
Setelah kepergian Danist, Aditya menuju dapur untuk makan, tadi belum sempat makan siang karena kedatangan Elea dan saat Cahya mengajak Elea untuk makan sebelum pulang, Elea menolaknya. Didapur Cahya sudah menaruh makananan diatas kompor untuk dihangatkan dan dia menyiapkan piring. Lalu Aditya datang dan membantu menghangatkan makanannya.
"Kau nanti coba hubungi Ariel lagi ya?? Aku tidak tega melihat Elea seperti itu, bertahun-tahun kami bersahabat dan baru pertama kalinya aku melihat keadaannya seburuk itu, aku sangat mengkhawatirkannya" Gumam Cahya pelan.
Aditya mematikan kompor dan membalikkan badannya, berjalan ke meja makan dan merangkul Cahya dari belakang. "Aku akan terus mencobanya, kau tenanglah semoga semuanya baik-baik saja, semoga besok Ariel mau datang dan mereka bisa memperbaiki keadaan"
"Tetapi bagaimana jika dia tetap tidak datang? Apa yang akan terjadi dengan hidup Elea selanjutnya? Kau tidak lihat tadi dia begitu hancur tetapi dia mencoba bertahan seperti ada sesuatu yang menahannya dan mengajaknya untuk bertahan, ya cinta Elea untuk Ariel yang begitu besar, sungguh perkataan Ariel pasti sangat menyakiti hatinya, kenapa Ariel jahat sekali"
"Aku juga tidak menyangka kenapa dia bersikap buruk seperti itu, kau tenanglah, aku akan mencoba bicara dengannya, jika saja Elea bercerita lebih awal pasti aku akan bisa membantunya menangani ini, sudah duduklah, aku ambil makanannya dulu, kau juga harus makan, kasian bayi kita"
Aditya menuang sup kedalam mangkok dan menyajikannya dimeja makan. Mereka berdua akhirnya menikmati makan siangnya yang sangat terlambat.
****
Sampai malam hari Aditya masih mencoba menghubungi Ariel tapi tetap tidak berhasil. Sementara Cahya sangat mencemaskan keadaan Elea, dia sangat takut jika Ariel besok benar-benar tidak datang kepersidangan, masa depan Elea akan hancur, membayangkan hal buruk yang akan terjadi pada Elea membuatnya sangat takut. Aditya menatap kearah istrinya dan menggelengkan kepalanya karena dia masih tidak bisa menghubungi Ariel dan tidak tahu dimana keberadaannya sekarang.
"Kenapa kita tidak mencari tahu keberadaan Viona, bisa jadi dia sedang bersama Ariel, mungkin kau mengenal teman viona? Kau bisa tanyakan padanya"
Aditya tercenung mendengar ucapan Cahya dan sedikit meragu dengan usulnya. "Sebenarnya Viona adalah sahabatnya Erica, tapi tidak mungkin sayang kalau aku harus menghubungi Erica, dia saja sudah menghilang entah kemana"
"Selain Erica pasti ada yang lain, cobalah mengingat sesuatu"
Aditya diam dan mencoba mengingat sesuatu. Cukup lama dia terdiam sampai akhirnya dia mengambil ponselnya dimeja dan mencari sesuatu disana. Lalu menaruh ponselnya ditelinganya menelepon seseorang. Butuh beberapa kali dia menghubungi nomor itu tapi tidak ada jawaban, sampai akhirnya dipanggilan ke lima, nomor itu terjawab juga.
"Halo Jeslyn, ini aku Adit kau masih mengingatku kan?" Aditya tampak diam sejenak mendengarkan jawaban dari orang yang dihubunginya.
"Aditya, aku yang dulu pernah bertemu denganmu di pesta ulang tahunmu, aku datang bersama Erica"
"Iya, aku juga pernah menghubungimu untuk reservasi disalah satu cafe milikmu jadi aku masih menyimpan nomormu, Jes aku ingin bertanya padamu apa kau masih sering berhubungan dengan Viona mengingat kalian berteman cukup lama"
Cahya memberi kode ke Aditya agar menyalakan speaker ponselnya dan mendengar percakapan mereka. Aditya pun mengaktifkannya, terdengar suara perempuan itu menjawab pertanyaan Aditya.
