SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 383



Sedetik kemudian Brianna tersadar dan langsung menghampiri Mama Danist, menyalaminya dengan sopan lalu memeluknya.


"Tante Sari apa kabar???"


"Baik Ann, kau sendiri bagaimana? Sudah lama sekali kita tidak bertemu!"


"Aku sangat baik! Aku tidak menyangka jika saat ini yang sedang sakit adalah Danist"


"Mama kenal dia???" Kali ini Elea bertanya kepada mertuanya, dia bingung karena dia baru pertama kali melihat Brianna tetapi tampaknya mertuanya sudah sangat mengenal peremluan ini.


Mama Danist sedikit terperanjat mendengar pertanyaan Elea. "Ah ini Anna, dia dulu temannya Danist saat kuliah, Ann kenalkan ini Elea istrinya Danist"


Kali ini Brianna yang terperangah. Jadi Elea adalah istrinya Danist, yang artinya dia juga adalah mantan istri dari Ariel. Brianna mencoba tersenyum tetapi dia terlihat memperhatikan Elea dengan detail. Perempuan di depannya ini memang sangat cantik, wajahnya persis dengan Gienka.


"Elea, perempuan ini adalah istrinya Danist!!" Gumam Brianna lagi didalam hati mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Tetapi kenyataan itu memang ada didepan matanya.


Elea kemudian menjelaskan bahwa tadi dokter sudah mengijinkannya untuk masuk menemui Danist, tetapi lelaki itu masih belum sadarkan diri. Hanya saja jika kondisi Gienka yang memang memerlukan bertemu dengan Danist, dia meragu jika dokter akan mengijinkan anak kecil untuk masuk, mengingat di dalam cukup steril, itupun tadi dia hanya diberi waktu hanya 5 menit saja ketika di dalam. Setelahnya langsung disuruh untuk keluar lagi.


Brianna menganggukkan kepalanya dan mengerti sekali dengan kondisi ini. Tetapi dia juga harus mewujudkan keinginan Gienka karena jika tidak itu pasti bisa mempengaruhi mentalnya. Akhirnya Brianna memutuskan untuk menemui dokter yang menangani Danist agar bisa menjelaskan kondisi dari Gienka saat ini yang sangat memerlukan untuk bertemu dengan Danist. Brianna pun pergi untuk menemui dokter, sementara itu Elea mengambil Gienka dari gendongan Ariel.


Elea tidak banyak bicara dan langsung duduk memangku putrinya yang masih tidur. Dia sangat merindukan Gienka dan Friddie, tadi Mamanya sudah dia suruh untuk pulang dan melihat keadaan Friddie, dia juga sempat memompa asi nya dan menitipkannya pada sang Mama karena sejak kemarin Friddie hanya meminum susu formula saja.


Ariel berdiri terdiam saja mihat Elea memangku Gienka dan menciuminya. Maysa mencubit pinggang Ariel dan memberi kode agar lelaki itu lekas melakukan apa yang menjadi alasan mereka datang kesini selain membawa Gienka menemui Danist. Maysa pun berusaha meyakinkan Ariel.


Dengan langkah pelan, Ariel mendekati Mama Danist yang sedang duduk di samping Elea. Sementara Elea memandang Ariel dengan sinis karena masih merasa sangat kesal dan kecewa sekali dengan lelaki itu. Tetapi tiba-tiba Ariel duduk berjongkok tepat di depan Mama Danist dan memegang jemari wanita itu sambil menundukkan kepalanya dengan sedih.


"Tante....!!! Tolong maafkan kesalahanku selama ini, aku benar-benar menyesal, aku akui bahwa aku sebenarnya sangat malu terhadap diriku sendiri saat aku mengetahui semua kebenaran yang ada dan sudah banyak mengatakan hal buruk terhadap kalian hingga membuatku juga enggan mengakui semuanya, tetapi aku berani bersumpah bahwa aku saat ini benar-benar menyesal, Danist sudah mengorbankan nyawanya untukku, aku baru sadar jika dia sangat menyayangiku, aku sangat menyesal, tolong maafkan aku???" Ucap Ariel dengan diiringi isakan kesedihannya.


"Apa....!!!!???"


Kali ini Mama Danist, Papa Elea dan Maysa berseru secara bersamaan dengan apa yang baru dikatakan oleh Elea. Tentu saja mereka terperanjat, karena permasalahan itu memang selama ini dia dan Danist sembunyikan dari keluarganya. Dan hanya mereka berdua, Ariel serta Cahya, Aditya, Chitra dan Randy saja yang mengetahuinya.


"Apa maksudmu El??? Memangnya apa yang sudah dilakukan Ariel???" Kali ini Papa Elea yang bertanya kepada putrinya itu.


