
"Elea???" Ariel langsung berdiri dan memegang kedua bahu Elea lalu memeluknya.
"Astaga Elea, aku hampir gila karena mencarimu dan ternyata kau ada disini, aku sangat merindukanmu" Ucap Ariel sambil memeluk Elea dengan erat.
Danist hanya memandang bingung dan masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Elea hanya diam tidak berucap apapun tapi berusaha melepaskan pelukan Ariel. Ariel masih mendekap Elea dan mencium ujung kepala Eleaaa lembut.
"Bagaimana kabarmu dan bayi kita?" Ariel mengusap lembut perut Elea, dan membungkukkan badannya hendak mencium perut Elea, merasa mendapat kesempatan, Elea langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan ruangan Danist.
Melihat Elea pergi meninggalkannya, Ariel langsung mengejarnya. Danist hanya diam melihat keduanya pergi, kemudian dia baru menyadarinya jika sepertinya itu adalah mantan suami Elea setelah mendengar ucapannya tadi. Akhirnya Danist juga langsung pergi keluar untuk melihat keadaan Elea.
Saat sampai diluar, Elea langsung masuk ke dalam taksi dan menyuruh supir taksi itu untuk segera pergi. Ariel mencoba menahan taksi itu dan terus memanggil Elea.
"Elea..... El.... Tunggu....." Teriaknya, tetapi taksi yang ditumpangi Elea terus melaju.
Bergegas Ariel ke mobilnya dan menyuruh supirnya untuk segera mengikuti taksi itu. Elea memutuskan untuk kembali pulang dan membatalkan rencana nya pergi ke dokter. Elea benar-benar tidak menyangka Ariel bisa datang kesini, hancur sudah semuanya, usaha pelariannya sudah gagal sekarang.
****
Sesampainya di rumah, Elea langsung masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya. Saat itu juga Ariel berhasil mengikutinya hingga ke rumah, Ariel langsung turun dan menggedor pintu rumah Elea dan berteriak memanggil namanya sambil menyuruh Elea untuk membuka pintu.
Kali ini Elea benar-benar ketakutan, karena dia ada di rumah sendirian, karena Mama nya juga sedang pergi keluar dengan Mama nya Danist. Tangis Elea pecah, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
Disisi lain Danist kembali masuk ke ruangannya dan mengambil kunci mobilnya untuk menyusul Elea. Danist berpapasan dengan Chika, dan Chika langsung menanyakan dia ingin pergi kemana karena terlihat wajah Danist sangat khawatir.
"Aku harus menyusul Elea, nanti akan ku jelaskan" Ucap Danist yang langsung pergi meninggalkannya.
Chika memiliki firasat yang buruk mengingat tadi juga ada Ariel disini, dia pun langsung menanyakan apa yang terjadi kepada temannya yang ada di kantor. Temannya itupun menjelaskan bahwa tadi Elea sempat datang tetapi tiba-tiba langsung pergi dan di kejar oleh klien yang datang untuk menjalin kerja sama disini.
"Astaga.... Jangan-jangan Kak Elea bertemu dengan Ariel? Ah ya Tuhan......!!!" Seru Chika.
Chika langsung mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Aditya, karena Chika pikir pasti kakak iparnya itu yang telah menyuruh Ariel datang kesini.
*****
Aditya sedang meeting di kantornya dan tiba-tiba ponselnya berdering, melihat nama Chika dia langsung mengangkatnya.
"Halo Dhek, tumben telepon, ada apa?"
"Kak Adit!! Kakak ini bagaimana? kenapa kakak menyuruh kak Ariel datang kesini?"
"Apa....??? Ariel datang??? Bagaimana bisa?"
"Kenapa kakak malah bertanya padaku, mana aku tahu, tadi dia datang ke kantor dan tentu saja dia bertemu dengan kak Elea, aku pikir kakak yang mengirim kak Ariel kesini?"
"Tentu saja tidak Dhek, bagaimana bisa aku mengirimnya, Cahya pasti akan memarahiku jika aku melakukannya"
*****
Danist sampai didepan rumah Elea, dia tidak turun dari mobilnya tetapi dia melihat Ariel sedang mengetuk pintu rumah Elea dengan terus memanggilnya.
"Elea, aku mohon buka pintunya El... Please buka pintunya, mari kita bicara sebentar.... Elea sayang buka pintunya....."
Elea hanya diam didalam rumah sambil menangis. Ariel seolah tidak mau menyerah dan terus memanggil Elea. Danist hanya memandang Ariel dari kejauhan memastikan Ariel tidak melakukan hal yang bisa menyakiti Elea. Danist memilih diam di mobil karena dia todak ingin mencampuri urusan rumah tangga Elea dan mantan suaminya.
