SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 352



Klik....!


Bunyi pintu ruang kerja yang dibuka dari luar membuat Ariel mengarahkan pandangannya kesana.


"Molning Papa Yel" Sapa Gienka dengan langkah kaki kecilnya yang begitu menggemaskan membuat Ariel tersenyum melihatnya.


"Good morning my bunny, kau sudah bangun??? Anak rajin" Puji Ariel.


Gienka mendekati Ariel yang sedang duduk di kursi dan langsung memeluk serta mencium pipi sang Papa. Ariel mengangkat putrinya itu dan membuatnya duduk di atas pahanya. Sejak kemarin Elea menitipkan Gienka padanya karena dia harus pergi keluar kota bersama Mamanya dan Danist juga Friddie adik Gienka yang saat ini sudah berusia 5 bulan. Elea ingin mengajak Gienka tetapi bocah itu menolaknya dan mengatakan ingin dirumah saja bersama Ariel, jadi Elea akhirnya mengantarnya kesini.


Sebenarnya sejak Gienka berumur 3 tahun Elea sudah mengijinkan putrinya itu untuk menginap dirumah Ariel membuat Ariel sangat senang dan enggan untuk berpindah-pindah tempat tinggal lagi. Setiap hari dia selalu bisa bertemu dengan Gienka, bahkan Ariel juga selalu menjemputnya dari sekolah dan membawa putri kecilnya itu ke kantor. Di kantornya, Ariel membuatkan tempat khusus untuk Gienka bermain di dalam ruangannya. Putrinya itu tidak pernah merepotkannya sama sekali saat ada di kantornya bahkan banyak staffnya yang menyukai Gienka dan sering membawakan berbagai mainan, terkadang cokelat dan permen karena Gienka adalah tipe anak yang mudah sekali dekat dengan orang lain dengan hanya beberapa kali bertemu saja.


"Bisakah Papa Yel membuatkanku omelete?" Bisik Gienka di telinga Ariel.


"Kau ingin omelete???"


"Ya....!!! Omelete dengan sosis dan kacang polong"


Ariel menurunkan Gienka dari pangkuannya dan memegang kedua bahu putrinya itu. "Okay! Papa Yel akan membuatkan Gie omelete tapi...??? Gie harus mandi lebih dulu, menggosok gigi dan memakai pakaian yang rapi karena setelah sarapan, Papa Yel akan mengajakmu jalan-jalan, oke??"


"Oke" Jawab Gienka polos lalu mentoel hidung Ariel.


Tidak lupa Ariel mengingatkan agar Gienka mandi dengan benar dan tidak bermain air, karena terkadang bocah itu selalu sibuk bermain air hingga tidak keluar-keluar dari kamar mandi. Ariel mengantar putri kecilnya kembali ke kamarnya dan melepaskan semua pakaiannya. Gienka berlari masuk ke kamar mandi, kemudian Ariel menyiapkan pakaian lebih dulu sebelum dia ke dapur dan membuatkan sarapan untuk putrinya itu.


Tidak ada hal yang membahagiakan di hidup Ariel selain Gienka. Semua permasalahan yang dihadapinya dulu seolah terlupakan begitu saja saat dia bisa dekat dengan putrinya walaupun dia sendiri masih enggan untuk berbaikan dengan Danist. Ariel hanya berdiskusi dengan Elea untuk perkembangan Gienka, baru setelah itu Elea yang mengatakan semuanya pada suaminya. Bagi Ariel kenyataan tentang hubungan persaudaraannya dengan Danist tidak terbantahkan lagi tetapi hatinya masih tidak menerima itu. Ketika dia berada di rumah Elea dan Danist melihat kedatangannya, lelaki itu selalu memilih pergi, itulah yang selama ini terjadi.


Dan tentang Ayahnya, Ariel sudah memutuskan semua hubungan dengannya. Ariel juga tidak mau tahu tentang hal apapun yang berhubungan dengan Ayahnya, entah bagaimana juga perkembangan tentang warisan itu yang dia tahu Danist sampai detik ini masih bekerja di perusahaan teh milik Aditya bersama dengan Elea. Dia sempat menyimpulkan bahwa mungkin Danist benar-benar menolak semua itu, tetapi ayahnya itu terkadang masih datang ke rumah Danist untuk menemui Gienka. Beberapa kali Ariel juga bertemu dengan ayahnya itu tetapi dia langsung pergi dan mengabaikannya. Di awal-awal juga pria tua itu selalu berusaha untuk menemuinya tetapi karena terlanjur sakit hati, dan dia selalu menolak menemuinya sampai detik ini. Tetapi sudah beberapa bulan ini Ariel tidak lagi melihatnya datang ke rumah Danist.


