SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 279



Tengah malam, Danist terbangun dari tidurnya, Elea dan Gienka sudah terlelap di sebelahnya. Danist memilih duduk di kursi kerjanya dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Seharian ini Danist benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan tentang siapa Ayahnya sebenarnya, siapa yang sudah datang ke rumahnya ini. Apa Mamanya mengetahui tentang hal itu atau belum mengingat rumah saat itu dalam keadaan tidak ada orang. Apakah dia datang lagi kesini atau tidak. Lalu untuk apa juga setelah sekian lama dia datang, apa dia hanya datang untuk menemui Mamanya atau dia sudah mengetahui jika dulu meninggalkan Mamanya dalam keadaan hamil. Semua pertanyaan itu membuat Danist tidak bisa tenang seharian ini.


Setrlah mengetahui fakta ini justru membuat Danjst semakin dirundung rasa penasaran yang luar biasa, padahal sebelumnya dia tidak pernah peduli tentang siapa Ayahnya. Bahkan selama ini dia memilih menjalani kehidupannya dengan caranya sendiri, menganggap dirinya adalah seorang yatim. Tetapi sekarang, dia tidak bisa berhenti memikirkannya.


Elea ternyata juga terbangun dan mencari keberadaan Danist yang tidak ada di samping putrinya tetapi kemudian dia menemukan lelaki itu sedang duduk dan terlihat sangat gusar. Ya, seharian ini memang Danist sangat aneh dan tidak seperti biasanya bahkan terkesan tidak fokus. Saat diajak bicara oleh kedua orangtuanya juga Danist menanggapinya cukup lama, dan perlu disadarkan, seolah pikirannya sedang berada di tempat lain. Elea bangun dan harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan suaminya itu, mungkin dia bisa membantu permasalahannya atau hanya sekedar menjadi tempat berkeluh kesah.


Elea melangkah perlahan dan menyentuh pundak Danis, membuat lelaki itu terlonjak. "Astaga sayang, kau membuatku terkejut saja, kau bangun? Kenapa?" Tanya Danist pada Elea dan tersenyum kepada istrinya itu.


"Kau yang kenapa? Duduk di tengah malam seperti ini bukannya tidur! Ada apa denganmu? Seharian ini aku lihat seperti ada yang membebanimu?"


"Tidak! Aku hanya terbangun saja dan tidak bisa kembali tidur, ayo kota tidur lagi!" Danist berdiri dan menarik pergelangan tangan Elea, tetapi perempuan itu tidak bergeming.


Danist menoleh dan mendapati pandangan Elea kepadanya seolah menuduh dirinya. "Kau menyembunyikan sesuatu dariku? Cepat katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi denganmu seharian ini, kau sangat aneh sekali"


Danist menghela napasnya lalu menarik Elea dan duduk diatas tempat tidur. Danist menggenggam jemari Elea dengan lembut dan menatap perempuan itu.


"Kau ingin tahu apa yang sedang mengusik pikiranku??"


Elea menganggukkan kepalanya dan menjawab pelan. "Ya, jika kau mau berbagi denganku mungkin aku bisa membantumu"


"Aku mendengar dari Desi, jika beberapa bulan yang lalu Ayahku datang kesini dan mencari Mama"


"Apa!!???? Darimana Desi tahu jika itu Ayahmu? Kau saja tidak pernah melihatnya"


"Dia tahu karena sempat mendengar obrolan antara ayahnya dan laki-laki yang di sebut sebagai ayahku, orangtua Desi sudah lama tinggal disini bahkan sebelum aku lahir, dan sejak dulu tempat tinggal kami ya bersebelahan seperti ini, jadi pasti mereka tahu semuanya"


"Lalu???"


"Kenapa dia baru datang setelah sekian lama? Dan untuk apa dia datang? Apa dia ingin menemui Mama atau dia memang sudah tahu jika Mama hamil saat dia meninggalkannya dulu?"


