
Sebelum pulang, Cahya tadi meminta Aditya untuk mengantarnya ke rumah Elea sebentar dan berpamitan dengannya. Dan sekarang mereka sudah sampai dirumah Elea. Elea ternyata sedang berada dihalaman belakang rumahnya, duduk dan mengobrol bersama Mamanya Danist yang sedang menggendong Gienka.
Melihat Mama Danist, Cahya menjadi teringat tentang kenyataan bahwa Danist adalah putra dari Ayahnya Ariel. Cahya juga menjadi bertanya-tanya apakah Mama Danist mengetahui atau tidak jika Ariel adalah saudara tiri dari Danist. Jika pada akhirnya semua fakta itu terungkap suatu saat nanti, entah apa yang akan terjadi selanjutnya, bahkan jika Elea mengetahui itu dia pasti akan terkejut dibuatnya, ada dua laki-laki yang yang mencintainya dan ternyata mereka adalah bersaudara. Dan Cahya juga yakin Ariel saat ini pasti sangat marah dengan kenyataan yang ada bahwa Elea menikah dengan Danist, sebuah ironi tetapi semua pasti sudah dalam skenario Tuhan.
"Hai tante Sari, Elea dan juga Gienka yang cantik, selmat siang...!!!" Ucap Cahya membuat Elea dan Mama Danist langsung menoleh ke arahnya.
"Ca, kau disini?" Seru Elea.
"Iya El, aku ingin berpamitan, kami akan pulang sekarang tapi kami berjanji akan datang lagi untuk menengok Gienka yang cantik ini"
"Thanks ya, sering-sering datang ya?"
Cahya tersenyum lalu mengangguk, kemudian dia dan Elea serta Mama Danist masuk kedalam dan menemui Aditya juga mamanya serta ibu Cahya.
Melihat Mama Danist, Aditya jadi teringat obrolannya dengan Danist pagi tadi, dimana Danist mengatakan jika Sang Mama akan pulang ke rumah mereka dalam beberapa hari ke depan karena wanita itu merasa tidak enak jika harus tinggal dirumah dinas milik perkebunan sementara putranya sekarang sudah tinggal bersama Elea.
"Maaf tante Sari, saya dengar dari Dan, tante katanya ingin pulang dan tinggal di Bandung lagi ya?" Tanya Aditya.
"Iya pak Aditya" Jawab Mama Danist dia sengaja memanggil pak mengingat Aditya adalah atasan putranya dia juga harus menghormatinya.
"Kenapa? Apa tidak kerasan tinggal disini? Danist juga sangat senang ada tante disini!"
"Bukan begitu, sekarang Dan sudah tinggal dengan istrinya disini, rasanya kok tidak nyaman jika saya tinggal dirumah dinas milik perkebunan bapak"
"Kenapa tidak nyaman? Rumah itu akan tetap menjadi hak Danist selama dia bekerja disini, sama halnya dengan rumah ini yang juga akan menjadi hak yang diterima Elea dan juga adik ipar saya karena mereka juga bekerja dikantor perkebunan, tante tidak perlu merasa sungkan, kita sekarang sudah seperti keluarga, Danist pasti akan lebih senang jika dekat dengan Mamanya, pikirannya juga menjadi tenang, tante tetap tinggal saja disana, tidak apa-apa"
"Terima kasih pak Aditya"
Aditya tersenyum "Sama-sama, oke baiklah kita harus pergi sekarang"
Aditya dan Cahya serta Ibu dan Mamanya pun meninggalkan rumah Elea.
*****
Akhirnya sampailah mereka dirumah, Cahya dan Aditya langsung membawa Kyra dan Kyros ke kamar dan membaringkan mereka ditempat tidur. Aditya juga langsung ikut berbaring disebelah bayinya, sementara Cahya pergi ke kamar mandi. Aditya merasa sangat mengantuk sekali, semalam dia tidur cukup larut karena terlalu sibuk bercinta dengan Cahya, dia menyelesaikan beberapa sesi percintaannya bahkan melanjutkannya lagi setelah mereka bangun tidur. Cahya selalu bisa memuaskannya, istrinya itu memang luar biasa dan bisa mengimbanginya, ketika dia merasa lelah, Cahya yang bergantian melakukannya. Aditya tersenyum sambil memejamkan matanya mengingat setiap moment percintaan panasnya dengan Cahya, dan sekarang dia merasa sangat mengantuk yang akhirnya membuat Aditya menyusul kedua bayinya tidur.
