
"Almh. Mamamu pasti sangat menderita sekali menyaksikan semua itu didepannya"
"Jika aku mengingat semua itu hatiku terasa hancur sekali, Ayahku sudah menghancurkan keluarganya sendiri dan Mama jadi korban yang pertama setelah itu diriku, aku tidak akan lagi mempercayainya"
"Lalu bagaimana dengan wanita itu setelah Mamamu meninggal??" Tanya Maysa.
"Ayahku menikahinya membuatku semakin murka dan aku tidak pernah pulang sejak saat itu, tetapi tak lama kemudian aku mendengar dia menceraikan wanita itu berharap agar aku kembali pulang, tetapi aku tetap tidak pernah kembali, dan yang aku dengar wanita itu sebenarnya adalah janda, suaminya meninggal sudah lama dan mereka memiliki seorang anak perempuan ya mungkin umurnya tidak jauh berbeda denganku, kadang aku berpikir dia seorang ibu dan memiliki anak perempuan tetapi dia tidak berpikir bahwa bisa saja nanti anaknya juga akan mengalami penderitaan yang sama mungkin seperti Mamaku"
Maysa mencoba mengerti Ariel saat ini pasti dalam keadaan yang sangat buruk. Ariel menghabiskan gyoza yang tadi dia beli, tampaknya lelaki itu sangat lapar. Maysa menyuruh agar Ariel mandi sementara dia akan memesan makanan, karena dia sendiri merasa sangat lapar setelah kembali dari kantor. Setelah memesan makanan, Maysa pun bermain ponsel sambil menunggu orderan makanannya datang.
Hingga akhirnya Maysa mengambil makanan yang tadi di pesannya di lobi dan kembali naik menuju apartemen Ariel. Saat sampai disana ternyata Ariel masih belum keluar dari kamarnya, Maysa pun menyiapkan makanan itu di meja makan sambil menunggu Ariel selesai mandi. Saat sedang sibuk menyiapkan piring, terdengar suara interkom berbunyi tanpa pikir panjang dan tanpa mengecek Maysa langsung membuka pintu apartemen Ariel. Tak diduga ternyata Ayah Ariel yang datang, Maysa tahu itu adalah Ayah Ariel karena dia pernah mendatangi kantor Aditya sebelumnya.
"Kau??? Kau Sekretaris Aditya kan???" Tanya Pak Andi yang sedikit terkejut karena bertemu Maysa.
"Iya pak!" Jawab Maysa singkat.
"Astaga, sorry sorry sepertinya aku salah unit, aku pikir ini apartemen Ariel"
"Ini memang apartemen pak Ariel, dia sedang mandi di dalam" Maysa kemudian mempersilahkan pak Andi untuk masuk, dia sebenarnya merasa tidak enak jika harus menyuruhnya untuk menunggu diluar, tetapi Ariel nanti pasti akan marah kepadanya karena menyuruh Pak Andi untuk masuk.
Melihat ada Maysa ditempat ini, Pak Andi pun langsung bisa menyimpulkan jika sepertinya Ariel memiliki hubungan khusus dengan perempuan ini. Dia pun sangat memahaminya. Maysa kemudian mempersilahkannya untuk duduk sembari menunggu Ariel.
"Sayang, apa makanannya sudah dat....." Ariel belum menyelesaikan perkataannya tetapi terdiam saat melihat Ayahnya duduk di ruang tamu.
Wajah Ariel yang tadinya tersenyum seketika berubah menjadi datar tetapi tatapannya sangat tajam ke arah Ayahnya. Sedangkan Maysa tengah membawa nampan berisi teh untuk ayah Ariel.
"Seharian ini Ayah ada dikantormu tetapi ternyata kau tidak datang, padahal Ayah sudah menunggumu sejak pagi" Ujar pak Andi.
"Kenapa kau kesini???" Tanya Ariel dengan nada ketus.
