
Cahya duduk di sofa sambil membaca sebuah buku untuk menemani Aditya yang sedang menyelesaikan pekerjaannya, karena hari ini sedang tidak ke kantor maka dia harus mengurus beberapa hal melalui Laptopnya.
" Aku sangat bosan!! "
Suara Cahya membuyarkan konsentrasi Aditya dari pekerjaannya. Lalu tersenyum dan menghampiri istrinya.
" Kau bosan?? Lalu kau mau apa sekarang? Aku akan memberikannya, apa kau mau nasi padang lagi seperti kemarin??"
" Ah tidak-tidak aku masih kenyang, ngomong-ngomong aku masih penasaran dengan orang yang melempar batu ke mobil kita, apa kau melihat orang itu?"
" Tidak sayang aku tidak melihatnya, mungkin itu hanya orang iseng, sudah ayo kita keluar dari sini, kita cari udara segar" Aditya mengajak Cahya untuk keluar dari ruang kerjanya dan agar istrinya itu tidak membahas kejadian pelemparan itu lagi, karena Aditya berencana akan menyelidiki nya, dan dia terpaksa bohong agar Cahya tidak terlalu memikirkannya yang justru akan membuat nya tidak tenang dan bisa berpengaruh pada bayinya.
" Sepertinya siang-siang seperti ini sangat cocok jika memakan es krim, apa kau mau??" Aditya mencoba menawari Cahya yang langsung di setujui oleh istrinya itu.
" Oke baiklah tuan putri, kita akan membeli es krim dan apapun yang kau mau agar kau tidak bosan lagi"
" Tapi mobilmu??" Cahya bertanya karena melihat kondisi kaca mobil suaminya bagian belakang mengalami keretakan yang cukup parah.
" Kita pakai mobil Papa, nanti pak Udin yang akan membawanya ke bengkel, tadi aku sudah meneleponnya, ayo aku ajak kau bersenang-senang"
Mereka berdua bersiap-siap dan pergi meninggalkan rumah. Tanpa disadari Aditya, mobil hitam yang sejak pagi telah mengawasi rumahnya langsung tancap gas mengikutinya.
Aditya berhenti di sebuah cafe dan memesan es krim untuknya dan istrinya. Cahya sangat bahagia dan memakan es krimnya dengan lahap. Dari kejauhan seorang pria memotret mereka diam-diam, pria itu yang sejak tadi telah mengikuti Cahya dan Aditya.
Setelah puas menikmati es krim, aditya mengajak Cahya untuk pulang, tetapi di tengah perjalanan istrinya itu memintanya untuk berhenti membeli es krim di minimarket untuk stok dirumah.
" Aku tadi yang mengajakmu membeli es krim dan kau sudah menghabiskan 3 porsi es krim di cafe itu, sekarang kau memintaku membelikan es krim lagi untuk dirumah, kau ini ada ada saja, ya sudah kita beli di minimarket dekat rumah saja, agar es nya tidak mencair"
Akhirnya sampailah mereka di minimarket, Aditya turun dari mobilnya dan masuk sendirian karena Cahya sedang tertidur. Aditya membeli beberapa kotak Es Krim aneka rasa, agar nanti istrinya itu bisa memilih mana yang ingin dia makan.
Braaakkkk
Bunyi keras itu membuat Cahya terbangun dari tidurnya dan terkejut karena lagi-lagi ada seseorang yang melempar batu ke mobilnya. Cahya bergegas keluar mobil untuk mencari Aditya, dia lari dan menabrak Aditya yang baru saja keluar dari minimarket itu. Melihat kepanikan istrinya, Aditya langsung menenangkannya.
" Sayang, kenapa? Ada apa denganmu kenapa kau ketakutan??"
" Mobil.....!"
" Kenapa dengan mobil, ada apa??" Kepanikan Aditya bertambah ketika Cahya mulai menangis dan memeluknya dengan erat.
" Ada yang melempar batu lagi ke mobil kita!"
" Apa???"
Aditya langsung berjalan ke arah mobilnya dan melihat pintu bagasi nya penyok dan ada batu yang cukup besar di atasnya. Mata Aditya mencoba mencari ke segala arah untuk menemukan pelakunya
" Shiit, siapa yang melakukan ini lagi???" Gerutunya tetapi kemudian tersadar dengan Cahya yang masih terlihat shock, dengan segera dia membawanya masuk ke mobil dan kembali pulang.
****
Aditya membawakan jus untuk Cahya ke kamarnya agar istrinya merasa tenang, hatinya benar-benar gusar memikirkan kejadian tadi, apalagi ini menyangkut kesehatan istrinya yang sedang hamil, mungkin dia harus meminta bantuan Randy, tetapi dia juga harus mendiskusikannya dengan Cahya, agar istrinya itu tidak salah paham lagi terhadapnya.
