SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 234



Cahya menyiapkan pakaian Aditya di ruang ganti. Aditya masuk dan terlihat sudah segar setelah mandi. Cahya membantu Aditya memakaikan kemeja dan juga dasi. Aditya tersenyum menatap Cahya yang sibuk dengan dasinya.


"Kenapa kau tersenyum??" Tanya Cahya.


"Memangnya kenapa? Apa aku salah memberi senyum kepada istriku? Lagipula jika kau ada di dekatku seperti ini rasanya aku tidak ingin pergi kantor, aku ingin seharian di kamar bersamamu"


"Setiap malam kau menghabiskan waktu di kamar bersamaku, apa itu kurang?? Dasar kau ini! Oh iya hari ini mereka berangkat ya?"


"Iya, aku yang akan melepasnya nanti siang di kantor"


"Aku meminta Elea dan Mamanya untuk menginap disini, tidak apa-apa kan?"


"Its okay, aku tahu kau pasti ingin bergosip dengan Elea"


"Jahat sekali, siapa yang ingin bergosip, ayo sudah selesai, pasti kita sudah ditunggu di bawah"


Cahya hendak membalikkan badannya tetapi Aditya justru menahannya dengan memegang kedua bahunya. Aditya menundukkan kepalanya untuk mencium bibir Cahya. Cahya memejamkan matanya.


Bibir itu mulanya terasa dingin, menyentuh bibir Cahya yang lembut. Mengecupnya dengan lembut. Lalu sisi bibirnya mulai membuka bibir Cahya dan memagut bibir bawah istrinya itu. Aditya menyesapnya dengan lembut, menikmati kemanisan yang ada di sana. Aditya menggerakkan tangannya dan membimbing lengan Cahya supaya merangkul lehernya, lalu memeluk Cahya erat-erat dan mellumat bibirnya.


Ciuman Aditya sangat luar biasa, semula dingin lalu panas membakar. Lelaki itu ******* bibir Cahya dengan kehausan, mencecap seluruh sudutnya dengan bibirnya. Ketika bibir Cahya membuka, lidahnya menelusup masuk, mulanya hati-hati kemudian masuk semakin dalam, bertemu dengan lidah Cahya dan berjalinan di sana, mulut mereka berpadu dan tubuh mereka menjadi semakin rapat.


Aditya melepaskan ciumannya dan mereka sedikit terengah. Cahya merapikan rambutnya dan menarik Aditya untuk segera turun karena pasti keluarganya sudah menunggu mereka untuk sarapan.


*****


Danist sudah berangkat menuju kantor utama untuk berkumpul dengan yang lainnya karena mereka akan berangkat bersama dengan diantar oleh mobil perusahaan ke airport. Dan dalam perjalanan dari rumah kesana, dia meminta Elea untuk mengemudikan mobilnya karena dia ingin duduk dibelakang sambil menggendong Gienka. Elea menyanggupi permintaan Danist, karena sejak beberapa hari ini dia todak ingin jauh dari Gienka.


Bahkan tadi saat bangun tidur, Danist langsung menggendong Gienka dan sampai sekarang lelaki itu enggan melepaskannya, bahkan juga melarang Elea memandikan bayi itu karena dia sendiri yang akan memandikannya. Ya, hari ini Danist akan berangkat untuk waktu yang cukup lama dan tidak bisa menggendong atau bermain dengan Gienka, itu sebabnya dia memutuskan untuk menghabiskan jam-jam terakhir bersama putrinya itu. Walaupun Gienka bukan putri kandungnya tetapi Danist sangat menyayanginya, bayi perempuan itu telah mengambil hatinya hingga dia mencurahkan semua kasih sayangnya pada Gienka.


Dan sampailah mereka di kantor utama, Danist memberikan Gienka pada Mamanya dan menurunkan kopernya dari bagasi. Kesedihan sangat terlihat dari wajahnya karena harus berpisah sementara dengan orang-orang yang dicintainya. Seorang security menghampiri Danist dan meminta kopernya untuk dimasukkan ke mobil yang nanti akan membawanya ke Bandara.


Danist menghampiri sang Mama yang sedang menggendong Gienka, lalu memeluknya sambil berurai airmata, meminta agar sang Mama selalu menjaga kesehatannya dan mendoakan untuk kesuksesannya dan dia akan sangat merindukannya. Danist juga memeluk Mama mertuanya seraya memintanya agar menjaga Elea dan Gienka selama dia pergi.


