
Setelah rapi, Danist keluar kamar dan langsung pergi meninggalkan rumah dengan kesal tanpa sarapan dan juga tidak berpamitan dengan Elea. Elea yang melihat Danist keluar langsung mengejarnya dan menyuruh suaminya itu agar sarapan lebih dulu sebelum berangkat tetapi Danist menolak dengan keras serta tidak memperdulikan Elea dan tetap pergi begitu saja.
Elea kembali masuk ke rumah dengan perasaan sedih dan merasa sangat bersalah. Jika Danist terus seperti ini bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya. Pertama kalinya melihat amarah lelaki itu membuat Elea tidak tahu bagaimana cara menanganinya.
Elea pergi ke kamarnya dan menangis disana. Hatinya merasa sangat sakit, sekali lagi dia harus menghadapi kemarahan suaminya, dulu saat bersama Ariel dia pernah mengejar lelaki memohon agar tidak diceraikan tetapi Ariel tidak memperdulikan perkataannya. Dan sekarang Danist juga tidak memberinya kesempatan untuk menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka. Elea menangis tersedu dan menyesali kesalahan yang sudah dilakukannya, Danist sekarang benar-benar marah kepadanya. Dia datang kesini untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya dengan Danist, tetapi sekarang justru hubungannya semakin memburuk.
Danist merasa sangat kesal dan kecewa kepada Elea, Ariel datang tetapi dia tidak diberitahu sama sekali. Lalu untuk apa juga Ariel berada disini, pasti lelaki itu dengan sengaja mengikuti Elea sampai kesini. Bahkan Elea seolah ingin membela lelaki itu dengan memaafkannya. Danist merasa perjuangannya selama ini tidak dihargai sama sekali oleh Elea. Penantian panjangnya juga rasanya seperti tidak berguna, Elea pasti masih sangat mencintai Ariel yang juga jadi salah satu penyebab perempuan itu masih belum bisa mencintai dirinya. Penerimaan Elea terhadap dirinya mungkin hanya sebuah pelampiasan saja, penerimaan tanpa didasari cinta itu sama saja bohong.
Disisi lain,setelah menyiapkan sarapan pagi, Cahya menyiapkan semua kebutuhan Aditya sebelum pergi ke kantor dan sekarang sedang memasangkan dasi di leher suaminya itu. Aditya tersenyum sendiri merasa senang karena hubungannya dan Cahya kembali membaik lagi setelah beberapa hari saling diam dan hanya berbicara sekenanya saja. Bagi Aditya itu hal yang sangat biasa, konflik dalam rumah tangga itu selalu saja ada tinggal bagaimana keduanya bisa menyelesaikannya semuanya dengan saling memaafkan dan harus ada yang mengalah agar tidak berkepanjangan.
"Aku nanti mau ke rumah Elea ya dengan anak-anak" Ucap Cahya meminta ijin.
"Kau bilang cucian sedang banyak?"
"Iya nanti siang setelah semua pekerjaan dirumah selesai"
"Ya sudah, hati-hati, pulang jangan terlalu larut, kasihan anak-anak nanti"
"Iya, sudah selesai, bawa jas mu dan ayo kita sarapan sekarang"
*****
Setelah makan siang, Aditya memutuskan untuk datang ke both pameran dan melihat semua kegiatan disana. Setelah pameran itu di buka, Aditya sama sekali belum pernah kesana karena disibukkan dengan urusan yang lain.
Sampai disana dengan diantar supirnya, Aditya mulai masuk dan melihat-melihat kondisi both milik perusahaannya. Ternyata benar, semua staffnya bekerja sangat baik disana, menawarkan dan menjelaskan semua produk dengan ramah. Aditya merasa sangat bangga, dan sudah pasti akan menyiapkan banyak bonus atas hasil kerja keras mereka.
Setelah melayani custumer, Danist kembali duduk dan melamun, perselisihannya dengan Elea membuatnya hari ini sama sekali tidak fokus dalam bekerja. Danist juga malas jika pulang dan harus menghadapi Elea. Dengan perasaan gusar, Danist mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Saat itu tidak menyadari jika dia sejak tadi diperhatikan oleh Aditya.
Aditya melangkah menghampiri Danist dan berdiri tepat di depan lelaki itu, tetapi tampaknya Danist tidak menyadari kehadiran Aditya. Aditya menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Danist dan beberapa detik kemudian Danist terkejut dengan kehadiran atasannya itu.
"Eh pak Aditya!" Gumamnya salah tingkah.
"Kenapa Dan?! Kau sepertinya tidak fokus, apa ada masalah??"
Danist menggelengkan kepalanya "Tidak pak, tidak ada masalah apapun!"
"Kau sakit?" Tanya Aditya.
"Tidak, sama sekali tidak pak"
"Lalu kenapa kau melamun, jika ada sesuatu katakan saja mungkin aku bisa membantumu"
"Tidak ada pak, mungkin saya hanya sedikit lelah saja, sejak kemarin cukup banyak pengunjung, jadi harus bekerja lebih ekstra saja" Jawab Danist.
"Kalian memang bekerja cukup keras, aku bangga sekali dan jangan khawatir setelah pameran ini selesai, kalian semua akan diberi waktu untuk istirahat serta berlibur selama satu minggu disini dan akan mendapatkan jatah akomodasi hotel dibeberapa tempat wisata disini sebelum kalian kembali pulang, oke agar kau tidak lelah bagaimana kalau kau menjelaskan perkembangan both kita sekarang" Gumam Aditya.