"Aku bingung, apa aku harus mencari tahu lebih detail atau aku harus mengabaikannya? Mengingat selama ini aku tidak peduli dengan ada tidaknya dia dihidupku"


"Sekarang kau tenang, semua keputusan ada ditanganmu, jika kau tidak ingin mencaritahu ya sudah jangan terlalu dipikirkan tetapi jika kau ingin mencaritahu lebih dalam ya silakan, kau juga berhak mengetahui siapa Ayahmu selama ini, sekarang ayo tidur, masih banyak waktu memikirkannya" Elea kemudian mendorong Danist perlahan di tempat tidur dan menyelimutinya lalu mengecup kening suaminya agar dia bisa tidur dengan tenang.


*****


Keesokan harinya, mendengar kabar bahwa Danist dan Elea serta cucunya sudah kembali dari luar negeri, pak Andi merasa sangat senang sekali. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka. Bahkan semalam dia sudah memutuskan untuk menemui pengacaranya dan membahas lagi pembagian perusahaannya untuk Danist. Dia sudah tidak peduli dengan larangan Sari mantan istrinya untuk tidak mengatakan tentang dirinya yang sebenarnya kepada Danist, yang dia inginkan sekarang hanyalah ingin segera memberi putranya hak yang sama seperti Ariel. Juga ingin Danist bekerja sama dengan Ariel mengelola perusahaannya, jika Danist sudah menandatangani, pak Andi menginginkan agar anak menantu serta cucunya itu bisa tinggal bersamanya dirumah ini, karena pasti suasana rumah yang biasa sepi akan menjadi ramai dengan suara Gienka cucunya.


Setelah menikmati sarapan dengan Ariel, dan Ariel sudah pergi ke kantor, pak Andi bergegas mengajak supir serta pengawalnya untuk pergi ke kantor pengacara karena semalam dia sudah mengatur janji pertemuannya.


Kurang dari satu jam, akhirnya sampailah dia di kantor pengacaranya dan ternyata dia juga sudah ditunggu.


Pak Andi menceritakan maksud dan tujuannya juga bagaimana perlakuan dia terhadap mantan istrinya di masalalu juga tentang keberadaan anaknya yang selama ini tidak dia ketahui sama sekali. Dan untuk menebus semua kesalahannya kepada putranya, akhirnya dia mumutuskan untuk memberikan hak yang sama seperti yang diterima Ariel.


"Lalu apakah mas Ariel tahu tentang hal ini pak???" Tanya pengacara itu.


"Tidak, Ariel belum mengetahuinya tetapi dia akan.mengetahuinya nanti, lebih baik anda buatkan saja surat pengalihan yang sama seperti kemarin"


"Pak Andi, saya berpikir jika Mas Ariel adalah putra anda satu-satunya kemarin, lalu anda datang lagi dan meminta surat yang sama, tentu tidak bisa seperti itu pak, jika kasusnya seperti ini maka kedua putra bapak harus berada di meja yang sama dan tanda tangan, karena harus ada persetujuan dari kedua belah pihak jika yang satu tidak mengetahui ya bisa jadi suatu saat nanti akan ada permasalahan yang besar terjadi di keluarga bapak, bisa jadi ada perebutan warisan" Tutur pengacara itu.


"Tetapi tidak mungkin saya memberitahu Ariel, kami baru saja memperbaiki hubungan kami, jika dia mengetahui hal ini pasti dia akan marah kepada saya lagi"


"Hal sebesar ini harus diselesaikan secara kekeluargaan dulu pak, setelah itu saya baru bisa memastikan apakah keduanya setuju, karena saya juga tidak bisa membuat sebuah surat peralihan atau pembagian warisan tanpa persetujuan dari kedua anak bapak, saya akan butuh tanda tangan mas Ariel, dan mungkin juga surat yang sebelumnya ditanda tangani mas Ariel harus di perbarui dengan adanya tanda tangan persetujuan dari putra bapak yang satunya lagi"


"Apa tidak ada cara lain selain itu??" Tanya Pak Andi lagi.


Pengacara itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada pak, saran saya lebih baik semua harus anda selesaikan dan anda jujur kepada kedua anak anda agar tidak timbul permasalahn yang lebih besar lagi, bagaimanapun keduanya harus mengerti, jujur saja pak, tidak mungkin permasalahan sebesar ini akan terus anda sembunyikan dari mereka"