SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 125



Elea mulai menangis lagi saat Cahya membahas kehamilan. Elea memeluk Cahya dan mengatakan bahwa memang dia sedang hamil saat ini dan usia kehamilannya masuk minggu ke sembilan. Cahya melepaskan pelukan Elea dan sekali lagi dia mentap tajam kearah sahabatnya itu.


"Apa Ariel tahu tentang ini?" Suara Cahya terdengar lugas dan tatapannya menajam.


Elea hanya menggelengkan kepalanya sambil terisak. Cahya menundukkan kepalanya tidak percaya, sedangkan Aditya hanya diam menatap kedua perempuan itu. "Bagaimana bisa El kau tidak mengatakannya, Astagfirullah El ini tidak benar El ini sangar tidak benar, seorang lelaki tidak bisa menceraikan istrinya yang sedang hamil, ya Tuhan Elea" Cahya mengguncang kedua bahu sahabatnya itu.


"Bagaimana bisa aku memberitahunya, sedangkan dia menutup semua akses komunikasi denganku dan katakan padaku kenapa kalian berdua datang menemuiku, apa kalian tahu sesuatu tentang Ariel? Katakan apa yang kalian ketahui?"


Cahya terdiam dan mengarahkan pandanganna ke Aditya, dia tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya Ariel lakukan saat ini dan dimana dia, itu pasti akan menambah kesedihan Elea.


"Ti...daakkk El, kami datang.... Hanya karena mengkhawatirkanmu saja, ya kan sayang" Cahya menjawab dengan terbata.


Elea melirik kearah Aditya lalu menatap Cahya menuduh. "Kau bohong Ca, aku sudah bersahabat lama denganmu, kau tidak pernah berbohong dan jika kau berbohong aku sangat mudah menebaknya, katakan apa yang terjadi, ayo katakan!!!" Elea setengah berteriak membuat Cahya sedikit terlonjak.


Cahya berdiri menghampiri Aditya dan menyuruh suaminya itu saja yang menceritakan semuanya. Elea mengarahkan pandangannya ke arah mereka berdua lalu terisak "Katakan padaku apa yang kalian ketahui, ku mohon" pinta Elea sambil menggabungkan kedua telapak tangannya dihadapan Cahya dan Aditya. Mau tidak mau akhirnya dengan terpaksa Aditya menceritakan semuanya tentang keberadaan Ariel sekarang dimana dan bagaimana dia mendapatkan informasi tentang itu.


Elea yang tadinya menangis tersedu-sedu tiba-tiba tangisannya itu berganti menjadi tertawa. Dia mengusap kasar airmatanya yang menetes dipipinya.


"Hahaha ini sangat lucu, dan sekali lagi aku seperti orang bodoh disini menyaksikan semua drama ini, astaga...! Sekali lagi aku menangisi seseorang yang sedangkan orang itu berbahagia diatas penderitaanku, kenapa bisa aku jatuh cinta dengannya, astaga"


Elea kembali terisak dan mengacak-acak rambutnya, Cahya langsung memeluk sahabatnya itu lagi menenangkannya. "Aku bodoh sekali Ca, Ariel sudah menghancurkan hidupku, aku sangat bodoh, aku harus pergi meninggalkan semua kekacauan ini" Ucap Elea dan langsung berlari menuju lemarinya, mengambil koper dan mengeluarkan semua pakaiannya.


Cahya menyusul dan mencoba menghentikannya dan menenangkan sahabatnya itu agar tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Elea kembali mengeluhkan kepalanya pusing dan berlari ke kamar mandi lalu muntah disana. Cahya menyusulnya sambil terus menenangkannya, dan setelahnya Elea merasakan kram diperutnya. Cahya bergegas membawa Elea kembali ke tempat tidurnya dan menyuruhnya untuk meminum obatnya agar kondisinya tidak semakin buruk. Aditya hanya bisa terdiam melihat betapa buruknya kondisi Elea saat ini dan rasanya dia ingin sekali menghajar Ariel jika nanti bertemu dengannya sudah membiarkan seorang perempuan mengalami hal semacam ini, dia tidak berhenti mengutuk Ariel.


"Sayang, kau harus segera memberitahu Ariel tentang ini, bagaimanapun caranya, dia tidak bisa membiarkan sahabatku seperti ini" Suara Cahya mengalihkan lamunan Aditya yang sedang duduk disofa.


"Tidaaakkk..... Adit! Kau tidak perlu melakukannya" Seru Elea.


"Tapi El?" Cahya mencoba membantah.


"Kalian berdua jangan melakukan apapun, atau aku akan marah pada kalian"


"Baiklah kami tidak akan melakukan apapun, sekarang kau beristirahatlah tenangkan pikiranmu agar tidak mempengaruhi bayimu, ayo berbaringlah" Cahya membantu Elea berbaring dan menyelimutinya.


