
Sudah 4 hari ibu Cahya menjalani perawatan di rumah sakit dan kondisinya semakin membaik, besok sudah diijinkan untuk pulang, hari ini Cahya pergi kekantor karena ada Rapat penting, dia terpaksa menyuruh Chika untuk menjaga ibunya sendiri. Tak lupa Adri pun selalu menemani Chika.
Sedangkan Aditya juga kembali bekerja tetapi tetap rutin datang ke rumah sakit untuk memastikan semuanya baik-baik saja, Cahya tidak jadi memindahkan ibunya ke ruang rawat inap biasa karena tentu saja Aditya melarangnya dengan keras, mereka sudah mulai akrab dan tidak canggung, kebaikan dan ketulusan Aditya ternyata membuat Cahya mulai merasa senang. Bahkan ketika Cahya hari ini mendapat panggilan dari kantornya dia tidak menolak saat Aditya menawarinya untuk menjemputnya saat berangkat dan pulang kerja. Aditya menepati janjinya dan menjemput Cahya dari kantor, dan segera menuju rumah sakit.
“ Bagaimana pekerjaanmu hari ini Ca??”
“ Semua lancar alhamdulillah, tapi aku harus segera menyelesaikannya, deadline tapi aman sih, ga harus dikerjain dikantor juga”
“ Bagus deh, oh iya besok mama dan papa akan pulang dari Singapura, Besok biar Adri yang menjemput mereka, dan aku akan bantu kalian untuk urus semua keperluan ibu pulang”
“ Terima kasih banyak, aku tidak tau lagi bagaimana caranya membalas semua kebaikan keluarga kalian” Ucap Cahya.
“ Kamu terlalu banyak mengucapkan terima kasih, padahal sudah kewajiban kita untuk saling menolong”.
*****
Keesokan harinya Aditya datang dan mengurus semua keperluan ibu Cahya yang akan pulang dari rumah sakit dan mengantarnya pulang.
“ Ibu jangan terlalu lelah dan harus banyak istirahat, biarkan Chika dan Cahya yang mengurus pekerjaan rumah” Ucap Aditya yang kini sedang mengemudikan mobilnya, sedangkan Cahya dan ibunya duduk dibelakang, sementara Chika duduk disebelah Aditya.
“ Terima kasih nak Aditya sudah membantu ibu”
“ Berhentilah berterima kasih bu, ibu sudah saya anggap seperti mama saya sendiri, maka ibu juga harus menganggap saya sebagai putra ibu ya?? Jangan Adri saja hehe” Ujar Aditya sambil tersenyum.
“ Tentu saja, Nak Aditya dan Adri sangat baik, ibu tidak bisa membalas kebaikan kalian berdua”
“ Sebenarnya sangat simple bu untuk membalaskan kebaikanku, suruh saja putri sulung ibu itu untuk menerimaku untuk menjadi temannya, saat aku ingin menjadi temannya dia menolakku mentah-mentah hehehe”
Ucapan Aditya itu membuat Cahya terkejut dan malu karena Ibu dan adiknya langsung melihat kearahnya, membuat Cahya salah tingkah karena ternyata penolakannya pada Aditya saat itu masih diingat oleh Aditya.
“ Abaikan saja, memang kak Cahya orangnya seperti itu, setiap ada laki-laki yang mendekatinya dan mengajak berteman dia selalu menolak” Celetuk Chika yang membuat Aditya tersenyum.
Mereka akhirnya sampai dirumah, Aditya dengan sigap membantu ibu Cahya turun dari mobil dan menuntunnya masuk kedalam rumah dan membaringkannya ditempat tidur.
