SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 171



Elea mengulurkan tangannya dan memperkenalkan dirinya pada ibu Danist. Wanita itupun menerima uluran tangan Elea dan tersenyum padanya. Tetapi hatinya masih dipenuhi banyak pertanyaan, putranya sering membahas tentang Elea, dia pikir Elea adalah gadis biasa yang disukai oleh Danist, tetapi tidak mungkin putranya itu menyukai seorang oerempuan yang sudah bersuami.


Elea mempersilahkan Danist serta ibunya untuk masuk ke rumah. Elea lalu memperkenalkan kedua orangtuanya pada ibu Danist. Mereka pun berbincang-bincang, tak terasa hari sudah semakin senja, Danist mengajak sang Mama untuk pulang.


Saat makan malam, perasaan Mama Danist masih dipenuhi dengan berbagai pertanyaan tentang Elea. "Dan, apa tadi itu Elea yang sering kau ceritakan pada Mama??"


Danist hanya menganggukkan kepalanya pada sang Mama karena mulutnya penuh dengan makannan. "Jadi kau menyukai wanita yang sudah bersuami??"


Danist terkejut dan menelan makanannya lalu mengambil air dan meminumnya. "Mama ini bicara apa, mana mungkin aku menyukai wanita bersuami? Elea tidak memiliki suami Ma"


"Tetapi Elea itu hamil dan pasti punya suami, atau jangan-jangan dia hamil diluar nikah? Tidak....!! Mama tidak akan merestuimu jika kau berhubungan dengan wanita seperti itu"


"Apa??? Ya Tuhan Mama, Elea tidak hamil diluar nikah, astaga.... Mama ini...."


"Lalu?"


"Elea sudah bercerai dengan suaminya, suaminya berselingkuh dihadapnnya lalu dia diceraikan begitu saja saat dia sedang hamil, Elea perempuan yang sangat baik Ma, Mama tadi lihat sendiri kan bagaimana dia bersikap"


Danist kemudian menceritakan semua tentang Elea kepada Mamanya, bagaimana Elea selama ini berjuang sendirian ditengah kehamilannya, dan tidak pernah sekalipun dia melihat mantan suami Elea datang untuk sekedar menanyakan kabar calon bayinya. Danist juga menceritakan tentang kebaikan Aditya dan Cahya yang dengan sukarela menolong Elea yang saat itu sangat hancur dengan perceraiannya. Elea berjuang untuk kebahagiaannya dan juga bayinya serta orangtua nya.


"Kebaikan, kesabaran dan perjuangan Elea itu yang membuat aku sangat mengaguminya Ma, melihatnya selama ini aku juga jadi teringat dengan Mama, dulu Mama berjuang sendirian membesarkanku tanpa seorang suami, kini aku sangat tahu rasanya setelah melihat Elea" Ucap Danist.


"Kisah Elea juga seperti kisah Mama, dulu Mama ditinggalkan oleh pria itu saat Mama sedang mengandungku, dia meninggalkan Mama begitu saja menceraikan Mama lalu menikah dengan perempuan lain yang kaya raya, bahkan sampai detik ini dia juga tidak pernah tahu jika Mama memiliki anak, Mama mengalami trauma yang begitu hebat hingga Mama tidak mau untuk menikah lagi dan membesarkanku sendirian sampai saat ini, kurasa itu juga yang terjadi dengan Elea, dia ingin membesarkan anaknya sendiri tanpa harus mengingat dan bergantung pada suaminya" Danist beranjak dari tempat duduknya dan duduk disebelah Mamanya, menggenggam jemari Mamanya dan menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Mama selalu mengatakan padaku, jika aku harus menjadi pria yang baik, penyayang, bertanggung jawab dan aku tidak boleh menyakiti hati perempuan, aku sangat menyukai Elea Ma, jika Tuhan mengijinkan aku ingin menjaga Elea mencintainya dengan sepenuh hatiku, dan aku tidak peduli dengan masalalunya, kuharap Mama mengerti"


Sang Mama pun mulai melembut menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Mama tidak menyangka jika ternyata kejadian yang pernah Mama alami terjadi pada orang lain, ya Tuhan kasihan sekali Elea, tapi apakah kau sudah mengatakan padanya jika kau memiliki perasaan padanya?"


Danist menggelengkan kepala nya seraya mengatakan jika dia masih belum berani, karena takut Elea akan merasa tidak nyaman mengingat saat ini juga Elea masih dalam proses melupakan mantan suaminya. Jika mengatakannya saat ini, Danist takut hubungannya dengan Elea akan menjadi renggang. Tetapi jika dirasa sudah tepat Danist pasti akan mengatakannya.


"Putra Mama sudah sangat dewasa, kau sudah bisa menentukan mana yang baik untuk hidupmu, Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu, dan ingatlah satu hal Dan, jangan sampai kau melakukan hal yang menyakiti hati perempuan, jika kau melakukannya sama saja kau mengorek luka hati Mama yang dulu"


Mendengar ucapan sang Mama, Danist mengangguk lalu tersenyum dan memeluk Mamanya. Selama ini Danist tidak pernah ingin tahu siapa ayahnya yang sebenarnya, dan tidak ingin mencari tahu, karena bagi Danist itu tidak penting. Danist juga tidak pernah menganggapnya ada, karena dia tidak ingin mengorek luka sang Mama dengan menanyakannya. Pernah suatu ketika saat kecil dia menanyakan tentang sang Ayah kepada Mamanya tetapi justru sang Mama lari masuk ke dalam kamar dan menangis. Sejak saat itu hingga detik ini, Danist memutuskan untuk tidak pernah menanyakan lagi tentang hal itu.


