
Cahya keluar dari kamarnya dan beberapa saat kemudian Ibunya datang bersama Elea. Cahya langsung mengajak mereka untuk sarapan bersama. Aditya bergabung dengan mereka kemudian. Suasana sarapan kali ini terasa sangat sepi dan tidak lengkap.
Selesai sarapan Aditya langsung bernagkat ke kantor dengan membawa pakaian untuk orangtuanya dan Chika. Aditya meminta bantuan ibu mertuanya dan Elea agar menjaga Cahya dan tidak menerima tamu siapapun itu.
"Jangan terlalu lelah, dan banyak beristirahat, jika ada apa-apa langsung hubungi aku, aku berangkat" Aditya mencium kening Cahya lalu pergi. Cahya kembali masuk ke dalam rumah dan mencari Elea.
Cahya menghampiri Elea yang sedang berada di halaman belakang, ia tengah duduk di gazebo. Saat ini Cahya melihat Elea lebih tenang dan selalu mencoba tersenyum walaupun Cahya tahu pasti ada masa dimana seseorang akan menangis dan bersedih ketika mengingat sesuatu yang pernah membuatnya terlukai.
Elea memulai obrolannya dengan bertanya tentang berbagai hal tentang kehamilan pada Cahya mengingat sebentar lagi Cahya akan melahirkan. Dari cerita Cahya, Elea mengambil kesimpulan bahwa memang ternyata setiap perempuan mengalami beberapa perbedaan di awal kehamilan. Ternyata Cahya mengalami morning sick sampai usia kehamilannya empat bulan, sedangkan Elea hanya sesekali mengalami hal itu, bahkan tidak ada 1 bulan morning sicknya hilang begitu saja. Terkadang Elea merasa bingung tetapi seperti itulah kenyataannya, bayinya sama sekali tidak membuatnya kerepotan.
"Mungkin Tuhan memang menyuruh bayimu untuk tidak merepotkan ibunya, kau harus bersyukur El" Cahya berucap sambil tersenyum.
"Maybe hahaha" Jawab Elea diikuti suara tawanya yang renyah.
"Bagaimana pekerjaanmu disana? Kulihat kau sangat menikmatinya"
"Sangat Ca, aku juga sangat senang dengan Danist dia sangat baik dan selalu membantuku saat aku merasa kesulitan, dan tidak pernah marah jika ada yang melakukan kesalahan, dia akan memberitahu dimana letak kesalahan kami lalu membantu kami dengan senang hati jadi suasana dikantor sangatlah nyaman"
"Itu memang sangat terlihat dari perawakannya, pertama kali melihatnya aku juga merasa dia memang pria yang sangat baik dan Adit ternyata bercerita bahwa memang Danist sangat cerdas dan baik prestasinya, akan sangat beruntung jika ada wanita yang bisa mendapatkan hatinya"
"Kau benar Ca, aku juga berpikir seperti itu, btw aku mengucapkan banyak berterima kasih kepadamu dan Adit, kalian sudah banyak membantuku, membuat hidupku sangat nyaman sekarang dan aku tidak tahu bagaimana aku bisa membalas kebaikan kalian padaku dan keluargaku" Elea memeluk Cahya sambil menitihkan airmatanya.
"Sudahlah El, kami juga tidak mengharapkan balasan apapun darimu, bagiku dan Adit yang terpenting kau bisa menjalani kehidupanmu dengan sebaik-baiknya dan suatu saat kau pasti akan mendapatkan buah dari kesabaranmu"
Kedua sahabat itu saling berpelukan. Elea tidak berhenti bersyukur Tuhan telah memberinya seorang sahabat yang luar biasa seperti Cahya. Bahkan Cahya dan keluarganya selalu membantunya dan mensupportnya disaat dia memang benar-benar butuh orang-orang yang bjsa mengertinya.
*****
Disisi lain, Ariel terbaring nyalang dengan wajah sedikut pucat. Dia baru saja dari kamar mandi karena mengalami rasa mual yang luar biasa dan dia muntah berwarna kuning karena memang dia belum mengisi perutnya dengan apapun. Kepalanya juga terasa sangat sakit, entah penyakit apa yang menyerangnya akhir-akhir ini, sudah lebih dari satu bulan dia mengalaminya, dan berkali-kali pergi ke dokter dan tak ada satupun obat yang bisa mengobati sakitnya itu. Hasil pemeriksaannya juga sangat normal, tidak ditemukan tanda-tanda bahwa dia sedang memiliki penyakit yang serius.
