, aku tidak pernah menyalahkanmu atas apapun oke?"
" Bayi kita sendirian disana, aku ingin pergi bersamanya, biarkan aku mati saja" Cahya menangis dan mencoba mengambil pisau yang ada dipiring berisi buah. Aditya mencegahnya dan memeluknya untuk menenangkannya.
" Apa yang kau lakukan??? Tenanglah aku mohon jangan melakukan hal yang bisa menyakiti dirimu"
****
1 bulan berlalu setelah kejadian penculikan Cahya yang dilakukan Theo. Keadaan Cahya tidak berubah, dia menghabiskan waktunya dengan diam, bahkan pernah sekali dia memutuskan untuk berangkat ke kantor, bukannya sibuk dengan pekerjaannya dia justru hanya melamun tanpa memperdulikan tugasnya membuat Elea khawatir dan langsung menghubungi Aditya untuk menjemput Cahya.
Sejak kejadian itu Aditya meminta maaf pada perusahaan dimana istrinya bekerja lalu mengurus surat pengunduran diri istrinya, karena memang sepertinya Cahya seperti sudah kehilangan semangatnya untuk melakukan apapun. Bahkan Aditya juga mendatangkan psikolog untuk istrinya karena khawatir dengan keadaan Cahya yang semakin hari justru semakin tidak mau bicara pada siapapun.
Seriap Aditya mengajak Cahya mengobrol dia hanya diam dan ketika ditanya dia hanya menganggukkan kepala dan menggelengkan kepalanya. Bahkan suatu hari Cahya pernah meminta Aditya untuk menceraikannya, sontak Aditya menolaknnya dengan keras dan mengatakan jika hal itu tidak akan pernah dilakukannya.
Aditya sudah melakukan berbagai cara untuk mengembalikan Cahya seperti dulu. Bahkan sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktunya dirumah untuk menemani Cahya, hanya sesekali pergi ke kantor jika ada hal atau meeting penting yang mengharuskan dia datang serta menyerahkan semua pada Papa nya.
Terkadang dia bertanya-tanya kenapa kehidupan seolah sedang mempermainkannya, kebahagiaan yang mereka rasakan ternyata bisa hilang dalam waktu sekejap dan merubah semuanya. Melihat keadaan Cahya setiap hari membuat Aditya hampir frustasi tidak tahu harus melakukan apalagi agar istrinya itu bisa kembali menjadi dirinya yang dulu.
Ketukan pintu kamarnya mengalihkan Aditya dari lamunannya, ternyata itu adalah Papa nya. Bergegas Aditya menyeka airmatanya.
" Papa, masuklah"
" Kau menangis?? " Tuan Harry tampaknya menyadari jika putranya sedang menangis.
" Tidak Pa, aku hanya kelilipan"
" Dimana Cahya?"
" Dia sedang ada dikamar mandi, apa apa Pa? Apa ada dokumen yang perlu aku tanda tangani?"
" Tidak nak, besok ada meeting dengan perusahaan luar negeri yang bekerja sama dengan kita, mungkin mereka akan membahas proyeknya dengan kita, jadi besok kau harus datang, ini dokumen yang harus kau pelajari"
Setelah memberikan berkas pada putranya, Tuan Harry pergi meninggalkan kamar putranya. Menyadari bahwa kondisinya memang tidak baik tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu putra dan menantunya saat ini, yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa untuk kebahagiaan mereka.
Keesokan harinya Aditya datang ke kantor untuk menghadiri pertemuannya dengan perusahaan luar negeri yang bekerja sama dengannya.
Meeting berjalan dengan lancar dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Tetapi perusahaan asing itu meminta Aditya untuk bisa datang kesana memimpin proyek itu dan akan lebih baik jika Aditya bisa turun tangan secara langsung. Aditya meminta waktu untuk memikirkannya dan akan menghubungi mereka nanti.
Dalam perjalanan pulang, Aditya memikirkan hasil meetingnya hari ini. Proyek itu sudah sejak lama diinginkannya dan dia telah berhasil mendapatkan itu adalah pencapaian yang luar biasa yang dilakukannya, bahkan diminta terjun langsung untuk menanganinya adalah hal yang sangat bagus. Tetapi saat ini yang membuatnya gusar adalah jika dia pergi kesana dibutuhkan waktu lama untuk kembali pulang, karena harus mengawasinya sampai selesai, dan itu pasti butuh waktu berbulan-bulan, sedangkan kondisi Cahya sendiri tidak sedang dalam keadaan baik. Tetapi jika dia tidak pergi tentu saja kerja kerasnya selama ini akan menjadi buruk.