
"Kyra sepertinya demam, badannya panas, kurasa lebih baik kita batalkan saja rencana liburan kita" Cahya menghampiri Aditya diruang kerjanya. Siang tadi mereka baru sampai di rumah setelah menginap hampir seminggu di rumah Yongki.
Aditya menghentikan aktifitasnya dan berdiri, dia menyentuh dahi Kyra yang ada dalam gendongan Cahya. Tubuh putrinya itu memang terasa panas, mata Kyra juga sedikit sayu. Tidak mungkin juga besok mereka berangkat untuk liburan, Aditya pun menyutujui untuk membatalkan liburannya.
"Sekarang kita bawa saja ke rumah sakit"
"Aku sudah memberinya obat, jika besok tidak ada perubahan baru kita bawa ke rumah sakit!" Ujar Cahya.
"Kyros yang setiap malam mengajak bermain diluar tetapi malah Kyra yang jatuh sakit" Gumam Aditya.
"Mungkin karena Kyra kelelahan, kau tahu kan betapa aktifnya dia akhir-akhir ini sejak sudah bisa merangkak, aku sampai tidak ada waktu untuk istirahat karena selalu mengejar kemana dia pergi"
Aditya mencium kening Cahya lalu mengajaknya membawa Kyra ke kamar agar bisa beristirahat, sedangkan Kyros sudah tertidur sejak tadi.
Bukannya beristirahat, justru mereka terjaga selama semalam suntuk karena ternyata Kyra terus menangis dan tidak mau tidur padahal Cahya sudah sangat mengantuk dan lelah. Cahya menenangkan putrinya itu sedangkan Aditya mencoba memijit lembut kedua kaki Kyra.
Dari dalam kamar si kembar tiba-tiba terdengar suara tangisan Kyros, dengan cepat Aditya melompat dari sofa dan berlari. Kyra baru saja tertidur tetapi Kyros malah bangun dan menangis, suara Kyros bisa saja mengganggu adiknya dan membuatnya bangun lagi. Segera Aditya menggendong Kyros dan menenangkannya serta membawanya keluar dari kamar dan menyuruh Cahya untuk membawa Kyra masuk dan menutup pintu.
Karena hari sudah larut, tidak mungkin membawa Kyros keluar ke balkon, Aditya membuka tirai pintu kaca yang menghubungkan kamarnya dan balkon. Dia berdiri disana sambil menggendong dan menenangkan Kyros. Seperti biasa bayi itu sangat menyukai melihat bintang-bintang di langit malam, tidak butuh lama Kyros pun diam saat Aditya menunjuk ke arah bintang-bintang.
"Ky, lihat itu, satu dua tiga" Aditya menghitung 3 bintang yang tampak berjejer di langit dengan sinarnya yang cukup cerah dibanding yang lainnya.
"Yang Apap tahu 3 bintang yang ada disana itu adalah Planet Saturnus, Planet Jupiter dan planet Mars, malam ini mereka terlihat bersama, itu namanya konjungsi, mereka terlihat berdekatan tetapi sebenarnya jarak mereka sangatlah jauh sekali, planet Saturnus orang bilang itu planet yang sangat cantik karena memiliki cincin seperti jari Amam" Aditya tersenyum tetapi melanjutkan lagi ceritanya karena Kyros tampak selalu mendengarkan dengan baik apa yang dikatakannya walaupun bayi itu masih belum mengerti.
"Jupiter adalah planet terbesar di tata surya kita, selain besar dia juga suka menarik semua yang berani mendekatinya, nah kalaj yang terakhir adalah planet Mars, planet yang katanya bisa menggantikan bumi kita, sudah ada banyak sekali robot yang dikirim kesana untuk mengecek kondisinya dan bisa saja 20tahun ke depan Manusia yang akan dikirim kesana, apa Ky mau kesana?? Bisa saja asal Ky mau belajar yang rajin nanti"
"Mun...!" Ucap Kyros kemudian, membuat Aditya mengarahkan pandangannya ke putranya itu dan tersenyum, mungkin yang dimaksud Kyros adalah bulan. Beberapa kali Aditya sering membahas tentang bulan kepada Kyros dengan mengatakan Moon jadi bayi itu pun mulai bisa mengatakannya.
"Moon! Sudah banyak juga manusia yang pergi ke Bulan, apa Ky juga ingin kesana nanti??? Ummm tetapi Ky jangan khawatir, sebelum Ky kesana, Apap akan membelikan Ky teleskop yang bisa melihat bulan dengan jelas juga semua benda yang ada dilangit, sekarang sudah malam waktunya Ky tidur lagi, Ky tidur sama Apap disini, Kyra sedang sakit dan tidurnya sama Amam" Aditya kemudian membawa Kyros ke tempat tidur dan membaringkannya disana. Sedikit bersenandung dan menepuk pelan paha Kyros, bayi itu perlahan menutup matanya dan tidur.