"Viona? Kenapa kau malah menanyakan Viona bukan Erica hahaha"
"Aku ada keperluan penting dan mendesak dengannya, tetapi aku sangat sulit menghubunginya, apa kau tahu dia sekarang dimana?"
"Waduh, aku sudah lama tidak berhubungan dengannya, mengingat dia juga sudah lama tidak tinggal disini, tapi apakah sepenting itu Dit?"
"Ya begitulah Jes, apa kau bisa membantuku menemukan keberadaannya, info sekecil apapun aku sangat membutuhkannya, ini benar-benar urgent dan tidak ada waktu banyak untuk menunggu"
Lama Jeslyn diam dan kemudian mengiyakan permintaan Aditya. "Oke, aku akan mencoba menghubungi teman-teman yang lain, mungkin mereka tahu, dan jika aku mendpaatkannya, aku akan menghubungimu"
Aditya lalu menutup teleponnya, berharap semoga usahanya menghubungi Jeslyn membuahkan hasil dan menemukan keberadaan Ariel atau Viona.
****
Keesokan harinya, Aditya masih belum mendapatkan kabar apapun tentang Ariel atau Viona, semalaman dia menunggu dan Cahya juga tidak bisa tidur dengan nyaman. Aditya tidak hentinya mengumpat karena Ariel juga masih mematikan ponselnya. Takut Cahya terlalu khawatir akhirnya Aditya memutuskan untuk mengajaknya ke kantor.
Cahya duduk disofa sambil membaca majalah, sedangkan Aditya sedang sibuk berdiskusi dengan Danist membahas tugas dan seluruh pekerjaan yang harus dihandle oleh Danist nantinya. Tak terasa jam sudah menunjukkan sudah pukuk 10 lewat sampai akhirnya Aditya teralihkan oleh suara ponselnya yang berdering dan menemukan Jeslyn menghubunginya.
"Sayang, Jeslyn menghubungiku" Suara Aditya mengalihkan pandangan Cahya yang tadinya terfocus pada majalah yang dibacanya. Cahya berdiri menghampiri Aditya dan segera memintanya mengangkatnya dan mengaktifkan loud speakernya.
"Halo Jes, gimana sudah dapat info?" Tanya Aditya.
"Iya Dit, barusan temanku memberitahuku jika Viona sedang melakukan live di salah satu medsosnya, dia sedang liburan di Aussie sepertinya"
"Iya Dit, dan terlihat dari screenshoot yang diambil temanku itu, dia sedang bersama laki-laki, tapi kurasa aku pernah melihatnya, sebentar aku kirimkan padamu"
Tak butuh waktu lama, foto itupun terkirim, bergegas Aditya membukanya, betapa terkejutnya dia dan Cahya melihat itu. "Itu Ariel......!!" seru Cahya kemudian.
"Ariel?? Ariel mantan kekasihnya? bukankah kudengar dia sudah menikah" Sahut Jeslyn diujung telepon yang masih tersambung.
"Brengsek....!!! Apa dia sudah gila, disaat seperti ini malah bersenang-senang dengan perempuan lain, ah Ya Tuhan.....!!!" Aditya berteriak keras karena sangat kesal.
"Ada apa sebenarnya Dit?" Tanya Jeslyn.
"Ceritanya sangat panjang Jes, aku akan menceritakannya nanti, thanks Jes atas bantuannya"
Aditya pun menutup teleponnya, Cahya mulai panik dan menangis. "Sayang, ayo kita ke Jakarta sekarang, kita harus bertemu Elea, ini buruk ini berarti Ariel tidak akan datang ke persidangan itu, Elea kita harus menemuinya aku tidak ingin ada hal yang buruk terjadi padanya mengingat ucapannya kemarin, ayo" Cahya benar-benar panik dan menyeret Aditya untuk segera pergi dari kantor.