"Tentu saja Ayah ingin menemuimu, setidaknya kita bisa bercakap-cakap sebentar saja, ayah ingin menjelaskan semuanya Iel"
"Pergilah dari sini, aku tidak ingin mendengarkan apapun darimu, kau pembohong besar, aku sangat menyesal kemarin sudah menerima maafmu, kau memang Ayah terburuk, sekarang pergilah dari sini...!!!" Teriak Ariel dengan penuh kemarahan.
Pak Andi berdiri dan melangkah untuk mendekati Ariel tetapi dengan cepat Ariel menghentikannya dan tetap menyuruhnya untuk pergi dari apartemen ini. Pak Andi tetap berusaha ingin mengajak putranya itu untuk berbicara tetapi itu justru semakin membuat Ariel marah bahkan mengancam akan memanggil security jika Ayahnya itu tetap tidak mau pergi dari apartemennya. Sementara Maysa hanya diam terpaku melihat Ariel yang begitu marah kepada Ayahnya.
Akhirnya dengan langkah gontai, pak Andi pun pergi dari apartemen Ariel. Memang akan sangat sulit jika Ariel sudah marah seperti ini, dan dia pun tidak lagi bisa berbuat apa-apa ataupun hanya sekedar menjelaskan itu sepertinya tidak akan berhasil.
Maysa mendekati Ariel dan meminta maaf karena dia lah yang menyuruh pak Andi masuk ke apartemennya sehingga memicu kemarahannya. Ariel tidak marah kepada Maysa tetapi mengingatkan agar sebelum membuka pintu mengecek lebih dulu siapa yang datang. "Sekarang kita makan, aku sudah menyiapkannya, kau pasti lapar sekali kan???" Gumam Maysa.
"Nafsu makanku sudah hilang, kalau kau mau lapar, makan saja" Ucap Ariel.
"Aku akan makan bersamamu, tak apa jika kau masih belum ingin makan, sekarang duduklah, aku membawa es kopi kesukaanmu yang tadi sengaja ku beli agar kau bisa lebih baik lagi" Maysa menarik Ariel dan menyuruhnya untuk duduk di sofa sementara dia akan mengambil minuman yang ada di meja makan.
Maysa kembali dan duduk disebelah Ariel kemudian memberikan es kopi latte kesukaan Ariel. Senyum Ariel mengembang lagi dan langsung menyeruput minuman berwarna cokelat muda itu. Sementara Maysa meminum milkshake yang dipegangnya.
"Apa yang harus ku lakukan agar kau mau segera makan??? Aku tahu kau lapar sekali kan???" Tanya Maysa.
"Kenapa kau sangat mengkhawatirkan diriku???"
"Aku tidak ingin kau sakit, semua permsalahanmu bisa diselesaikan tetapi jangan lupa kalau kau harus menjaga kesehatanmu, wajahmu masih pusat, baiklah jika kau tidak mau makan aku akan mengambilkanmu pisang dan susu, kau tunggu sebentar" Maysa meletakkan minumannya diatas meja dan berdiri tetapi dengan cepat Ariel menarik pergelangan tangannya hingga membuat Maysa jatuh tepat dipangkuan Ariel.
Mereka berdua saling bertatapan, Ariel menyibak rambut Maysa yang menutupi mata perempuan itu lalu tersenyum. "Kau mau kemana?? Kopi yang kau beli ini sudah membuat moodku sedikit membaik, terima kasih"
Ariel mendekatkan wajahnya ke wajah kekasihnya itu. Maysa memejamkan matanya. Bibir Ariel menyentuh bibir Maysa, bibirnya yang awalnya dingin menjadi hangat saat bersentuhan dengan Maysa. Dengan lembut Aeiel mengecupnya. Sisi bibirnya kemudian membuka bibir Maysa, dan Ariel memagut bibir bawah Maysa. Ariel menyesapnya dengan lembut merasakan kemanisan disana. Maysa meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Ariel dan menerima ciuman lelaki itu.
Ciuman Ariel sangat luar biasa, Maysa sebelumnya tidak pernah merasakan kelembutan seperti ini. Lelaki itu mencium bibirnya dengan penuh kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Lidah Ariel menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Maysa dan berjalinan disana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.
