SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 372



"Apap....! Kotaknya sudah penuh, harus ku letakkan dimana planet uranusku ini???" Tanya Kyros.


Saat ini mereka sudah berada di rumah setelah semalam kembali dari pernikahan Adri dan Chika. Aditya membawa seluruh keluarganya untuk segera pulang sehari setelah acara pernikahan dan meninggalkan si pengantin baru untuk berbulan madu disana. Karena mereka harus bersiap untuk memindahkan semua barang-barang yang ada dirumah sebelum rumah mereka dihancurkan untuk direnovasi total.


"Sebentar, Apap lihat dulu...!" Aditya menghentikan kegiatan melipat pakaiannya dan melangkah mendekati putranya yang berdiri di depan pintu kamarnya.


Aditya masuk ke kamar kedua anaknya, dia tersenyum melihat Kyra juga sedang sibuk memasukkan seluruh boneka dan mainannya ke dalam kotak kardus. Aditya mengecek kotak kardus yang dimaksud oleh Kyros, tadi dia menyuruh Kyros untuk memasukkan seluruh mainan planet miliknya ke dalam kotak.


"Ky sayang...!!! Harusnya sebelum memasukkannya ke kotak, kau harus melepas penyangganya dulu, supaya seluruh planetnya muat didalam kotaknya lalu penyangganya bisa kau lipat seperti ini" Aditya mencabut planet mainan itu dari besi penyangganya, kemudian mencotohkan pada Kyros cara melipatnya. "Nah kalau seperri ini pasti nanti akan muat, kau bisa kan???"


"Ya, aku bisa" Jawab Kyros.


"Bagus!!! Sekarang keluarkan semuanya dan lakukan seperti yang Apap contohkan, setelah itu Ky bisa memasukkan mainan lainnya ke kotak yang satunya"


Kyros menganggukkan kepalanya dan mengeluarkan lagi mainannya. Aditya keluar dari kamar kedua anaknya dan kembali melanjutkan mengemasi pakaiannya juga pakaian Cahya. Jika semua beres dengan cepat, dia akan langsung mengajak anak istrinya untuk pindah ke apartemen hari ini juga. Srmakin cepat rumah di kosongkan, akan semakin baik.


Cahya masuk ke kamar dengan membawa nampan berisi susu, biskuit, buah-buahan dan jus untuk Aditya. Dia pun memanggil kedua anaknya agar meminum susu sebelum melanjutkan tugas mereka mengemasi barang-barangnya lagi. Cahya duduk di sofa dan meletakkan nampannya. Kyra dan Kyros berlari dan mengambis susu mereka lalu duduk di lantai dan meminumnya ditemani biskuit kesukaan mereka.


"Apa perlu kita pindah hari ini juga??? Kenapa tidak besok saja???" Tanya Cahya.


"Mama dan Papa akan pindah besok juga, jadi besok kita bisa membantu mereka, lagipula semua barang-barang kita sudah siap, setelah kita semua pindah, urusan furniture dan yang lainnya aku yang akan mengurusnya, yang penting kalian nyaman ditempat baru"


"Baiklah jika itu yang kau inginkan, habiskan jus mu lalu mandi dan bersiaplah, aku akan memeriksa barang anak-anak" Cahya mengambil jus dan memberikannya pada Aditya.


"Ayo sayang, habiskan susu kalian, Amam akan membantu kalian merapikan kotaknya lalu kalian harus bersiap, kita akan pergi setelah ini"


Kyra dan Kyros meminum habis susu mereka kemudian masuk lagi ke kamar mereka diikuti oleh Cahya. Aditya menghubungi security nya agar masuk bersama dua bodyguard yang ada di luar rumah untuk membawa semua koper serta barang milik anak-anaknya ke mobil.


