SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 220



"Erica!! Kenapa kau mengirimkan paket berisi bangkai kepada istriku lagi??? Kenapa??? Apa masalahmu dengannya??"


"Mengirim paket?? Ya ampun itu sudah berlalu lebih dari setahun kenapa kau mempermasalahkannya lagi?? Oh iya btw happy belated birthday to you Adit sayang, apa kau ingin hadiah istimewa dariku? Masuklah!" Erica memegang tangan Aditya tetapi kemudian langsung ditepis.


"Kalau sampai kau melakukannya lagi, aku tidak akan mengampunimu, ayo Ran kita pergi!"


Aditya dan Randy pergi meninggalkan rumah Erica. Randy berpikir sepertinya ini bukan ulah Erica mengingat ekpresi perempuan itu yang malah justru membahas kejadian teror sebelumnya, tetapi dia juga tidak boleh mempercayai begitu saja perempuan itu, mengingat Erica sangatlah pandai dalam memanipulasi. Randy mengingatkan Aditya agar tidak buru-buru menyalahkan Erica tetapi juga tidak boleh sepenuhnya mempercayai ucapannya dan juga lebih waspada jika kejadian ini terulang lagi baru memgambil langkah selanjutnya karena dia takut ini hanya sebuah keisengan saja.


"Oh iya Dit, bukannya didepan rumah kau menaruh cctv, kenapa kita tidak mengeceknya?"


Aditya menepuk keningnya, kenapa dia tidak terpikirkan hal itu. "Astaga aku benar-benar lupa"


Akhirnya mereka sampai dirumah, Aditya menanyakan pada securitynya kira-kira pukul berapa orang itu mengirim paket. Setelah mengetahui, Aditya mengajak Randy untuk ke ruangan kerjanya untuk mengecek cctv.


Aditya mulai memeriksa cctv dari jam yang disebutkan securitynya, sampai akhirnya dia melihatnya. Benar kata securitynya bahwa yang mengantar paket itu adalah seorang laki-laki dengan memakai jaket ojek online.


Randy meminta Aditya untuk memperbesar bagian motor laki-laki itu untuk mengetahui nomor plat dari motor yang dipakainya. Disitu sangat jelas sekali, Randy segera mencatatnya dan akan mencoba mencari tahu siapa pemiliknya sehingga nanti bisa sangat mudah menemukannya, sayangnya wajah pria itu tidak jelas karena dia memakai masker. Aditya sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Randy yang selalu membantunya dan sangat bisa diandalkan.


Randy berpamitan pada Aditya dan akan mengabarkan jika dia sudah mendapatkan informasi tentang orang itu.


*****


Aditya naik ke kamarnya, ternyata Cahya sudah bangun. Pandangan Cahya ke arahnya menunjukkan bahwa istrinya itu sepertinya sedang marah padanya.


"Sayang kamu sudah bangun" Aditya duduk diatas ranjang dan menempelkan telapak tangannya dikening Cahya.


"Panasmu sudah turun, syukurlah!!"


"Kau darimana???" Tanya Cahya dengan suara jengkel karena sejak tadi dia tidak melihat suaminya itu setelah bangun tidur.


"Aku pergi sebentar dengan Randy dan tadi aku mengecek cctv, jangan marah" Ucap Aditya dengan mengelus rambut Cahya agar istrinya itu tidak lagi marah kepadanya.


"Kau kemarin belum menjelaskan tentang hasil meetingmu"


Aditya tersenyum. "Kita nanti akan berangkat ke Swiss, ya maybe sekitar 3bulan lagi, tetapi aku juga akan lebih dulu mengirim beberapa general manager di kantor cabang untuk pelatihan disana"


"Kenapa tidak semuanya?"


"Gantian sayang, kalau semuanya bagaimana dengan kantor, kau ini, istirahatlah aku mandi dulu ya" Aditya mengecup kening Cahya dan meninggalkannya untuk ke kamar mandi.


*****


Pak Andi mendatangi wilayah dimana dia dulu pernah tinggal disana saat masih menikah dengan Sari. Daerah itu ternyata sudah banyak berubah, tentu saja berubah dia pernah tinggal disana dan sudah hampir 30 tahun meninggalkan daerah ini. Dia sedikit kebingungan mencari rumah mantan istrinya itu, dia sangat berharap Sari masih tinggal disini. Saat datang ke rumah Elea waktu itu dia sebenarnya ingin juga bertemu dengan Danist tetapi sayangnya dia tidak bertemu dengannya padahal dia ingin sekali menanyakan tentang Sari kepada anak itu.


Cukup lama Ayah Ariel mengelilingi wilayah itu sambil terus mengingat-ingat setiap jalan. Mobil yang dikendarai supirnya berjalan sangat pelan karena dia yang menyuruhnya agar bisa menemukan rumah yang dicarinya. Mobil itu memasuki setiap gang yang ada sampai akhirnya melewati sebuah rumah yang sangat dikenalnya, ya rumah sederhana itu adalah rumah yang dulu dia dan Sari pernah tinggali, dari bentuk rumahnya tifak ada yang berubah selain cat dan tambahan pagar yang mengelilinginya dan halamannya ada aneka jenis tanaman dan bunga. Pak Andi turun untuk melihat rumahbitu lebih dekat tetapi pintu rumah itu tertutup dan pagarnya juga digembok, menandakan bahwa rumah itu saat ini kosong.


