
"El...!!! Ku akui aku salah, tolong maafkan aku...?"
"Berhentilah mengatakan itu, selalu disaat seperti inilah kau baru mengatakan hal itu, aku bosan mendengarnya dan aku masih tidak tahu cara berpikirmu itu...! Kau begitu buruk dan sangat picik..!"
Elea menyeka airmatanya dan meninggalkan Ariel. Elea kemudian meminta Aditya agar menunggu Danist, sementara dia ingin menenangkan dirinya sebentar. Karena jika tidak melakukannya mungkin dia akan membuat keributan disini. Hatinya saat ini tidak baik, kesedihan memikirkan keadaan Danist juga kemarahannya kepada Ariel semua bergulat menjadi satu di otaknya. Elea benar-benar butuh untuk menenangkan itu semua.
Aditya mempersilahkan Elea untuk pergi sebentar dan dia akan berjaga disini. Tetapi Aditya juga mengingatkan agar Elea jangan sampai melakukan hal yang bisa menyakiti dirinya sendiri. Elea kemudian pergi meninggalkan Aditya dan Ariel dari ruang tunggu operasi.
Aditya memandang Ariel sebentar sebelum kemudian dia kembali duduk. Wajah sedih Ariel dan kekalutannya begitu jelas terlihat, tetapi Aditya tidak ingin mengatakan apapun pada sahabatnya itu, tidak ingin berusaha menghiburnya atau menenangkannya karena menyadari bahwa semua yang dikatakan Elea tadi memang ada benarnya. Aditya sendiri sebelumnya sudah sering mengatakan pada Ariel agar bisa merubah cara berpikirnya tentang Danist dan berhenti berpikir hal buruk tentang lelaki itu tetapi Ariel tidak pernah memperdulikan ucapannya.
Danist memang sekalipun tidak pernah mengatakan hal buruk tentang Ariel meskipun Ariel selalu bersikap tidak baik kepadanya. Aditya bisa melihat dengan begitu jelas bahwa Danist selalu berusaha menghormati Ariel meskipun posisi Ariel adalah adik tetapi bagi Danist Ariel tetap yang utama dan memiliki hak tertinggi di bandingkan dengan dirinya sendiri. Kesedihan Danist semakin jelas tatkala menangis didepannya mengatakan bahwa dia ingin sekali semuanya membaik, dan membangun persaudaraan yang baik dengan Ariel, bahkan Danist juga tidak ingin menuntut maaf dari Ariel, dia hanya ingin sekali memeluk Ariel sambil mengatakan bahwa dia sangatlah menyayangi Ariel. Tetapi semua keinginan Danist itu sampai detik ini tidak pernah terpenuhi.
Dan hari ini, sekali lagi Danist membuktikan betapa dia sangat menyayangi Ariel dengan mengorbankan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan Ariel. Padahal seharusnya bisa saja dia hanya memanggil dan menyuruh Ariel untuk pergi tanpa harus mendorong Ariel yang akhirnya membuatnya menggantikan posisi Ariel. Lalu dengan kejadian ini apakah Ariel masih bisa mengelak lagi bahwa Danist adalah orang yang baik? Aditya tidak tahu, dan hanya bisa berharap Ariel benar-benar mau merubah keadaan yang terjadi dengan Danist.
★★★★★★
Sudah lebih dari 30 menit Elea pergi tetapi belum kembali juga. Aditya juga tidak saling bicara dengan Ariel. Mereka hanya duduk diam saja. Sesekali Aditya mendengar isakan Ariel, dan ketika dia menoleh, dia mendapati sahabatnya itu sedanf menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aditya tidak tahu apa yang saat ini sedang dirasakan oleh Ariel, apakah sahabatnya itu tengah menyesali semua perbuatannya ataukah dia sedih karena hal lain, Aditya enggan untuk menanyakannya.
"Dit....! Iel....!!! Bagaimana keadaan Danist???" Randy datang setengah berlari menghampiri kedua sahabatnya.
Dibelakang Randy ada Mama Danist juga ada Cahya. Mereka bertiga datang bersama, dimana tadi Randy mengantarkan Louis dan Chitra ke rumah orangtua Aditya setelah mendapat kabar dari Aditya bahwa Cahya membawa Gienka dan Friddie kesana. Mama Danist juga menghampiri Aditya, dan matanya terlihat sembab, sejak mendengar kabar ini dia panik dan terus menangis di dalam mobil.
"Pak Aditya, bagaimana keadaan Danist??" Tanyanya.
