SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 237



"Tentang Ariel!" Gumam Cahya.


"Tentang Ariel??? Apa kau tahu dimana dia berada sekarang?"


Cahya menggelengkan kepalanya, lalu menyandarkan kepalanya di kursi makan. "Ariel hampir saja memperrkosa Elea, beberapa waktu yang lalu"


Aditya membelalakkan matanya menatap Cahya dengan leterkejutan yang luar biasa, lalu menelan makanannya dan mengambil gelas berisi air didepannya dan meminumnya. "Apa yang kau ucapkan itu benar? Bagaimana bisa!!!" Seru Aditya tidak percaya.


Cahya memajukan badannya dan menumpukan kedua tangannya dimeja makan. "Ariel memberikan sebuah obat perrangsang kepada Elea, entah bagaimana caranya Ariel memasukkannya,Elea sendiri tidak tahu, yang jelas Elea merasakan aneh ditubuhnya, kurasa mungkin rasanya seperti kau habis memakan permen itu, badanmu menjadi panas dan jantungmu berdetak lebih cepat, seolah tahu kapan waktunya obat itu bereaksi, Ariel masuk ke apartemen Elea dengan mudah karena dia punya access untuk bisa memasukinya dan saat itulah dia berniat melancarkan aksinya"


"And then???" Tanya Aditya penasaran.


"Saat sedang merasa kepanasan dan apartemen kondisi gelap, Ariel datang memeluk Elea, dia pikir itu Danist tapi karena rasa panas Elea melepaskan pelukan Ariel dan melompat untuk berlari ke kamar mandi, itu sebabnya kakinya bengkak karena menabrak meja, di kamar mandi itulah Ariel berusaha memaksa Elea untuk melakukannya, untungnya saat itu Danist segera datang dan menghajar Ariel, secara tidak sengaja kita berperan membantu menyelamatkan Elea di waktu yang tepat, karena saat itu aku menghubungimu agar segera pulang dan kau juga mengajak anak buahmu untuk pulang juga, andai itu tidak kau lakukan mungkin hal buruk akan menimpa Elea"


Aditya menumpukan kedua sikunya pada meja makan dan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Masih enggan mempercayai semua cerita dari Cahya. Sebegitu terobsesinya Ariel pada Elea hingga membuatnya melupakan norma yang ada. Aditya masih bertanya-tanya kenapa sahabatnya itu tega melakukan hal demikian. "Jadi menurutmu Ariel menghilang setelah melakukan semua itu??"Gumam Aditya kemudian.


"Ya, ku pikir begitu saat semalam kau menceritakan bahwa Ariel tidak ada kabar sama sekali, dia juga tidak datang menemui Gienka padahal biasanya dia selalu rutin seminggu bisa 3 sampai 4 kali datang" Cahya beranjak dari kursi dan membereskan meja makan, membawa piring dan gelas yang baru saja digunakan Aditya ke dapur untuk di cuci.


Aditya hanya bisa menghela napasnya, Ariel sudah sangat kelewatan. Bukannya datang meminta maaf dan mengakui kesalahannya justru dia menghilang begitu saja, apa dia juga tidak memikirkan keadaan Gienka. Aditya tidak mengerti apa yang sebenarnya dipikirkan Ariel saat melakukan semua itu. Obsesi nya justru membutakan mata dan hatinya, andai dulu dia tidak membuang Elea begitu saja pasti dia akan hidup bahagia dengannya tetapi kesalahannya juga membuat Elea enggan kembali padanya dan tentu saja itu wajar, dimana pun perselingkuhan itu tidak bisa dengan mudah dimaafkan, terlebih lagi Ariel melakukannya tepat didepan mata Elea sendiri. Aditya tidak habis pikir sahabatnya bisa melakukan hal serendah itu hanya untuk menuruti keegoisannya.


Kapan Ariel bisa merubah lagi sikapnya seperti dulu, Aditya sangat berharap sahabatnya itu bisa menjadi lebih baik lagi, dan berhenti bertindak konyol sesuka hatinya. Setidaknya bisa memberi ruang untuk Elea agar bisa hidup dengan tenang tanpa gangguannya. Aditya menjadi kembali mengingat jika memang benar Danist adalah anak dari Andi, akan seperti apa hubungan mereka nantinya, dan sekacau apa keluarga itu setelah mengetahui kebenaran yang sebenarnya. Ini begitu rumit, Elea seolah ikut terjebak di dalam lingkaran permasalahan ayah Ariel dan anak-anaknya. Aditya hanya bisa berharap semuanya nanti akan baik-baik saja, dan bisa menerima kondisi satu sama lain, Ariel bisa menemui kebahagiaannya tanpa harus menghancurkan kehidupan rumah tangga Elea dan Danist yang terlihat sangat harmonis terlebih Danist begitu menyayangi Gienka.