Beberapa saat kemudian, Cahya keluar dari kamar mandi dan melihat ternyata Aditya sedang tertidur bersama kedua bayinya. Sebenarnya Cahya juga merasa sangat mengantuk sekali dan memutuskan untuk ikut berbaring disebelah bayinya, kini Kyra serta Kyros akhirnya diapit olehnya dan Aditya. Tidak butuh lama Cahya juga langsung tertidur.
Cahya menenangkan Kyros dengan menyusuinya dan bayi itu langsung diam. Terdengar suara ponsel Aditya berbunyi, Cahya langsung beranjak dan membangun suaminya itu. "Sayang, bangun! Ponselmu berbunyi dan ini juga sudah sore, ayo bangun"
Aditya membuka matanya dan sedikit mengernyit tetapi langsung bangun dan mengambil ponseonya diatas meja. Ada nama Randy disana, segera dia mengangkatnya. "Ya Ran!!"
"Ya, aku sudah ada dirumah, ada apa??" Tanya Aditya dia tampak terdiam sesaat mendengarkan Randy.
"Oke, jemput aku dirumah" Ucap Aditya lalu menutup teleponnya.
"Ada apa??" Tanya Cahya.
"Randy mengajakku menemui Ariel dirumahnya, tadi dia ke kantornya tetapi Ariel ternyata tidak datang jadi dia memutuskan mengajakku mengunjunginya"
"Kau memang harus melihat keadaannya, setidaknya buatlah dia mengerti dengan keadaan saat ini, jaga putrimu yang masih tidur itu, aku akan memandikan Ky lebih dulu baru nanti dia"
"Baiklah, setelah kau memandikan Ky dan juga Kyra, kau juga harus memandikanku, kita mandi berdua" Aditya mengedipkan sebelah matanya menggoda Cahya, Aditya lalu tertawa dan Cahya bergegas meninggalkannya.
****
Randy dan Aditya sudah sampai dirumah Ariel, mereka dipersilakan masuk oleh Ayah Ariel ke taman belakang dimanaa Ariel sedang ada disana. Ariel duduk sendiri dibangku taman, dan pandangannya mengarah ke Aditya dan Randy yang sedang berjalan menghampiri.
Keduanya duduk diantara Ariel, Aditya menepuk paha Ariel dan menatap sahabatnya itu dengan senyuman. Sementara Randy menaruh telapak tangannya dipundak Ariel. "Aku datang ke kantormu dan sekretarismu bilang kau tidak datang ke kantor, jadi aku kesini"
Ariel hanya diam tidak menanggapi ucapan Randy, dan lelaki itu mendongak pandangan tertuju ke langit.
"Sekali lagi kalian membohongiku dan mempermainkanku" Gumam Ariel dengan suara pelan dan terdengar serak karena kemarin dia berkali-kali berteriak.
"Kami minta maaf Iel" Ucap Aditya.
"Tidak perlu meminta maaf, itu sudah sering kalian lakukan sebelumnya tetapi kenyataannya tetap sama, kalian membohongiku"
Aditya merasa sedih mendengar ucapan Ariel, ya memang dia dan Randy telah melakukan banyak kebohongan kepada sahabatnya itu hanya demi membela Elea, tetapi mereka tidak ada pilihan lain, karena memang Ariel sudah melakukan kesalahan yang begitu besar kepada Elea. Dia dan Randy juga sangat mengerti bagaimana penderitaan Elea kemarin, mereka ingin marah kepada Ariel tetapi Ariel adalah sahabat mereka dan kesalahannya itu pasti juga sulit dimaafkan oleh orang yang sudah disakitinya. Ditambah lagi sikap dari Ariel yang menjadi sangat berubah, dia mudah marah dan suka melakukan hal yang membuat semuanya semakin memburuk, padahal jika saja Ariel tidak melakukannya, pasti akan mudah baginya untuk merebut kembali Elea, tetapi kegaduhan yang Ariel ciptakan justru menimbulkan ketakutan bagi Elea.
"Aku memang bersalah, aku sudah kehilangan banyak hal dari hidupku akibat ulahku sendiri, bahkan kalian juga membohongiku padahal selama kita bersahabat bertahun-tahun kalian tidak pernah membohongi ku tetapi akhir-akhir ini kalian melakukannya, setelah itu kalian akan datang menemuiku untuk menghiburku, sebenarnya apa yang sedang kalian rencanaka!!!??? Apa maksud kalian? apa!!!??? ayo katakan apa yang sebenarnya kalian berdua inginkan dariku??? Apa???" Teriak Ariel marah lalu dia mulai menagis lagi.