“ Ibu, beristirahatlah, aku harus pamit untuk kembali ke kantor besok aku akan kesini lagi, oh iya aku akan datang bersama Mama dan Papa, karena mereka tidak sempat menjengukmu dirumah sakit, dan mama merasa sangat bersalah kepada ibu”
Cahya dan ibunya pun merasa terkejut dengan ucapan Aditya barusan, tetapi tampaknya apa yang dikatakan Aditya itu benar. Aditya pun berpamitan dan memberi pesan kepada Chika dan Cahya agar menjaga ibu mereka dengan baik. Selepas Aditya pergi Cahya terlihat gusar, dan ibunya menyadarinya.
“ Kita harus menyambut mereka dengan baik Ca, ibu juga merasa sungkan, mereka begitu baik dengan keluarga kita” Ujar ibunya.
“ Lalu kita harus bagaimana bu?” Tanya Cahya.
“ Besok kau harus siapkan makanan untuk mereka, seperti saat kita dirumah mereka kemarin, pagi kau pergilah ke pasar untuk berbelanja, biar ibu ditemani Adikmu”
“ Tapi kita tidak tau mereka akan datang jam berapa”
“ Nanti biar Adikmu yang menanyakannya kepada Adri”
“ Tapi bu, apa mereka tidak apa-apa datang kerumah kita, lihatlah rumah kita ini? Apa mereka akan nyaman? Lalu kita akan menjamu mereka sedangkan dapur kita menyatu dengan meja makan, itu sangat sempit Bu!” Ucap Cahya meragu, tetapi ibunya meyakinkannya bahwa mereka tidak bisa berbuat apa-apa memang seperti ini kondisi rumah mereka, sederhana dan sempit, tak disangka Chika mendengar obrolan mereka lalu masuk dan menghampiri ibu dan kakaknya, dan mengusulkan untuk memanfaatkan halaman belakang rumah mereka, udaranya segar dan sejuk, Cahya pun setuju dengan usulan adiknya itu.
***
Cahya sudah menyiapkan semuanya, memasak beberapa makanan, untung saja Aditya dan keluarganya akan datang pada sore hari jadi ia bisa sedikit bersantai dan bersyukur karena saat sore hari dihalaman belakang tidak akan terasa panas, Chika pun sudah menyiapkan kursi dan meja makan dihalaman belakang.
Akhirnya tamu yang ditunggu datang juga, Aditya datang bersama adiknya dan kedua orang tuanya, mereka membawa beberapa oleh-oleh untuk ibunya Cahya, Cahya pun berterima kasih dan memohon maklum dengan kondisi rumahnya, tetapi tampaknya Tuan dan nyonya Harry tidak mempermasalahkannya karena tujuan mereka hanyalah untuk menyambung tali silaturahmi.
“ Ibu Rina bagaimana kondisi anda?? Maafkan saya dan suami baru bisa datang menjenguk anda, saya terkejut saat Aditya mengabari bahwa anda mengalami insiden yang membuat anda harus dirawat dirumah sakit, saat itu kebetulan saya sedang berobat ke singapura jadi baru sempat hari ini datang, sekali lagi saya minta maaf” Ucap nyonya Harry memohon pemakluman.
“ Tidak apa-apa bu, saya pun sudah merasa sangat baik berkat kedua putra ibu dan bapak Harry, yang sudah membantu seluruh pengobatan saya”
Cahya membuatkan minum untuk tamunya, Cahya tadi juga sempat membeli Teh hijau kesukaan Mama Aditya, karena saat Aditya pingsan Cahya sempat melihat merk Teh yang dibeli oleh Aditya saat itu jadi tadi dia langsung mencari dan membelinya. Nyonya Harry merasa sangat senang karena diam-diam Cahya sangat memperhatikan hal kecil kesukaanya dan mereka semua saling mengobrol.
Sudah tiba saatnya makan, Cahya pun menyuruh mereka untuk makan sebelum pulang karena dia sudah menyiapkan makanan, lalu mengantar mereka ke halaman belakang. Nyonya Harry pun memuji halaman belakang rumah Cahya yang tampak asri dengan berbagai bunga dan tumbuhan yang ditanam, begitu pula saat melihat makanan yang dihidangkan yang tampak menggiurkan.
