SEXY HUSBAND

SEXY HUSBAND
Eps 305



Aditya mencoba menahan dirinya untuk tidak menangis, walaupun perasaan dan hatinya sangat hancur dengan kejadian ini. Dia yang sudah berjanji untuk menjaga istri dan kedua anaknya tetapi ternyata dia lalai yang akhirnya kejadian seperti ini bisa terjadi. Ini adalah kecerobohan yang sangat fatal yang sudah dia lakukan.


Tubuh Cahya tiba-tiba lemas, dan dia pingsan. Aditya dengan cepat menahannya lalu menggendongnya dan membawa istrinya itu naik ke kamarnya. Aditya membaringkan Cahya di tempat tidur. Ibu Cahya memberikan minyak kayu putih kepada Aditya agar bisa dihirupkan ke Cahya. Aditya kemudian menyuruh ibu mertuanya itu untuk manggilkan Ariel, agar bisa ke kamar ini. Tak lama akhirnya Ariel masuk ke kamar Aditya.


"Iel, kurasa aku tidak bisa meninggalkan Cahya untuk saat ini, aku takut jika dia sadar nanti dia memaksa untuk pergi dari rumah, lebih baik semua bukti-bukti itu kalian bertiga yang membawanya ke kantor polisi, aku memasrahkan semuanya kepada kalian, jika ada sesuatu segera hubungi aku"


"Aku mengerti Dit, memang hanya kau yang bisa menenangkan Cahya, kami akan mengurusnya, kau tenang saja, oke aku akan berangkat sekarang" Ariel pun keluar dari kamar Aditya.


Aditya kembali berusaha menyadarkan Cahya juga memanggil dokter untuk memeriksa kondisi istrinya itu. Sangat sulit bagi Aditya berada di posisi ini, dia tidak tahu bagaimana kondisi Kyros saat ini, dimana dia dan bagaimana keadaannya, tetapi dia juga tidak bisa meninggalkan Cahya, mengingat istrinya itu sangat mudah panik juga yang Aditya takutkan adalah Cahya akan berada dalam kondisi yang sama seperti dulu saat kehilangan janinnya, karena tentu saja hal itu bisa terulang lagi jika Cahya mengalami shock berat akan suatu hal. Aditya tidak bisa melihat hal buruk itu terjadi lagi, dia hanya bisa berharap segera bisa menemukan petunjuk dimana keberadaan Kyros saat ini.


Dokter sudah memeriksa Cahya dan memberikan beberapa obat agar Cahya menjadi lebih tenang. Dokter juga menyarankan agar saat siuman, Cahya harus segera makan.


*****


Hari sudah sore tetapi masih belum ada kabar sama sekali tentang nasib Kyros. Aditya semakin frustasi memikirkan keadaan Kyros saat ini, ada berbagai ketakutan yang menggelayuti pikirannya. Aditya merasakan bahwa kepalanya seperti ingin pecah dan tidak berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Jika terjadi sesuatu dengan Kyros, Aditya tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.


Saat tengah sibuk dengan pikirannya, Aditya melihat Cahya sudah bangun. Sebelum dokter datang Cahya sudah siuman dari pingsannya dan histeris lagi, hingga akhirnya dokter datang dan menyuntikkan obat penenang. Cahya beranjak lagi dari tempat tidurnya dan mencoba keluar kamar, dengan cepat Aditya mencegahnya.


Cahya memukul dada Aditya berkali-kali dan memandang Aditya dengan pandangan penuh kemarahan. "Lepaskan aku.....! Kenapa kau terus saja menghalangiku, aku harus mencari Ky.... Lepaskan aku Adit.... Kau jahat sekali.....!!!"


"Ssshhhh.....!!! Sayang, ku mohon tenanglah, Ky akan segera ditemukan, kita tunggu saja, polisi sedang mencarinya, Randy juga sudah mengirim anak buahnya untuk mencari Ky, kau tenang...."


"Kyra mana??? Kyra mana??? Aku harus menjaganya, aku tidak mau putriku juga diculik... Kyra mana....!!!"