Ariel memegang punggung Maysa dan membaringkannya di sofa panjang itu dengan tidak melepaskan ciumannya. Dan kini tubuh Ariel menindih Maysa, mereka berdua masih saling menikmati kemanisan bibir mereka. Jemari Ariel tidak mau diam begitu saja, dengan perlahan Ariel mengarahkannya ke gundukan di dada Maysa yang kenyal itu, dengan lembut dia menggenggamnya, kemudian bermain disana membuat Maysa terus mengerang karena sensasinya.
Mereka terlonjak karena ada suara interkom. Dengan cepat Ariel mengangkat tubuhnya dari atas Maysa. Dengan cepat Maysa menutup kembali kemejanya lalu tertawa, sedangkan wajah Ariel berubah menjadi marah lagi. "Shiiiittt mengganggu saja, mau apa lagi dia datng kesini padahal tadi sudah ku usir" Gumam Ariel dengan kesal lalu berdiri.
Ariel melihat siapa yang datang, dia mengira itu Ayahnya tetapi ternyata bukan, melainkan Randy yang berdiri di depan pintu apartemennya. Ariel kemudian menyuruh Maysa ke kamar dan merapikan rambutnya yang berantakan karena Randy yang datang, tentu dia tidak ingin sahabatnya itu melihatnya dan Maysa dalam keadaan seperti ini. "Randy sialann, kenapa juga dia datang, mengganggu saja!!" Gerutu Ariel dalam hati, sementara Maysa berlari masuk ke kamar Ariel.
"Ada apa???" Tanya Ariel ketus, dia tidak membuka seluruh pintunya.
"Kau kenapa?? Aku datang tidak menyambutku malah memasang wajah seperti itu, setidaknya biarkan aku masuk, lihatlah apa yang ku bawa, minggir" Ucao Randy dan menyingkirkan Ariel yang menghalangi pintu.
"Jika kau datang hanya untuk membahas tentang semalam, lebih baik kau pergi saja jangan membuatku semakin kesal"
"Aku tidak ingin membahas kejadian itu, itu urusan keluarga kalian, aku datang untuk mengajakmu minum, aku membawa champagne, tadi pagi temanku memberikannya padaku, dia baru pulang dari Amerika, minggirlah!" Randy langsung mendorong Ariel dan masuk begitu saja.
Randy tidak langsung duduk di ruang tamu tetapi berjalan menuju dapur, dia mengernyit menemukan ada makanan yang sudah tertata di meja makan juga ada 2 piring disana serta gelas. "Kau baru mau makan?? Kenapa ada 2 piring dan 2 gelas, eitss ada tas perempuan juga, tas siapa itu? Dan kau akan makan dengan siapa???" Tanya Randy.
Ariel menelan ludahnya dan wajahnya yang awalny jengkel berubah menjadi seperti orang yang salah tingkah. Tetapi kemudian Randy melirik ke pintu kamar Ariel karena handle pintu itu bergerak turun, sedetik kemudian Maysa keluar dari sana.
"Maysa kau ada disini???" Tanya Randy sambil menahan senyumnya.
"Eh pak Randy, selamat sore" Ucap Maysa, dia kemudian berjalan menuju meja makan untuk mengambil tasnya. "Aku akan kembali ke apartemen, jangan lupa makan makanannya" Maysa berucap mengingatkan Ariel.
"Kenapa buru-buru May, bergabunglah bersama kami"
"Tidak pak Randy terima kasih, saya lelah sekali, permisi" Maysa pun mempercepat langkahnya meninggalkan apartemen Ariel.
Randy mengangkat alisnya dan menatap Ariel dengan penuh kecurigaan. "Well aku minta maaf jika aku mengganggu kalian berdua, aku akan pergi sekarang!"
"Telat brengs*k....!!!" Teriak Ariel dengan jengkel membuat Randy langsung tertawa terbahak-bahak.
"Sorry sorry...."
