SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 176



Keesokan harinya, Ariel duduk termenung di balkon kamarnya. Kemarin dirinya telah dipenuhi dengan emosi, pertemuan tak terduga nya dengan Elea membuatnya merasa bahagia tetapi juga sedih karena dia harus menerima kenyataan bahwa orang-orang yang selama ini dia percaya telah mengkhianati nya, telah membohonginya. Kedua sahabatnya telah bersekongkol menyembunyikan Elea darinya. Bahkan Elea juga sangat membencinya, padahal seharusnya Elea dengan mudah mau memaafkannya. Kini hati Ariel benar-benar merasa hancur dengan semua kenyataan yang ada dihadapannya.


Ayahnya datang dan duduk disebelahnya, memandang putranya dengan tatapan iba. Supir yang kemarin mengantar Ariel telah mengatakan padanya jika putranya itu telah memukuli Aditya dan memaksa untuk bertemu Elea, tetapi Elea menolak bertemu dengannya. Seolah mengerti dengan apa yang terjadi, kini dia akan mencoba membuat sang putra mengerti.


"Ayah sudah mendengar semuanya tentang apa yang sudah kau perbuat kemarin, kenapa kau menyerang Aditya?" Tanya Ayahnya.


Ariel hanya diam enggan menjawab pertanyaan apapun dari sang Ayah.


"Iel, kenapa kau marah pada Adit, dia tidak melakukan kesalahan, kenapa kau menyerangnya? Elea adalah sahabat dari istrinya Adit, wajar saja jika mereka membantu Elea, disini kau yang bersalah jadi jangan mencari pelampiasan kemarahanmu pada orang lain"


Ariel masih diam dan tidak memperdulikan ucapan Ayahnya. Baginya Aditya tetap melakukan kesalahannya, harusnya dia mengerti keadaannya bahwa dia ingin bertanggung jawab terhadap Elea tetapi tetap saja sahabatnya itu menyembunyikan hal besar darinya.


"Jika Elea tidak ingin bertemu denganmu, ya sudah biarkan saja jangan mengganggunya, dia pasti sudah bahagia menjalani kehidupannya yang sekarang, kalau kau mengusiknya tentu saja dia tidak merasa nyaman, dia juga punya hak untuk tidak mau menemuimu, biarkan saja Iel" Gumam Ayahnya lagi.


Ariel menatap tajam ke arah Ayahnya. "Diamlah kau....! Elea saat ini sedang hamil anakku jadi aku berhak menemuinya dan mengajaknya untuk pulang, dan kau?? Bisakah kau diam dan jangan mencampuri urusanku, pergilah dari kamarku...!" Teriak Ariel.


Melihat kemarahan sang anak, Andi pun pergi meninggalkan kamar Ariel. Entah sampai kapan anaknya itu bisa bersikap baik padanya dan setidaknya sekali saja mau mendengarkannya. Tetapi Ariel memang keras kepala dan kuat dengan pendiriannya, dia hanya bisa berharap agar suatu saat nanti sang anak mau memaafkan kesalahannya dan menjalani kehidupan normal seperti orang tua dan anak pada umumnya.


****


Aditya jatuh sakit, dan hari ini Cahya melarangnya untuk pergi ke kantor. Aditya yang memang sudah merasa tidak fit beberapa hari kemarin masih bisa menahannya tetapi kemarin kondisi nya di perparah dengan pukulan dari Ariel, membuatnya hari ini semakin parah terutama kepala nya, dimana dia memiliki riwayat vertigo membuat Cahya semakin cemas. Aditya juga menolak ke rumah sakit dan hanya ingin dirumah saja, terpaksa Cahya menghubungi dokter untuk melihat keadaan sang suami.


Cahya membuat sup jagung dengan kepiting untuk Aditya, karena suaminya itu tidak mau makan apapun sejak pagi. Cahya berharap Aditya mau memakan sup itu agar perutnya terisi oleh makanan. Cahya masuk ke kamarnya membawa nampan berisi sup jagung kepiting buatannya dan jus semangka dengan perasan lemon kesukaan Aditya.


"Bangunlah dan makan sup ini, aku juga membuatkan jus semangka dengan lemon dan daun mint kesukaanmu, setelah itu minum obatmu"


"Tidak sayang, aku tidak berselera"


"Kau harus makan, perutmu kosong, ayo bangun, aku tidak mau tahu kau harus tetap makan, aku akan menyuapimu"


Perlahan Cahya membantu Aditya bangun lalu memberikan jus kepadanya. Aditya meminum jus itu sedikit, Cahya lalu menyuapinya. Cahya tersenyum karena Aditya mau menghabiskan sup jagung buatannya, dan memberikan obat agar segera diminum oleh Aditya.


"Istirahatlah, aku akan membawa mangkuk dan gelas ini ke dapur, sekalian menengok anak-anak"


*****


Sore harinya, keluarga Aditya dikejutkan dengan kedatangan Ayah Ariel. Dia datang untuk menyampaikan permintaan maaf kepada Aditya atas perlakuan Ariel kemarin. Ayah Ariel diantar ke kamar Aditya dikarenakan Aditya saat ini sedang sakit.


Aditya sedang berbaring dan mengobrol dengan Cahya, suara ketukan pintu membuat Cahya beranjak lalu membuka nya. Cahya mempersilahkan Ayah Ariel untuk masuk dan menemui Aditya.