"Kyra ada bersama Ibu, sekarang kau duduk, kau harus makan, sejak tadi kau belum makan, nanti ku panggilkan ibu agar membawa Kyra kesini, tapi kau makan dulu oke???" Aditya mencoba membawa Cahya agar duduk di sofa dan akan menyuapinya.


Cahya duduk dan Aditya mengambil makanan yang ada di atas meja, lalu menyendok nasi dan sayur, hendak menyuapkan ke Cahya tetapi istrinya itu justru membuang muka. "Sayang, buka mulutmu, ayo kau harus makan, kau pasti sangat lapar" Gumam Aditya.


"Aku tidak mau, Ky juga pasti belum makan, aku tidak akan makan sebelum aku melihat Ky ada di depanku"


Aditya terus berusaha membunuk Cahya tetapi tetap saja istrinya itu tidak mau membuka mulutnya bahkan sekedar minum saja Cahya juga tidak mau. Akhirnya Aditya memanggil Ibu mertuanya agar membawa Kyra ke kamarnya karena Cahya terus memintanya. Aditya juga sudah berhasil meyakinkan Cahya agar lebih tenang karena Kyros sudah dalam pencarian dan akan baik-baik saja.


Ibu Cahya akhirnya membawa Kyra masuk ke kamar dan memberikan cucunya itu pada Aditya. Melihat Kyra ada di gendongan Aditya, Cahya langsung berdiri dan mengambilnya. Cahya tidak berhenti menciumi Kyra dan menggendongnya.


Ariel, Randy dan Danist juga akhirnya sampai di rumah, mereka sudah membawa beberapa informasi untuk Aditya. Sebuah ketukan pintu membuat Aditya beranjak dan membukanya. "Mereka sudah kembali, dan kau ditunggu di ruang kerjamu, biar aku, Chika dan Chitra yang menjaga Cahya" Ucap Elea.


"Baiklah, jangan lupa kunci pintunya El"


Elea mengangguk, lalu masuk ke kamar Cahya bersama dengan Chitra dan juga Chika. Sementara Aditya pergi keluar untuk menemui Randy dan yang lainnya.


"Bagaimana???" Aditya langsung bertanya saat dia memasuki ruang kerjanya.


"Dit, aku rasa memang pria itu dibayar oleh seseorang untuk ini semua, coba kau ingat apa kau pernah bermasalah dengan orang akhir-akhir ini? Atau apa, mungkin dengan itu kita bisa menyimpulkan siapa dalang utamanya"


"Tidak Iel!! Aku tidak sedang bermasalah dengan siapapun, kalian tahu kan bahwa aku baru beberapa minggu disini, dan aku disibukkan dengan berbagai pekerjaan hingga tidak ada waktu untuk mencari musuh atau berdebat dengan orang lain"


"Mungkin bisa jadi pelakunya adalah orang yang sama yang membakar tempat usaha ibu mertua anda pak" Sela Danist kemudian. "Mengingat bahwa pelaku pembakaran itu juga mengaku dibayar oleh seseorang"


"Benar, kurasa apa yang baru di ucapkan Danist itu ada benarnya Dit"


"Ya tapi siapa Ran??? Aku benar-benar tidak tahu, aku merasa tidak melakukan apapun, begitu juga dengan keluargaku yang lainnya, aku hanya berharap Kyros segera di temukan, aku bisa gila jika harus melihat penderitaan Cahya saat ini, ya Tuhan.....!!!! Kenapa harus ada lagi kejadian seperti ini....!"