"Puas kau!!! Kenapa sendiri? Adit kemana, kau tidak mengajaknya?" Tanya Ariel.
"Adit masih di Bandung dia ada pekerjaan disana dan akan kembali beberapa hari lagi, aku tadi ke kantormu tetapi kau tidak ada disana jadi aku kesini"
"Aku ingin beristirahat sehari"
Randy mengambil gelas dan menuang champagne lalu memberinya ke Ariel. Mereka berdua pun duduk sambil menikmati champagne yang dibawa oleh Randy dan mengobrol.
******
Beberapa hari kemudian...
Danist menghentikan mobilnya di depan sebuah kantor pemasaran properti. Semalam dia dan Elea sudah kembali dari Bandung. Tujuannya datang ke tempat ini adalah untuk menemui manager pemasaran dan berdiskusi tentang rencananya yang ingin membeli rumah. Beberapa hari yang lalu Danist sudah dihubungi bahwa ada beberapa rumah yang dijual dan Danist diminta datang untuk melihat foto-foto rumah itu. Karena dia disibukkan dengan acara pernikahannya dia baru sempat datang hari ini.
Tetapi saat dia memasuki kantor itu, dia justru bertemu dengan Ariel dan berhadapan dengannya. Yang tidak diketahui Danist adalah bahwa kantor ini tidak lain adalah anak dari perusahaan milik Ariel. Ya sudah tentu, Ariel adalah pemilik dari perusahaan besar yang selain bergerak dibidang perhotelan dan memiliki puluhan restoran mewah, Ariel juga pengusaha properti dimana dia memiliki ratusan anak perusahaan baik untuk sekedar penjualan rumah ataupun perumahan.
"Hai kakak....!!!!" Sapa Ariel dengan senyum mengejek.
Danist tidak menjawab dan hendak berlalu begitu saja tetapi Ariel justru dengan sengaja menghalangi Danist dengan tubuhnya.
"Kau mau apa datang kesini??? Apa kau ingin menjual rumahmu?? Atau kau ingin melakukan persiapan membeli rumah yang besar setelah kau mendapatkan warisan dari Ayahku, ups maksudku Ayahmu juga, diskusikan saja dengan manager disana jangan khawatir aku akan memberi harga khusus untukmu, kau kan kakakku, ya meskipun kau kakak yang tidak sah hahaha" Ariel tertawa tetapi Danist tidak bereaksi apapun.
Danist kemudian mengerti bahwa ternyata ini adalah milik Ariel, dia salah tempat sepertinya. Lebih baik dia mencari kantor pemasaran lain saja. Danist kemudian membalikkan badannya dan hendak meninggalkan Ariel, dia tidak ingin terlibat masalah lagi dengan lelaki itu.
"Kau mau kemana kakakku sayang!!!" Ariel berlari mengejar Danist dan berdiri di depannya lagi menghalangi jalan Danist.
"Kenapa kau meninggalkan adikmu begitu saja, setidaknya kita bisa membeli kopi di cafe depan sana dan bercakap-cakap mungkin tentang Gienka keponakanmu, atau kita bisa membahas tentang Elea, mantan istriku yang sekarang jadi istrimu, bagaimana rasanya memiliki istri Elea? Apa dia memuaskanmu saat di ranjang, kau harus berterima kasih kepadaku karena berkat akulah Elea bisa sangat pandai saat di ranjang, aku dulu mengajarinya dengan sangat baik, kau tahu dia dulu sangat malu-malu tetapi aku suka, semakin hari dia mulai terbiasa karena aku selalu mengajarinya agar bisa menjadi istri yang baik saat melayani suaminya, btw setiap weekend aku tidak pernah membiarkannya keluar dari apartemen, aku dan dia tidak pernah lelah untuk melakukannya saat kami sedang libur, lalu bagaimana denganmu??? Apa kau juga tidak membiarkannya keluar dari kamar saat hari libur???" Tanya Ariel kemudian mengangkat alisnya sambil tersenyum untuk mengejek Danist.