“ Kau memasak semuanya sendiri Ca?” Tanya Nyonya Harry.
“ Saya memasak dibantu Chika tante, maaf hanya ini yang buisa kami hidangkan” Jawab Cahya.
“ Tante dan Om sangat menyukai masakan rumahan seperti ini, dan ini sangat spesial karena 2 gadis Cantik ini yang memasaknya, dan ini terlihat sangat enak” Puji Nyonya Harry membuat semua tersenyum.
Meraka mulai menyantap hidangan yang disisapkna oleh Cahya dan Chika, semua memuji rasanya yang enak, setelah makan mereka bercengkrama dan mengobrol, Chika dan ibunya sedang mengobrolkan banyak hal dengan Nyonya Harry, begitu pula dengan Adri dan papanya, sedangkan Aditya terlihat sedang berbicara melalui telepon dengan sesorang membahas pekerjaan. Cahya membereskan semuanya dan menuju dapur, lalu beberapa saat kemudian terdengar bunyi ketukan pintu membuat Cahya akhirnya menghentikan aktifitasnya menyuci piring dan berjalan kedepan untuk melihat siapa yang datang. Cahya keluar dan saat didepan pintu dia terkejut karena yang datang adalah Theo.
“ Theo?? Ada apa kau kemari??” Tanya Cahya dan tiba-tiba Theo langsung memeluk Cahya segera Cahya melepaskan pelukan itu.
“ Ca, bagaimana kabarmu?”
Cahya tidak menjawab pertanyaan Theo dan memandangnya sangat kesal. Theo pun justru malah berganti tempat duduk dan duduk disamping Cahya lalu dengan cepat menggenggam tangan Cahya dan menciumnya sambil berkata bahwa dia sangat merindukan Cahya.
“ THEO..........!!!!”
Suara keras itu membuat Cahya dan Theo terkejut, seketika Theo melepaskan genggaman tangannya dengan Cahya, dan Cahya langsung mundur dan berdiri melihat Cyntia yang berteriak dengan keras.
“ Apa yang kau lakukan disini??? Kau mendatangi rumah perempuan miskin ini” Teriak Cyntia dengan keras, saking kerasnya semua orang yang ada di halaman belakang terkejut, dan penasaran dengan apa yang terjadi didepan, mereka semua kecuali Aditya yang masih sibuk menelepon bergegas kedepan melihat apa yang terjadi.
“ Kenapa kau bisa kesini Beib??” Tanya Theo yang ketakutan dengan amarah Cyntia.
“ Aku mengikutimu, dan kau perempuan miskin yang tidak tau diri, kemana harga dirimu bisa-bisanya kau berhubungan dengan tunanganku, apa kau tidak malu, dia sudah memiliki kekasih dan bertunangan denganku, dan beraninya kau memeluk Theo dan membiarkannya mencium tanganmu, dimana harga dirimu??” Cyntia tetap berteriak tidak peduli dengan kehadiran ibu Cahya dan beberapa orang lainnya yang sedang melihatnya marah.
“ Kau salah paham Cyntia, aku bisa menjelaskan, itu tidak benar” Seru Cahya menjelaskan.
“ Diam kau!!! dasar pelacur!!”
PLAAAKK..........!!!
Sebuah tamparan mendarat dipipi Cyntia, membuat Cyntia terkejut ternyata Chika mendaratkan tamparan untuknya.
“ Tidak bisakah kau menjaga mulutmu itu, berani-beraninya kau mengatakan kakakku pelacur” Teriak Chika marah, tetapi Cyntia justru tertawa dengan apa yang diucapkan Chika.