"Om Andi? Apa kabar om?" Sapa Aditya.


"Om sangat baik, bagaimana keadaanmu? Om minta maaf atas apa yang sudah Ariel lakukan padamu kemarin sampai kau harus terbaring sakit seperti ini"


"Tidak apa-apa om, saya sakit seperti ini karena memang sebelumnya sudah merasa tidak enak badan bukan karena Ariel"


"Elea hanya ingin memulai hidupnya yang baru tanpa bayang-bayang Ariel om, ku rasa sebagai seorang kawan, aku dan Cahya hanya menghargai keputusan yang dibuat Elea, tetapi aku sangat memahami apa yang dirasakan Ariel dia marah karena merasa bahwa aku telah membohonginya selama ini, padahal aku sama sekali tidak bermaksud melakukannya" Ucap Aditya.


"Lalu bagaimana dengan kehamilan Elea? Om rasa Ariel ingin bertanggung jawab untuk itu"


Aditya menggelengkan kepalanya tetapi Cahya ingin berpendapat. "Masalah itu adalah hak Elea sendiri untuk memutuskannya Om, Elea telah menanggung beban berat setelah Ariel menceraikannya, hatinya dihancurkan begitu saja, ku rasa Elea juga butuh waktu untuk mengambil keputusan" Ucap Cahya.


*****


Setelah pulang dari kantor, Danist datang ke Villa untuk menemui Elea serta mengantar Chika pulang kesana. Sejak kemarin dia belum berbicara dan meminta maaf kepada Elea karena situasi dan kondisi Elea belum sepenuhnya baik. Danist menunggu waktu yang tepat untuk meminta maaf.


Elea sedang berdiri di tepi kolam renang sambil melihat pemandangan sungai yang ada di bawahnya. Elea merasa tenang mendengar suara gemricik air sungai itu. Danist masuk ke dalam Villa dan menanyakan keberadaan Elea kepada Mama Elea lalu dia diberitahu jika Elea sedang berada di belakang, bergegas Danist kesana.


"Hai El, selamat sore"


Sapaan Danist membuat Elea membalikkan badannya dan tersenyum menjawab sapaan Danist. "Sore Dan, kau sudah kembali dari kantor rupanya, duduklah di gazebo, kau mau minum apa? Biar aku buatkan"


"Tidak usah El"


Danist duduk disusul dengan Elea. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Danist.


"Aku baik, suasana disini selalu membuatku merasa lebih baik" Gumam Elea senang.


"Aku minta maaf El, harusnya kemarin aku tidak menyuruhmu untuk datang ke kantor, andai saja kau tetap dirumah mungkun kejadian itu tidak akan terjadi"


"Kau ini bicara apa, aku sendiri kemarin yang memaksa datang, sudahlah Dan, itu sudah berlalu, mungkin memang sudah saatnya Tuhan mempertemukan aku dengannya setelah sekian lama, lagipula aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya, dia hanya bagian dari masalaluku, aku sudah tidak membutuhkannya lagi"


"Ariel ingin kau kembali padanya dan membesarkan bayi kalian bersama, kenapa kau tidak mencoba kembali lagi dengannya?"


Elea memandang lurus ke depan menikmati pemandangan dihadapannya dan tersenyum mendengar ucapan Danist. "Aku tidak mau lagi kembali kepadanya, setelah aku pikir-pikir dulu aku sangat bodoh karena telah mengatakan jika aku menginginkan kami harus memperbaiki semuanya karena bayi ini dan memulai semua dari awal lagi dengannya, aku sangat bodoh saat itu karena hatiku masih dipenuhi cintaku padanya, bicara tentang cinta jika dia benar-benar mencintaiku dengan tulus tentu dia tidak akan pernah berselingkuh, bukankah banyak orang bilang jika cinta itu buta? Jika dia dibutakan oleh cintanya padaku tentu dia tidak akan menjudge ku dengan ucapannya tentang kemandulanku, taoi ya sudahlah itu sudah berlalu aku tidak ingin mengingatnya"


"Lalu bagaimana dengan bayimu? Dia pasti akan membutuhkan Ayahnya?"


"Ibunya selama ini bisa menjaga nya tanpa bantuan dari ayahnya, kenapa aku harus khawatir tentangnya nanti, ada kedua orangtua ku juga yang akan membantuku" Tutur Elea.


"Ada aku juga yang akan membantu dan mencintaimu El" Gumam Danist dalam hati.


"Bagaimana jika suatu saat nanti ada yang memintamu untuk menjadi istrinya? Apa kau akan menerimanya?" Danist memandang Elea dari samping, siluet wajah Elea terlihat begitu cantiknya.


Kini Elea yang menengok melihat ke arah Danist dan tersenyum pada lelaki itu.


"Jika dia mau mencintaiku dan juga anakku dengan sepenuh hatinya, tidak memperlakukannya dengan pilih kasih, why not??? Aku yakin someday Tuhan akan mengirimkannya untukku"


Danist membalas senyuman Elea dan bergumam sendiri dalam hatinya bahwa dia sangat ingin mengutarakan perasaannya pada perempuan itu tetapi sampai detik ini dia masih belum punya nyali untuk mengatakannya. Kedatangan Ariel kemarin dan mengajak Elea untuk kembali juga membuat Danist merasa semakin dirundung kegalauan takut Elea akan menerima tawaran Ariel.