SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 254



"Kenapa kau selalu membahasnya, dia saja tidak pernah mau mengakui kesalahannya dan kau begitu saja mau memaafkannya? Selama ini aku hanya diam melihat tingkah buruknya, aku hanya diam ketika dia terus saja menghinaku karena apa? Karena dia adalah ayah dari Gienka, aku masih menaruh rasa hormatku padanya, tapi apa dia tahu bagaimana perasaanku saat dia menghina harga diriku? Apa kau lupa bagaimana dia sudah memperlakukanmu, dia hampir memperkoosamu, lalu bagaimana dengan perasaanku melihat istriku akan dinodai lelaki lain yang bahkan sampai detik ini tidak pernah menunjukkan batang hidungnya hanya sekedar menyesali perbuatannya dan malah menghilang begitu saja, aku selama ini tidak pernah menuntut apapun darimu El, aku berusaha sekeras mungkin untuk menjagamu, menghormatimu dan selalu mengesampingkan egoku, walau diriku sendiri sebenarnya dipenuhi dengan kedukaan atas nasibku, aku mencintaimu, aku suamimu tetapi aku terima semua keputusanmu dengan lapang dada tidak pernah sekalipun aku mengeluh tentangmu, tetapi kau selalu saja membahas mantan suamimu yang sudah banyak meninggalkan luka, aku lelah dengan semua kesibukanku, aku ingin cepat pulang agar aku bisa segera melihat istri dan anakku karena itu akan menjadi penghapus lelahku bekerja seharian, tetapi saat dirumah kau justru selalu mengajakku membahas laki-laki lain, mungkin inilah salah satu penyebab kau masih belum mencintaiku, karena kau masih mencintai mantan suamimu dan kau sepertinya hanya menjadikanku pelampiasanmu untuk menggantikannya, kau melakukan kerja yang bagus El!" Ucap Danist dengan kemarahan lalu mendorong kursi makan dengan keras menggunakan kakinya dan pergi meninggalkan Elea yang masih berdiri terpaku.


"Dan.....!!! Bukan begitu maksudku, aku hanya ingin meminta pendapatmu saja!!!" Ucap Elea.


"Pendapatku??? Untuk apa!!! Aku sudah sangat muak mendengar kau selalu membahas mantan suamimu itu setiap hari, sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan??? Aku ini suamimu, walaupun kau tidak pernah mencintaiku, tetapi setidaknya kau bisa menghargai diriku walau sedikit saja"


Danist masuk ke kamarnya dan langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur lalu mematikan lampu tidur disampingnya. Baginya Elea sudah benar-benar keterlaluan dan


melewati batas kesabarannya selama ini. Jauh-jauh datang kesini yang dibahas setiap hari selalu saja Ariel dan Ariel. Bukan rasa senang yang di dapat Danist tapi justru Elea membuatnya kesal. Akan seperti apa jadinya rumah tangga yang dia jalani ini jika terus saja permasalahan dengan mantan suami Elea itu bergulir seperti ini dan tidak ada habisnya.


Elea mengejar Danist ke kamar tetapi kamar sudah gelap dan Danist sudah menarik selimutnya. Elea menghampiri Danist dan akan mencoba menjelaskan semuanya tetapi mata Danist sudah tertutup, lelaki itu sepertinya langsung tidur. Elea memundurkan langkahnya dengan sedih dan menyesal karena sepertinya dia salah waktu untuk membahas tentang kedatangan Ariel ke rumah Aditya tetapi justru kemarahan Danist yang di dapatkannya. Danist sepertinya salah paham tetapi Elea juga menyadari kesalahannya, wajar jika Danist merasa marah kepadanya.


Elea memutuskan untuk keluar kamar dan membereskan bekas makan malamnya dengan Danist. Elea sangat menyesal dengan dirinya sendiri, Danist memang benar dirinya selalu saja mengajaknya membahas Ariel akhir-akhir ini. Jika Danist sudah merasa tenang, Elea akan menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman lagi antara dirinya dan suaminya itu dan permasalahan ini harus segera berakhir.


*****


Danist bangun saat hari masih gelap, Elea masih tertidur di sebelahnya dengan posisi miring memeluk dadanya. Danist mengingat apa yang terjadi diantara mereka tadi malam, dia masih merasa kesal dan kecewa kepada Elea. Perlahan dia menyingkirkan tangan Elea, lalu bangun dan pergi keluar kamar.


