SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 177



Aditya merasa sangat kasihan melihat Cahya seharian ini, istrinya itu harus bergantian merawatnya dan kedua bayinya walaupun ada Mama nya dan juga ibu mertuanya, tetapi Cahya harus tetap mondar-mandir keluar masuk kamar untuk menyusui kedua bayinya. Cahya terlihat lelah tetapi tidak mengatakan apapun pada Aditya. Cahya keluar dari kamar mandi membawa keranjang berisi pakaian kotor milik mereka serta milik Kyra dan Kyros, membuat Aditya menggerutkan dahi nya melihatnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Aditya.


"Aku akan membawa pakaian kotor ini ke bawah, apa kau perlu sesuatu?"


"Aku tidak memerlukan apapun, taruh keranjang itu dan duduklah, sejak tadi kau mondar-mandir kesana kemari, lihatlah dirimu, kau terlihat sangat lelah, anak-anak juga sudah tidur, sekarang kau beristirahatlah, biar besok mbak Tina yang mengambilnya kesini"


"Ini hanya hanya sedikit, biar aku yang membawanya keluar sekalian aku akan menyiapkan makan untukmu, ini waktunya minum obat"


"Kau ini, menurutlah apa kata suamimu, duduk dan diamlah disini, tolong ambilkan ponselku"


Cahya mengambil ponsel Aditya yang ada di meja lalu memberikannya. Aditya langsung menghubungi Mama nya meminta agar asisten rumah tangga nya bisa mengantarkan makan malam untuknya dan Cahya, serta meminta dibuatkan jus.


"Kau ini, kenapa malah menghubungi Mama, ada-ada saja, aku bisa mengambilnya sendiri ke bawah" Gerutu Cahya.


Setelah selesai menyuapi Aditya dan Cahya juga sudah menghabiskan makan malamnya, Cahya turun ke bawah membawa piring kotor ke dapur dan kembali ke kamar lagi. Aditya merasa kepalanya kembali berdenyut dan dia perlahan memijatnya sambil meringis. Cahya yang melihat itu, langsung naik ke tempat tidur dan duduk bersandar disana, dan menjadikan paha nya sebagai bantal untuk Aditya karena dia akan memijat kepalanya.


Aditya akhirnya berbaring dengan paha Cahya sebagai bantalnya. Dengan lembut Cahya memijat kedua pelipis Aditya setelah mengoleskan krim pereda nyeri, bagi Cahya itu adalah cara ampuh menghilangkan rasa sakit karena efek panas dari krim itu. Aditya memejamkan matanya menikmati pijatan Cahya.


"Sayang, apa menurutmu Elea akan menerima Ariel lagi?" Gumam Aditya.


"Aku tidak tahu, tetapi aku akan sangat kecewa jika Elea kembali lagi bersama Ariel?"


"Kenapa begitu? Anak Elea adalah perempuan pasti suatu saat akan membutuhkan ayahnya sebagai wali"


"Itu memang benar tetapi menjadi wali tidak harus dalam ikatan pernikahan dengan ibunya, Elea berhak mendapat yang terbaik, kurasa Ariel bukan yang terbaik untuknya"


"Kau ini posesif sekali sebagai sahabat, sudah cukup pijatannya"


"Benar sudah cukup, atau kau mau dipijat di area lain??" Cahya tersenyum genit sambil mengangkat matanya menggoda Aditya.


"Tidak perlu, tanganmu masih ada bekas krim itu, bisa terbakar nanti jika kau memijat area lainnya, sudah aku mau tidur" Aditya mengangkat kepalanya dan memindahkannya ke bantal lalu menarik selimut.


Cahya tertawa geli melihat sikap Aditya, dia lalu menata selimut suaminya itu lalu pergi ke kamar Kyros dan Kyra untuk menengok mereka serta membiarkan Aditya untuk beristirahat.


****


Keesokan harinya, seperti biasa Danist disibukkan dengan pekerjaannya dikantor. Dia masih melarang Elea untuk pergi ke kantor, selain untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi lagi, Danist juga memikirkan tentang kesehatan Elea dan akan lebih baik jika Elea menghabiskan waktunya untuk istirahat di villa.


Sebentar lagi jam makan siang, Danist menutup berkasnya dihadapannya bersiap untuk pulang dna makan siang bersama Mama nya dirumah. Tetapi salah satu staffnya mengetuk pintu ruangannya lalu masuk.


