
Elea berjalan mendekati Ariel dengan tatapan penuh kemarahan. "Tidak.....!! Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak lagi datang kesini....! Kenapa kau masih memaksa, pergilah...!"
Ariel diam tetapi dia memilih membalukkan tubuhnya untuk pergi, mungkin apa yang dikatakan Maysa semalam hanyalah keinginan dari Gienka sendiri atau mungkin putrinya itu asal berbicara saja.
"Tunggu Iel....!!"
Teriakan Danist membuat langkah Ariel terhenti, Elea juga langsung menengok ke arah Danist.
"Biarkan dia masuk? Aku yang memintanya kesini..!" Ujar Danist lagi.
"Kau yang memintanya?? Bagaimana bisa kau memintanya datang kesini...!" Tanya Elea keheranan.
"Gienka...! Semalam aku meminta Gienka agar memberitahu Ariel dan menyuruhnya kesini, masuklah Iel...!" Senyum Danist mengembang lagi diwajahnya.
Elea memundurkan langkahnya, dan Ariel perlahan masuk ke ruangan perawatan Danist dengan kepala sedikit menunduk.
"Aku senang kau baik-baik saja, duduklah" Danist tersenyum
Ariel tersenyum tipis, kemudian meraih tangan kiri Danist dan mencium punggung tangannya. Airmata Ariel tumpah dan tiba-tiba terdengar isakan darinya.
"Maafkan aku...! Aku juga sudah membahayakan nyawamu...! Harusnya kau tidak perlu menyelamatkanku...!" Ucap Ariel diselingi dengan isakannya.
"Aku selama ini terlalu egois, selalu saja berkata buruk tentangmu, aku membencimu, tetapi kau sekalipun tidak pernah melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukakan padamu, kau justru melakukan sebaliknya, kau begitu perhatian kepadaku, kenapa kau melakukan itu??? Harusnya kau membenciku...!!"
Tangan kanan Danist mengusap pundak Ariel dengan lembut. Dia bisa mendengar dengan jelas isakan dan tangisan Ariel, menandakan bahwa adiknya itu benar-benar menyesali perbuatannya.
"Bagaimana bisa aku membencimu??? Kau adalah Ayahnya Gienka selain itu kau adalah Adikku, jangan pernah kau berpikir bahwa aku membencimu, aku tentu sangat menyayangimu Iel???"
"Adik??? Aku begitu buruk tetapi kenapa kau bisa menganggapku seperti itu...???"
Danist tersenyum. "Sikap buruk bisa di ubah, tetapi kenyataan bahwa kau Adikku itu tidak akan pernah berubah sampai kapanpun Iel, tidak akan pernah...! Kau akan selamanya menjadi saudarku...!"
"Mamaku telah melakukan kesalahan besar dan sudah menghancurkan kehidupan keluarga kalian, aku juga minta maaf untuk itu"
"Masalalu sudah berlalu, tanpa kkau minta maaf, aku dan Mama sudah memaafkan semua kesalahan dari Ayah ataupun Mamamu, mereka sudah tiada, tidak baik jika kita terus membahas kesalahannya karena itu hanya akan menghalangi jalannya disana, sudahlah....!!"
Ariel menyeka airmatanya dan tersenyum kepada Danist. "Bolehkah aku memelukmu???"
Danist mengangguk sambil tersenyum lebar. "Tentu saja...!"
Danist mengusap lembut punggung Ariel. Dia merasa bahagia sekali, akhirnya apa yang diinginkannya menjadi kenyataan. Ariel datang, dan memeluknya. Bahkan Ariel meminta maaf kepadanya dengan tangisan penuh penyesalan. Danist berharap ini jadi awal yang baik untuk hubungan mereka.
Ariel mengangkat tubuhnya dan memandang Danist dengan penuh keyakinan serta kembali memegang tangan Danist. "Aku janji, aku tidak akan pernah mengulangi kesalahanku lagi, aku ingin kita benar-benar bisa menjadi saudara, bolehkah aku memanggilmu kakak??"
"Terserah kau saja, kau juga bisa memanggil namaku saja..." Ujar Danist.