"Oke, tenanglah sebentar, oh iya Dan, sorry aku dan istriku harus pergi, kau pelajari saja berkas-berkasnya kalau ada yang kau tidak mengerti kita bisa membahasnya esok hari"
Danist menatap kepergian Aditya dan Cahya dengan kebingungan. Mendengar mereka berdua menyebut Elea, dia jadi teringat dengan perempuan kemarin yang ditolongnya saat dia terjatuh, saat itu istri bosnya menanyakan keadaan perempuan itu dengan berkata "Elea apa kau baik-baik saja"
"Ah mungkin telah terjadi suatu hal pada perempuan itu, wajahnya kemarin juga terlihat seperti orang yang baru saja menangis, sangat disesalkan sekali ada pria yang melukai hatinya padahal dia terlihat sangat cantik, payah sekali pria bernama Ariel itu" Gumam Danist pelan.
****
Akhirnya Cahya dan Aditya sampai di apartment Elea, dan mereka berdua turun dari mobil. Sepanjang perjalanan Cahya terus menghubungi Elea tetapi tidak mendapat satu jawaban pun membuatnya semakin khawatir berharap sahabatnya itu tidak melakukan hal yang bisa mencelakai dirinya. Tak disangka ternyata Aditya memarkir mobilnya tepat berhadapan dengan mobil milik Elea.
"Sayang, biarkan aku masuk sendiri dan kau tunggu disini berjaga-jaga, jika kita masuk bersamaan bisa saja Elea keluar dari sini dan kita tidak tahu, nanti saat sampai disana aku akn menghubungimu" Ucap Cahya dan Aditya langsung menyetujuinya.
Sampailah Cahya disana dan menekan tombol intercom apartment Elea, lama tidak ada jawaban dari dalam dan Cahya terus mencobanya. Akhirnya pintu terbuka dan kondisi Elea terlihat sangat kacau dengan rambut yang acak-acakan dan matanya sembab. Cahya langsung memeluk sahabatnya itu, dan tangisan Elea pecah dipelukannya.
"Semua sudah berakhir Ca, suamiku meninggalkanku, hidupku berakhir Ca"
"El, tenanglah, ayo kita masuk dulu" Cahya merangkul Elea dan membawanya masuk ke tempat tidurnya.
Cahya mengambil ponselnya dan menghubungi Aditya agar segera naik karena Elea ada didalam apartmentnya.
"Semua sudah berakhir, tidak ada yang tersisa lagi, kenapa Ariel melakukan ini padaku, suamiku yang aku cintai telah menghancurkan hidupku dan meninggalkanku"
"Tidak El, semua tidak berakhir, kau masih bisa melanjutkan hidupmu dengan baik, biarkan saja Ariel meninggalkanmu tapi tidak dengan kami semua yang menyayangimu"
"Bagaimana aku harus menjelaskan semuanya pada orangtuaku, aku yang dulu meyakinkan mereka agar menerima Ariel menjadi menantunya tetapi ternyata? Bagaimana Ca, aku telah mengecewakan mereka" Elea semakin terisak karena memikirkan orangtuanya.
"Aduuuhhh kepalaku pusing sekali" Teriak Elea memengang kepalanya sambil meringis kesakitan.
"Ya Tuhan, sebentar, apa ada obat El, dimana kau menaruhnya aku akan mengambilnya"
"Ada dilaci pertama Ca"
Saat Cahya beranjak dari tempat tidur, suara intercom berbunyi dan dia segera membuka pintunya, dan menyuruh Aditya untuk masuk. Cahya menyuruh Aditya mengambilkan air untuk Elea karena Elea sedang sakit kepala dan dia sendiri akan mengambilkan obat.
Cahya membuka laci yang tadi ditunjukkan Elea lalu menemukan obat-obatan disana. Cahya terlihat tidak asing dnegan obat-obatan itu sampai beberapa saat kemudian dia tersadar bahwa dia pernah mengkonsumsi obat itu beberapa waktu yang lalu. Cahya membawa obat-obat itu ke Elea dan matanya menatap tajam kearah Elea.
"El, obat-obat ini, aku sangat mengenalnya, aku pernah mengkonsumsinya beberapa bulan yang lalu, katakan padaku El apa kau sekarang...??? Jangan katakan jika saat ini kau sedang hamil"
Sontak Aditya yang sedang berdiri membawa gelas berisi air terkejut mendengar ucapan istrinya dan hampir saja menjatuhkan gelas yang dibawanya. Elea terdiam menatap Cahya, dan matanya mulai berkaca-kaca.