Danist pun melaporkan semua hasil kerjanya dengan teman-temannya kepada Aditya, juga dengan hasil penjualan mereka selama ini. Hingga ada beberapa ajakan kerjasama untuk menyetok produk mereka. Semuanya dijelaskan dengan sangat baik oleh Danist kepada Aditya.
Aditya benar-benar dibuat takjub dengan hasil kerja Danist dan yang lainnya. Danist bisa mengontrol dan mengarahkan teman-temannya dengan sangat baik bahkan nilai penjualan produk mereka sangat bagus, bahkan sudah hampir setengah dari target padahal baru beberapa hari. Aditya memang tidak salah memilih Danist dan mengirimnya kesini, ini sungguh pencapaian yang luar biasa. Lelaki ini walaupun penampilannya santai dan terlihat pendiam tetapi kejeniusannya tidak bisa diragukan lagi.
******
"Sedang ngapain El? Gienka mana???" Tanya Cahya.
"Ada di kamar Ca, sedang tidur"
"Oh, matamu kenapa?? Kok sembab?? Abis nangis ya???"
"Ah engga kok, cuma tadi kelilipan ajah, kau mau minum apa?"
"Ga usah El ntar aku bisa ambil sendiri" Jaeab Cahya tetapi dia menaruh kecurigaan pada sahabatnya itu, mata sembab pasti bukan karena kelilipan tetapi sudah jelas Elea baru saja menangis tetapi apa yang membuatnya menangis, Cahya harus mencaritahu.
Elea hendak pergi meninggalkan Cahya diruang tamu, tetapi Cahya menahannya dan menyuruhnya untuk duduk. Mau kemana? Masa kamu ninggalin aku dengan anak-anak disini?" Protes Cahya.
"Bentar doang kok Ca, aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku di kamar, sebentar saja, aku sedang beres-beres soalnya"
"Beres-beres, ayo aku bantu" Cahya berdiri dan mendorong stroller bayinya lalu masuk ke dalam dengan cepat, sedangkan Elea menyusul di belakangnya seraya menahan agar Cahya tidak masuk tetapi Cahya mengabaikannya dan tetap melangkah masuk.
Cahya langsung masuk ke kamar Elea dan menengok Gienka yang sedang terlelap di box bayinya, tetapi kemudian matanya tertuju pada 2 koper di atas tempat tidur Elea dengan baju-baju juga berserakan disana. Cahya mengernyit karena ada baju-baju yang sudah tertata rapi di dalam koper, sisanya masih tergeletak di atas tempat tidur.
"El, kenapa semua pakaianmu ada di koper, kau mau pergi kemana? Pergi liburan dengan Danist?" Tanya Cahya.
Elea diam tetapi kemudian airmatanya keluar dan menangis. "Aku dan Gienka akan pulang hari ini Ca, aku sudah memesan tiket penerbangan kami" Ucap Elea lalu menyeka airmatanya.
"Pulang???? Apa maksudmu El?? Dan kenapa kau menangis?" Cahya mendekati Elea dan memeluk sahabatnya itu.
"Aku akan membawa Gienka pulang, kurasa sudah cukup kami disini"
"Kenapa El??? Aku kan sudah mengatakan padamu untuk tinggal disini sampai tugas Danist selesai, kalian semua nanti juga akan dijemput oleh pesawat milik Aditya, kenapa??? Apa kau bertengkar dengan Danist??"
Elea menggelengkan kepalanya. "Aku hanya ingin mengajak Gienka pulang Ca, aku sudah merindukan rumah, lagipula cuti melahirkanku juga akan habis dalam beberapa hari dan aku harus kembali ke kantor"
"Kenapa kau memusingkan kantor, bukankah Aditya sudah mengijinkanmu dan memberimu perpanjangan cuti"
"Kau dan Aditya sudah banyak memberiku kelonggaran, kurasa itu bukan hal baik dan pasti akan menimbulkan kecemburuan teman-teman yang lain, aku harus segera membereskan ini semua karena penerbanganku tinggal beberapa jam lagi"
"El, apa sesuatu telah terjadi disana? Apa Mama dan Papamu sedang sakit? Tetapi tadi pagi aku berbicara dengan Chika, dan dia tidak mengatakan apapun, ada apa El??"
"Tidak ada apa-apa Ca, tadi aku sudah menjelaskan padamu kan!"
Cahya masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Elea, demi Tuhan dia sedang menangis menandakan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja. Elea juga akan membawa Gienka pulang dengan pesawat komersil, perjalanan sangat panjang, bagaimana dengan kenyamanan Gienka nanti. Tetapi Elea tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
"El, apa Danist tahu?" Tanya Cahya lagi.
Elea tersenyum "Ya tentu saja, tetapi aku memintanya agar tidak perlu mengantarku karena dia pasti sangat sibuk" Elea kemudian melanjutkan dengan melipat pakaian-pakaiannya yang masih ada diatas tempat tidur.
"Aku akan menghubungi Aditya, agar mengirim Roland kesini dan dia bisa mengantarmu ke airport"
"Tidak perlu Ca, aku bisa memanggil taksi"
Cahya benar-benar dibuat gusar oleh Elea, dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dengan sahabatnya ini. Cahya tidak tahu harus berbuat apa, karena dia sangat paham bahea setiap Elea sudah memutuskan sesuatu akan sangat sulit untuk mencegahnya.