“ Berani sekali kau menamparku, kaubocah baru kemarin apa yang kau tau tentang kakakmu?? Oh ya.... dirimu pun tak jauh berbeda dengan kakakmu, sama-sama pelacur, kalian berdua bekerja sama untuk menggaet laki-laki kaya agar kalian bisa memerasnya, setiap hari kau diantar jemput oleh pacarmu yang kaya raya itu, kau memanfaatkan kecantikanmu dan kepolosanmu untuk mendapatkan uang dari pacarmu, dan kakakmu itu juga melakukan hal yang sama denganmu, mencari laki-laki kaya untuk memoroti uang mereka sekarang giliran tunanganku yang dia incar untuk jadi korban berikutnya, bertahun-tahun dia tidak bisa melupakan Theo walaupun dia tahu Theo sudah meninggalkannya, dia masih menginginkan Theo untuk dijadikan korban kebinalannya dan keserahkahannya, apa ibu kalian tidak mengajari kalian untuk menjadi anak yang baik??”
“ Cukup Cyntia cukup, jangan bawa-bawa ibu dan adikku” Teriak Cahya sambil menahan airmatanya karena penghinaan Cyntia kepada adik dan ibunya. Tetapi Cyntia justru jari telunjuk Cyntia menunjuk ke arah ibunya.
“ Hei ibu tua, tolong ajari kedua anakmu itu, agar mereka menjadi perempuan benar, tapi kurasa kaupun membiarkan mereka, oh iya kau malah membiarkan anakmu setiap hari dijemput laki-laki dan sore baru diantar pulang, dengan sengaja kau membiarkan mereka menjadi pelacur karena kau juga bisa menikmati hasil yang mereka dapatkan dari para lelaki kaya itu, apa jangan-jangan kau dulu juga melacurkan dirimu sehingga sekarang diikuti oleh anak-anakmu!”
PLAAAAAAKKK.......!!!!
Lagi-lagi satu tamparan mendarat dipipi Cyntia, dan kali ini Cahya yang menamparnya, Cyntia pun terlihat lebih marah dan bersiap membalas menampar Cahya tetapi tiba-tiba sebuah tangan kekar menahan tangan Cyntia dari belakang, itu tangan Aditya. Wajah Aditya sangat marah, sedari tadi dia mendengarkan ocehan Cyntia yang tidak ada habisnya menghina Cahya dan keluarganya.
Saat Aditya sedang menelepon tadi, dia melihat semua orang buru-buru berjalan kedepan, Aditya pun menutup teleponnya dan ikut kedepan, tetapi karena terhalang oleh keluarganya yang berdiri terkejut dengan keributan yang dibuat oleh Cyntia, Aditya pun kembali ke belakang dan memilih lewat samping rumah untuk melihat lebih dekat dengan apa yang terjadi. Tanpa diketahui siapapun ternyata dia sudah berdiri didepan rumah dan menyimak ocehan Cyntia sambil menahan amarahnya, Aditya sudah tidak bisa menahannya lagi saat tau Cyntia menunjuk-nunjuk ibu Cahya sambil menghinanya, lalu Cahya menampar Cyntia dan ternyata Cyntia juga akan menampar Cahya, Aditya pun menghentikannya.
“ Sudah cukupkah ocehanmu itu??” Tanya Aditya geram dan melotot menatap Cyntia, tetapi tampaknya Cyntia tidak merasa takut dengan Aditya, justru dia masih melanjutkan tuduhannya.
“ Oh Tuan Aditya, anda disini ternyata dan sudah mendengar apa yang terjadi disini, aku tau kalau anda berbohong waktu itu, anda bilang anda adalah kekasihnya, tapi dari info yang aku peroleh, anda tidak pernah menjalin hubungan serius dengan perempuan, jadi aku rasa saat itu kau sedang berbohong, oh mungkin saja saat dipesta itu anda membayar dia untuk menemani anda semalam, ah dia memang pelacur hebat hingga bisa menaklukkan pria kaya seperti anda, aku yakin tidak akan ada pria yang mau menikahinya kareana dia hanya akan menghabiskan hidupnya untuk mengejar para pria kaya dan meminta bayaran tinggi”
“ HENTIKAN OCEHANMU ITU....!!!” Teriak Aditya dengan sangat marah membentak Cyntia agar Cyntia mau diam.