Kurang dari 30 menit Elea sudah tertidur efek dari obatnya langsung bereaksi, semoga saat bangun nanti kondisi Elea bisa lebih baik lagi. Cahya menghampiri Aditya yang sejak tadi hanya diam dan seperti sedang menahan amarahnya. Cahya mengatakan pada Aditya bahwa mereka tidak bisa meninggalkan Elea dalam kondisi seperti ini, dan mereka harus mencari solusi untuk Elea. Cahya merasa sedikit lelah seharian ini dia belum beristirahat dan kemudian Aditya menyuruhnya untuk berbaring dipangkuannya saja agar tidak mengganggu Elea yang sedang beristirahat. Adity mengusap lembut kening Cahya dan tidak butuh waktu lama Cahya tertidur.


****


Cahya bangun dari tidurnya dan mengumpulkan kesadarannya, dia mengarahkan pandangannya ke atas dan menemukan Aditya tidur dengan menyendarkan kepalanya di punggung sofa. Lalu beralih ke arah Elea dan ternyata sahabatnya itu juga masih tidur. Cahya perlahan bangkit dari atas paha Aditya agar tidak membuat suaminya bangun tetapi ternyata bangun juga, karena memang Aditya adalah tipikal orang yang terjaga saat tidur.


"Aku lapar, aku akan cari sesuatu didapur mungkin bisa diolah" Cahya lalu beranjak menuju dapur yang ada di apartmen Elea.


Cahya membuka kulkas dan sedikit terkejut karena tidak menemukan apapun disana. Elea sepertinya tidak peduli dengan dirinya sendiri, yang Cahya tahu Elea adalah orang yang menyukai memasak dan tidak pernah membiarkan dapur atau kulkasnya kosong bahkan jarang makan diluar jika tidak sedang malas. Cahya kembali menghampiri Aditya yang masih duduk disofa.


"Aku tidak menemukan apapun dikulkas, bisakah kau pesan makanan diluar saja, sepertinya Elea juga belum makan sejak tadi"


"Baiklah aku akan keluar, Kau mau aku memesan apa?" Tanya Aditya.


"Didekat sini ada resto seafood, dulu aku dan Elea sering kesana karena olahan seafoodnya sangat enak, kau kesana ya, namanya Adore Seafods"


"Oke sayang, aku berangkat, nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi aku oke?" Aditya pun keluar untuk membelikan istrinya makanan, dia juga merasa sangat lapar.


****


Elea terbangun dan duduk bersandar di ranjangnya, ada suara dikamar mandi sepertinya Cahya masih ada disini, pikirnya. Lama Elea diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga tidak sadar Cahya sudah berdiri disisi ranjangnya dan menegurnya menanyakan keadaanya. Elea merasa sudah lebih baik dari sebelumnya dan meminta maaf pada Cahya atas sikapnya tadi dan karena sudah merepotkannya.


Disaat Elea sedang berada dikamar mandi, Aditya datang membawa papper bag berisi makanan yang dibelinya. Cahya langsung mengajak suaminya itu menyiapkan makanannya dimeja makan. Saat semua sudah siap, Elea keluar dari kamar mandi dia mencium aroma makanan yang sangat dikenalnya.


"El, duduklah ayo kita makan, Adit sudah membelikan makanan kesukaan kita dari Adore Seafoods, kau pasti belum makan kan?" Cahya menghampiri Elea dan mengajaknya ke meja makan.


Cahya mengambil piring dan mengambilkan makanan untuk Elea dan juga Aditya. Elea pun memakan makanan itu, tidak bisa memungkiri jika memang dia sangat lapar bahkan sejak pagi perutnya belum terisi oleh apapun hanya 1 buah apel yang dia makan tadi. Cahya tersenyum melihat sahabatnya itu mau makan.


Setelah menghabiskan makanannya, Elea mengarahkan pandangannya ke Cahya dan Aditya.


"Ca, bisakah kau membantuku berkemas setelah ini" Ucapnya pelan.


"Berkemas? Memangnya kau mau kemana El?" Tanya Cahya bingung.


"Aku ingin pergi jauh dari sini dan memulai kehidupanku yang baru lagi, aku tidak mau masalaluku terus membayangiku dibelakang jika aku terus berada disini, aku juga akan resign dari Direct Publisher"


"Lalu kau akan pergi kemana El??"


"Aku tidak tahu, yang jelas aku ingin segera pergi dari sini dan menjauh dari semuanya, aku ingin hidup tenang bersama bayiku dan membesarkannya sendiri"


Elea lalu beranjak dari tempat duduknya dan membawa piringnya ke wastafel. Cahya memandang Aditya dengan sedih. "Sayang, ayo lalukan sesuatu, aku tidak tega jika Elea pergi dalam keadaan seperti ini! Bagaimana kalau nanti terjadi apa-apa dengannya?" Bisik Cahya ditelinga Aditya.