Elea merasa kedinginan dan ingin memeluk Danist tetapi dia tidak menemukan apa yang dicarinya. Elea terpaksa membuka matanya dan tidak ada Danist di sampingnya. Elea beranjak dan mengetuk pintu kamar mandi tetapi tidak ada jawaban, dan pintu itu tidak terkunci, saat membukanya di dalam memang tidak ada siapa-siapa. Elea berjalan keluar kamar, mengelilingi setiap ruangan untuk mencari Danist tetapi lelaki itu tidak ada dimana pun. Elea mulai dilanda kepanikan, dan kembali ke kamar mengambil ponselnya berusaha menghubungi Danist tetapi ponsel suaminya malah ada di meja, dia tidak membawa ponselnya.


Di tempat lain, Danist sedang duduk di rerumputan untuk beristirahat sejenak melepas penatnya setelah cukup jauh dia berlari. Sudah lama dia tidak jogging pagi seperti ini setelah kedatangan Elea kesini juga karena kesibukan pekerjaannya semakin menggila.


Danist mulai mengingat lagi kemarahannya semalam terhadap Elea. Marah atau cemburu, Danist tidak bisa membedakannya, dia hanya tidak suka saja Elea selalu membahas Ariel dan juga tidak mengerti kenapa istrinya selalu bersikap seperti itu seolah tidak menghargai dirinya sebagai seorang suami. Semalam emosinya memuncak karena dia sedang sangat lelah ingin menghabiskan waktu bersama Elea tetapi malah Elea membahas Ariel hingga akhirnya kemarahannya benar-benar memuncak.


Apa yang dilakukan Ariel terakhir kalinya itu benar-benar membuatnya sangat marah. Danist tidak pernah memusingkan saat Ariel menghinanya, bagi Danist itu hal yang sudah biasa dia alami. Tetapi percobaan pemerrkosaan yang hampir saja dilakukan Ariel sungguh membuatnya tidak habis pikir, seorang lelaki yang terkenal dengan kesuksesannya bisa melakukan hal serendah itu hanya untuk menuruti ***** sesaat dan juga keegoisannya. Hal sebesar itu sudah terjadi tetapi semalam Elea malah membahas soal cinta Ariel untuknya yang akhirnya membuat lelaki itu hilang akal. Bagi Danist apapun itu bentuknya, perilaku buruk Ariel sangat tidak bisa dengan mudahnya dimaafkan.


*****


Setelah jogging, Danist kembali pulang dan masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap berangkat kerja. Melihat kedatangan Danist, Elea langsung memeluk laki-laki itu. "Kau kemana saja??? Sejak tadi aku mencarimu kemana-mana!!! Kau masih marah kepadaku ya Dan??? Aku minta maaf, aku tidak bermaksud seperti itu Dan... Aku hanya ingin mengatakan sesuatu kepadamu tentang Ariel yang.." Belum selesai berbicara, Danist melepaskan pelukan Elea dan menatap ke arah perempuan itu.


"Ini masih pagi, jangan lagi membahas mantan suamimu itu lagi denganku! Aku harus bersiap kerja" Ucap Danist dan langsung meninggalkan Elea.


Danist keluar kamar mandi beberapa saat kemudian dan membuka lemari pakaian untuk mengambil pakaian yang akan digunakannya. Setelah mengambil setelan jas dan kemeja miliknya, Danist menutup pintu lemari dan bergantian membuka pintu yang satunya lagi untuk mengambil pakaiian dalamnya tetapi tiba-tiba dia menjatuhkan paperbag yang ada di laci atas. Bergegas dia menunduk dan memunguti pakaian bayi yang sepertinya itu milik Gienka. Danist mengernyit karena merasa tidak pernah membeli pakaian itu dan Elea yang dia tahu tidak pergi berbelanja atau kemana-mana selain ke rumah Cahya tetapi ada baju baru untuk Gienka. Tidak mau terlalu memikirkannya, Danist memasukan lagi pakaian-pakaian itu ke dalam tempatnya lalu matanya teralihkan ke sebuah kertas kecil yang ada di pojokan paperbag itu dan mengambilnya. Ada memo singkat yang tertulis disana dan saat membacanya, Danist langsung mengernyit mengetahui siapa penulisnya dan sudah dipastikan bahwa pakaian itu berasal dari mana.


"Itu artinya lelaki itu ada disini dan mengirim ini untuk Gienka, berarti Elea sudah bertemu dengannya tetapi kenapa dia tidak mengatakan kepadaku jika si brengseek ini datang?? Pantas saja Elea terus membahas Ariel dan jika lelaki itu datang minta maaf, Elea benar-benar keterlaluan tidak mengatakan ini kepadaku" Gumam Danist.