Ponselnya berdering membuyarkan lamunan Aditya tentang Ariel. Randy menghubunginya, dan ternyata dia sudah ada di depan rumahnya membawa mobil milik Adri. "Sayang, aku ke depan dulu, Randy datang membawa mobil Adri" Aditya setengah berteriak kepada Cahya yang sedang sibuk di dapur.


Aditya menyuruh securitynya untuk membuka gerbang, agar Randy bisa masuk. Randy keluar dari mobil Adri dan memberikan kuncinya pada Aditya.


"Gimana Ran, sudah beres??"


"Beres, aku sudah memberi mereka ganti rugi 15juta dan mereka tidak akan menuntut apapun lagi, oke sudah malam, aku harus segera pulang"


"Oke thanks, aku akan mentransfernya ke rekeningmu nanti, salam untuk Chitra"


Keesokan harinya, Adri tidak keluar dari kamarnya, padahal semua orang sudah menunggunya untuk sarapan. Kedua orangtua Aditya juga masih bertanya-tanya tentang apa yang terjadi kemarin hingga kedua putranya itu tidak juga pulang sampai malam hari karena Cahya hanya menjelaskan bahwa mereka berdua akan pulang terlambat tanpa memberi alasan yang jelas. Tidak mau dirundung berbagai pertanyaan di kepala nya, Mama Aditya pun langsung memanyakannya pada Aditya tentang apa yang terjadi.


Sampai akhirnya Aditya menjelaskan kepada Mama dan Papanya jika kemarin Adri berkelahi dengan temannya hanya karena saling tersinggung dengan ucapan satu dengan yang lainnya. Dan membuat keduanya sama-sama terluka dan mungkin sekarang Adri tidak mau keluar karena takut kepada mereka.


Aditya memilih tidak memberitahu tentang Adri yang sempat dibawa oleh polisi, karena tahu papa nya pasti akan marah besar.


"Adit! Panggil dia, suruh turun ke bawah!" Pinta Papa Aditya.


Aditya memundurkan kursinya dan pergi ke kamar Adri untuk memanggilnya agar turun dan bergabung bersama yang lainnya untuk sarapan.


Aditya membuka pintu kamar Adri, dan adiknya itu sedang dududk bersandar di sofa. "Adri, cepat turun dan jangan berdiam diri di kamar saja" Ucap Aditya.


"Tidak kak, aku akan sarapan nanti saja"


"Papa yang menyuruhku memanggilmu, cepat temui dia atau dia akan lebih marah padamu"


Dengan langkah pelan, Adri mengikuti Kakaknya di belakang dan turun ke ruang makan.


Semua orang dikejutkan dengan wajah Adri yang dipenuhi luka. Sang Mama langsung menghampirinya seraya memeluknya sambil menangis.


"Adri, kenapa bisa begini?? Kenapa kau tidak memberitahu Mama kalau kau terluka"


"Adri, habiskan sarapanmu setelah itu iku papa ke ruang kerja" Ucap Papanya marah.


Aditya hanya bisa memejamkan matanya, kemarahan Papanya begitu jelas terlihat. Tetapi dia juga tidak bisa untuk tidak menceritakan apa yang terjadi pada Adiknya. Aditya memahami apa yang dilakukan adiknya itu untuk membela orang-orang yang disayanginya, hanya saja Adri salah memilih jalan dengan berkelahi, padahal dia sudah sering mengatakan pada Adiknya itu agar pandai-pandai bersikap.


Setelah semua selesai sarapan, Adri langsyng berjalan mengikuti Papanya masuk ke ruang kerjanya. Adri sangat ketakutan dengan kemarahan sang Papa karena jika cara bicara Papanya terdengar dingin, sudah pasti dia sedang menahan amarahnya. Adri pun sudah bersiap dengan itu semua, karena memang dia sudah tidak bisa menghindarinya, Alvin sudah berhasil memancing kemarahannya kemarin dan sekarang karena perbuatannya, dia juga memancing kemarahan Papanya.