Ariel kembali memeluk Danist, dan entah kenapa saat ini hatinya merasa lega sekali. Seolah semua beban yang ada di pundaknya sudah terlepas. Ariel juga tidak berhenti bersyukur di dalam hati karena Danist mau memaafkannya, bahkan Danist juga menerimanya dengan baik. Dia benar-benar menyesal atas semua perilakunya pada Danist selama ini, bahkan dengan mudahnya lelaki itu juga memaafkan semua kesalahan mendiang Mamanya. Kali ini Ariel tidak akan pernah lagi menyakiti Danist, baik secara perkataan ataupun tindakan, dia sudah mendapatkan keluarga baru, seorang kakak yang begitu baik dan sangat pengertian serta menyayanginya.
Ternyata semua kejadian itu juga disaksikan oleh Aditya yang tengah menggendong Gienka di balik pintu. Aditya sangat bersyukur akhirnya kedua saudara itu sudah saling berpelukan, dan Danist benar-benar mau memaafkan Ariel. Semoga setelah ini Ariel tidak lagi melakukan kesalahan seperti kemarin-kemarin lagi dan dia benar-benar berubah.
Aditya menurunkan Gienka dari gendongannya dan menyuruh anak itu untuk mendekat ke kedua Papanya. Tadi Aditya meminta Gienka agar diam sebentar saat Ariel dan Danist sedang berbicara berdua. Dan anak itu menurut sekali.
"Papa....!!!" Gienka berlari mendekat, panggilan itu membuat Ariel, Elea dan Danist secara bersamaan menoleh.
Ariel berdiri dan langsung mengangkat Gienka kemudian menciuminya. Beberapa hari ini dia sudah meninggalkan putrinya itu untuk menenangkan diri tanpa menerima telepon dari siapapun dan sudah tentu dia sangat merindukannya.
"Papa Yel kemana, kok tidak meneleponku? Apa Papa Yel tidak kangen aku???"
Ariel mencubit pipi Gienka dengan gemas. "Maafkan Papa Iel ya?? Papa sibuk sekali dan tentu saja Papa Iel sangat rindu sekali dengan Gienka yang cantik ini!"
Ariel kemudian membawa Gienka mendekat ke Danist, memegang bocah itu dan membungkukkannya agar bisa mencium pipi Danist. Gienka mulai berceloteh tentang harinya dan apa saja yang dilakukannya dengan Kyra serta Kyros di apartemen Aditya. Danist dan Ariel hanya bisa tersenyum mendengarkannya.
"Kau datang hanya bersama Gienka Dit???" Tanya Elea.
Aditya menggeleng. Dia datang bersama Cahya serta si kembar hanya saja mereka bertiga saat ini sedang menunggu di mobil karena tidak mungkin jika membawa ketiga bocah-bocah itu kesini. Dan hanya Gienka yang dibawanya untuk bertemu Danist.
Aditya juga tidak lupa menanyakan tentang lerkembangan kesehatan Danist pada Elea. Tak lupa Aditya meminta agar Danist tidak perlu memikirkan pekerjaan dan fokus saja terhadap kesehatannya sampai benar-benar sembuh.
Ariel menghampiri Aditya dan mengajak sahabatnya itu untuk bicara diluar ruangan. Ariel ternyata meminta tolong kepada Aditya agar sementara masih bersedia untuk menjaga Gienka, karena dia masih harus pergi untuk mengurus pekerjaan penting dan akan kembali beberapa hari lagi.
"Jangan khawatirkan Gienka, dia akan baik-baik saja, dia senang sekali setiap hari bisa bersama Kyra dan Ky...! Iel...! Aku sangat senang kau benar-benar mau datang kesini"
"Aku sudah melakukan kesalahan besar dulu dengan menolak keinginan Danist agar aku bisa datang ke rumah sakit untuk menemui Ayah terakhir kalinya, aku benar-benar menyesali itu semua Dit, tetapi aku tidak ingin melakukan kesalahan yang kedua kalinya apalagi Danist sudah melakukan hal besar untukku, dia juga sangat menyayangiku, setelah pekerjaanku selesai aku bertekat untuk menjaganya, aku ingin selalu ada untuknya!"
Aditya menepuk pundak Ariel sambil tersenyum. "Itu bagus Iel. Aku harap kau jangan melakukan lagi kesalahan, aku sudah mengatakan padamu kan bahwa dia sangat menyayangimu, kau tidak sendiri lagi sekarang, kau punya saudara dan dia sangat menyayangimu jadi kau bisa berkeluh kesah padanya saat kau benar-benar butuh bantuan"