******


Akhirnya mereka sampai juga di apartemen, Adity dan Cahya mengajak anak-anak mereka masuk ke lift, sementara koper dan barang mereka akan di bawa oleh bodyguard mereka melalaui lift barang. Aditya membuka apartemennya, dan ini adalah pertama kalinya Kyra dan Kyros kesini. Kedua bocah itu berlari masuk dan terlihat senang sekali, karena apartemen itu luas karena mereka sempat berpikir bahwa jika mereka tidak tinggal di sebuah rumah pasti itu tidak akan menyenangkan. Tetapi ternyata tempat tinggal barunya luas dan memiliki kolam renang yang bisa melihat pemandangan dari atas.


"Apap, aku bisa melihat bintang-bintang lebih dekat disini" Ucap Kyros.


"Tentu saja, itu sebabnya Amam dan Apap mengajakmu tinggal disini, kau bisa melihat bintang setiap malam di setiap sudut tempat ini, dan.....!!!! Kau juga bisa melakukannya di kamarmu, ayo kesana kau pasti akan menyukainya"


Kyros melompat kegirangan dan menggandeng tangan Adirya mengajak Papanya itu agar bergegas membawanya ke kamar. Aditya membuka kamar untuk anak lelakinya itu, kamar itu tidak terlalu luas seperti kamar utama, tetapi tentu akan sangat nyaman untuk ditinggali oleh Kyros sendirian.


"Ky bisa meletakkan buku dan barang lainnya disini nanti, sementara Ky akan tidur disini" Aditya membuka tirai besar yang ternyata menutupi tempat tidur. Aditya melangkah dan membuka tirai lainnya dan juga menekan sebuah remote, terbukalah pintu kaca secara otomatis yang menghubungkan kamar dengan balkon kecil yang dilindungi oleh pembatas kaca juga.


"Ky bisa meletakkan teleskop Ky disini dan bisa mengamati bintang dilangit, apa Ky menyukai kamar ini???" Tanya Adotya lagi.


"Aku menyukainya, tetapi aku tidak suka tempat tidurnya, bisakah apap mengganti spreinya dengan seperti yang dirumah???"


Aditya tertawa mendengar ucapan polos anaknya itu, ya tentu karena sprei di tempat tidur ini tidak memiliki corak atau gambar, hanya sprei polos berwarna abu-abu, sedangkan sprei yang ada ditempat tidur Kyros di rumah memiliki gambar bintang, dan ada juga yang bergambar aneka planet seerti yang sangat disukai oleh bocah itu.


"Nanti Apap akan menyuruh Amam mengganti spreinya, kan spreinya ada di dalam kardus, Apap juga akan menempelkan beberapa stiker disini seperri yang ada dirumah, sekarang kita keluar dan kita akan langsung berskan barang-barangmu, oke??" Aditya mengangkat tangannya dan mengajak Kyros untuk tos.


"Oke...!" Jawab Kyros dan membalas tos Papanya, mereka kemudian keluar.


Ternyata koper dan barang-barang mereka satu persatu sudah dibawa masuk oleh kedua bodyguardnya. Cahya juga mulai membuka kotak kardus untuk memastikan barang apa yang ada di dalamnya sebelum membawanya masuk ke dalam kamarnya ataupun kamar anak-anaknya. Cahya menyesal, seharusnya tadi dia menulis isi barang yang ada di kotak itu agar bisa memudahkannya.


Setelah semua sudah di masukkan ke kamar, Cahya membagi tugas dengan Aditya untuk merapikan kamar anak-anak mereka, sebelum nanti beralih membongkar isi koper. Semua memang harus diseleaaikan saat ini juga, karena besok Aditya juga akan disibukkan dengan mengurus kepindahan orangtuanya juga mengurus segala furniture yang akan di angkut dan disimpan di gudang kosong yang ada di kantor Aditya.


Aditya duduk bersila dilantai dan memasang satu persatu penyangga mainan Kyros, sementara bocah itu mengeluarkan semua buku serta peralatan sekolahnya dan menata di meja belajarnya. Aditya tersenyum melihat anaknya begitu sigap dan mengerti sekali apa yang harus dilakukannya, Cahya telah mengajari dengan baik agar anak-anak mereka bisa menjadi anak-anak yang bertanggung jawab dan bisa cakap dengan tugas mereka.