"Danist masih ada di dalam tante, dokter sedang melakukan operasi, kita hanya bisa menunggu serta mendoakannya agar semua berjalan dengan baik" Aditya kemudian menyuruh agar Mama Danist duduk, dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Aditya menghampiri Cahya yang sedang berdiri dan menanyakan kenapa istrinya itu ada disini dan tidak menjaga anak-anak dirumah. Cahya kemudian bercerita jika saat sampai dirumah, Gienka ternyata tertidur di mobil. Setelah itu Randy dan Chitra datang bersama Louis, jadi dia bisa memastikan bahwa Gienka akan baik-baik saja karena ada banyak orang disana. Cahya merasa khawatir dengan Elea itu sebabnya dia datang kesini agar sahabatnya itu tidak merasa sendirian dan bisa menumpahkan kesedihannya kepada dirinya.
"Aku selalu bisa mengandalkanmu, kerja yang sangat bagus" Gumam Aditya.
Cahya menoleh ke penjuru arah, dia tidak melihat Elea sama sekali. Seolah mengerti apa yang sedang dicari oleh istrinya, Aditya menyuruh agar Cahya pergi mencari Elea, karena Elea tadi berpamitan untuk pergi sebentar menenangkan dirinya karena tadi Elea sempat bersitegang dengan Ariel, meluapkan seluruh kemarahannya kepada Ariel karena sikap lelaki itu.
"Cari dia, dan tenangkan hatinya, dia sangat kalut dan sangat khawatir dengan keadaan Danist, aku yakin kau bisa melakukan itu untuknya, kau sahabatnya" Ucap Aditya.
"Aku akan mencarinya, kau juga tenangkan tante Sari, dia sangat shock sejak tadi, aku pergi mencari Elea dulu"
★★★★★★
Cahya berjalan pelan mencoba menemukan keberadaan Elea. Dia juga pergi ke kantin berharap Elea ada disana tetapi ternyata dia tidak menemukannya. Ada ruang terbuka hijau di tengah rumah sakit itu, Cahya melangkah kesana, mungkin Elea mencari ketenangan disana. Cahya berkeliling dan benar saja dia menemukan Elea sedang duduk di sebuah bangku menatap air mancur kecil yang ada di depannya. Cahya tersenyum dan melangkah mendekatinya kemudian duduk disamping sahabatnya itu.
"Semuanya akan baik-baik saja El, Danist adalah laki-laki kuat, dia akan melewatinya lalu membuka matanya dan tersenyum padamu sambil mengatakan bahwa dia sangat mencintaimu"
Ucapan Cahya itu, membuat Elea menoleh dan langsung memeluk Cahya. Elea tidak bisa lagi menahan tangisnya, dia menangis dipelukan Cahya, menumpahkan segala kesedihan yang sudah ditahannya sejak tadi. Elea mengungkapkan semua ketakutannya akan sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada Danist. Elea juga menceritakan semua kejadian itu bagaimana Danist mengorbankan dirinya sendiri hanya untuk menyelamatkan Ariel. Meluapkan semua kemarahan yang ditahannya selama ini kepada Ariel yang tidak pernah mau meminta maaf atau bersikap baik kepada Danist padahal Danist selalu berharap bisa berhubungan baik dengan Ariel.
"Apa aku salah Ca? Jika aku meluapkan suruh kemarahanku?" Elea memandang Cahya penuh dengan kesedihan.
"Jika itu membuatmu merasa lega tentu tidak akan salah El, tetapi jika kemudian semua itu masih tidak merubah cara berpikir Ariel? Kita tidak bisa berbuat apa-apa. Semua cara sudah kita coba untuk menyadarkannya tetapi dia tetap bersikap sama, bahkan terkadang aku merasa bahwa semua itu hanyalah lelucon yang tidak berarti bagi Ariel, dia tidak pernah menghargai pengorbanan seseorang"
"Itulah Ca, aku sendiri sangat menyesal kenapa tadi aku tidak ikut bersama Danist mencari Gienka, dan aku malah menuruti keinginannya agar aku di dalam mobil saja, andaikan saja aku pergi bersamanya tentu aku akan melarangnya untuk melakukan itu semua, karena percuma itu tidak akan pernah ada artinya untuk Ariel, lalu inilah yang terjadi sekarang, Danist kenapa tidak memikirkanku dan anak-anak sebelum melakukan itu? Dia sekarang ada dipersimpangan antara hidup dan mati, aku tidak tahu mana yang akan dia pilih, dia memilih hidup untukku dan anak-anak yang setiap hari bersamanya atau dia memilih mati untuk Ariel, orang yang tidak pernah menganggapnya manusia dan dia selalu direndahkan oleh Ariel, kenapa Danist melakukan itu semua Ca? Kenapa?? Friddie masih membutuhkannya, bagaimana jika hal buruk terjadi padanya??? Aku takut sekali Ca!!" Elea mempererat pelukannya pada Cahya dan terisak pedih sekali.
Elea sangat ketakutan memikirkan hal buruk itu, ditambah lagi memikirkan bagaimana masa depan anaknya jika tanpa Danist. Semua ketakutan itu semakin menekan kepedihan yang dirasakannya saat ini.