******
Beberapa hari kemudian, Ariel datang ke kantor Aditya. Seperti biasa dia disambut oleh senyum cantik Maysa di depan ruangan Aditya. Tetapi kali ini menyapa Ariel tentu berbeda dari sebelumnya, Maysa sedikit malu-malu tetapi tetap bersikap profesional seperti biasa. Ariel menanyakan keberadaan Aditya, Maysa berdiri dan mengetuk pintu ruangan atasannya itu dan memberitahu perihal kedatangan Ariel. Setelah mendapat ijin Aditya, Maysa mempersilahkan Ariel untuk masuk.
Aditya menghentikan aktifitasnya dan menutup berkas yang tadi di bacanya lalu tersenyum mencela melihat kedatangan Ariel. "Seketika ruanganku berubah menjadi taman" Ejek Aditya.
Dahi Ariel berkerut. "Apa maksudmu???"
"Maysa mengetuk pintuku lalu menunjukkan wajah meronanya penuh bunga-bunga dan memberitahuku bahwa pujaan hatinya datang untuk menemui diriku, kau masuk dan hatimu juga tampak berbunga-bunga, jadilah ruanganku ini seprlerti taman bunga"
"Brengs*k..!!! Berhentilah mengejekku" Gerutu Ariel.
Aditya bangun dari kursinya dan menuju mini bar yang ada di ruangannya itu lalu mengambil brendi dan menuangnya untuk dirinya sendiri dan Ariel.
"Ada apa kau kesini??? Kau datang untuk benar-benar menemuiku atau itu hanya kau jadikan alasan untuk bisa bertemu kekasihmu?" Ejek Aditya lagi sambil mengulurkan gelas untuk Ariel.
"Setiap hari aku bertemu dengannya di apartemen lalu untuk apa aku menemuinya disini lagi, tentu aku ingin menemuimu dan membicarakan sesuatu!" Ucap Ariel.
Aditya duduk disebelah Ariel, dan mereka mulai membahas sesuatu. Ariel ternyata ingin meminta bantuan Aditya karena dia ingin melamar Maysa didepan Ibu Maysa yang akan datang kesini dalam beberapa hari lagi. Tentu informasi itu membuat Aditya terkejut, karena mereka baru berhubungan dalam beberapa minggu terakhir ini dan sekarang Ariel langsung memutuskan hal seperti itu dengan cepat. Tentu Aditya sebagai sahabat harus memastikan apakah Ariel benar-benar serius ingin melakukannya.
"Tentu saja aku yakin, sejak awal aku memang tidak main-main Dit, aku takut dosa"
Mendengar ucapan Ariel, Aditya justru tertawa terbahak-bahak. "Dosa???? Sejak kapan kau mulai takut terhadap dosa??? Hahaha"
"Ah diamlah kau! Aku serius dan kau malah bercanda, setelah lamaran tentu aku akan segera menikahinya, aku tidak mau menunggi lagi, kau tahu kan sudah berapa lama aku tidak melakukannya, ahhhh rasanya nyeri sekali....!"
"Elleeehhh.... Itu salahmu sendiri, sebelumnya kau sudah punya istri tetapi malah bermain, rasakan sekarang!"
"Diamlah...!! Kau mau tidak membantuku??? Aku tadi juga sudah memberitahu Randy"
Aditya menganggukkan kepalanya, tentu saja dia mau, Ariel dulu juga sudah membantunya saat dia ingin.menikahi Cahya. Dan pada pernikahan pertama Ariel, dia tidak bisa membantunya karena saat itu sedang berada di luar negeri. "Lalu apa rencanamu??? Kau ingin melamarnya dimana?? Mendatangi apartemennya???" Tanya Aditya.
"Kupikir aku akan menjamu mereka dengan makan malam di restoranku, berbincang dengan Mamanya lalu baru melamarnya, dan tentu aku tidak main-main, aku akan menutup restoranku dan hanya ada kita, Maysa dan Mamanya saja, ahhh aku semakin tidak sabar untuk bertemu dengannya, Mamanya pasti cantikk seperti Maysa" Ariel menggesek-gesekkan kedua telapak tangannya sambil membayangkannya.
Aditya hanya tersenyum melihat sahabatnya yang sedang berbahagia itu. Ariel pasti akan lebih bahagia lagi nantinya setelah melewati berbagai duri di dalam hidupnya selama ini. Berharap semoga Maysa menjadi pelabuhan terakhir Ariel dan mampu membawa Ariel menjadi lebih baik lagi.