****


"Papa Yel, aku sudah cantik..!!" Gienka memasuki ruang makan dengan pakaian yang disiapkan Ariel.


Ariel mendekati Gienka dan mengangkatnya agar duduk dengan mudah di kursi makan, setelah itu dia memberikan sepiring omelete buatannya untuk putri cantiknya itu juga segelas susu cokelat kesukaannya. Sebelum makan, Gienka menadahkan tangannya dan mengajak Ariel untuk berdoa lebih dulu. Setelahnya dia baru makan dengan begitu lahapnya menikmati setiap suapan makanannya. Ariel terdiam dan senyumnya tersungging dibibirnya melihat Gienka menjadi anak yang begitu ceria, cantik dan sangat menggemaskan.


Beberapa bulan yang lalu Ariel sempat mengenalkan seorang perempuan yang tengah dekat dengannya pada Gienka, putrinya itu cukup senang, sayangnya sebuah kejadian tidak mengenakkan terjadi. Waktu itu dia terpaksa meninggalkan Gienka sebentar bersama perempuan yang dekat dengannya itu untuk mengambil sebuah mainan di rumah Elea karena Gienka yang memintanya melakukan itu. Tak di duga perempuan itu melakukan hal yang sangat membuat Ariel murka. Entah apa yang terjadi, tetapi Gienka bercerita padanya dengan kepolosannya itu bahwa tidak sengaja dia menumpahkan jus di baju perempuan itu hingga membuatnya marah dengan meneriaki Gienka dan hampir saja memukulnya. Beruntungnya Ariel segera datang dan mencegahnya. Tanpa pikir panjang Ariel langsung memutuskan hubungan mereka, dan mengusir perempuan itu dari rumahnya. Sejak saat itu akhirnya Ariel memutuskan untuk tidak lagi mencari pasangan dan akan berfokus pada Gienka saja.


Ariel hanya ingin mencari perempuan yang selain bisa menerimanya juga harus bisa menerima Gienka, tetapi beberapa kali dia mendapatkannya, sikap mereka semua sangat tidak baik pada putrinya. Selain ada yang bersikap kasar pada putrinya, sebelumnya juga ada yang mengabaikannya saat Gienka ingin mengenalkan dirinya, ada yang secara terang-terangan mengatakan bahwa tidak bisa menerima kehadiran Gienka, ada juga yang mencoba selalu mengalihkan perhatiannya agar tidak fokus pada Gienka. Semua itu membuat Ariel menjadi tidak ingin lagi dekat dengan perempuan ataupun kembali menikah. Kebahagiaan putrinya lebih utama dibanding kebahagiaannya sendiri.


"Papa Yel, kemana kita akan jalan-jalan?" Tanya Gienka yang membuat Ariel tersadar dari lamunannya.


Ariel tersenyum. "Kita akan pergi ke rumah Ky dan Kyra kau bisa bermain dengan mereka, Papa ada urusan dengan Apapnya Kyra dan Ky? Apa kau suka papa Yel mengajakmu kesana???"


"Aku suka tapi.....???"


Dahi Ariel berkerut. "Tapi apa nak???"


"Ky selalu saja menciumku, dia selalu melakukannya saat di sekolah"


Kali ini Ariel tertawa mendengar pengakuan putrinya."Ky menciummu?? Kenapa dia melakukannya?"


"Saat aku membantunya, dia selalu mengatakan telima kasih kasih kemudian mencium pipiku, katanya itu yang selalu dilakukan Apapnya kepada Amamnya, jadi dia mengikutinya"


Kali ini Ariel di buat tertawa tertawa terbahak-bahak oleh cerita putrinya. Anak kecil selalu saja berkata jujur dalam segala hal. Ya memang Gienka bersekolah di sekolah yang sama dengan Kyra dan Kyros, begitu juga dengan Louis anak dari Randy dan Chitra hanya saja Louis satu kelas dibawah mereka bertiga. Mereka berempat juga bersahabat baik seperti halnya dia dan Aditya juga Randy.


"Baiklah, Papa Yel akan berbicara dengan uncle Adit agar dia bisa melarang Ky untuk tidak menciummu lagi hahaha, habiskan makananmu, lalu bermainlah sebentar karena Papa harus bersiap-siap"


"Apa Lou juga ada disana??"


"Hmmmm mungkin tidak, tetapi Papa akan menghubungi uncle Randy, agar membawa Louis kesana juga"