Akhirnya tugas Aditya merapikan serta membereskan kamar Kyros selesai juga. Aditya sudah menempelkan beberapa stiker di dinding kamar putranya itu, sudah merapikan seluruh mainan dan barang kesayang Kyros, juga sudah memasang rangkaian teleskop Kyros dan meletakkannya di balkon kamar bocah itu. Aditya merasa lelah sekali, sejak pagi dia sudah melakukan banyak pekerjaan untuk kepindahannya, mungkin ini waktunya untuk beristirahat sejenak.


"Apap....!!! Spreinya katanya mau diganti, kok belum diganti???" Tanya Kyros.


"Ah iya lupa, ya sudah coba tanyakan dimana Amam mu menyinmpan spreinya, ambil dan bawa kesini"


Kyros mengangguk dan meninggalkan Aditya di kamarnya. Kyros berlari menghampiri Cahya yang ada di dapur dan menanyakan sprei kesayangannya serta bantal dan gulingnya. Cahya duduk berjongkok dan memegang pundak kanan Kyros lalu menatapnya dengan sedih, karena dia tidak membawa semua itu, bantal serta guling masih ada di kamar Kyros dirumah begitu juga dengan spreinya, yang masih ada di dalam lemari. Cahya awalnya berpikir mungkin tidak perlu membawa semua itu kesini sekarang tetapi ternyata Kyros menanyakannya. Kyros tampak sedih dan berjalan gontai kembali ke kamarnya.


Aditya mengernyit saat melihat wajah sedih dari putranya dan menanyakan kenapa dia bersedih. Kyros bercerita sambil meneteskan airmatanya bahwa Amamnya tidak membawa peralatan tidur kesayangannya kesini. Aditya menyeka airmata putranya kemudian tersenyum kepadanya. "Sudah, Ky jangan menangis, besok Apap akan mengambilnya dirumah, sekarang Apap lelah sekali dan om bodyguard juga sudah Apap suruh pulang jadi tidak bisa mengambilnya untuk Ky, besok ya???" Ucap Aditya mencoba menghibur Kyros.


"Bagaimana aku bisa tidur nanti malam???"


"Ky bisa tidur dengan Amam dan Apap, jika Ky merasa kesepian karena tidak bersama dengan roketmu, Ky mau kan??? Sekarang ajaklah Kyra untuk berenang, Apap akan mengawasi kalian, pergilah!"


Kyra menganggukkan kepalanya, dan Aditya menggandeng tangannya lalu mengajaknya keluar kamarnya. Aditya memanggil Kyra yang sedang bermain boneka di ruang tamu, menyuruh putrinya itu agar berganti pakaian dan berenang bersama kakaknya.


Aditya merasa lelah sekali dan menyuruh agar Cahya yang mengawasi kedua anaknya berenang sementara dia akan tidur sebentar di sofa. Aditya mengeluarkan ponsel serta dompetnya dan meletakkannya di atas meja, dan dia langsung membaringkan tububnya di sofa dan langsung terlelap karena dia merasa sangat lelah sekali.


*******


Ditempat lain, Adri tengah mondar-mandir sendiri di kamar, dia merasa gelisah sekali, keringatnya bercucuran diwajahnya padahal dia sudah mengurangi volume ac dikamar itu. Jantungnya juga berdetak sangat cepat, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Chika sedang pergi ke minimarket untuk membeli beberapa bahan makanan. Tadi dia menolak ajakan istrinya itu karena sedang malas keluar dan ingin di villa saja, akhirnya Chika berangkat sendiri.


Adri merasa bingung dan gelish sekali, dan entah kenapa dengan tubuhnya saat ini. Tadi dia merasa baik-baik saja tetapi tiba-tiba saja ini terjadi.