"Maaf Pak mengganggu, diluar ada yng ingin bertemu dengan bapak??"


"Siapa??? Oke suruh dia masuk"


Danist melihat ke arah pintu dan masuklah tamu nya. Danist berdiri dari kursinya dan menyambut tamunya itu lalu menyalaminya. Kemudian Danist mempersilahkannya untuk duduk. Lelaki itu mengenalkan dirinya sebagai Ayah Ariel, Danist pun dibuat terkejut olehnya.


"Saya ingin meminta maaf atas kekacauan yang kemarin lusa dilakukan oleh putraku disini sekali lagi aku minta maaf pada anda" Ucap Ayah Ariel.


"Tidak apa-apa pak, kami memaklumi"


"Aku dengar, anda juga sempat mendapat pukulan dari Ariel? Sekali lagi saya minta maaf"


Danist mengangguk sambil tersenyum tetapi masih diliputi pertanyaan dan kecurigaan kenapa Ayah Ariel datang kesini.


"Apa aku bisa menemui Elea, ku dengar dia juga bekerja disini, aku ingin berbicara dengannya"


"Maaf pak, Elea tidak ada disini, kalau bapak ada yang perlu dibicarakan dengannya, bapak bisa menyampaikannya pada saya saja nanti akan saya sampaikan ke Elea"


Ayah Ariel tampak diam untuk beberapa saat sampai kemudian dia menghela napasnya panjang. "Selain untuk meminta maaf atas perlakuan Ariel padanya, Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan mantan menantuku itu, tetapi jika dia tidak ada ya sudah"


Ayah Ariel berdiri untuk pergi dan mengucapkan terima kasih pada Danist karena telah menerimanya. Sebelum Ayah Ariel pergi, entah kenapa dia mengusap pipi Dansit sambil tersenyum lalu mengucap permisi dan pergi.


Danist merasa aneh, kenapa pria itu menyentuh pipi nya, dia pun menggelengkan kepalanya karena heran. Danist bergegas keluar untuk segera pulang karena Mama nya pasti sudah menunggunya dirumah.


****


Danist sampai dirumah dan benar saja sang Mama sudah menyiapkan makan siang untuknya. Danist duduk dan sang Mama langsung mengambil piring dan mengambil nasi serta lauk dan sayur untuk sang putra.


Danist melamun mengingat kedatangan Ayah Ariel tadi, terlebih saat pria itu mengatakan ingin berbicara empat mata dengan Elea, membuatnya semakin gusar, dia benar-benar takut jika Ayah Ariel bertemu dengan Elea dan menyuruh Elea untuk kembali lagi dengan Ariel itu pasti akan sangat menghancurkan hatinya.


"Dan..... ayo makan" Ucap Mama nya. Tetapi Danist masih sibuk dengan lamunannya dna tidak mendengar ucapan sang Mama.


"Dan.... Danist...." Mama nya berteriak.


Danist terkejut dan menjatuhkan sendok yang ada diatas piring. "Eh iya Ma, ada apa??"


"Ada apa, ada apa? Kau yang ada apa?? Bukannya makan malah melamun? Apa yang sedang mengganggu pikiranmu??"


"Ah tidak Ma" Danist lalu mengambil sendok baru dan mulai menyuapkan makanan yang ada dihadapannya ke mulutnya.


"Masakan Mama selalu enak, aku menyukainya"


Merasa ada yang aneh dengan putranya, Mama Danist pun merasa tidka puas dengan jawaban dari sang putra.


"Apa yang mengganggu pikiranmu? Katakan pada Mama dan jangan berbohong, ayo cepat katakan, siapa tahu mama bisa membantumu?"


"Aku memang tidak pandai membohongi Mama, jadi gini Ma, tadi Ayahnya Ariel datang menemuiku di kantor, dia ingin bertemu dengan Elea dan ingin bicara empat mata dengannya"


"Lalu?"


Danist tersenyum kepada Mamanya, lalu menunduk. "Aku takut dia akan meminta Elea untuk kembali lagi bersama Ariel, Mama tahu kan kalau aku sangat mencintai Elea, bagaimana kalau dia berhasil membujuknya, aku pasti akan hancur karena itu Ma" Gumam Danist sedih.