" Hai sayang, bagaimana keadaanmu, aku membuatkan jus spesial buat istriku tercinta, jus semangka mix stroberi" Aditya masuk dan melihat Cahya sedang bersandar di tempat tidurnya.
" Kau membuatnya sendiri?? Aku tidak percaya, pasti mbak Tina yang membuatnya" Cahya tersenyum dan mengambil jusnya lalu meminumnya.
" Mbak tina sedang membersihkan kolam renang, aku benar-benar membuatnya sendiri"
" Baiklah aku percaya, terima kasih ini sangat segar"
" Bagaimana perasaanmu? Apa kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Aditya.
" Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku, mungkin karena sedang hamil aku jadi sensitif dan mudah menangis, kemarilah"
Aditya duduk disamping Cahya dan memeluk nya lembut dan memintanya untuk tenang dan tidak terpengaruh oleh apapun karena harus menjaga bayi mereka. Cahya mengangkat kepalanya dan memegang kepala Aditya lalu mencium bibirnya, ciuman itu terasa sangat lembut dan semakin mendalam, keduanya saling menyesap satu sama lain. Perlahan Aditya membaringkan istrinya dan mengatur badannya agar tidak membebaninya.
Cahya mencoba melepaskan pakaian Aditya, begitu juga sebaliknya, Aditya perlahan membuka dress Cahya dan menelusuri setiap bagian tubuh istrinya. Tak ingin menunggu lama dan dia sudah sangat siap, Aditya menyatukan tubuhnya dan bergerak secara perlahan, istrinya sedang hamil dia berusaha untuk tetap menjaga gerakan dan posisi tubuhnya.
Setiap gerakan yang dibuat Aditya, Cahya tidak bisa berhenti untuk tidak mengerang merasakan sensasi luar biasa itu. Kali ini percintaan ini sungguh berbeda dengan sebelumnya selain karena dia sedang hamil juga karena dia sudah menyatakan perasaannya pada suaminya. Sampai akhirnya mereka berdua terbang mencapai titik luar biasa itu.
****
Keesokan harinya, Aditya harus kembali ke kantor begitupula dengan Cahya, ada kekhawatiran dihati Aditya, karena tidak bisa mengawasi istrinya, tetapi mereka berdua tidak bisa terus berada dirumah. Hari ini mereka diantar oleh sopir, karena mobil Aditya masih berada di bengkel dan Mama Papa nya akan kembali dari singapura, jadi harus ada yang menjemputnya.
" Pak Udin, tolong nanti hati-hati ya saat menjemput Mama dan Papa, setelah mengantar mereka pulang langsung saja bawa mobil ini ke bengkel, nanti tidak usah menjemputku, aku akan pulang membawa mobil kantor" Ucap Aditya.
" Baik tuan"
Akhirnya mereka sampai dikantor Cahya, Aditya mengantarnya sampai lobi, tidak lupa Aditya berpesan paada istrinya untuk tidak keluar dari kantor walaupun bersama Elea, karena dia takut jika nanti ada kejadian buruk yang menimpa mereka, Aditya tidak menginkan itu terjadi, jika makan siang juga lebih baik dikantin kantor saja atau memesan via online.
" Ingat ya, jangan sampai kamu keluar kantor" Ucap Aditya.
" Iya suamiku, aku tidak akan keluar kantor, nanti jika aku sudah selesai aku akan menghubungimu"
" Baiklah kau hati-hati"
**
Hari ini pekerjaannya cukup banyak, Cahya harus ekstra cepat untuk menyelesaikannya. Telepon disampingnya berbunyi segera dia mengangkatnya dan ternyata resepsionist kantor yang menghubunginya mengatakan jika ada paket untuknya. Cahya segera menuju ke lantai 1 untuk mengambil paket itu, dia berpikir mungkin itu dari Aditya, karena ini sudah mau masuk jam makan siang bisa jadi Aditya mengirimkan makan siang untuknya.
Sampailah Cahya dilobi dan mengambil paketnya. Cahya kembali menuju ke meja kerjanya, dan membuka paket itu, Cahya berteriak dan melemparkan paket itu, membuat semua teman-temannya terkejut dan langsung menghampiri nya termasuk Elea.
" Ca, ada apa kenapa berteriak?" Tanya Elea dan beberapa temannya, lalu Cahya menunjuk ke arah paket yang dilemparnya. Semua orang terkejut melihat isi paket yang dilemparkan Cahya.