Sudah lebih dari setengah jam Ariel berusaha memanggil Elea, tetapi usahanya tidak mendapatkan hasil. Elea masih tidak mau membuka pintunya.
"Elea...........!!!!! Buka pintunya...... Cepat......!!! Atau aku akan mendobraknya...!!!" Teriak Ariel dengan keras.
Mendengar itu Elea semakin ketakutan dan bunyi dobrakan pintu semakin keras. "Elea kita harus bicara!!! Buka pintu El......"
Merasa khawatir, Elea pun keluar dari kamarnya dan berjalan ke depan lalu dia berdiri di belakang pintu.
"Ariel, pulanglah dan tinggalkan tempat ini, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, semua sudah lama berakhir, pergilah dan biarkan aku menjalani kehidupanku dengan tenang" Teriak Elea dari dalam.
"Tapi El, aku mohon beri aku kesempatan untuk berbicara denganmu, tolong buka pintumu, sebentar saja"
"Aku bilang pergilah dan jangan menggangguku"
Elea lalu pergi dari belakang pintu dan kembali masuk ke kamarnya. Diluar masih terdengar teriakan Ariel memanggilnya.
Ariel akhirnya menyerah untuk beberapa saat, dia duduk di kursi yang ada di teras. Dia mengacak-acak kasar rambutnya, merasa kesal dengan dirinya dan keadaan saat ini. Kini Ariel mulai sadar ada sesuatu yang terjadi, Aditya telah membohonginya, ternyata selama ini Aditya lah yang telah membantu Elea bersembunyi. Aditya selama ini tahu keberadaan Elea bahkan juga telah memperkerjakan Elea di perusahaan teh miliknya.
"Adit..... Berani sekali kau mempermainkanku dan menyembunyikan hal sebesar ini dariku, aku akan memberimu pelajaran....." Gumam Ariel kesal hingga tangannya memukul meja.
****
Aditya mempercepat laju mobilnya agar segera sampai ke rumah Elea, tadi dia juga sudah menelepon Randy agar segera menyusulnya serta menceritakan tentang kedatangan Ariel. Aditya sempat berpikir bahwa Randy yang telah memberitahu Ariel tentang keberadaan Elea tetapi Randy mengatakan sama sekali tidak tahu tentang hal itu.
Ariel masih duduk diam, berharap Elea akan membuka pintu nya, karena jika dia terus berteriak dan memaksa Elea, itu pasti akan menakutinya dan Elea akan semakin enggan menemuinya, jadi dia memutuskan untuk diam dan menunggu. Airmata Ariel mulai menetes, mengingat perut Elea yang sudah membesar dan selama ini Elea berjuang sendirian dimasa kehamilannya. Ariel sekarang sudah menemukan Elea nya dan dia berjanji tidak akan melepaskannya lagi, dan akan menjaga Elea dan bayi mereka dengan baik.
Ariel masih tetap diam diteras rumah Elea, dia akan menunggu sampai Elea membuka pintunya. Walaupun jika Elea baru membukanya esok hari, dia akan tetap menunggunya. Ariel benar-benar butuh berbicara dengan Elea dari harmti ke hati, dan juga membahas bayi mereka.
Hingga akhirnya setelah menunggu cukup lama, Ariel melihat kedatangan sebuah mobil yang masuk ke halaman rumah Elea. Ariel sangat mengenal mobil itu, itu adalah mobil milik Aditya. Benar dugaannya ternyata Aditya memang tahu tentang keberadaan Elea selama ini dan sahabatnya itu telah tega membohonginya selama ini.
Ariel beranjak dari tempat duduknya, dengan tatapan penuh amarah dia berjalan menghampiri mobil Aditya. Aditya membuka pintu mobilnya dan keluar, belum sempat dia menyapa, tiba-tiba saja Ariel langsung memukul wajahnya dengan keras membuat Aditya langsung jatuh ke tanah. Tatapan Ariel sangat tajam ke Aditya, dan terlihat sangat jelas wajahnya dipenuhi dengan amarah.
Ariel menunduk dan menarik kerah kemeja Aditya dengan kasar.
"Berani sekali kau selama ini membohongiku! Aku hampir gila mencari istriku dan kau justru menyembunyikannya ditempat ini, apa mau mu? Dasar baj*ngan...!!!" Ucap Ariel dengan suara geram, dan melayangkan lagi pukulan ke wajah Aditya. Saat itu juga ujung hibir Aditya mengeluarkan darah.