*****


Mama Danist memutuskan sementara untuk tinggal bersama sang putra. Dia merasa sangat kasihan melihat Danist karena harus menyiapkan segala sesuatunya sendirian. Dan kini Mama Danist juga semakin akrab dengan Elea dan keluarganya. Setiap hari mereka saling mengunjungi, dan Mama Elea juga sering mengantar makanan untuk Mama Danist, keduanya terlihat sangat kompak.


Disisi lain, Cahya dikejutkan oleh kedatangan dua orang laki-laki berperawakan tinggi besar yabg ternyata adalah orang yang dibayar Aditya untuk mengikutinya saat dia keluar rumah. Aditya memberikan bodyguard untuk Cahya agar bisa menjamin keselamatan sang istri dan kedua anaknya. Aditya tidak ingin lagi hal yang buruk menimpa Cahya yang dapat membahayakan nyawa istrinya itu, walaupun Cahya menolak tetapi percuma karena Aditya tetap memaksa, yang akhirnya Cahya menyetujuinya.


Ariel sedang berjongkok didepan sebuah makam, dibalik kacamata hitamnya itu, dia menatap sedih nisan sang Mama lalu meletakkan bucket bunga disana. Kesedihannya begitu dalam mengingat kenangan tentang Mamanya, hubungannya dengan sang Ayah juga masih belum membaik, Ariel masih sangat sakit mengingat perlakuan sang Ayah kepada Mamanya dulu. Walaupun kini dia tinggal dirumah bersama Ayahnya, Ariel masih enggan berbicara dengannya. Kesedihannya semakin bertambah karena hingga saat ini dia masih belum tahu dimana keberadaan Elea, Ariel sangat khawatir dengan keadaan Elea saat ini.


Ariel mengusap lembut nisan sang Mama "Ma, aku tahu Mama pasti marah kepadaku karena aku memperlakukan istriku dengan buruk, aku sangat menyesal Ma, aku benar-benar menyesal, tolong maafkan aku, aku saat ini masih berusaha mencari Elea tapi masih belum membawakan hasil, aku ingin menebus semua kesalahanku padanya dan meminta maaf, aku telah menerima hukuman dari Tuhan sekarang tetapi aku akan terus berusaha menebus kesalahanku agar Mama dan juga Elea mau memaafkanku, aku berharap agar segera bisa menemukan Elea Ma, memastikan dia dan bayinya baik-baik saja, semoga aku bisa segera menemukannya Ma" Gumam Ariel, dia memjamkan matanya seraya berdoa untuk sang Mama lalu menaburkan bunga diatas pusaranya dan menyiramkan air mawar disana. Ariel pun pergi meninggalkan area pemakaman itu dan kembali ke kantornya.


Sampailah Ariel di kantornya dan langsung menuju ruangannya. Ariel tampak serius dengan monitor didepannya memeriksa semua pekerjaannya. Hingga beberapa saat kemudian sekretarisnya mengetuk pintu ruangannya dan masuk membawa berkas untuknya.


"Pak, ini adalah data dari perusahaan perkebunan Teh yang bapak minta, kami sudah memilah dari beberapa perusahaan dan ini yang kami rasa sangat pas sesuai keinginan bapak, hasil produksinya sudah menembus pasar internasional dan kualitasnya sangat bagus, ada beberapa produk yang dihasilkan dan itu dari perkebunan milik mereka sendiri"


Ariel menerima berkas itu dan membacanya dengan hati-hati. Tetapi kemudian dahi nya berkerut karena menemukan sesuatu disana.


"Disini tertulis jika perusahaan ini milik Dina Harry Sahasya??" Gumam Ariel terkejut.


"Iya Pak" Jawab sekretarisnya.


"Dina Harry Sahasya? Bukankah itu nama dari tante Dina, Mamanya Aditya?"


"Sepertinya begitu pak....."


"Kalau benar, berarti ini anak cabang dari HS enterprise, tetapi kenapa selama ini aku tidak tahu jika HS enterprise punya anak cabang berupa perusahaan Teh?"


"Sebelumnya saya sudah mengecek tentang perusahaan teh ini begitu saya melihat nama bu Dina disana tetapi sepertinya ini tidak ada hubungannya dengan HS Enterprise, saya rasa ini memang milik pribadi bu Dina karena melihat sejarahnya, perusahaan dan perkebunan ini sudah ada sejak 50tahun yang lalu" Jelas Sekretarisnya.


"Lama juga ya, tapi mungkin ini warisan dari orangtua tante Dina, ku dengar memang beliau lahir disana tetapi tidak ku sangka beliau memiliki perkebunan teh beserta pabriknya, oke baiklah, karena ini tidak ada hubungan dengan HS enterprise kurasa aku tidak perlu menghubungi Aditya"


"Iya pak, dan saya juga sudah mengatur pertemuan bapak dengan General Manager perusahaan itu, saya sudah jadwalkan besok bapak bisa kesana, dan pihak mereka juga bersedia memberikan tester produknya kepada bapak langsung agar bisa memilih produk yang mana yang bapak inginkan, baik pak saya permisi"


Sekretaris Ariel pun meninggalkan ruangan bos nya itu. Dan Ariel melanjutkan membaca berkas yang ada di tangannya dengan seksama.