"Kau harus tenang, kita pasti akan menemukannya dengan segera, akunjuga sudah mengirimkan foto orang itu ke seluruh anak buahku, aku yakin mereka akan menemukannya mengingat si brengs*k ini sudah sering keluar masuk penjara bisa jadi teman-teman dari anak buahku ada yang mengenalnya"


*****


Aditya duduk disamping Cahya yang tertidur dengan memeluk Kyra. Sejak tadi Cahya benar-benar tidak mau melepaskan Kyra dari gendongannya. Keadaan seperti ini pasti membuat Cahya takut dan tidak mau melepaskan Kyra. Masih belum ada perkembangan apapun, baik dari polisi ataupun anak buah Randy. Dalam kekalutan yang luar biasa Aditya tidak berhenti merapalkan doa untuk keselamatan Kyros. Aditya juga meminta agar permasalahan ini jangan sampai terdengar pada orangtuanya di Swiss, karena mereka pasti akan panik luar biasa, terutama Mamanya. Tadi bahkan dia harus berbohong kepadanya saat Mamanya itu menanyakan Cahya dan si Kembar karena dia berusaha menghubungi Cahya tetapi tidak di jawab sama sekali. Aditya terpaksa mengatakan bahwa Cahya, Kyra dan Kyros sedang tidur.


Sementara itu, Elea meminta Danist agar pulang dan besok kembali lagi kesini dengan membawa Gienka, karena tentu sebagai ibu Elea tidak bisa begitu saja meninggalkan putrinya terlalu lama. Tetapi Elea juga harus membantu menjaga Cahya disini, akhirnya dia memilih menyuruh Danist agar pulang saja, sekaligus bisa mengambil mobil di rumah dan datang kesini lagi esok hari bersama dengan Gienka. Danist setuju untuk pulang dan memanggil taksi, dan besok pagi akan kembali kesini.


Di tempat lain, Cyntia sudah mengantuk, dia mengangkat Kyros dari ranjangnya dan menaruh bayi itu begitu saja di lantai tanpa memberikan alas apapun ataupun bantal. Kyros dibiarkan tidur lantai, dan setiap bayi itu bangun dari tidurnya, Cyntia langsung memberikan obat batuk lagi kepadanya agar Kyros tidak rewel dan menangis. Tidak butuh lama bayi itu akan langsung tertidur lagi. Seolah tidak memliki nurani, Cyntia sama sekali tidak memberikan makan atau susu untuk Kyros dan terus saja menyuapkan obat batuk kepada bayi itu agar tidur.


*****


Rumah sudah sangat sepi, sepertinya orang-orang sudah tidur. Hanya tinggal Aditya, Ariel dan Randy yang terjaga di ruang keluarga. Sementara yang bersama Cahya saat ini ada Ibunya juga Elea. Mereka bertiga masih menunggu dan harap-harap cemas tentang kabar terbaru. Aditya sangat gusar bahkan hanya untuk sekedar meneguk air saja dia tidak bisa melakukannya. Memikirkan keadaan Kyros membuatnya semakin gila, rasanya kepalanya benar-benar ingin pecah.


Waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 3 dini hari, Aditya masih belum bisa memejamkan matanya sama sekali, sementara Randy dan Ariel tampak sudah tidur dengan posisi duduk di sofa. Hati Aditya benar-benar hancur saat ini, waktu seolah berjalan begitu lambat. Dan terus bertanya-tanya kenapa masih belum ada informasi apapun tentang keberadaan pria itu atau anaknya.


Randy terlonjak karena ponselnya berdering, dia pun langsung mengangkatnya karena seorang anak buahnya menghubunginya, berharap ada titik terang atau sekedar informasi tentang permasalahan ini. Ariel juga langsung terbangun, dan Aditya terlihat menyimak.


"Hallo...!!" Ucap Randy.


Randy terlihat diam mendengarkan. "Oke bagus, jika dia masih menolak berbicara, langsung bawa dia kesini, ke rumah Aditya, cepat....!" Randy kemudian menutup teleponnya.


"Gimana Ran??" Tanya Aditya.


"Anak buahku sudah menemukan si brengs*k itu, dia sedang berpesta di sebuah club, sepertinya dia tengah menikmati uangnya, sayangnya dia tetap tidak mau berbicara tentang keberadaan Kyros jadi anak buahku mengikatnya dan aku menyuruhnya membawanya kesini, kita harus bisa membuat mulutnya mau terbuka"


"Aku yang akan menghajarnya jika dia terus dia terus bungkam, berani-beraninya dia melakukan hal ini kepada keluargaku" Geram Aditya.