Dengan tarikan napas yang panjang, Elea mulai menceritakan semua kejadian memalukan itu pada Papanya dan Mertuanya, tentu Maysa juga mendengarkannya. Dimana saat itu Ariel mengajaknya bertemu dengan alasan merindukan Gienka. Kejadian itu terjadi sebelum Danist pergi ke Swiss untuk pekerjaan, dan waktu itu Danist masih berada di kantor utama untuk mengurus semua persiapannya sebelum ke Swiss. Saat bertemu dengan Ariel di cafe yang ada di apartemennya, Ariel memberikan minuman untuknya yang ternyata sudah dimasukkan pil yaitu pil yang bisa membuat napsu perempuan naik. Ariel tahu kapan pil itu akan bereaksi, dan dia memanfaatkan kunci cadangan apartemennya yang dulu pernah dia berikan pada Ariel. Dan kunci itu digunakan Ariel untuk masuk tanpa permisi ke apartemennya saat permen itu mulai bereaksi dari tubuhnya.


Ariel mencoba melakukan itu saat dia sedang merasakan efek gila dari permen itu, beruntungnya Danist datang disaat yang tepat dan menghentikan itu, membuat keduanya berkelahi hebat di apartemen. Setelah menghajar Ariel, Danist mengusirnya dan keesokan harinya langsung mengganti akses pintu apartemen dengan yang baru. Dan setelah kejadian itu, Ariel menghilang selama beberapa bulan, tidak ada yang tahu dimana keberadaannya.


Wajah Papa Elea langsung berubah seketika setelah mendengarkan cerita dari putrinya itu, dia langsung berdiri dan dengan kasar menarik Ariel.


"Berani sekali kau melakukan hal serendah itu pada putriku, kurang ajar!! Apa kau masih belum puas sudah menghancurkan kehidupannya dulu"


Sebuah bogem keras mendarat di wajah Ariel membuat Ariel jatuh ke lantai. Elea berdiri dan memberikan Gienka pada Mama Danist, kemudian menghentikan Papanya.


"Sudahlah Pa, kita tidak perlu lagi membuang-buang tenaga untuk manusia seperti Ariel, selama ini aku terlalu baik kepadanya, aku memberikannya kebebasan untuk bersama Gienka berharap dia bisa merubah sikap buruknya dan bisa bekerja sama denganku dan Danist untuk urusan Gienka, ya dia bisa bekerja sama denganku tetapi tidak dengan suamiku, dia terus saja menghinanya padahal Danist sekalipun tidak pernah mengatakan hal buruk tentangnya, Danist selalu memilih diam dan lebih banyak mengalah tetapi manusia ini tidak juga menyadari betapa baiknya hati suamiku, tetapi dia semakin menjadi-jadi dengan kebenciannya terhadap Danist"


Elea menarik Papanya dan mengajaknya untuk kembali duduk, membiarkan Ariel menahan kesakitannya setelah dipukul dengan keras oleh Papanya. Ariel meringis dan ada darah di sudut bibirnya tetapi dia memlih tidak membalas pukulan Papa Elea karena dia tahu dia memang sudah melakukan kesalahan, tetapi Ariel benar-benar tidak menyangka jika hal di masalalu itu ternyata sampai saat ini tersimpan rapi. Bahkan ternyata Aditya dan Randy juga mengetahuinya, tetapi kenapa kedua sahabatnya itu memilih berpura-pura tidak tahu.


"El....! Aku mohon kali ini berikan lagi aku maaf, aku benar-benar sdah menyesalinya, aku ingin sekali melihat keadaan Danist saat ini, tolong El???" Ucap Ariel lagi, tetapi Elea justru membuang muka.


Ariel pun berganti mendekat lagi ke Mama Danist. "Tante....!!! Tolong berikan aku maafmu dan ijinkan aku bertemu dengan Danist agar aku juga bisa mengatakan itu padanya, aku benar-benar menyesal.... Aku mohon...!"


"Sudah cukup Iel, apa yang baru saja aku dengar itu sangat melukai hatiku, kau tega melakukan hal serendah itu pada istri Danist yang tak lain adalah ibu dari anakmu sendiri, hal sebesar itu harusnya tidak di diamkan begitu saja, harusnya Danist sudah menyeretmu ke penjara, tetapi hati putraku terlalu baik, dan kau tidak pernah berhenti menyakitinya untuk kesekian kalinya, aku dan Danist menerima semua penghinaan darimu, tapi kali ini aku rasa sudah cukup bersikap baik kepadamu, benar kata Elea bahwa jika itu dilakukan lagi itu hanya akan sia-sia saja...! Kau bisa pergi dari tempat ini sekarang, tidak perlu lagi datang menjenguk anakku, tidak perlu, untuk Gienka biarkan dia ada disini, ada Brianna yang nanti akan mengurusnya, pergilah...!" Mama Danist berdiri dan membawa Gienka menjauh dari Ariel, dia tidak memperdulikan lagi teriakan Ariel yang memanggilnya meminta maaf kepadanya. Mama Danist benar-benar merasa kecewa saat ini. Dia sangat menyesal selama ini sudah memperlakukan Ariel dengan baik, harusnya Ariel tidak perlu mendapatkan itu semua karena kejahatan yang sudah dilakukan lelaki itu.