Ayah Ariel melihat sekeliling dan menemukan seorang perempuan muda yang sedang menyiram tanaman dirumah sebelah. Dia harus bertanya kepadanya untuk mencari tahu dan memastikan apa Sari masih tinggal disana atau tidak. Dia berjalan mendekati perempuan itu. "Maaf permisi dek"


"Iya pak ada apa???" Jawab perempuan itu.


"Saya ingin bertanya! Apa rumah sebelah ini ada yang menempati??"


"Rumah yang ini?" Sambil menunjuk ke arah rumah Sari dan Ayah Ariel mengangguk.


"Siapa yang datang Des??" Tiba-tiba seorang pria keluar dari dalam rumahnya dan bertanya kepada perempuan itu yang tak lain adalah ayahnya.


"Oh ini pak, bapak ini lagi nanyain tentang rumah sebelah, dikiranya rumahnya kosong, mau nyari rumah kontrakan kayaknya"


Pak Andi dan pria itu saling memandang satu sama lain, seolah keduanya mengingat akan sesuatu. "Kau Andi ya?" Tanya pria itu.


"Iya saya Andi, anda mengingat saya??? Maaf saya lupa, anda siapa??"


"Ya Tuhan, saya Anton Ndi, masa kamu lupa sama saya, dulu kamu suka nebeng saya kalau mau berangkat kerja, kau kemana saja selama ini, ayo masuklah, Desi tolong ambilkan minum untuk om Andi"


Pak Anton mengajak pak Andi masuk ke rumahnya, dia tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan teman dan mantan tetangganya itu setelah sekian lama.


"Kemana saja kau selama ini Ndi? Kau sama sekali tidak pernah datang kesini, dan kau sekarang memiliki pengawal, mobilmu juga sangat mewah, luar biasa sekali kau sekarang"


"Aku sekarang tinggal dijakarta, bagaimana kabarmu? Apa tadi itu putrimu?"


"Iya itu putriku, dia anak keduaku yang pertama sudah menikah dan tidak tinggal disini, bagaimana? Kau sudah memiliki berapa anak dengan istri barumu??"


"Aku hanya memiliki seorang putra"


Desi membawa minuman dan menyajikannya di meja, pak Andi pun mengucap terima kasih.


Pak Anton mempersilahkan pak Andi untuk minum, dan dia juga tampak menyeruput teh yang dibuatkan putrinya. Mereka berdua melanjutkan obrolan dan mengenang masa-masa sulit mereka dulu. Keduanya sesekali tertawa jika mengingat apa yang pernah mereka lakukan dulu.


"Oh iya kau ada perlu apa datang kesini??? Apa kau ingin menemui anakmu setelah sekian lama???"


"Anakku???" Pak Andi menggerutkan dahinya merasa heran dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Anton.


"Iya anakmu, ah ya Tuhan kau ini kau masih saja tidak tahu ya sampai sekarang kalau kau memiliki seorang anak dari Sari?"


"Anak dari Sari??" Pak Andi tampak mengulang lagi ucapan dari pak Anton.


"Kau ini sungguh kelewatan Ndi, dulu kau menceraikan Sari begitu saja padahal saat itu Sari sedang hamil, kasihan dia dia bekerja keras sendirian sambil merawat anakmu tapi sekalipun kau tidak pernah datang mengunjunginya atau sekedar menengok anakmu" Tutur pak Anton.


"Sari hamil???"


Pak Anton pun menceritakan semuanya yang terjadi kepada Sari selepas diceraikan oleh Andi, bagaimana perjuangan wanita itu dulu membesarkan anaknya seorang diri. Sari menyewa sebuah toko dipasar dan berjualan sembako disana bahkan juga sering mengajak bayi itu pergi berjualan di pasar dan karena merasa kasihan akhirnya ada menawarkan diri untuk menjaganya selama Sari pergi ke pasar. Dan sekarang bayi itu sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang cukup sukses karena kecerdasannya dan menjadi kebanggaan dari Sari. Pak Anton juga menceritakan bahwa Sari tidak pernah lagi menikah dan menjadi single parents sampai detik ini.


Saat itu juga Pak Andi dibuat shock oleh kenyataan yang ada bahwa ternyata selama ini dia juga memiliki anak dari Sari yang tidak perenah dia ketahui sama sekali. Apa yang sudah dia lakukan, dia meninggalkan istrinya yang sedang hamil lalu mencetaikannya dan juga tidak pernah lagi mencoba mencari tahu tentang keadaannya.


"Aku benar-benar tidak tahu Ton kalau Sari saat itu hamil, lalu dimana anakku sekarang???"


"Aku tidak tahu dimana, yang jelas Sari sekarang tinggal bersamanya karena Danist dipindah tugaskan oleh perusahaan tempatnya bekerja"


"Danist????"


"Iya, putramu bernama Danist, Danistyar Pratama, dia sangat tampan, baik, ramah, sangat bertanggung jawab kepada Sari ibunya, juga sangat cerdas dan karena kecerdasannya itulah dulu dia mendapat beasiswa dari sebuah universitas ternama"


Mendengar fakta itu, pak Andi seolah sedang dijatuhi oleh bom yang membuat tubuhnya serta perasaannya hancur berkeping-keping karena ternyata Danist yang pernah dia temui adalah putra pertamanya. Pastas saja saat pertama kali bertemu dengannya, dia merasa seperti sangat dekat dengannya ternyata dia adalah putranya. Sekarang juga dia harus menemui Danist juga Sari untuk meminta maaf kepada mereka.