Ariel selalu terlambat datang ke kantornya karena sakit anehnya ini. Sakit yang selalu datang dipagi hari saat bangun tidur, bahkan saat dia tidur tiba-tiba dia terbangun karena rasa mual luar biasa yang dia rasakan, tetapi itu akan hilang dengan sendirinya beberapa jam kemudian. Ariel benar-benar merasa sangat tersiksa karena tidak ada yang merawatnya.
"Ahhhh untuk apa aku memikirkannya lagi" Gumam Ariel kesal.
****
Viona keluar dari kamar hotelnya untuk bertemu dengan sahabatnya. Semalam dia sampai di Bangkok untuk mengunjungi sahabatnya dan berjalan-jalan. Viona mengatakan pada Ariel jika dia akan pergi ke Singapura selama beberapa hari untuk mengurus pekerjaan, dia berbohong padahal dia hanya ingin menemui sahabatnya untuk bersenang-senang.
Viona sampai disebuah restoran dan sahabatnya sudah menunggunya disana. Mereka berpelukan dan cipika cipiki seperti halnya perempuan lainnya yang sudah lama tidak berjumpa. Viona bertemu dengan Erica sahabat karibnya yang juga mantan kekasih Aditya. Sudah dua bulan terakhir Erica tinggal di Bangkok setelah pelariannya ke America beberapa waktu sebelumnya karena telah mengakibatkan kekacauan dengan meneror Cahya.
"Bagaimana caramu memperdaya Ariel hingga kau bisa menghempaskan istrinya? Kau belum menceritakannya dengan detail padaku hahaha" Suara tawa Erica terdengar sangat puas dan dipenuhi rasa penasaran.
"Itu hanya sebuah pekerjaan kecil, sangat mudah memperdayai pemikiran Ariel yang bodoh itu, saat itu aku hanya bertanya berapa lama pernikahannya tetapi tiba-tiba dia bercerita padaku dia ingin sekali memiliki anak tetapi istrinya belum juga hamil lalu dengan mudah aku mengatakan jika mungkin saja istrinya itu mandul hahaha ku rasa setelah itu sikapnya mulai berubah pada istrinya, lalu dia sering menghubungiku dan bercerita berbagai hal tentang istrinya, you knowlah aku harus menjadi pintar mencari kesempatan untuk melihat celah dan masuk ke dalamnya lalu kita akan menang hahaha"
"Aku harus banyak belajar denganmu Vi" Ucap Erica sambil menuangkan wine ke gelas Viona.
"Hahaha bukan belajar tapi ku rasa memang Aditya itu cerdik berbeda dengan Ariel yang bodoh, Aditya bisa mengatasi semuanya dengan caranya dan tidak mudah dipengaruhi, kau tahu istrinya sekarang sedang hamil anak kembar, kemarin aku menjenguknya dirumah sakit"
"Hamil? Cepat sekali" Tanya Erica heran.
"Ariel bercerita padaku jika si Cahya sempat mengalami keguguran setelah diculik oleh mantan kekasihnya dan perutnya ditusuk dengan pisau, kurasa kejadian itu terjadi setelah kau pergi dari sana, and then sekarang dia hamil lagi, dan kemarin dia diculik lagi hahaha untungnya dia selamat tetapi adik Aditya yang jadi korbannya"
"Benarkah? Beruntung sekali dia, dan kau akan bagaimana hidupmu selanjutnya, bagaimana dengan suamimu?"
Viona menyesap wine miliknya sampai habis dan menuang lagi. "Persetan dengan lelaki tua bangka itu, aku hanya tinggal menunggunya mampuss saja, aku masih menunggu Ariel yang bodoh itu memberikan apartment miliknya padaku, setelah aku mendapatkannya aku akan mendepaknya seperti aku mendepak istrinya hahaha, saat ini aku hanya bisa memberikannya service agar aku mudah mempengaruhinya ahhahahah"
Kedua sahabat itu menghabiskan waktu pertemuan mereka dengan mendengarkan cerita dari Viona tentang keberhasilan aksinya. Viona juga bercerita pada Erica tentang pertemuannya dengan Elea di rumah sakit dimana perempuan itu lari teribirit-birit sata melihatnya dan Ariel. Tawa Erica serta Viona semakin menjadi-jadi saat Viona kembali membahas tentang kebodohan Ariel yang membawanya pulang ke apartmentnya disaat Elea ada disana, dia dan Ariel menghabiskan malam sensual mereka di kamar apartment itu membiarkan Elea tidur di sofa. Viona sangat puas dan bangga dengan dirinya sendiri karena berhasil menghancurkan rumah tangga Ariel dengan sangat mudah. Viona juga memuji kebodohan Ariel yang mudah sekali di cuci otaknya.
"Ariel yang sangat bodoh hahaha" Gumam Viona diikuti gelak tawa dari Erica.