Disaat Adri gelisah tiba-tiba dia merasa bahwa sesuatu telah terjadi lagi di tubuhnya. Ada yang mengganjal di bawah sana dan mendesak seolah ingin agar di keluarkan dari celananya. Adri merasakan ketegangan yang luar biasa di senjatanya. Hingga kemudian dia mulai menyadari jika tadi dia memakan satu permen yang diberikan oleh kakaknya. Tetapi dia tidak menyangka jika reaksinya secepat ini karena Aditya bilang jika reaksinya akan terjadi sekitar 30 menit sampai 1 jam, tetapi ini baru sekitar 20 menit. Dia memakan permen itu sesaat setelah Chika meninggalkan Villa dengan harapan reaksi permen itu akan terjadi saat istrinya itu sudah kembali, tetapi ternyata reaksinya lebih cepat.


"Astaga.....!!! Apa ini karena efek permen itu ya???" Gumamnya, sambil memegang miliknya dengan kedua tangannya.


Adri mulai bingung, karena ini sudah hampir satu jam tetapi Chika belum juga kembali. Dia sudah terlalu lama menunggu dan tersiksa dengan keadaannya saat ini. Adri sudah mencoba menghubungi Chika tetapi istrinya itu malah meninggalkan ponselnya di kamar. Adri tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang agar keadaannya tidak semakin memburuk, dan ide untuk menghubungi Aditya pun muncul. Sambil mendesis kesakitan, Adri meraih ponselnya dan langsung menekan nomor kakaknya untuk meminta solusi dari permasalahannya sekarang.


"Ahhh kenapa kakak tidak mengangkat teleponku....!!! Kemana dia??" Gerutu Adri, karena sudah 3x kali panggilannya tidak mendapat respon dari Aditya.


Sementara itu, Aditya masih tidur dengan lelapnya sehingga dia tidak mendengar jika ponselnya berbunyi. Cahya masuk ke dalam dan hendak mengambil minuman untuk anak-anaknya, tetapi kemudian langkahnya terhenti saat mendengar suara ponsel berbunyi. Dari suaranya jelas itu adalah ponsel milik suaminya.


Cahya mendekati Aditya yang ada diruang tamu, dan tersenyum menemukan suaminya masih tidur nyenyak sekali sampai tidak mendengar jika ponselnya berbunyi. Cahya mengambil ponsel Aditya dan menemukan nama Adri disana. Tanpa pikir panjang Cahya mengangkatnya. Belum sempat mengatakan halo, Adri langsung menyahut daujung telepon.


"Kakak...!!! Kenapa lama sekali mengangkat teleponku, ini gimana, badanku panas sekali dan jantungku berdetak dengan sangat cepat, serta juniorku sejak tadi menegang, aku bingung harus bagaimana, Chika tidak kunjung kembali ke villa, apa yang harus ku lakukan dengan efek permen darimu itu??? Astaga kakak.....!!! Ini gimana???" Tanya Adri dengan suaranya yang terdengar kesal dan frustasi.


Cahya mengernyit mendengar ucapan dari adik iparnya itu. "Permen??? Permen apa Dri?? Kakakmu sedang tidur" Jawab Cahya.


Mendengar suara Cahya, Adri dibuat terkejut dan mengutuk dirinya sendiri, dia sudah keceplosan harusnya dia berkata setelah memastikan siapa yang mengangkat panggilannya. "Astaga.....! Kak Cahya yang mengangkat teleponku" Gumam Adri dalam hati.


"Eh kak Cahya, aku kira kak Adit, maaf kak" Adri langsung menutup teleponnya dan semakin kesal juga merasa malu. "Bodoh.... Bodoh sekali kau Dri.... Astaga.... Bagaimana kalau kak Cahya tahu bahwa aku sudah memakan permen itu, astaga.. Matilah aku.....!!!"


Sementara itu setelah Adri menutup panggilannya dengan cepat, Cahya kembali meletakkan ponsel Aditya ke meja. Cahya mulai memikirkan semua ucapan Adri, tentang efek permen.


"Jangan-jangan Adit sudah memberi Adri permen itu, ah ya Tuhan.....!!!" Cahya menepuk keningnya. "Adit....!!! Kau benar-benar keterlaluan... Awas saja kalau kau bangun nanti, bisa-bisanya memberi permen itu pada Adri" Gerutu Cahya.