Danist mengambil lagi Gienka dari Mamanya dan tidak berhenti menciumi bayi itu. "Gienka harus sehat, jaga Mama dan Oma, jangan nakal dan merepotkan Mama selama Papa Dan pergi, oke??? Gienka kan anak baik, Papa Dan akan selalu merindukan Gienka dan setiap hari akan berusaha menyempatkan waktu untuk video call dengan Gienka, Papa Dan sangat mencintai Gienka" Ucap Danist seraya terus menciumi bayi itu, dan matanya berkaca-kaca lalu tiba-tiba tangisnya pecah dan memeluk Gienka sambil menangis seolah tidak ingin berpisah dengan bayi itu.


Elea yang melihatnya juga tidak kuasa dan ikut menitihkan airmata. Danist begitu dekat dengan putrinya, begitu mencintainya bahkan jika dipikir-pikir kasih sayang yang diberikan Danist sangat berbeda dengan yang diberikan Ariel. Semua bisa dilihat dari cara keduanya saat bersama Gienka. Bahkan ada hal tertentu dari Gienka yang Elea sendiri sulit menanganinya, hanya Danist yang bisa menyelesaikannya dan membuat Gienka menjadi tidak rewel. Elea membayangkan bagaimana dia akan melakukannya jika Danist tidak ada.


Danist memberikan Gienka lagi pada Mamanya dan kini dia mendekati Elea dan menatapnya dengan sedih. Elea yang sangat dicintainya sejak lama, tetapi hingga kini dia masih belum mampu mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, masih ada ketakutan di dirinya. Dia terlalu mencintai Elea hingga tidak mampu untuk menerima kenyataan jika ternyata nanti cintanya masih belum terbalas. Danist lebih memilih memendam daripada harus mengungkapkan tetapi pada akhirnya yang diterimanya adalah penolakan karena itu pasti akan melukai hatinya. Bagi Danist yang terpenting dia bisa ada disamping Elea tanpa perempuan itu tahu apa yang ada dihatinya selama ini.


Danist mencoba tersenyum menatap Elea dan memegang bahu kanan Elea. "El, jaga dirimu baik-baik, ingat semua pesanku kemarin, dan selalu berhati-hati jangan sampai hal yang terjadi beberapa waktu yang lalu terulang lagi, jangan kesal jika Gienka rewel atau aku akan memarahimu"


"Aku akan mengingat semua pesanmu, jaga dirimu baik-baik disana, jaga makanmu walaupun sesibuk apapun dirimu nanti, jangan sampai sakit, aku akan menjaga diriku dan Gienka dengan baik" Ucap Elea sambil menyeka airmatanya.


"Kenapa kau menangis???"


"Aku menangis karena memikirkan bagaimana jika Gienka rewel, aku akan kesulitan karena dia hanya bisa ditenangkan olehmu"


"Kau ibunya, kau pasti bisa menenangkannya dengan caramu" Danist mengusap airmata Elea yang menetes di kedua pipinya. "Jaga dirimu baik-baik" ucap Danist lagi.


Tetapi tiba-tiba Elea memeluk Danist dengan erat sambil terisak. Danist membalas pelukan Elea dengan mengusap lembut punggung perempuan itu seraya menyuruhnya agar tidak menangis. Elea merasa sangat sedih, laki-laki ini yang selama ini menemaninya, selalu menjaga dan melindunginya, dia merasa sangat berat harus berpisah sementara dengan Danist. Elea pasti akan sangat merindukannya, merindukan perhatian dan kasih sayang Danist kepadanya dan keluarganya teritama Gienka. Danist melakukan perannya sebagai seorang ayah dan suami yang baik, tidak pernah sekalipun marah dengan kesalahan yang dilakukannya, bahkan Danist juga selalu bersikap baik dan sopan padanya walaupun sampai saat ini dirinya masih belum membuka hati untuk lelaki itu tetapi Danist selalu menghormatinya dengan baik.


Elea melepaskan pelukannya dan menyeka lagi airmatanya lalu tersenyum ke Danist. "Safe flight Dan, we will miss you so much" Ucap Elea, dan sedetik kemudian dia mendaratkan sebuah ciuman di pipi Danist.


Danist cukup terlonjak karena hal itu, tidak pernah menyangka jika Elea akan melakukannya. Danist hanya bisa tersenyum karena jantungnya masih berdebar-debar akibat ciuman yang Elea berikan. Danist mengusap lembut kepala Elea dan mengucapkan sampai jumpa lalu membalikkan badan untuk masuk ke kantor tetapi Elea menarik tangannya membuat Danist membalikkan badan lagi menatap Elea lalu mengangkat alisnya.


"Kau mau pergi begitu saja tanpa memberiku salam perpisahan" Gumam Elea seraya tersenyum.


"Jaga dirimu baik-baik" Danist mengecup kening Elea dengan lembut dan memberi pelukan perpisahan untuk Elea.