“ Kau berbicara seolah mulutmu itu tidak pernah disekolahkan, sudah cukup kau menghina keluarga calon istriku” Ucap Aditya marah, semua orang terlihat terkejut dengan apa yang diucapkan Aditya tetapi mereka memilih diam untuk membiarkan Aditya menghentikan kekacauan ini.
“ Keluarga Calon Istri???” Cyntia berucap memperjelas apa yang diucapkan Aditya.
“ Iya, Cahya adalah kekasihku dan calon istriku, dan hari ini, kau menghancurkan acara lamaranku, kau lihat mereka adalah orang tua ku, aku mengajak mereka kesini untuk melamar Cahya, dan kami akan segera menikah!”
“ Menikah??? Aku tidak percaya, pasti anda hanya melindungi perempuan pelacur ini” Cyntia membantah semua ucapan Aditya.
“ Berhenti memanggil kekasihku dengan sebutan pelacur, kaulah yang sesungguhnya pelacur, dan kau ingat 1 minggu lagi kami akan menikah, akan kukirim undangan untukmu dan kekasih bodohmu ini, jika kau berani berucap lagi, akan kurobek mulut lebarmu itu, sekarang kalian berdua pergilah....!!!” Teriak Aditya membungkam Cyntia. Theo pun menarik Cyntia mengajaknya pergi.
Suasana pun hening setelah kepergian Cyntia dan Theo. Cahya tidak kuasa menahan airmata nya, dia terisak setelah melihat keluarganya dihina dan direndahkan oleh Cyntia, bahkan itu terjadi dihadapan keluarga Aditya.
“ Adri, bisa kau antarkan Mama dan Papa pulang terlebih dulu, nanti kau bisa menjemputku lagi”
“ Tidak Adit, mama akan tetap disini menemani bu Rina, Adri tolong kau bawa bu Rina kekamarnya, mama akan menemaninya” ucap Nyonya Harry lalu mengikuti Adri yang membantu Ibu Cahya berjalan menuju kamarnya lalu disusul oleh Chika. Chika menyuruh Adri untuk menemani papanya, biar dia dan mamanya yang menemani ibu dikamar.
Sedangkan Cahya berlari ke arah halaman belakang dan menangis, Aditya menyusul Cahya dan memeluknya agar Cahya merasa tenang.
“ Apa yang salah denganku Dit?? kenapa Cyntia menghina keluargaku dengan begitu kejamnya, kenapa tidak aku saja yang dihina, kenapa ibu dan adikku juga?? Mereka tidak tahu apapun, aku sangat malu kepadamu dan keluargamu” Cahya terisak dipelukan Aditya.
Aditya berpikir bagaimana bisa Cyntia tahu bahwa Adri sering menjemput dan mengantar Chika, pasti ada sesuatu yang sudah dilakukan Cyntia untuk mengawasi keluarga Cahya, Aditya akan menyelidikinya, dan si Bodoh Theo itu dia hanya diam melihat Cyntia menghina Cahya dan tidak berusaha menghentikan Cyntia, lelaki macam apa dia.
“ Apa yang sebenarnya terjadi Ca?? Kenapa Cyntia mengoceh tak terkendali?” Tanya Aditya yang penasaran dengan awal mula kejadian ini bisa terjadi, lalu sambil terisak Cahya menceritakan semuanya.
" Sudahlah Ca tidak perlu kau khawatir, orang tuaku bukan tipe orang yang mudah menghakimi seseorang, mereka tahu kalau kalian adalah keluarga baik-baik, dan apa yang diucapkan perempuan sialan itu hanyalah bualan tanpa alasan, kau tenanglah"
" Lalu bagaimana dengan janjimu pada Cyntia??" Cahya bertanya kerena bingung dengan keadaannya, kenapa Aditya berbicara seperti itu pada Cyntia.
" Jangan kau pikirkan itu dulu, kita akan cari solusinya nanti, sekarang kau tenanglah"